Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Water park versi anak desa


__ADS_3

Mentari pagi menyapa penduduk bumi dengan cerah, kokok Ayam jantan bersahut-sahutan dengan milik tetangga. Hawa dingin menusuk persendian tulang membuat pria didalam selimut tebal ini meringkuk manja seperti udang.


Dimas beberapa kali menggeliat ingin bangun tapi tak juga bangun. Sejuk dan dinginnya udara pagi membuatnya bergeming dari tempat tidur. Pria ini tidur di ruang tengah depan televisi bersama Fajar. Perjalanan yang tak pernah terpikirkan olehnya.


Dimas benar - benar merasakan dan menikmati aura pedesaan pagi yang sunyi dan dingin. Jauh dari bisingnya kendaraan, udara yang sejuk dan aroma khas pepohonan basah karena tetesan embun. Tidur tanpa AC dan lampu listrik yang tidak menyala sepanjang malam.


Pertama kalinya dalam hidup Dimas tidur menggunakan lampu tembok, menyenangkan itu yang dirasakannya. Setelah beberapa kali meregangkan ototnya, Dimas benar - benar bangun.


"Bagaimana tidurmu, nyenyak?" Tanya Fajar sambil meletakkan gelas teh di atas meja.


"Sangat nyenyak aku menyukai tempat ini." Dimas kembali meringkuk dalam selimut.


"Mandilah, Ibu sudah menyiapkan air hangat untukmu." Kata Fajar sambil menghirup teh hangatnya.


Dimas mengangguk. "Bagaimana keadaan Pingka?" Ia meraih gelas teh dan menggenggamnya agar dapat hawa panas dari gelas itu


"Masih merasa ngilu, nanti akan Ibu buatkan ramuan herbal untuk lukanya biar sembuh dari dalam juga." Fajar meletakkan gelasnya kembali.


"Semoga dia cepat sembuh, Hari ini aku ingin jalan - jalan sekitaran kampung, apa boleh?" Dimas melepaskan selimut dari tubuhnya.


"Tentu boleh, asal jangan mengganggu anak gadis orang saja. Jika tidak mau kamu dikeroyok orang kampung." Balas Fajar sambil terkekeh.


Usai membersihkan diri Dimas kembali duduk di depan televisi, tidak ada kursi di sana hanya karpet dan kasur rendah tempatnya tidur tadi malam.


Pria itu menyeruput tehnya yang masih hangat berharap bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan setelah mandi.


Setelah sarapan Dimas dan Fajar jalan-jalan mengelilingi kampung ditemani Salsa dan Ferdi. Ada ketertarikan di hati Dimas untuk membangun pariwisata di sana.


"Siapa yang membuat tempat bersantai di tepi danau ini?" Tanya Dimas sambil duduk disalah satu kursi mengarah ke danau.


"Kami bersama masyarakat disini." Jawab Ferdi juga ikut duduk.


"Indah ... Sangat cocok untuk melepas penat dan lelah." Tutur Dimas memandang sekeliling danau .

__ADS_1


"Ini semua ide Pingka yang disetujui Kades jadilah masyarakat bergotong-royong membuatnya. Para orang tua bisa bersantai menunggu dan mengawasi putra - putrinya mandi di danau tanpa rasa takut hal buruk terjadi." Ferdi menunjuk pada anak -anak yang ramai mandi dan berenang.


"Mereka tak hanya orang kampung, tapi datang juga dari perkebunan sawit. Jadi mereka tak perlu mengeluarkan uang banyak hanya sekedar mencari udara sejuk di waktu senggang, jarak tempuh mereka kesini hanya tiga puluh menit" Salsa menambahkan penjelasan Ferdi.


Dimas mengangguk "Pingka memang wanita cerdas."


"Kamu benar, adikku memang cerdas. Banyak orang kebun pergi ke kota hanya untuk berbelanja kebutuhan pokok tanpa sempat menghibur diri karena waktu yang mereka miliki sedikit. Di sinilah ! Mereka menghabiskan waktu sambil menanti senja, ini water park versi kami anak Desa." Ucap Fajar bangga.


Puas berkeliling Fajar dan Dimas memutuskan pulang ke rumah begitu juga Salsa dan Ferdi pulang ke rumah mereka masing-masing. Fajar menemui Pingka di kamarnya.


"Bagaimana masih sakit?"


"Lumayan berkurang, Kak. Tolong ambil ponselku." Pingka menunjuk ponselnya. Tidak ada pesan atau telpon yang masuk.


"Apa Kakak perlu memberi pelajaran pada pria itu?" Ujar Fajar sedikit kesal.


Karena hampir tiga hari sudah Pingka tak banyak bicara, dirinya banyak termenung dengan tatapan kosongnya.


"Tidak perlu, Kak ! Jangan menghabiskan tenaga Kakak untuknya. Tenanglah, aku mampu mengatasi ini semua." Pingka memaksakan senyum.


"Pak Dimas terimakasih sudah menolong dan mengantarku sampai kesini, ini Desa tempatku dilahirkan dan dibesarkan. Apakah pak Dimas malu berteman dengan kami setelah tahu semuanya?" Kata Pingka memecahkan kesunyian.


