
Pingka menepati janjinya setelah hamil. Ia jarang datang ke toko roti nya. Hanya sesekali itu pun harus di temani Endra. Pria itu tidak membiarkan jika istrinya pergi sendiri meski hanya ke rumah Dimas dan Salsa.
Pingka rindu berkumpul bersama teman-temannya. Ia meminta ijin pada Endra untuk makan malam bersama di sebuah restoran, seperti biasa suaminya itu menuruti kemauan Pingka.
Dengan begitu, Endra berharap Pingka bisa makan dengan banyak. Kadang Salsa mengantarkan makanan untuk sahabatnya ini dan begitu juga dengan Rizka istri Arif, polwan itu menyempatkan diri mengunjungi sahabat suaminya itu.
Pada awal nya, ia keberatan dengan kedekatan Arif dan Pingka. Tapi setelah Rizka mengetahui jika bukan hanya Pingka, tapi Salsa juga bersahabat pada suaminya, bahkan mereka berasal dari kampung yang sama. Sungguh membuatnya malu. Rizka memilih berteman pada mereka.
"Pingka ! Aku datang, ayo makan dulu ! Baby twins pasti lapar karena Ibunya susah makan." Riska masuk kedalam rumah Endra menenteng rantang makanan.
"Terimakasih, Riz. Tapi apa tidak merepotkan mu ?" Tanya Pingka tak enak hati.
"Tidak, aku justru senang memasak untukmu dan ini kemauanku sendiri."
Pingka mengangguk lalu makan berdua dengan Rizka. Usai mereka makan, polwan itu berpamitan karena harus membawa makan siang untuk Arif. Pingka duduk di sofa sambil menonton televisi. Endra yang baru datang langsung menghampiri istrinya.
"Kamu sudah makan, sayang?" Endra mengecup kening istrinya.
"Sudah, tadi Rizka membawa makanan untukku. Tunggu disini, aku siapkan makan siang mu." Pingka meninggalkan Endra di ruang tengah.
Begitulah Pingka hanya kendala makan permasalahan di kehamilan nya ini, selain itu ia bersikap normal segala kebutuhan suaminya bisa ia siapkan termasuk memasak untuk Endra. Suaminya itu selalu makan siang di rumah karena jarak tempuhnya hanya dua puluh menit.
"Bagaimana rencana nanti malam, apa sudah siap?" Tanya Pingka .
"Sudah , mereka siap datang." Endra menyeka mulutnya dengan tissue
Sebelum kembali ke kantor Endra, bermanja-manja dulu pada istrinya. Dan mengajak calon bayinya itu berbincang sambil membelai lembut perut Pingka.
"Sayang hati -hati di rumah jangan terlalu lelah, aku kembali kekantor." Ucap Endra sambil menenteng rantang makanan untuk Dami.
"Kamu juga hati-hati dijalan." Pingka mengantar suaminya didepan pintu.
Endra melambaikan tangannya lalu menginjak pedal gas meninggalkan pekarangan rumahnya.
...----------------...
Di sinilah mereka berkumpul, Endra sengaja tidak memesan ruangan khusus untuk mereka karena ia ingin Pingka merasa nyaman dan santai.
"Kalian sudah lama?" Tanya Sandi yang datang bersama Melan dan juga Syila
"Baru beberapa menit, sini Syila." Pingka mengambil alih balita itu dari ibu nya.
"Bagaimana kandungan Kakak?" Tanya Melan.
"Sehat hanya makan saja yang sedikit cerewet." Jawab Pingka.
"Mungkin mereka di dalam sana berebut ingin makan apa? Jadi ibunya yang tidak berselera makan." Seru Endra meraih tubuh Syila dari Pingka ke pangkuannya.
"Ternyata anak -anakmu sudah pandai bertengkar." Ucap Sandi.
Dari jauh Dimas dan Salsa mencari keberadaan Pingka dan yang lain.
__ADS_1
"Apa kami terlambat?" Ucap Dimas mengalihkan pandangan mereka di meja.
"Belum kami juga baru sampai." Jawab Sandi.
"Sini, Sa. Aku merindukan Ciara." Pingka mengambil Ciara.
"Jangan memaksakan dirimu menggendong Ciara, dia gemuk dan berat." Ucap Salsa
"Aku bukan wanita lemah." Balas Pingka sambil mencium gemas pipi bayi itu
"Dimana makhluk aneh itu, apa kalian tidak memberitahunya?" Tanya Dimas.
"Kamu merindukanku?" Suara dokter Reno mengejutkan mereka dan lebih mengejutkan lagi wanita di sampingnya.
"Kalian datang bersama?" Tanya Pingka senang.
"Iya Pingka, dia memaksaku ikut dengannya takut aku tersesat katanya" Jawab Arin.
"Tersesat di hatinya." Seru Sandi.
Dokter Reno hanya tersenyum. Arin duduk ditengah Pingka dan Salsa.
"Kamu tidak merindukanku ?" Suara Salsa menyadarkan Arin.
