
Kediaman Endra
Pagi ini suasana sarapan cukup hening tanpa suara dari dua insan yang sedang menikmati sarapannya. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring, mereka seolah larut dalam pikirannya masing-masing.
Pingka tak habis pikir pada pria yang bernama Dion, akhir-akhir ini sering mendatanginya di toko roti. Walau sikap Pingka sudah menunjukkan tidak bersahabat tapi masih saja dia datang tanpa rasa malu. Entah apa niatnya hanya dia yang tahu.
Sementara Endra mencari cara agar pria bernama Dion itu tidak mendekati istrinya karena yang menjadi targetnya adalah Endra. Tapi Pria itu ingin menyentuh hal sensitif dari hidup Endra yaitu Pingka. Endra cemas jika istrinya mempercayai pria itu sementara dirinya belum bisa mencari solusi masalah yang mulai muncul lagi, permasalahan masa lalunya berlarut sampai saat ini membuat pria itu sedikit kerepotan. Ia cukup tenang selama 3 tahun belakangan karena Dion mendekam di penjara. Namun saat ini, Dion semakin berani menampakkan wajahnya setelah bebas.
"Jibi, apa pria itu masih menemui mu?" Endra selesai dengan sarapannya.
Pingka meletakkan gelas di atas meja. "Iya, walau aku sudah melarangnya tapi dia seperti tidak tahu malu, aku juga tidak tahu apa niatnya ?"
Dada Endra berdegup kencang. "Jauhi dia !" Titah itu keluar begitu saja dari mulut Endra.
"Apa? Jadi, secara tidak langsung kamu menuduhku sengaja mendekatinya." Suara Pingka terdengar kesal.
"Maksudku, hindari dia." Endra memperbaiki kalimatnya.
"Sudah aku hindari, tapi dia selalu datang sendiri. Entahlah ! Aku tidak mengerti dengan semua ini, dari caranya bicara tiap kalimatnya selalu memojokkan mu?" Ucap Pingka.
"Kamu percaya?" Endra mulai resah.
"Tidak, karena aku belum tahu permasalahan kalian dan juga apa kamu mengenalnya?" Pingka tiba-tiba penasaran.
"Tidak ! Ayo kita berangkat , Dami sudah menunggu." Endra mengalihkan pembicaraan.
Pingka mengangguk lalu bersiap untuk pergi ke toko. Didalam mobil mereka tidak terlibat percakapan. Pingka merasa kemunculan Dion membawa masalah untuk suaminya, dia bisa melihat jika Endra sangat gelisah dua minggu terakhir ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Pingka melirik dari sudut matanya terlihat Endra sedang menatap datar luar jendela.
Mobil berhenti di depan toko, mata Endra menatap tajam pada pria yang menggunakan jaket hitam duduk manis di depan toko. Ia bergegas turun lalu menarik kerah baju pria itu yang tak lain adalah Dion.
"Kenapa kamu datang lagi ?! Jangan coba-coba mengganggu istriku !" Ucap Endra penuh penekanan.
__ADS_1
"Tenang Tuan jangan emosi, aku hanya ingin berkenalan dengan istrimu, dia wanita yang menarik." Dion tersenyum dan tatapan matanya tak kalah dinginnya. Sorot mata penuh dendam itu seperti siap ingin mencabik tubuh musuhnya.
"Istriku tidak tahu apa-apa. Jauhi dia!" Endra melepas kasar kerah baju Dion.
"Mungkin, aku gagal membalasmu lewat Adik tercintamu tapi bagaimana jika lewat istrimu yang cantik itu." Bisik Dion .
"Sudah berapa kali kukatakan ! Aku tidak bersalah, vidio yang kamu lihat itu hanya potongannya saja, aku tidak mengerti dari mana dia mendapatkan rekaman itu." Balas Endra.
"Kamu kira aku bodoh, Tuan ! Kamu orang berkuasa apapun bisa dibeli dengan uangmu." Dion tersenyum sinis
"Akan aku buktikan sekali lagi jika aku tidak bersalah." Tegas Endra.
