
Enam Bulan Kemudian
Rumah tangga Endra dan Pingka semakin harmonis dan bahagia. Namun sampai detik ini belum ada tanda-tanda kehamilan pada Pingka. Tapi Endra tidak mempermasalahkan selagi istrinya merasa bahagia. Satu bulan yang lalu Pingka membuka cabang toko roti miliknya, walau istri seorang CEO yang tak mungkin dalam kekurangan tidak membuat wanita itu kalap mata dengan apa yang sudah dimilikinya.
Endra sudah mengatur jika hari minggu tidak ada pekerjaan untuk dirinya walau sangat penting, ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah. Masuk katagori suami idaman memang kalau lagi jinaknya.
Endra sengaja bangun siang jika hari libur, menjadi seorang CEO tak senyaman dibayangkan kebanyakkan orang. Ia dituntut dengan rentetan tanggung jawab, banyak beban yang dipikul di pundaknya. Demi perusahaan dan karyawan yang bergantung padanya. Endra harus bekerja lebih keras meski banyak menyita waktu istirahatnya. Sekali pun tidak ada keluhan yang keluar dari bibir Endra karena itu mimpi yang terwujud sudah. Jadi harus di jalaninya dengan senang hati.
Endra meraba kasur tapi tak menemukan sosok yang dia cari, matanya perlahan terbuka lalu melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan jam 9 pagi. Endra bangun dari tempat tidur. Kepalanya begitu berat seluruh badannya terasa sakit. Dengan perlahan ia pergi ke kamar mandi mencari keberadaan istrinya tapi tidak ada di sana.
...----------------...
Beberapa menit kemudian Pingka tiba dari pasar dan membawa barang belanjaannya ke dapur .
"Nak, Pingka ! Tuan mencarimu sejak tadi" Ujar Bi Weni.
"Benarkah ? Dimana dia?" Pingka melepaskan sayur yang ingin disimpannya di kulkas.
"Di ruang keluarga, sepertinya Tuan tidak enak badan."
"Baiklah aku akan menemuinya." Pingka bergegas keruang keluarga
Di sana tampak Endra berbaring di ujung sofa dengan selimut tebal, matanya terpejam dan bibirnya sedikit pucat.
"Sayang." Pingka menyentuh tangan Endra.
"Jibi kamu dari mana? Aku mencari mu tadi." Endra membuka matanya.
Pingka menyentuh kening Endra dan merasakan tubuhnya sangat panas. Mata pria itu juga agak merah menandakan jika dirinya memang demam.
"Maafkan aku sayang meninggalkanmu, aku tadi pergi ke pasar. Kamu demam akan aku panggilkan Reno." Ucap Pingka.
Endra menggeleng. "Jangan, minum obat yang ada di rumah saja. Aku hanya pusing dan pegal. Tadi aku hampir jatuh saat turun tangga kepalaku berat sekali." Ujarnya bicara dengan raut wajah begitu manja
Raja macan mengadu, taringnya sembunyi di balik bibirnya yang pucat. Lihatlah wajahnya begitu manja seperti anak kecil yang sedang minta di gendong. Usiamu berapa, Tuan ? sakit seperti ini saja sudah merengek.
"Baiklah, ayo kamu istirahat di kamar tamu. Aku ambilkan sarapan dulu setelah itu minum obat." Pingka tersenyum ternyata begini rupanya pria ini sedang sakit.
__ADS_1
Endra mengangguk, Pingka perlahan menuntun suaminya ke kamar tamu di lantai dasar. Pingka hanya takut jika naik ke kamar mereka, Endra akan jatuh di tangga. Usai membantu suaminya berbaring. Pingka mengambil makanan dan menyuapinya dengan telaten lalu memberikan obat pada Endra.
"Sayang temani aku tidur." Endra menarik Pingka ke dalam pelukannya.
"Baiklah, sekarang kamu istirahat. Saat makan siang aku masak yang berkuah untukmu, jika sampai siang badanmu masih panas aku panggilkan Reno tidak ada bantahan." Tegas Pingka.
Si raja macan hanya mengangguk atas titah ratunya. Perlahan matanya tertutup dan hembusan nafasnya mulai beraturan. Ponsel Pingka berdering di atas nakas.
"Hallo, Bu." Jawab Pingka.
"Kalian dimana, Nak ?"
"Di rumah, Endra lagi demam." Balas Pingka.
"Baiklah, kami akan ke sana."
Pingka perlahan keluar dari kamar membantu Bi Weni memasak, dia juga meminta Bi Weni memasak banyak. Karena Ibu mertuanya akan datang bersama Melan dan Sandi.
...----------------...
