Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-36] Kepemimpinan!?


__ADS_3

Elk menatap punggung lebar seorang Pria yang mengenakan kaos putih di hadapannya.


Mark yang menoleh ke belakang dengan wajah, mata dan senyum menyebalkan Pria itu, sudah tidak asing lagi bagi Elk.


Cih ... seharusnya dia bisa bilang dulu padaku sebelum melakukan itu semua.


Jadi, aku tidak akan jengkel dan marah-marah.


“Aku seperti orang bodoh yang dengan mudahnya, selalu dipermainkan oleh Pria itu,” gerutu Elk, menyipitkan matanya, menatap tajam Mark di depannya.


Kemudian Wanita cantik itu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.


Aku ... tidak tahu perasaan apa ini, tapi ... Aku hanya ... tidak mau membencinya.


“Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tahu Aku tam—“ kata Mark, terpotong oleh Elk. Saat Pria itu berbalik sambil meregangkan kedua tangannya, Elk berteriak, “Diamlah ...!!”


Wanita itu memalingkan wajahnya sambil mengerutkan bibirnya, cemberut.


“Oke-oke ..... Aku benar-benar minta maaf, Elk.” Mark menepuk bahu Elk, sambil tersenyum tulus.


Elk tetap marah dengan cemberut, terus memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak mau melihat Mark.


“Huh ..." desah Jenderal Moran. "Seharusnya kalian ber-tiga beristirahat." Jenderal Moran menutup mata sambil menggelengkan kepalanya. "Memanfaatkanlah waktu sebaik-baiknya ....”


“Itu karena salah Pria bodoh ini!” seru Elk dan Jenderal Sez. dengan serempak, “Itu salah Mark!” sambil menujuk Mark secara bersamaan. Lalu mereka kemudian saling menatap, terkejut, dan melebarkan mata mereka.


“Aku tahu kalian sudah berteman sejak kecil ... Tatpi—“ kata Jenderal Moran yang terpotong saat melihat Mark di depannya berwajah gelap sambil mengerutkan bibirnya.


Mark mengerutkan bibirnya, tidak mau mengingat saat-saat mereka latihan. “Ya. Bagaimana kau bisa tidak tahu. Kaulah yang melatih dasar-dasar kami untuk bisa bertarung.”


Kedua Wanita di hadapan Pria Tua itu pun mengerutkan bibir mereka, lalu mereka ber-tiga saling memalingkan wajah.


Jenderal Moran tertawa terbahak-bahak, “Hahaha.... Seperti itulah kalian," lalu dia menatap ketiga orang di depannya, dengan tatapan hangat sambil tersenyum tipis. "Tidak ada yang berubah.”


Pertengkaran mereka ber-tiga akhirnya mereda, saat Jederal Moran kembali masuk ke percakapan mereka. Tawa dan sifat eksenstrik Pria Tua itu selalu menghangatkan suasana.


Meski Elk, Mark, dan Jenderal Sez. sama sekali tidak mau mengingat hari dimana mereka masih lemah, dan dilatih oleh Jenderal Moran bersama yang lainnya.


Sirius sambil perlahan berdiri, menatap Jenderal Moran dengan tatapan penuh hormat. “Kamu sangat hebat. Hanya dengan tatapanmu saja, bisa meredakan amarah sekaligus melerai pertengkaran mereka bertiga.” Lanjutnya berkata, “Sedangkan aku mungkin bukan makhluk yang terlahir untuk menjadi orang besar sepertimu, Jenderal Rox maupun orang-orang besar lainnya.”


Sirius merepalkan erat kedua tangannya, dengan wajah frustasi. Karena meskipun ia jenius dan merupakan salah satu Kapten terbaik di Planet serta Galaxy asalnya, jiwa Kepemimpinan adalah hal yang berbeda dari pemikiran, kekuatan, perencanaan ataupun pengetahuan akan teknologi.

__ADS_1


“Aku?!" tanya Jenderal Moran tertegun. "Terlahir menjadi orang besar ...?” Dan dia melihat Sirius di sampingnya, lalu tertawa terbahak-bahak, “Hahaha.... Hey, Bocah.” Pria Tua itu pun langsung berhenti tertawa, langsung menatap tajam Sirius.


“Tidak ada satu pun dari kami manusia yang terlahir menjadi orang besar!” bantah Jenderal Moran, melambaikan tangannya.


Menatap tajam Sirius di depannya Jenderal Moran lanjut berkata, “Kami manusia ... semuanya terlahir menjadi bayi.” Kemudian Pria Tua itu mengangkat alisnya.


“Huh ...?!” Semua orang tertegun sambil bibir mereka berkedut setelah mendengar jawaban Jenderal Moran.


Jenderal Moran mengalihkan pandangannya, menatap tajam Medan Perang garis depan yang cukup jauh darinya. “Memang ada, makhluk hidup yang memliki pikiran dan perasaan, yang dari lahir memang memiliki bakat untuk menjadi pemimpin.”


Sirius menggelengkan kepalanya sambil menatap ke bawah. “Aku ... memang benar-benar tidak berbakat ... Bahkan Aku tidak bisa menemukan sedikitpun jiwa kepemimpinan di dalam diriku.” Pria muda itu kemudian melihat ke arah sama dengan Jenderal Moran, sambil mengenang saat-saat bertempur bersama Timnya. Meskipun yang Sirius lihat di depannya hanya berbagai warna bentrokan ‘sk’ dan "data", sama dengan apa yang Pria Tua di sampingnya itu lihat.


