
Pria itu duduk lemas di sofa, Ia ingin menghubungi Sandi menanyakan istrinya tapi tidak mungkin, karena Pingka tak akan ke sana. Dimas dan Dokter Reno ikut geram atas tindakan Dion dan lebih menjengkelkan ia mengaku mencintai Pingka.
"Apa pria itu menculiknya ?"
"Tidak mungkin dia seberani itu. Ayo kita cari Pingka !" Ucap Dimas.
Endra dan Dokter Reno mengangguk mereka bertiga menggunakan satu mobil mulai mendatangi satu persatu tempat yang sering di kunjungi Pingka.
"Jika tahu begini harusnya tadi aku ikut dengannya membuka paket sialan itu" Gerutu Endra.
Dimas mengambil alih menyetir agar mereka selamat dalam perjalanan . Hampir satu jam di perjalanan mereka belum menemukan Pingka.
Kemana kamu sayang? Jangan membuatku takut.
Endra melihat setiap pinggiran jalan yang mereka lewati.
📩 Pingka bersamaku datanglah ke Apartemen ada yang perlu aku bicarakan
Arif
Endra bernafas lega, ia juga menyumpahi dirinya yang melupakan keberadaan Arif di kota itu.
"Terimakasih Tuhan telah menjaga istriku" Gumam Endra.
"Bagaimana ?" Tanya Dimas fokus melihat ke depan.
"Kita ke apartemen Arif, dia di sana, kenapa aku melupakan anak itu tadi."
"Syukurlah."
Endra dan Dimas menjadi heran kenapa Dokter Reno tidak bersuara ? Biasanya dia yang paling heboh, Endra menoleh kebelakang matanya terbelalak melihat pria dibelakangnya tengah tertidur dengan nyaman berbaring di kursi belakang.
"Sial ! Kita membawanya untuk mencari istriku. Tapi dia malah enaknya tidur." Sungut Endra.
Dimas terkekeh akhirnya suasana tegang tadi sedikit mencair. Endra masih cemas bagaimana dia menghadapi istrinya jika bertemu nanti ? Dokter Reno membuka matanya perlahan setelah mendengar percakapan Endra dan Dimas.
"Bagaimana sudah ketemu?" Dokter Reno masih menguap.
"Hm." Jawab Endra datar.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu aku lanjut tidur jika sudah sampai gendong aku." Dokter tampan itu terlelap lagi.
Endra kesal dalam hatinya sangat memaki Dokter Reno. Mobil mereka tiba di basemen Apartemen Arif. Endra naik dengan tergesa- gesa setengah berlari.
Arif membuka pintu tampaklah Endra dengan wajah kusutnya di depan pintu kemudian disusul dua sahabatnya Dimas dan Dokter Reno yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Dimana istriku?"
"Syutt, dia sedang tidur ayo masuk !"
Pingka tidur di ruang tengah di atas kasur yang baru saja dipindahkan Arif untuknya. Wanita itu tidur dengan pulas dibawah selimut tebal. Endra mendekat dengan perlahan lalu menyibak anak rambut istrinya. Ia mencium kening dan pipi mulus Pingka untuk menyalurkan kasih sayang dan rasa rindunya beberapa jam kehilangan tadi.
"Terimakasih sudah memberitahuku."
"Santai saja, ayo kesini aku ingin membahas sesuatu dengan kalian."
Endra mengangguk begitu juga dengan Dimas dan Reno mereka duduk di sofa bicara perlahan agar tidak membangunkan Pingka.
Arif menyodorkan paket yang dibawa Pingka padanya. "Dia membawa ini datang padaku."
Endra menatap datar pada benda-benda itu. "Vidio itu hanya potongannya saja dan artikel itu memang benar diterbitkan tapi aku sudah menghentikannya."
"Kamu percaya padaku?" Endra sumringah.
"Aku percaya dan aku sudah memeriksanya, PR mu adalah mencari vidio lengkapnya, disitulah kamu bisa membuktikan jika dirimu tidak bersalah dan Pingka tidak meninggalkanmu. Tapi, jika itu terbukti memang kamu bersalah maka bersiaplah kehilangan segalanya termasuk Istrimu ! Dilihat dari vidio yang ada disini semua orang pasti mengatakan jika kamu bersalah, melihat posisimu memang sedang melakukannya. Rekaman ini dari Cctv belakang meja kerjamu karena yang terlihat hanya dari pintu kamar karena tak mungkin kamu juga menaruh Cctv dikamar pribadimu." Ujar Arif panjang lebar.
