
Obrolan panjang beberapa waktu lalu membuat dua insan berbeda rumah itu kembali bersemangat melakukan aktivitas tiap hari. Sambil bersenandung kecil Endra mempersiapkan dirinya di depan kaca.
"Cermin, apa aku sudah terlihat tampan?" Endra meneliti dari atas sampai bawah penampilannya.
Dia turun dari kamarnya bermaksud untuk sarapan. Lagi - lagi dia lupa jika asisten rumahnya baru kembali hari ini. Endra langsung melangkah ke belakang menuju rumah kecil di sana. Ia mengetuk pintu bertepatan dengan Pingka yang ingin keluar dari dalam rumah.
"Ada yang bisa aku bantu ?" Tanya Pingka. Ia sudah mengenakan pakaian kerja dan membawa tas ranselnya.
"Kamu sudah sarapan ?" Endra balas bertanya. Ia terkagum pada gadis pedalaman ini. Di matanya Pingka semakin cantik saja.
"Iya."
"Aku ingin sarapan." Endra menepis rasa malunya.
"Baiklah, ayo masuk ! " Pingka melebarkan pintu lalu memutar tubuhnya untuk melangkah ke arah dapur.
Endra duduk di kursi meja makan dengan senang menunggu Pingka menyajikan makanannya.
"Silahkan sarapan, aku berangkat dulu tinggalkan saja kuncinya di pot bunga." Wanita itu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Endra yang sedang sarapan.
Endra menatap tak percaya pada Pingka yang meninggalkannya seorang diri.
Apa aku sudah gila ? Mengharap dia duduk manis menungguku makan.
...----------------...
Siang ini karyawan sibuk mengurus persiapan ulang tahun perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka hilir mudik dengan berbagai macam tugas yang telah ditentukan. Canda dan tawa membingkai wajah mereka ketika bekerja.
"Hai - hai, lihatlah wanita udik ini ! Menjadi sekretaris kembali. Entah apa yang dijanjikannya pada Pak Endra !" Dinda bersuara di depan pintu ruangannya. Tatapannya begitu sinis dengan tangan terlipat di dada.
Pingka menghentikan langkahnya lalu berpaling menghadap Dinda.
"Bisa diulang kata - katanya." Ucapnya dengan wajah menantang.
"Apa kamu memberikan tubuhmu pada Pak Endra sampai kamu bisa kembali menjadi sekretarisnya lagi?" Dinda tersenyum mengejek. Nada suaranya sedikit nyaring agar menjadi perhatian karyawan lain. Niatnya benar-benar ingin mempermalukan wanita itu.
Pingka membalas dengan senyuman manisnya. "Apa kamu sedang membuka rahasia mu sendiri, Nona ? Bukankah ? Kamu sendiri yang menggoda Bos dan ingin menjadi sekretarisnya."
Dinda diam membisu dengan wajah merah karena malu bercampur marah. Bagaimana Pingka bisa tahu kejadian beberapa hari lalu?
Dinda mengangkat tangannya di udara ingin menampar Pingka. Tapi sebelum tangan itu menyentuh pipi mulus wanita itu, Ravita datang bersama Rangga.
"Lepaskan !" Teriak Dinda menarik tangannya dari genggaman Ravita. Mata mereka saling beradu penuh amarah masing-masing.
"Jaga tanganmu dengan baik." Rangga menatap tajam pada Dinda .
Mereka gegas meninggalkan gadis itu yang masih marah.
...----------------...
Pingka pergi menemani Endra bertemu Klien di salah satu restoran. Seperti biasa wanita ini memesan taksi online. Endra terlebih dulu naik mobilnya sendiri. Pingka masih berdiri di dekat pos depan kantor. Ia enggan untuk satu mobil dengan atasannya itu. Meski pun Endra ingin berteman. Namun, ia tak ingin berharap begitu saja.
" Pingka." Panggil Dimas keluar dari mobilnya. Laki-laki itu terlihat tampan mengenakan jas berwarna hitam.
"Pak Dimas, ada perlu apa?" Pingka melihat kearah Dimas yang menghampirinya.
"Ayo makan siang." Dimas tersenyum manis mengembang jika berhadapan dengan gadis pedalaman ini.
