Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Haruskah aku percaya?


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit menemani Salsa melahirkan. Endra dan Pingka tidak kembali lagi ke kantor karena besok Minggu, jadi pria itu ingin mengajak istrinya piknik, selama pernikahan mereka Pingka tak lagi pergi menjelajahi alam bebas. Tapi wanita itu tetap memberikan libur pada karyawannya.  Endra berinisiatif mengajak Pingka pergi memancing besok hari di pinggiran kota. Selain sudah lama tidak memancing Endra juga ingin mengalihkan perhatian istrinya agar tidak terlalu memikirkan tentang kehamilan yang belum juga ada tanda-tanda padanya.


Pingka selesai membersihkan dirinya lalu mengetuk pintu ruang kerja Endra. Pria itu melanjutkan pekerjaan yang di tinggalkannya tadi siang.


"Sayang ayo makan dulu." Ajak Pingka.


Endra keluar dari meja dan menggandeng tangan istrinya melangkah bersama ke meja makan.


"Nak Pingka tadi ada paket untukmu." Ucap Bi Weni.


"Paket, dari siapa, Bi?" Tanya Pingka bingung.


"Tidak tahu, Nak. Tadi ada kurir mengantarnya melalui pos depan, penjaga itu yang memberikannya pada Bibi." Jelas Bi Weni.


"Baiklah bawa kemari !" Titah Pingka.


Bi Weni mengangguk lalu melangkah mengambil peket yang disimpannya.


Endra juga bingung siapa yang mengirim paket untuk istrinya. "Kamu belanja Online sayang?" Tanya Endra.


"Tidak, nanti aku buka kita lanjut makannya !"


Mereka berdua makan dengan tenang tanpa membahas paket yang baru di antar Bi Weni


Apa isinya kenapa bentuknya kecil begitu ?


Endra menatap benda itu. "Sayang, aku kerja sebentar, jika kamu mengantuk tidurlah lebih dulu." Ucapnya menyeka mulutnya dengan tissue


"Iya, jangan tidur terlalu malam."


Pria itu melangkah menuju ruang kerjanya, selesai membantu Bi Weni membersihkan meja makan. Pingka juga masuk ke kamar dan duduk di tepi kasur. Ia membolak-balik paket itu karena penasaran lalu membukanya. Di lapisan atas nampak sebuah surat, sebelum membacanya Pingka pergi ke kamar mandi terlebih dulu. Selesai dengan ritualnya, Pingka kembali memegang kertas surat yang sempat dilepasnya tadi. Ia membukanya perlahan dan mulai membacanya.


'Pingka, sebelum kamu membuka lapisan kedua persiapkan hatimu. Mungkin, selama ini orang yang hidup satu atap denganmu adalah pria yang terbaik menurutmu, tapi sayangnya dia tak sebaik yang kamu kira silahkan buka lapisan kedua'


Hati Pingka mulai tak karuan, dadanya berdebar dan pikirannya mulai berkecamuk walau demikian. Ia tetap berusaha tenang. Tangannya membuka lapisan kedua kotak itu, di sana ada lembaran berupa artikel yang dilipat rapi. Pingka membuka lipatan itu dengan hati-hati, melihat dari bentuk kertasnya yang sedikit kumal artikel itu sudah lama. Mata Pingka membulat dengan bibir bergetar ia membaca tulisan yang ada di sana.

__ADS_1


'Seorang CEO ternama Endra Saguna melakukan pelecehan seksual terhadap sekretarisnya sendiri, dengan kejamnya CEO ini tidak bertanggung jawab hingga korbannya mengalami gangguan jiwa, dengan kekuasaannya Endra Saguna bisa lolos dari jeratan hukum'


Tubuh Pingka melemas dan gemetar, apakah ini benar? Bagaimana bisa ia melakukan itu? Begitu pertanyaan yang terselip di benak wanita itu. Di dalam lapisan terakhir terdapat sebuah flashdisk dan selembar surat lagi. Pingka mengambilnya dengan ketakutan yang luar biasa, ia berharap isinya tidak mematahkan harapannya.


Pingka meraih laptopnya di atas nakas lalu membuka file yang terdapat di dalam flashdisk. Matanya menyipit melihat Vidio yang berdurasi sepuluh menit itu. Endra mendorong seorang wanita di atas kasur dengan tampilan kemeja wanita itu yang berantakan, bagian dada sudah terbuka hingga dua gundukan besarnya nampak sempurna di dalam bra dan roknya yang naik keatas memperlihatkan paha mulus wanita itu sangat jelas.


Sementara Endra sendiri sudah berantakan dengan kancing kemeja yang terlepas hingga dada bidang dan roti sobek miliknya terpampang jelas. Dari mimik wajahnya wanita yang bersamanya terlihat sangat ketakutan.