Endra semakin gelisah. "Beri aku waktu tiga hari menyelesaikan masalah ini."
"Jaga istrimu, bukan hanya kamu yang terlibat tapi istrimu juga targetnya. Apakah pria itu betul memiliki perasaan ? Atau... hanya obsesi semata pada Pingka. Yang aku takutkan jika hanya obsesi, maka dia akan melakukan apapun untuk mengambilnya darimu itu tandanya Pingka dalam bahaya."
"Aku mengerti, kami pulang dulu aku harus menenangkan macan betinaku ini sebelum dia mengoyak tubuhku." Kata Endra.
Pria itu perlahan mengangkat istrinya kedalam gendongannya, hatinya meremas saat melihat sudut mata Pingka menyisakan air mata.
Dia menangis, brengsek ! Aku akan membalas mu Dion !
Tatapan Endra begitu dingin Dimas dan Dokter Reno mengerti jika saat ini pria itu sedang berusaha mengendalikan dirinya.
...----------------...
__ADS_1
Tiga Hari Kemudian...
Pingka bersikap seperti biasanya setelah mendengar penjelasan Endra, ia berusaha mempercayai penjelasan suaminya. Tak mungkin pria yang dicintainya itu melakukan hal serendah itu. Usai membuat sarapan Pingka menyiapkan pakaian kerja suaminya lalu meletakkan di atas kasur yang sudah rapi.
"Sayang, terimakasih sudah mempercayaiku." Ucap Endra. Kalimat itu selalu diucapkannya setiap pagi selama tiga hari belakangan ini.
"Tidak masalah, kita cari solusinya bersama."
Aku tahu kamu masih marah padaku karena tahu semua ini dari orang lain
Endra menatap sendu pada wajah istrinya yang fokus memasang dasinya. Selesai membantu Endra bersiap, mereka berdua turun bersama untuk sarapan.
"Sayang, kemungkinan nanti Dami menjemputmu, ikutlah dengannya." Titah Endra .
Pingka mengangguk tanda setuju , ia mengantarkan suaminya ke pintu utama. " Hati-hati." Ucapnya
Endra mencium kening istrinya.
"Iya, jangan keluar rumah seorang diri."
Hari ini aku harus membuktikannya jika aku memang tidak bersalah, mungkin waktu itu aku bisa merasa tenang karena hasil pemeriksaan tubuh wanita itu tidak ada tanda kekerasan, aku memang menggunakan kekuasaan ku saat itu dan hari ini akan aku gunakan itu lagi Endra menatap datar tiap bangunan yang mereka lewati.
Mobil mewah Endra telah tiba di halaman kantornya Dami membuka pintu lalu mobil mempersilahkan Tuannya keluar.
"Dam, apa orang mu berhasil menemukan sesuatu di sana?" Tanya Endra namun hatinya sangat cemas.
"Keberuntungan berpihak pada Bapak, semua sudah siap termasuk orang yang memotong vidio itu."
"Benarkah? Syukurlah kita siapkan dengan sempurna, pria itu sudah berani mengusik sesuatu yang berharga di kehidupanku." Balas Endra tersenyum tipis. Dari garis rahangnya saat ini ia memang menahan emosi yang begitu dalam.
"Masih ada fakta yang mengejutkan lagi nanti, tapi saya tidak memberi tahu Bapak." Ucap Dami dengan wajah datarnya. Ternyata Dami juga bisa berwajah datar padahal pria itu wajahnya manis dan selalu tersenyum.
"Apa kamu mau dipecat!" Ucap Endra kesal.
Dami hanya terkekeh. "Bersiaplah Pak selesai makan siang ayo kita bermain dulu." Ucapnya berdiri lalu meninggalkan ruangan Endra.
Endra mengeram kesal pada asistennya. Dengan perasaan penasaran ia melanjutkan pekerjaannya.
Apa yang terjadi nanti hanya Endra dan Dami yang tahu? Apa Endra bisa membuktikan dirinya tidak bersalah ? Waktu yang menjawabnya. Rumah tangganya menjadi taruhan, karena Pingka pasti tidak memaafkan pria yang tidak bertanggung jawab atas tuduhan pelecehan yang terjadi tiga tahun lalu.
__ADS_1