
Sudah tiga hari Pingka belum pulang ke Apartemennya. Hal seperti ini tak luput dari pantauan Endra, selama itu juga ia tak bertemu pada Pingka.
Bisa saja Endra langsung mendatangi kediaman Fajar, tapi niat itu diurungkannya karena dirinya bukan takut pada Fajar tapi lebih takut pada Pingka kalau semakin membentang jarak antara mereka berdua.
Usai seharian berkutat dengan pekerjaannya, Pingka akhirnya pulang ke Apartemennya. Selesai membersihkan tubuhnya, ia istirahat sejenak di sofa ruang tamunya. Terdengar beberapa kali bel berbunyi. Pingka bergegas berdiri dan membuka pintu.
"Hai, sayang !" Endra tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kenapa kesini?" Pingka belum mau membuka pintu dengan lebar.
"Mau numpang mandi, air di tempatku macet."
"Kamu jauh-jauh kesini hanya mandi ? Dan mana mungkin air di rumahmu macet." Pingka tak percaya.
"Kamu tidak percaya ? Ayo ikut aku !" Endra ingin meraih tangan Pingka.
"Tidak perlu ! Mandi di hotel sana !" Pingka menutup pintu kembali.
Tapi bukan Endra namanya kalau tidak gigih dengan rencananya. Lagi-lagi ia mengetuk pintu unit Pingka. Bahkan beberapa tetangga ikut keluar.
"Sayang ... Ayo dong buka pintunya ! Aku mau mandi, badanku lengket semua." Teriak Endra dari luar.
Pria ini cukup beruntung di Kota ini belum banyak yang mengenalnya, jadi tidak khawatir dengan berita tentang dirinya esok pagi.
"Nona, suaminya jangan dihukum diluar kasian." Seru Ibu penghuni baru disitu.
"I—iya, Bu. Maaf sudah membuat keributan." Pingka malu bercampur marah. Saat membuka pintu bertepatan dengan pintu di depan unitnya juga terbuka. Endra tersenyum penuh kemenangan ingin rasanya mencium tangan Ibu paruh baya yang bicara tadi. "Puas ! Membuat keributan di sini ? Cepat mandi setelah itu pulang dan jangan datang lagi kesini !"
"Pingka Jingga Biru, mulai hari ini kamu harus terbiasa dengan kehadiranku karena sejak tiga hari yang lalu, kita sudah bertetangga dan aku tidak pernah melepaskanmu lagi, dimana kamarmu?" Endra mengedipkan matanya.
"Jangan di kamarku ! Masuk kamar tamu saja." tunjuk Pingka dengan matanya.
"Tidak mau." Endra langsung masuk kedalam kamar Pingka.
Wanita ini tak bisa bersuara lagi hanya diam sejenak, ia berusaha mencerna tiap kata yang Endra lontarkan. Sepertinya pria itu akan lebih nekat lagi jika ia melawannya.
__ADS_1
Di dalam kamar Endra bukannya langsung mandi, tapi malah berguling - guling di kasur Pingka. Senyumnya terus mengembang tanpa henti, sebelum mandi ia menyelipkan foto yang dibawa ke dalam saku celananya di bingkai foto milik Pingka.
Sementara di luar tak ingin banyak berpikir Pingka memutuskan memasak makan malam. Endra selesai mandi lalu memperhatikan Pingka yang sedang fokus memasak.
Aku ingin kamu selalu meramaikan dapurku ketika pagi, siang dan malam
Endra melangkah pelan lalu memeluk Pingka dari belakang. "Aku mencintaimu, sayang. Aku merindukanmu."
"Lepaskan ! Aku sedang memasak. Kenapa kamu suka memelukku seenaknya?" Kata Pingka sambil menyiapkan bumbu masakannya.
"Karena aku ingin tubuh ini yang menopangku ketika lelah dan tubuh ini yang memelukku saat dalam kesedihan. Aku juga ingin tubuh ini memelukku memberikan ketenangan dan kekuatan." Kata Endra lalu melepaskan pelukannya.
Wajah Pingka terasa panas, detak jantungnya tidak beraturan. Sudut hatinya berdenyut mendengar kalimat penyejuk jiwa yang baru saja di ucapkan Endra. Tubuh Pingka mematung buliran air matanya mengalir lembut di pipinya. Semenjak kedatangan Endra hidupnya mulai terusik lagi, ketenangan yang didapatnya selama ini mulai tergoyahkan.
Kenapa kamu memporak porandakan hatiku yang sudah tenang ?