Pingka meremas ujung bantal yang dipegangnya, kecewa bercampur emosi mulai naik di ubun-ubun. Bersusah payah ia menenangkan dirinya agar tidak mengamuk malam ini. Bagaimana pun juga ia harus mendengar langsung dari mulut suaminya. Pingka membuka surat yang belum dibacanya dengan nafas naik turun.


'Pingka sekarang kamu sudah tahu bagaimana buruknya suami mu, wanita yang ada di vidio itu adalah Kakak kandungku. Maaf jika menyakiti hatimu, aku hanya ingin dia bertanggung jawab pada Kakakku. jika suamimu itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak mungkin aku mengejarnya sampai saat ini, aku siap menampung segala keluh kesahmu jika kamu menyerah pada pria itu datanglah padaku. Aku jatuh cinta padamu Pingka Jingga Biru'


DION


Pingka meremas surat itu lalu melemparkannya sembarang arah. "Jadi, dia mendekatiku dengan tujuan ini. Baiklah siapa diantara kalian yang mempermainkan ku? Siapa yang harus dipercaya antara kalian berdua?" Gumamnya pelan.


Wanita itu meraih kunci mobil dan memasuki paket tadi kedalam tasnya. Lalu keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Baru kali ini Pingka yang tenang menghadapi masalah menjadi grasak-grusuk hingga panggilan Bi Weni pun ia hiraukan.


Beberapa menit kemudian Endra menghentikan pekerjaannya karena merasa penasaran dengan paket untuk Pingka tadi membuatnya tak konsentrasi.


"Tadi Nak Pingka keluar dengan tergesa-gesa sampai Bibi memanggilnya pun tak ia dengarkan."


Kemana kamu sayang tidak pernah seperti ini


"Baiklah, Bi. Terimakasih." Endra menaiki anak tangga.


Pria itu mengambil ponselnya lalu mencoba menelpon nomor istrinya, namun tidak ada jawaban dari Pingka. Sampai berulang kali Endra mencoba tetap telpon itu tidak ada jawaban.


Ia mulai panik takut terjadi sesuatu pada istrinya, mata Endra terfokus pada gumpalan kertas di lantai. Tidak biasanya Pingka membuang kertas sembarangan begitu pikirnya.  Endra membuka kertas yang sudah kumal itu lalu membacanya. Tubuh Endra membeku seketika marah bercampur takut. Bagaimana jika istrinya percaya dengan apa yang dilihatnya?


"SIALAN !!"


Barang yang tertata rapi di atas meja rias menjadi sasarannya, ia mengamuk. Di satu sisi ia marah karena Dion berani mengungkapkan itu semua pada istrinya dan dengan tidak tahu malunya mencintai istrinya. Di sisi lain ia takut kehilangan Pingka jika mempercayai itu semua.


Endra mengerang frustasi ia kembali menelpon Pingka tapi ponselnya tidak bisa di hubungi lagi. "Jibi kamu kemana sayang ? Jangan lakukan ini padaku, aku bisa gila jangan percaya pria itu." Gumamnya meremas kertas surat di tangannya. Ia menelpon Dimas siapa tahu istrinya ada di sana .

__ADS_1


"Halo."


"Dim, apa istriku ada di sana?"


"Tidak ada En, apa yang terjadi ?"


"Dim, istriku hilang ponselnya sudah tidak aktif. Dion sudah memberitahunya." Jawab Endra dengan pita suara yang bergetar.


"Tenangkan dirimu, Pingka bukan wanita gegabah tunggu aku di sana."


Sementara Endra mencoba menelpon Dokter Reno.


"Halo."


" Ren, apa istriku bersamamu?" Tanya Endra.


"Tidak ada, apa yang terjadi ? Kenapa kamu sampai tidak tahu keberadaan istrimu. Apa kalian bertengkar ?"


"Aku tidak bisa menceritakannya di telpon." Balas Endra.


"Tunggu aku di sana."


Di rumahnya, Endra mencoba menghubungi istrinya lagi. Hasilnya tetap sama. Pikirannya sudah kacau tak tentu arah.


"Bagaimana aku membela diriku?" Endra mencengkram kepalanya sendiri sambil menekan nomor asistennya. "Dam, lacak dimana istriku." Titahnya tanpa menunggu jawaban Dami saat menerima telpon.


Selang beberapa menit kemudian bertepatan dengan Dimas dan Reno masuk.


Ponsel Endra berdering. "Halo bagaimana hasilnya?" Tanya nya penuh harap.


"Maaf, Pak. Ponsel Ibu mati, kami tidak bisa melacak lokasi terbarunya tapi lokasi terakhir Ibu tidak jauh dari tempat tinggal Bapak."


Endra mematikan telpon.


"BRENGSEK KAMU DION !!" Ia berteriak meluapkan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2