Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Sepasang Terkhianati


__ADS_3

Usai makan malam Endra dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak untuk dokter Reno  dan Arin, mereka memilih pergi ke pantai kecil yang terletak di dekat pelabuhan.


Mobil Reno berhenti di sana, mereka berdua keluar dari mobil lalu duduk di salah satu kursi menghadap kearah laut. Sungguh pemandangan indah malam hari, cahaya lampu kapal kecil di tengah laut yang hilir mudik mampu menerangi sudut pantai yang remang.


Sambil menggenggam minuman kaleng beralkohol rendah, mereka masih diam satu sama lain nya. Masih menikmati sapaan angin malam dan suara gelombang menerpa pinggiran pembatas pantai.


"Wanita itu mantan kekasihmu?" Pertanyaan Arin memecahkan kesunyian mereka berdua.


Dokter Reno menghembuskan nafas kasar mengusir hawa dingin di kulitnya. "Iya, dia wanita pertama yang mengisi hidupku setelah kepergian kakakku" Jawabnya dengan pandangan lurus ke depan.


"Spesial !" Arin tersenyum tipis.


"Sangat spesial. Tapi dulu, setelah pengkhianatan nya. Dia hanya orang lain yang tidak membekas sedikit pun di hatiku"


"Benci?" Arin mengalihkan pandangannya pada pria disebelahnya.


Dokter Reno tersenyum tipis. "Tidak, aku tipe pria tidak pembenci wanita,  hanya pandanganku saja berubah padanya"


Mereka kembali terdiam sambil kembali meminum minuman mereka.


"Suami nya ?" Dokter Reno menoleh kepada wanita disebelahnya. Cantik itu yang tertangkap di mataqnya.


"Mantan tunanganku" Arin menundukkan pandangan nya sejenak ke atas pasir. "Dia memutuskanku karena wanita itu, dia tidak bisa memiliki istri seorang dokter karena tidak akan fokus pada dirinya" Sambung Arin. Raut wajahnya berubah murung.


"Alasan tipis, jika dia mampu memberikanmu apa saja. Kamu bisa berhenti dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya" Kata dokter Reno.


"Dokter adalah impianku, itulah permasalahannya. Aku tidak bisa mengalah dan dia tidak mau mengerti" Ucap Arin. Ia kembali meminum minumannya hingga tandas, begitu pun dokter Reno menghabiskan minumannya .


"Aku hanya permainan untuknya, kita sepasang dikhianati" Dokter Reno terkekeh.


Arin juga tersenyum. "Setidaknya mereka hidup bahagia walau tidak bersama kita" Berkata sambil melangkah ke bibir pantai.


Dokter Reno menatap punggung wanita yang sedang berdiri membelakangi nya, aroma parfum khas miliknya begitu menyeruak ke rongga hidung dokter tampan ini .


Entahlah, ia merasa tenang dan damai saat menghirupnya sangat dalam, dokter Reno melangkah mendekati Arin berdiri dan sejajar dengannya.


"Terimakasih malam ini"


Arin mengangguk dan tersenyum sangat manis. "Hawa nya bertambah dingin, ayo pulang" Tangannya terangkat menggosok lengannya mengurangi rasa dingin.


"Ayo" Dokter Reno menarik tangan Arin kedalam genggamannya .


Sejenak mereka mematung menikmati debaran jantungnya masing - masing. Tersadar dengan posisinya, dokter Reno menarik tangan nya kembali.


"Maaf aku tidak sengaja "


Arin tersenyum. Tapi siapa sangka ia malah menarik kembali tangan Dokter Reno dan menggenggam nya.


"Tangan ku kedinginan"


Tak perlu ditanya wajah kedua nya bersemu merah hanya saja tidak terlihat karena lampu penerangan remang-remang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pria tampan ini menggeliat manja di atas kasurnya, lalu membuka perlahan matanya.  Pikiran nya tertuju pada satu orang yaitu dokter Arin. Bibirnya tersenyum tipis lalu mengangkat tangan nya dan menatap lekat pada telapak tangan nya. Masih terasa hangat nya genggaman Arin di sana.


Wajah dokter Reno tiba -tiba memerah. Dia menarik nafas nya perlahan untuk menguasai kegugupan nya. Tak ingin berlama-lama di kasur, Dokter Reno langsung membersihkan diri di kamar mandi. Mengguyur tubuh nya di bawah pancuran air dengan mata terpejam menikmati hangat nya air itu. Semakin ia memejamkan mata nya semakin jelas juga bayangan wajah Arin di kelopak mata nya.


Usai membersihkan diri dokter Reno bersiap untuk ke rumah sakit tanpa sarapan. Matanya mengarah pada dapur nya yang sepi.


