![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Apa itu Jiwa?!” tanya Sirius mengerutkan kening, yang sekali lagi ia kebingungan.
“Jiwa ialah Energy tak terlihat yang menghidupkan tubuh kami, para manusia ...." jawab Elk dengan tenang. "Tanpa-nya, kita hanyalah gumpalan daging dan tulang.”
Sirius mengangkat alisnya, sambil menunjuk dada kirinya. “Itu xious-M4221!?”
“Itu adalah Energy Intimu! Berbeda dengan Energy jiwamu,” bantah Elk, menggelengkan kepalanya.
Berbeda?!
Dan aku memiliki jiwa ... seperti mereka?!
Bukankan seluruh kehidupan kami berasal dari Nx-M4221 ... yang merupakan inti tata surya buatan? Dimana aku diberikan xious-M4221 ini.
" ...?!?" Sirius menyadari sesuatu.
“Yap, seperti yang kau pikirkan!” tegas Elk, sambil tersenyum menyeramkan. “Saat kalian ‘Mati’... kalian itu benar benar ‘Mati’ seperti kami ...”
“Umat manusia ...!!!”
“Tidak mungkin!!“ bantah Sirius gemetar ketakutan.
“Jika kami mati, Energy kami akan menyebar .... Lalu kembali ke inti tata surya dan dihidupkan kembali dengan inti tata surya itu atau ...." Sirius panik, dan berteriak, "Kami akan menyebar ke inti tata surya lain ...!!”
“Itulah yang dikatakan Noxy,” gumam Sirius.
" ...?!" Sirius menyadari sesuatu lagi.
Mereka berbohong?!
Sirius mengernyitkan alisnya, merenung. Ia berpikir keras kemudian menatap Elk yang masih tersenyum menyeramkan.
Sirius menyentuh dagunya. “Jadi ... aku tidak akan kembali ke Nx-M4221 jika aku mati?”
__ADS_1
“Itu benar! Hehehe....” Elk tertawa kecil. “Bagaimana? Kamu takut sekarang?”
“Aku tidak ... hanya ... sedikit terkejut?” bantah Sirius dengan santai.
“Hummh!!” Elk memalingkan wajahnya, tidak percaya.
Mereka ber-dua kemudian melihat kubah Energy-shield biru, yang jauh di hadapan mereka, perlahan meredup, dan Jenderal Sez. yang melayang turun ke tengah-tengah para Prajuritnya. Namun, kobaran api biru yang membakar seluruh tubuhnya belum padam.
Para Prajurit batalion Jenderal Sez. mendekatinya tanpa takut kobaran api itu. Mereka yang berada di sekitarnya langsung menangkap tubuh Jenderal Sez. tanpa mempedulikan tangan mereka yang hangus terbakar, lalu mereka meletaka tubuhnya di tanah dengan perlahan.
Mark menatap Jenderal Sez. terbaring di tanah, merepalkan tangannya. Lalu ia berpaling, menatap tajam kedua Komandan musuhnya.
“Kita harus menang! Kita hempaskan mereka semua!” teriak seorang Prajurit batalion Jenderal Sez. “Untuk Kemenangan kita!!”
“Ya! Untuk kemenangan kita!” tambah Prajurit lain.
“Untuk kemenangan kita!!”
. . .
“Apa?!” gumam seorang Prajurit pertahanan, melebarkan matanya dan mundur beberapa langkah, ketakutan.
Seluruh Prajurit batalion musuh telah mati, dengan tubuh 'mereka' semua hangus seperti tersambar petir, dan tergeletak tak bernyawa di tanah, disertai kilatan-kilatan listrik ungu yang belum menghilang.
Ribuan mayat Prajurit musuh yang hangus itu tersebar di seluruh Medan Perang, dan sebagian mayat-mayat yang masih terbakar api ungu di dalam kawah.
Debu hitam di atas langit menghilang, memperlihatkan dua orang Komandan musuh yang melayang, dan berdiri tegap tanpa sedikit pun goresan pada tubuh keduanya.
“Kita akan menghabisi mereka!!” teriak Komandan pertahanan dengan marah.
“Ooou....!!!” Gema seruan Prajurit batalion tersisa.
Mereka semua melesat, menyerang dua orang Komandan musuh.
__ADS_1
Komandan pertahanan dengan intruksi jelasnya langsung membagi beberapa Tim, secara teratur.
Kilatan berbagai warna terlihat di langit; dengan berbagai warna Energy Elemen satu per satu menyerang dua Komandan musuh yang melayang.
“Hmmh, ternak bodoh!” Komandan paruh baya itu mengeluarkan Energy ungunya, dan ia kumpulkan di tangannya. Kemudian ia melepaskannya, menjadi kilatan listrik yang menyambar puluhan Prajurit pertahanan.
Puluhan Prajurit yang tersambar langsung hangus, lalu mereka melesat terjun dan langsung menabrak tanah.
Dan Komandan Pria muda musuh dengan mudahnya, hanya menjentikan jari, dan ‘ruang’ di sekitarnya ‘terdistorsi’, langsung menghilangkan semua 'sk' musuhnya, dan dilanjutkan dengan Pria paruh baya rekannya menyerang menggunakan listrik ungunya.
Harapan kemenangan manusia sirna dalam sekejap mata, dengan batalion Prajurit petahanan satu per satu tumbang; dan gugur melesat-terjun menabrak tanah.
Mark menggenggam erat sniper-nya, dan melihat lagi Jenderal Sez. yang masih tak sadarkan diri; dengan kobaran api biru yang masih membakar tubuhnya. Seolah-olah ia tak akan pernah padam. Kemudian Mark melirik Jenderal Moran yang tak jauh darinya. Pria Tua itu sedang berlutut, kehabisan Energy, dengan mata putih kosong seolah dia kebingungan.
“Mark!!! Kenapa kamu diam?!” tanya seorang Penembak Jitu.
“Kita akan membalaskan Jenderal Sez. !!!” desak Penembak Jitu lainnya.
“Ya! ayo kita lubangi mereka dengan peluru kita!!”
“Ya!!!”
“Ya!!”
. . .
Mark memejamkan matanya, merenung. Lalu ia menggelengkan kepala, dan menatap Jenderal Sez. dengan keyakinan penuh. “Dia bahkan belum mati!! Apa yang harus di balaskan?”
Mark membalikkan tubuhnya ke arah Sirius dan Elk.
Kemudian Mark berjalan dengan santai, lalu melompat ke bawah dari Batu Besar yang ia pijak, sambil memberi perintah, “Sebagian Penembak Jitu, bantu urus dua Komandan itu! Sisanya ikut denganku mengurus rongsokan bodoh itu!”
¤¤¤
__ADS_1