"Bagaimana kalau istri cantikmu itu percaya jika aku mengatakan semuanya ? Betapa bejatnya dirimu. apa dia masih mempercayaimu ? Atau menerimamu sebagai suaminya. Aku tidak sabar melihat kehancuran seorang Endra Saguna." Dion tersenyum tipis meninggalkan Endra yang masih berdiri.
Dion menghampiri Pingka yang ikut melayani pembeli. Dia tersenyum manis dalam hatinya mengagumi sosok Pingka yang masih mau berbaur dengan orang lain meski pun istri seorang CEO ternama.
"Hai Pingka."
Pingka hanya menoleh tanpa berniat menjawab. Melihat itu Endra bergegas mendekati Pingka dan menariknya kembali ke dalam mobil, Dami melihat heran apa yang terjadi dia belum tahu .
Setelah pria itu pergi Endra masuk kedalam mobil dan duduk di sisi Pingka. Wajah Endra begitu frustasi menatap kosong ke depan. Dia harus berpikir cepat untuk mengatasi masalah ini, Endra juga tak menyangka jika Dion sudah menyiapkan ini jauh hari. Pria itu menepati janjinya menunggu seseorang yang menjadi istrinya.
"Kita kemana, Pak?" Dami memberanikan diri bertanya.
"Ke kantor."
"Aku akan turun." Pingka ingin membuka pintu mobil.
"Ikutlah denganku." Sorot mata Endra setengah memohon.
"Baiklah sayang." Pingka tersenyum.
__ADS_1
Ia merasakan jika suaminya sedang gelisah, tapi Pingka tak berniat bertanya karena Endra juga sepertinya berat untuk bercerita.
...----------------...
Endra mengajak Dami keruangan rapat sebelah ruangannya, dia memastikan tidak ada yang mendengar. Dengan wajah serius Endra mulai bercerita begitu juga raut wajah Dami yang berubah-ubah.
Pingka sebenarnya penasaran, apa yang sebenarnya terjadi ? Apa hubungan Dion dan suaminya ? Melihat gelagat Endra seperti sudah mengenal Dion begitu juga sebaliknya. Bahkan perintah Endra untuk menjauhi Dion bukan seperti larangan karena cemburu tapi terlebih pada rasa takut.
"Jibi boleh aku meminta padamu?" Endra duduk bersandar di sofa.
"Apa itu?" Pingka menghadap pada suaminya.
"Ikutlah setiap hari denganku ke kantor." Balas Endra. Sorot matanya begitu berharap.
"Kenapa ?"
"Aku khawatir pria itu datang menemui mu lagi." Endra menarik tangan Pingka untuk digenggamnya.
"Jangan cemas, aku bisa menjaga diriku." Ucap Pingka.
"Aku butuh dirimu saat ini sayang, aku ingin kamu selalu bersamaku di sini." Alasan logis disampaikan Endra.
Pingka mengamati wajah suaminya tak ingin larut dalam kecurigaan ia mengangguk. "Baiklah, sekarang kamu bisa bekerja aku akan menemanimu." Ia tersenyum lembut.
Endra tersenyum dan bersemangat lalu beranjak ke kursi kebesarannya. Sementara Pingka berselancar cantik di media sosial mengecek akunnya satu persatu.
...----------------...
Di tempat lain Dion tersenyum penuh kemenangan karena mulai berhasil mengusik ketenangan Endra saat ini, matanya beralih pada genggamannya, ada amplop coklat dan sebuah flashdisk.
"Aku akan lihat bagaimana kamu merangkak meminta maaf. Pria sepertimu tidak pantas disebut sebagai pria ! Sudah melakukan kesalahan bukan datang untuk meminta maaf tapi malah membungkam mulut orang lain dengan uangmu." Gumam Dion
__ADS_1
Tangannya meraih bingkai foto di atas nakas, menatap penuh rindu pada sosok wanita yang memeluknya hangat.
"Akan aku lakukan apa pun agar Kakak bisa kembali seperti dulu, walau harus melalui wanita baik seperti Pingka."