Di salah satu Restoran di jantung kota itu, seorang pria tampan sedang merasakan bunga-bunga cinta bermekaran di hatinya, hari ini kencan pertamanya dengan seorang wanita cantik yang bekerja disalah satu Bank swasta. Dia adalah Dokter Reno butuh satu bulan untuknya mendekati wanita yang bekerja sebagai teller bank itu. Berawal pertemuan pertama saat mengurus sesuatu di sana Dokter Reno langsung jatuh hati pada wanita itu, ia tak hanya cantik tapi juga ramah dan lembut.
"Bee." Begitulah panggilan sayang Dokter Reno padanya.
"Iya Hon." Wanita itu menjawab dengan panggilan sayangnya untuk Dokter Reno.
"Kita akan pergi ke suatu tempat tapi agak jauh. Mungkin, satu jam dari sini."
"Tidak masalah asal bersamamu." Jawab wanita itu tersenyum lembut
Wajah Dokter Reno bersemu, dimana gombalannya selama ini ? Apa nyali Dokter itu menciut saat berhadapan dengan wanita yang bernama Vina ini?
"Baiklah, ayo kita berangkat." Dokter tampan itu menggenggam jari lentik Vina.
Mobil Dokter Reno meninggalkan restoran dan melaju dengan kecepatan rata-rata menuju tempat yang dimaksud. Sambil bergurau manja tanpa terasa mereka tiba di sana. Vina berdecak kagum melihat pemandangan dataran tinggi itu, tak hanya pemandangan Kota yang terlihat namun padang rumput yang tertata rapi menunjukkan keindahannya sendiri. Tak hanya mereka yang ada di sana, tapi banyak muda mudi menghabiskan waktu di tempat itu sambil bermanja di atas hamparan tikar dan menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Tawa dan bahagia begitu terlihat nyata di wajah mereka.
Dokter Reno mengambil tikar di mobil lalu membentang nya di atas rerumputan, sedikit menjauh dari orang lain agar sang kekasih tidak merasa canggung.
__ADS_1
"Bee, duduklah." Dokter Reno menepuk tikar disisinya.
Vina mengangguk lalu duduk di samping dokter Reno. "Terimakasih sudah mengajakku ke sini, aku tidak tahu jika ada tempat sebagus ini di pinggir Kota." Vina tersenyum bahagia.
"Syukurlah jika kamu senang dan kamu orang pertama yang aku ajak ke sini." Dokter Reno membelai lembut rambut panjang yang menyapu wajah tampannya itu.
"Benarkah? Jadi aku orang spesial." Vina sumringah
"Sangat spesial." Dokter Reno menggenggam tangan Vina.
Mereka larut dalam perbincangan di bawah pohon disertai angin yang menyapa lembut kulit mereka memberikan sensasi yang berbeda.
"Aku ada sesuatu untukmu." Dokter Reno mengeluarkan kotak berwarna merah.
"Apa ini?" Vina menerima kotak kecil itu.
"Bukalah."
Mata Vina membulat sempurna melihat keindahan benda di dalam kotak merah itu, jarinya mengambil perlahan benda yang tertata rapi di sana. Ternyata sebuah kalung yang cantik dengan liontin huruf V dan R . Dokter Reno sengaja memesan kalung itu khusus untuk kekasihnya.
"Kamu memberiku kalung, ini sangat cantik." Ucap Vina bahagia.
"Tapi kalung ini kalah cantik jika kamu memakainya." Dokter Reno membuka pengait kalung lalu memakaikan di leher Vina,
"Terimakasih." Ucap Vina terharu bercampur senang.
"Kamu sangat cantik Bee, aku sengaja memberikannya di tempat ini agar kamu bisa mengingat kenangan ini, aku akan selalu membuat suasana baru supaya kamu tidak bosan dan menciptakan kenangan manis untuk kita. Setiap hal yang kita lewati akan menjadi cerita indah suatu hari nanti." Dokter Reno mengecup lembut kening kekasihnya.
Wajah Vina merona merah mendengar kata-kata manis Dokter Reno, ditambah lagi senyum memabukkan khas dirinya membuat Vina terbang di udara jika saja ia tak kuat menyadarkan dirinya.
Tidak ada gombalan terkandung dalam kalimatnya semua kata-kata itu terucap tulus dari hatinya. Dokter Reno tipe pria tidak mudah jatuh cinta, jika ia mengatakan mencintai maka dengan segala kemampuannya menjaga kisah percintaannya dengan baik.
Dokter Reno menjatuhkan kepalanya di pangkuan Vina dan menatap lembut manik mata wanita yang memiliki hatinya itu.
"Aku mencintaimu." Ungkap Dokter Reno.
Vina mengangguk. "Aku juga mencintaimu." Ia menunduk dan mencium kening pria itu.
__ADS_1
Wajah dokter Reno lagi-lagi merona jika tidak ada orang di sana. Mungkin ia akan berguling-guling di rumput karena bahagia.