"Tidak, aku bangga bisa mengenal kalian. Walau lahir dan tumbuh di Desa tapi kalian memiliki masa depan yang bagus serta pendidikan tinggi. Hanya Desanya yang tertinggal tapi tidak untuk muda - mudinya, mereka semua sukses meraih cita-cita, dan kalian bahu - membahu membantu membangun dan memperkenalkan desa ini pada publik. Agar dilirik pemerintah setempat supaya dapat melestarikan budaya dan membantu fasilitas disini." Jawab Dimas panjang lebar.


Pingka tersenyum tipis. "Nanti jika kamu punya waktu luang berkunjung lagi kesini, akan aku perkenalkan budaya dan tradisi disini. Satu Desa tapi ada beberapa agama hidup berdampingan, mereka semua rukun dan memiliki jiwa toleransi antar umat beragama yang tinggi."


"Pasti, akan kutunggu waktu itu tiba." Ujar Dimas sambil mengupas buah untuk Pingka.


Ditengah perbincangan tiba - tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki yang nampak sedikit berbeda dari penampilannya. Hari - hari yang selalu tampil rapi, bersih dan berkharisma hari ini semua tidak terlihat.


Rambutnya acak-acakan, bulu-bulu halus mulai tumbuh di wajahnya, kantung matanya menghitam dan bibir sedikit pucat, berdiri tegap dihadapan semua orang di teras rumah. Matanya hanya tertuju pada satu orang yaitu, Pingka.


"Nak Endra ! Kamu disini?"

__ADS_1


"Iya, Bi. Aku kesini untuk menemui kalian semua khususnya, Pingka." Jawab Endra terlihat kali ini sorot matanya berharap kedatangannya tidak ditolak.


Fajar mengepalkan tangannya sekuat hati tak memukul pria dihadapannya ini, begitu juga Dimas ia berusaha tak ikut campur urusan Pingka dan Endra.


"Masuklah kita bicara di dalam." Ujar Bibi Halimah.


Endra masih bergeming dari tempatnya berdiri, ia merasakan aura tak bersahabat dengannya, terlebih sorot mata Pingka yang dingin menembus relung hatinya.


"Masuklah." Ucap Pingka datar lalu berdiri perlahan dibantu Fajar.


Hati Endra terasa remuk melihat kondisi Pingka yang lemah dan sakit, rasa bersalahnya sangat menghukumnya kali ini. Endra masuk di ikuti oleh Dimas dan duduk di depan televisi, pria ini mengingat tiap sudut rumah yang ia masuki nampak berbeda dengan rumah tempatnya menginap sewaktu kecil. Tanpa membuang waktu Endra mengatakan maksud dan tujuannya.


"Bibi, Fajar. Aku minta maaf atas perlakuanku yang tidak baik pada Pingka." Ucap Endra dengan nada suara rendah. Pingka tak bicara hanya melihat pada Endra yang bicara.


"Jujur, kami kecewa dan marah padamu, tapi tetap kami tak ingin ikut campur terlalu berlebihan pada urusanmu dengan Pingka, jika kamu merasa bersalah padanya maka minta maaflah pada Pingka dan jika ada masalah selesaikan permasalahan kalian agar tidak jadi dendam dikemudian hari." Nasehat Bibi Halimah


"Nasib baik berpihak padamu. Andai kemarin kamu muncul. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu." Timpal Fajar. Ia berusaha menahan diri agar tidak menyelesaikan masalah Adiknya dengan cara laki-laki.


Endra menatap Pingka yang tak bersuara sedikit pun. "Pingka maafkan aku... Maaf, atas kesalahanku selama ini." Ucapnya dengan sorot mata penuh harap dan memerah.


"Istirahatlah kamu baru sampai, bersihkan tubuhmu terlebih dulu setelah itu baru makan." Titah Pingka datar tanpa berniat menjawab permintaan maaf Endra.


Hati Endra senang Pingka masih memperhatikannya. Fajar dan Dimas yang semula menyimpan amarah menjadi melemah setelah memperhatikan benar-benar dari atas sampai bawah bagaimana tampilan Endra. Pria ini begitu kusut dan frustasi, mereka dapat menebak telah terjadi sesuatu.


"Turuti kata-kata Jingga." Fajar mencoba ramah dan meredam amarah yang bergejolak di hatinya.


Endra mengangguk dan Dimas menemani Endra membersihkan diri lalu makan siang sambil berbincang . Sementara Pingka memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamarnya, Endra kebingungan mencari Pingka tidak ada di ruang tengah.


"Dia sedang tidur, kamu istirahatlah." Ujar Bibi Halimah lembut.


Endra mengangguk lalu bergabung dengan Dimas dan Fajar, ia mulai menceritakan jika Pingka dan dirinya belum berpisah secara resmi dan ia juga ingin membawa Pingka kembali pulang bersamanya ke Kota. Bibi Halimah, Fajar dan Dimas hanya bisa mendukung keputusan dari Pingka.


"Cobalah, tapi apa pun keputusan  Adikku kamu harus menerimanya dan proses sidang perpisahan kalian pasti akan berlanjut jika kamu sudah mendaftarkan nya." Kata Fajar mencoba mengalah.

__ADS_1


Endra tertegun dalam hatinya sangat berharap Pingka mau menerimanya kembali dan ikut pulang ke Kota.


__ADS_2