"Maaf, Pak. Hari ini sepertinya tidak bisa. Saya akan menemani Pak Endra bertemu Klien." Jawab Pingka. Manik matanya melirik ke arah mobil Endra yang belum juga berangkat. Dalam hatinya bertanya kenapa laki-laki itu masih di sana?
Dimas mengerutkan keningnya lalu melihat tas yang dibawa Pingka. "Apa dia merekomendasikan kamu jadi sekretarisnya lagi?"
" Iya, sudah satu minggu yang lalu." Pingka tersenyum tipis.
Dimas mengangguk dan melihat kearah mobil Endra yang mengawasi mereka sejak tadi. "Baiklah, kalau begitu. Bagaimana kalau makan malam ?"
"Iya." Balas Pingka setuju. Tak apa pikirnya mengabulkan keinginan Dimas. Toh, selama ini ia sering menolak ajakan laki-laki itu.
Dimas meminta ponsel Pingka dan menukar nomor mereka. "Taksi mu sudah datang, hati - hati dijalan." Ujarnya mengacak - acak pucuk kepala Pingka. Ia senang akhirnya bisa mendapatkan nomor ponsel sekretaris cantik ini.
__ADS_1
Pingka mendengus kesal karena Dimas membuat rambutnya berantakan. Dari dalam mobil Endra begitu memperhatikan, tangannya mengepal di atas setir mobil saat Dimas menyentuh rambut Pingka.
"Sial, dia selalu punya cara membuat wanita itu bisa jatuh cinta padanya." Gerutu Endra dengan hati dongkol.
...----------------...
Endra terlebih dulu sampai di sana menunggu di depan restoran dengan hati masih kesal. Pemandangan tadi sangat membuatnya panas. Namun, Endra masih menolak penyebab rasa tak sederhana itu mampir di hatinya. Taksi Pingka berhenti di depan Endra. Netra laki-laki itu menatap tajam pucuk kepala Pingka. Tepat di mana tangan Dimas mengusap rambutnya.
"Maaf membuat Bapak menunggu." Pingka berdiri di hadapan atasan sekaligus suaminya itu.
"Hm." Jawab Endra datar. Ia memutar tumitnya kemudian melangkah masuk ke dalam restoran. Panas hatinya masih belum berkurang apa lagi melihat anak rambut Pingka sedikit berantakan karena perlakuan Dimas.
Ada apa dengannya ?
Pingka mematung sejenak. Lalu membenarkan tatanan rambutnya.
"Hei, apa kamu tetap akan berdiri di sana?" Endra memasang wajah kesalnya lagi. Pingka terkejut lalu mengekor Endra masuk kedalam restoran. "Maaf Pak kami terlambat" Ucap Endra pada Kliennya.
"Tidak apa- apa, Pak." Jawab laki - laki itu tersenyum dan menatap Pingka.
Klien ini selalu melihat pada Pingka, dia benar-benar terhipnotis dengan wajah cantik alami milik Pingka. Endra memulai pembicaraan. Tapi sayangnya tak digubris oleh pria yang menjadi Kliennya ini.
Mata Endra menangkap pandangan laki - laki itu. Ia menoleh pada Pingka yang hanya fokus pada dokumen di depannya. Ada kelegaan dalam hati Endra karena Pingka memiliki sikap dingin pada orang yang tak dikenal.
"Ehm ! Bisa kita memulainya lagi ?" Laki-laki arogan ini menatap tajam dan datar pada kliennya itu. Lagi, empar di dadanya naik, belum juga satu jam ia kembali panas melihat tatapan Kliennya itu pada Pingka.
"Baiklah, Pak. Maaf saya salah fokus" jawab laki - laki itu.
Endra dan Klien itu mencapai kesepakatan setelah mengadakan pertemuan hampir satu jam. Dalam hatinya begitu marah, laki - laki di hadapannya ini curi - curi pandang pada Pingka. Meeting di akhiri dengan makan siang, kali ini Pingka duduk di meja yang berbeda dari Endra dan Kliennya.
...----------------...
Usai sudah pertemuan mereka, Endra dan Pingka kembali pulang ke kantor dengan mobil yang berbeda. Wanita itu melangkahkan kakinya menuju keruangan Sandi karena mendapatkan panggilan dari interkom.
"Masuk"
"Permisi." Pingka berdiri didepan meja.