"Salsa, Ya Tuhan ini benar kamu. Aku merindukan mu maaf aku belum sempat mengunjungimu selama disini." Pekik Arin senang.
Arin adalah teman Salsa juga, mereka bertemu saat Arin ikut Pingka pulang ke kampung. Selama di kota ini, ia baru bertemu Pingka saja. Dua wanita itu berpelukkan melepas rindu.
"Iya, aku sering ikut Pingka pulang ke kampungnya, di sanalah aku bertemu dengan Salsa." Jelas Arin.
"Aku jadi yakin kamu jodohku."
"Apa ?!"
Semua orang melihat kearah dokter Reno. Pria itu menampilkan senyum manisnya.
Arin merona merasa malu, sejak pertemuan mereka disaat memeriksa Pingka tiga bulan lalu, pria tampan itu selalu menggodanya dengan segala gombalannya.
"Jangan tersenyum seperti itu ! Kamu ingin istriku jatuh cinta padamu." Kata Endra kesal.
Dokter Reno terkekeh. "Tak masalah jika para istri kalian ini jatuh cinta padaku, aku menerima dengan senang hati dan bersikap adil pada mereka, khususnya dokter Arin." Ucapnya tersenyum mengedipkan matanya.
"Sejak kapan kamu genit begini." Dimas melihat jengah pada Dokter Reno yang mengedipkan mata.
"Sejak kenal dia." Dokter Reno menunjuk Arin.
"Menggombal adalah pekerjaan Kak Reno yang utama sebelum merawat pasiennya. Dia akan menggoda kak Arin terlebih dulu." Seru Melan.
"Apa? Kau ingin kupecat !" Ucap Endra.
"Aku hanya pendekatan siapa tahu dia tertarik padaku." balas Dokter Reno santai.
__ADS_1
Sementara Arin hanya diam dan tersenyum, sebenarnya ia sudah terbiasa dengan sikap dokter Reno yang selalu memberinya sarapan gombal tiap pagi .
"Kamu tidak mengenalkan ku pada temanmu, sayang ?" Seru Dimas pada Salsa.
"Arin, kenalkan dia suamiku" Ucap Salsa. Arin dan Dimas saling berjabatan tangan.
"Jangan lama-lama memegang tangannya" Ucap Dokter Reno.
Dimas mendengus kesal, beberapa saat kemudian, Arif dan Rizka juga bergabung. Mereka mulai memesan makanan, mereka saling berbincang, mengejek, tertawa dan bercanda .
Pesanan datang, mereka makan dengan santai saling bertukar rasa makanan, saling menyuapi pasangan masing-masing tapi tidak untuk dokter Reno dan Arin.
"Arin, kamu mau menikah denganku?" Pertanyaan dokter Reno menggantung sendok semua orang.
"Kamu gila melamarnya ditengah makanan seperti ini." Seru Endra.
"Aku hanya latihan siapa tahu besok aku akan melamarnya" Balas Dokter Reno.
Sementara Arin menghembuskan nafasnya perlahan merasa berdebar.
"Arin."
Suara sapaan seorang Pria menarik perhatian mereka semua.
"Anda mengenal saya?" Tanya Arin dingin.
"Aku tidak lupa padamu, sekarang kamu ikut bergabung pada keluarga konglomerat ini?" Ucap Pria itu .
Yang lain hanya diam mendengarkan percakapan mereka.
"Anda salah orang, saya tidak mengenali anda." Balas Arin datar.
"Jangan sombong begitu Arin, perkenalkan ini istriku Vina, dia jauh lebih cantik darimu. Aku tidak pernah menyesal melepaskan mu." Tersenyum meremehkan. Sementara Vina hanya tersenyum tipis merasa menang.
Arin diam sejenak. "Baiklah sepertinya anda ingin berkenalan dengan saya, perkenalkan nama Saya Arin dan saya merasa tidak mengenali anda sebelumnya. Jadi saya tidak mengerti arah pembicaraan anda. Mungkin, Arin yang anda maksud bukan saya dan perkenalkan ini calon suami saya, sayang perkenalkan dirimu." Arin menarik tangan Dokter Reno.
"Anda salah orang, Tuan. Dia calon istri saya dan tidak pernah terlibat hubungan apapun pada orang lain selain saya." Balas Dokter Reno dengan sorot mata yang tajam
Endra dan yang lain menahan tawa saling bantu pikir mereka dua orang korban terkhianati ini.
"Re-reno." Vina baru menyadari jika ada pria itu di sana.
"Anda mengenal saya, Nyonya? Mungkin, anda salah satu pasien saya. Tapi sayangnya saya tidak menghafal tiap wajah pasien saya."
Pasangan itu memilih pergi dari tempat itu dengan perasaan malu dan kesal, niat ingin pamer ternyata dapat malu. Usai kepergian Vina dan suaminya, Tawa Endra dan yang lain pecah.
"Kalian saling bantu?" Ucap Arif disela tawanya.
"Hei bocah jangan mentertawakan ku." Balas dokter Reno.
"Jadi maksudmu istri—"
__ADS_1
"Mereka sepasang pengkhianat !!!" Potong Dokter Reno.