Pingka menghembuskan nafas perlahan lalu mulai memasak kembali.
Endra bukannya pulang malah tiduran di sofa, ia sengaja membeli unit di sebelah Pingka karena tak ingin jauh dari mantan istrinya itu. Walau pun masih merasa belum dekat sekali dengan Pingka tapi setidaknya mereka jauh tak berjarak saat ini.
Setelah sekian lama baru sekarang Endra merasakan pulang ke rumahnya sendiri merasakan kedamaian dalam dirinya.
Hati Pingka terenyuh melihat wajah pria ini. Ia menyentuh lembut tangan kekar Endra. Terlihat kuku jarinya memanjang laki-laki itu sekarang memang lebih tampan tapi jauh dari kata rapi.
"Endra, ayo bangun makan malam dulu." Suara Pingka terdengar lembut dan entah dorongan dari mana ia menyebut nama Endra secara langsung.
Endra mengerjabkan matanya lalu tersenyum pada Pingka yang masih menjongkok di sisinya. "Aku mengantuk." Ucapnya sambil duduk.
"Ayo makan dulu." Balas Pingka dengan nada yang mulai rendah tak sekeras sebelumnya.
Endra mengangguk lalu melangkah menuju meja yang langsung berhadapan dengan dapur. Ia menghabiskan makan malamnya dengan lahap, Pingka tersenyum tipis hatinya menghangat melihat pria di depannya ini memakan kembali masakannya dengan lahap.
Endra begitu bahagia sedikit demi sedikit mimpinya sudah terwujud, kerinduannya memakan masakan Pingka kembali terbayarkan malam ini. Ia menyudahi makannya lalu membantu Pingka membereskan meja makan.
"Duduklah biar aku membersihkannya." Kata Pingka mulai terdengar ramah .
__ADS_1
Endra berulang kali mengerjabkan matanya tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
Dia memintaku duduk lagi dan tidak mengusirku
Endra tersenyum girang, tidak pakai lama ia menuruti perintah yang mulia ratu duduk manis di sofa. Menit berikutnya Pingka duduk di sofa yang sama dengan Endra.
"Kenapa kamu ikut pindah kesini ?" Pingka menyadarkan tubuhnya di dinding sofa.
"Aku sengaja biar lebih dekat denganmu." Endra menatap lekat wanita disisinya.
"Terserah padamu, aku ingin istirahat sekarang kamu pulanglah."
"Baiklah hati-hati, jika nanti terdengar suara ketukkan di pintu jangan dibuka itu bukan aku." Wajah Endra berubah serius
Seketika Pingka merasakan aura yang tak biasa entah muncul dari mana perasaan takutnya itu. Ia duduk kembali ke sofa.
"Ja—jangan menakuti ku" Pingka gelagapan. Tanpa sadar ia menggeser duduknya sedikit mendekat pada Endra.
"Jadi, bagaimana ? Masih memintaku untuk pulang, sayang." Endra mengangkat alisnya sebelah.
"Pulang sana ! Aku tidak takut." Pingka membuang rasa takut yang sempat hinggap tadi.
"Yakin?" Endra mulai berdiri.
"Hm."
Endra membuang nafas kasar. "Susah sekali mendekatinya, aku berharap kamu menahan ku disini." Menggerutu sendiri sambil melangkah keluar.
Pingka bernafas lega karena pria itu sudah keluar. Ia bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Namun setelah sampai dikamar, ia melihat seprai dan juga guling nya sudah tidak rapi lalu matanya tertuju pada bingkai foto dirinya dan juga ada foto Endra di sana. Ingin rasanya Pingka berteriak kesal karena lancangnya Endra mengacak-acak tempat tidurnya dan menyelipkan fotonya di sana.
Pingka meraih bingkai foto itu untuk mengeluarkan foto Endra. Tapi sebelum itu terjadi ada catatan kecil di sana ditinggalkan pria itu
'Jangan mencoba membuangnya atau aku ganti dengan foto yang lebih besar. I love you my wife'
Pingka mengeram kesal lalu pergi ke kamar mandi, sampai di sana dikejutkan lagi dengan handuk serta pakaian kotor milik Endra dengan manjanya teronggok begitu saja di tumpukan pakaian kotor.
__ADS_1
"Endra !!!" Desis Pingka marah.
Di ruangan lain Endra senang bercampur gelisah tidak bisa tidur. Ia sangat bingung alasan apa lagi yang ia buat agar bisa menemui Pingka.