"Iya nanti saya cari, hanya itu ?" Pingka berniat meninggalkan ruangan Sandi.
"Iya, terimakasih."
Menghabiskan waktu dua puluh menit Pingka mendapatkan Resort yang bagus tempat pelaksanaan acara. Sandi juga sudah menerima alamatnya.
Ini yang ku suka dengan kinerja mu
Sandi tersenyum melihat pesan singkat Pingka.
Hal itu tak luput dari pandangan Endra yang kebetulan keluar dari ruangannya. "Buatkan aku kopi." Titahnya dengan wajah datarnya.
Hati Pingka berbunga - bunga saat Endra memintanya membuatkan kopi kembali.
Tuhan, dosakah ? Aku mencintai milik orang lain ? Jika iya kubur rasa ini dalam - dalam. Tapi jika tidak, maka ketuklah pintu hatinya. Beri cahaya Mu pada layar hatinya yang menggelap
Batin Pingka angkat bicara saat mengaduk kopi hitam kesukaan Endra.
...----------------...
Pingka sedang sibuk menyiapkan diri di kamar, berdandan seadanya dan memakai dress selutut tampak cantik dipandang mata. Malam ini adalah malam janji makan malamnya bersama Dimas.
"Nak, Pingka cantik sekali." Tegur Bi Weni yang sudah kembali dari cuti. Wanita paru baya itu tersenyum membelai lembut rambut panjang istri majikannya itu.
"Masih seperti yang dulu, Bi." Jawab Pingka tersenyum tipis. Tangannya meraih ponsel dan juga dompet lalu memasukannya ke dalam tas.
"Mau kemana, Nak ?" Bi Weni duduk ditepi kasur.
"Ada janji makan malam bersama teman." Pingka sekali lagi melihat tampilannya di kaca.
"Hati - hati, Nak ! Jangan terlalu malam. Bagaimana pun, kamu wanita bersuami walau tak ada seorang yang tahu." Nasihat Bi Weni dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Iya, Bi. Terimakasih." Balas Pingka memeluk Bi Weni. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan wanita paru baya itu saat dirinya tidak di akui.
"Berangkatlah hati - hati " Bi Weni melonggarkan pelukan. Pingka mengangguk lalu melangkah keluar karena taksi yang dipesannya sudah datang.
Dari atas balkon Endra mengawasi dari balik tirai.
Mau kemana dia ?
Perasaannya kembali resah, apa lagi Pingka terlihat cantik dari sebelumnya. Ia mulai berpikir siapa teman kencan gadis pedalaman itu.
...----------------...
Dimas duduk dengan sabar menunggu wanita pujaan hatinya datang, matanya selalu mengawasi kedatangan orang - orang yang masuk. Dia menunduk menatap meja yang masih kosong itu dengan tatapan sendu karena wanita yang mencuri hatinya itu belum juga terlihat. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja mengusir jenuh dan resah yang mulai mengungkungnya.
"Maaf saya terlambat." Suara Pingka membangunkan Dimas dari lamunannya.
"Kamu datang." Dimas tersenyum bahagia. Rasa jenuh dan resahnya meluap entah kemana. Hatinya senang karena Pingka memenuhi janji mereka.
"Ya, karena aku sudah berjanji." Pingka duduk di kursi depan Dimas. Kali ini dia tidak menggunakan bahasa formalnya lagi.
"Pingka kamu cantik sekali." Puji Dimas.
"Terimakasih pujiannya, Pak Dimas juga tampan." Balas Pingka tersenyum tipis. Ia mengakui memang laki-laki di hadapannya ini tampan dan hangat.
"Jika aku tampan, apa kamu bisa jatuh cinta padaku?" Dimas refleks bertanya. Mungkin, ia tak ingin membuang kesempatan.
"Maksudnya?" Pingka pura - pura tak mengerti.
"Kita pesan makanan dulu saja." Dimas mengalihkan pembicaraan. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri. Karena gadis di hadapannya ini adalah wanita bersuami. Kemungkinan ditolak pun ada, meski rumah tangga Pingka tidak baik-baik saja.
Pingka mengangguk lalu memeriksa ponselnya sebentar. Beberapa menit kemudian makanan datang mengisi keheningan yang tercipta sebentar di meja itu. Mereka makan dalam diam tanpa ada pembicaraan.