"Tenanglah dapur ku yang malang. Aku akan mencari pemilik mu yang sesungguhnya."


Dokter Reno melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, dia tak hanya menjabat direktur  rumah sakit. Tapi juga dokter yang menangani pasien dari kalangan atas.


...----------------...


Di sinilah dia di kantin rumah sakit, dokter Reno mengisi perut nya terlebih dulu sebelum bekerja , matanya menangkap sosok perempuan yang bersama nya tadi malam.


"Hai, kamu sarapan disini?" Suara dokter Reno menghentikan kunyahan Arin.


Tiap sudut meja para dokter wanita menatap sinis pada Arin .


"Selamat pagi dokter Reno, aku tidak sarapan di rumah" Balas Arin.


"Aku juga ingin sarapan" Dokter Reno mengambil sumpit nya.


"Jadi kamu juga tidak memasak di rumah?" Tanya Arin.


Dokter Reno mengangguk.


"Bisa." Arin mengangkat wajah nya


"Besok weekend datanglah ke Apartemen ku. kita makan-makan di sana bersama Pingka dan Endra"


Arin mengangguk. "Baiklah, tapi sebelum nya kita belanja terlebih dulu"


"Besok pagi kita belanja, nanti malam aku jemput" Ucap Dokter Reno .


Apa rencana dokter Reno selanjut nya hanya dia yang tahu ?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi Weekend...


Pingka tengah menyiapkan sarapan bersama Bi Weni di meja makan. Tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang.


"Kamu sudah bangun, sayang?" Pingka merapikan letak piring sajian di atas meja.


"Hm, aku merindukan mu " Endra mengecup pipi kanan Pingka.


"Ayo sarapan" Pingka mengambil piring ingin mengisi nasi di dalam nya.


Endra masih enggan melepaskan tangan nya. "Sayang, apa kamu tidak merindukan bibi Halimah ?" Bertanya sambil menjatuhkan dagu nya di pundak Pingka.

__ADS_1


"Rindu. Tapi, kenapa kamu menanyakan itu?"


"Aku ada pekerjaan di kota S selama empat hari. Apa kamu mau ikut?" Endra melepaskan pelukan nya.


"Mau. Sebelum nya kita ke dokter dulu. Apa aku boleh naik penerbangan atau tidak?"


"Kita tidak pakai pesawat, sayang. Pakai mobil. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama mu, kita bisa berhenti di hotel jika kamu lelah" Ucap Endra.


"Baiklah aku setuju, aku juga ingin menghabiskan waktu lama bersama mu"


Mereka berdua sarapan bersama, beruntung nya hari ini makanan itu di terima oleh janin Pingka. Telpon rumah berdering dengan cepat Bi Weni mengangkat nya.


Bicara beberapa menit, Bi Weni menghampiri Endra di meja makan


"Tuan, dokter Reno meminta anda menelpon kembali".


"Baiklah. Tolong Bibi ambilkan ponsel ku di kamar." Balas Endra .


Bi Weni segera naik ke lantai atas lalu mengambil ponsel Endra.


"Kenapa dia meminta mu menelpon?"


"Entahlah, aku coba menghubungi nya dulu." Endra mengambil ponsel yang di kasih Bi Weni. Berapa detik panggilan mengambang di udara akhirnya terjawab oleh si dokter Tampan.


"Hallo"


"Ada apa sampai panggilan mu banyak sekali?" Tanya Endra.


"Datanglah siang nanti ke apartemen ku"


"Dalam rangka apa?" Tanya tanya Endra lagi


"Makan si—"


"Dokter Reno, sayuran nya taruh saja di kulkas." Suara wanita memutuskan kalimat dokter Reno.


"Hei kamu mengurung wanita di Apartemen mu?" Tanya Endra penasaran. Telpon terputus tanpa ada jawaban dari dokter Reno.


"Kenapa ,sayang?" Tanya Pingka.


"Manusia langka itu menyuruh kita datang ke Apartemen nya, aku tadi mendengar suara wanita" Jawab Endra.


Pingka terkekeh. "Mungkin Arin, Apartemen mereka berdekatan.


"Kamu benar sayang. Ayo kita ke ruang tengah, aku ingin bicara pada anak ku" Kata Endra lembut.


Mereka berdua meninggalkan meja makan lalu berpindah keruang tengah bersantai sejenak sebelum ke Apartemen Dokter Reno.


Menuju Akhir ya Endra dan Pingka.


UNTUK READERS KU TANPA JEJAK AUTHOR UCAPIN TERIMAKASIH UDAH MAU MEMBACA 🙏🤭🥰

__ADS_1


__ADS_2