"Pingka." Dimas menghentikan makannya. Ia meraih tissue lalu menyeka bibirnya. Pertanda jika makannya sudah selesai.
" Ya."
"Kamu baru mengatakan aku tampan, apa bisa kamu jatuh cinta padaku ? Karena aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali bertemu." Dimas merasa habis melepaskan beban yang berat setelah mengatakan kalimat keramat itu. Kata-katanya meluncur bagai air hujan tanpa kendala.
"Pak Dimas. Aku harus jujur, sebenarnya aku wanita yang sudah menikah karena perjodohan." Ucap Pingka tanpa menyebut identitas suaminya.
"Siapa laki - laki yang beruntung menikahi kamu." Dimas senang karena Pingka mengatakan sendiri kebenarannya. Meski terasa sakit di hatinya.
Pingka tersenyum masam. "Pernikahan dilandasi perjodohan dan memiliki hati yang keras tak ingin menerima keberadaan pasangannya. Apa itu disebut keberuntungan?"
"Benar juga, tidak ada keberuntungan di sana. Apa kamu mencintainya?" Dimas menunggu jawaban yang tentu akan menyakitkan.
"Ya, bodohnya aku jatuh cinta padanya. Dan aku juga berharap bibit cinta yang mulai tumbuh di hatiku layu dan gagal berkembang, atau... Mati. Bukankah ? Aku terlihat egois dan jahat mencintai dan menginginkan milik orang lain." Ada getaran di pita suara Pingka saat berkata. Hatinya sakit mengingat semua itu dan statusnya saat ini.
Jawaban Pingka memang sakit di hati Dimas. Tapi juga menampar wajahnya. Untuk menyadarkan dirinya betapa egois memaksakan cinta pada milik orang lain.
"Kamu benar, bukannya mencintai tak harus memiliki." Balas Dimas tersenyum tipis.
"Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Mungkin, ini resiko yang kita ambil saat hati menjatuhkan pilihan untuk mencintai milik orang lain. Egois kedengarannya. Tapi itu lah posisi kita hanya bisa mencintai dalam diam tanpa bisa memiliki. Sampai pada akhirnya cinta itu pergi dengan sendirinya. Suamiku milik wanita lain, aku orang ketiga dalam hubungan mereka." Pingka mengusap sudut matanya ketika buliran bening itu menetes. Ia tak kuasa mengendalikan perasaannya. Tak luput pula ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa hatinya lemah dan bisa jatuh cinta pada orang yang tak menginginkannya ?
Dimas menarik nafas berusaha mencerna kata - kata Pingka. Di tatapnya dua bola mata indah itu berusaha menyelaminya. Dimas menemukan bongkahan beban yang mendalam di sana. "Apa pilihanmu sekarang ? Mempertahankan pernikahan ini. Atau... Mengakhiri nya ?"
"Jika dia ingin aku berada di sisinya, maka aku akan selamanya bersamanya. Tapi jika dia memang tak menginginkanku, maka itu adalah sejarah pahit yang tertulis di lembaran hidupku dan aku harus melepasnya dan pergi." Jawab Pingka dengan suara parau.
Dimas dapat mengerti dengan baik dalam pernikahan Pingka dan Endra . "Berapa lama sudah pernikahan kalian ?"
"Dua bulan."
Pingka semoga saja cintamu untuknya terbalaskan dan cinta yang ku miliki akan kujaga sampai waktu menjawab segalanya
Dimas menatap penuh cinta pada wanita yang terlihat tegar tapi rapuh ini.
"Pak Dimas maafkan aku karena menyakiti hatimu" Ucap Pingka tulus
"Tak apa, setidaknya kamu tahu masih ada orang lain yang menunggu cintamu. Dan tak mungkin juga aku mengakhiri hidupku hanya karena kamu menolakku. Apa kata dunia ?" Dimas terkekeh berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
Pingka kembali tersenyum tipis, dia sangat senang Dimas bisa mengerti keadaannya. Jika memang dia masih sendiri dan tidak menyandang status istri. Mungkin, dia akan melupakan rasa cintanya yang mulai tumbuh untuk suaminya dan membuka hati untuk laki-laki sebaik Dimas.