“Kepemimpinan itu dikembangan, bukan ditemukan!” tegas Jenderal Moran, sambil menengokkan kepalanya ke samping kiri, di mana Sirius berada.


Jenderal Moran mengalikan pandangannya ke Medan perang di depannya kembali, lalu berkata, “Orang-orang berbakat itu akan selalu muncul ... di berbagai Era ....”


“Bahkan saat Era perang ini ... setelah kami dibodohkan pun ... masih tetap ada manusia-manusia yang berbakat memimpin manusia lainnya, yang membuat kami masih bisa berjuang keras untuk merdeka.” Jenderal Moran merepalkan tangan kanannya, menjadi kepalan tinju yang sangat kuat dan kokoh di depannya.


“Tapi agar mereka tetap berada dipuncak; mereka juga harus tetap mengembangkannya ....” Jenderal Moran menatap Sirius kembali, dan dia perlahan melambaikan kepalan tinju eratnya.


Kemudian Pria Tua berambut dan kulit putih itu tersenyum lebar.


Sirius memalingkan wajahnya sambil menggelengkan kepalanya, menghela napas panjang. Pria muda itu pun mencoba untuk mencerna apa yang telah dijelaskan oleh Jenderal Moran.


“Semua makluk hidup yang memiliki perasaan dan pikirian seperti kami, para manusia," kata Jenderal Moran, tersenyum misterius. "Pasti menginginkan pemimpin yang bisa memimpin kami ....”


"Bukan malah dikelola oleh pemimpin kami.”


Pria Tua itu mengangkat jari telunjuknya, dan menggerakannya.


“Karena orang-orang yang dipimpin itu lebih ingin diberi wortel daripada dicambuk.” Jenderal Moran kemudian mengangkat bahu sambil mengerutkan bibirnya.


“Karena itulah ... meski kekuatan di Era ini adalah hal yang paling penting dan utama." Jenderal Moran meninjukan kepalan tinjunya ke telapak tangannya sendiri, dengan ekspresi yang sangat serius. "Tetapi tetap saja, kau harus berpikir bagaimana cara untuk mempengaruhi orang lain dengan kekuatan yang kau miliki itu.” Dan dia pun mengalihkan pandangannya kepada Wanita cantik berambut sebahu, bermata hijau terang di depannya.


Jenderal Moran menatap Elk, dengan tajam, dan berkata, “Bukan hanya menghajarnya sampai babak belur begitu saja!”


Kemudian semua orang mengalihkan pandanganya, menatap Wanita cantik itu cukup lama.


“...”


“...?”

__ADS_1


. . .


“...!?” Elk menyadari bahwa dirinya yang ditatap oleh semua orang, dengan tatapan aneh. Dia mundur selangkah sambil mengerutkan keningnya.


“Kenapa aku?” bantah Elk, mengayunkan tangannya ke samping, tidak setuju.


“Haha....“ Jenderal Moran dan yang lainnya tertawa santai, melihat Elk yang mundur, ketakutan.


Pria muda berambut putih itu masih linglung, agak tidak mengerti. “Jadi? Bagaimana cara ....”


“Entah ... Pikirkan cara kalian sendiri." Jenderal Moran menjawab sambil tersenyum lebar, "Karena semua itu butuh proses, dan waktu.”


“Tapi jika kalian ingin mengelola seseorang, kelolalah diri kalian sendiri terlebih dulu,” jelas Jenderal Moran, sambil terkekeh-kekeh menatap orang-orang di depannya.


Jenderal Moran menatap tajam Sirius di sampingnya, dan lanjut berkata, “Lakukan itu ... dan kau akan berhenti mengelola kemudian mulai untuk memimpin.”


“Pria tua itu menyebut tentang wortel ... Aku ingin tahu," bisik Mark kepada Jenderal Sez. dan Elk, 'jika latihan itu disebut wortel, lalu ujian kelulusan kita dia disebut apa?”


“Hah ...?!” Jenderal Sez. dan Elk, serempak menyipitkan mata mereka, menatap Mark, dengan tatapan dingin.


Elk menyilangkan lengannya, sambil menatap tajam Mark. “Kamu pikir aku sudah memaafkanmu, hah?”


“Dan kau juga bisa berhenti," tambah Jenderal Sez. sambil mengerutkan keningnya, "selalu bergurau menyukaiku pada saat kita bertemu,”


“Litz. itu benar-benar menyukaimu," lanjut Jenderal Sez. bertanya, sambil memejamkan mata, "Kau sadar itu, kan?”


“Cih ....” Elk memalingkan muka, jengkel, saat mendengar nama itu lagi.


“Aku sudah bilang, Aku hanya men—” jelas Mark, mengabaikan Elk. Tetapi ia tepotong oleh suara tawa keras sorang Pria Tua di depannya, “Hahaha.... sepertinya situasi tidak berubah sedikitpun ternyata.”


Lalu Jenderal Moran tersenyum lebar, sambil menatap Mark, Elk dan cucunya, satu per satu.


Kemudian, Pria Tua berambut putih itu mengalihkan pandangannya kepada Sirius di sampingnya. "Kau yang menyebut dirimu sendiri Kapten ... Tapi sebagai pemimpin Tim," tegas Jenderal Moran, "jika tanpa pengikut, itu namanya hanya jalan-jalan.”


Kemudian Pria Tua itu mengalihkan pandangannya kembali, ke arah Medan Perang yang cukup jauh di hadapannya.


“Ya ..." gumam Sirius, menggertakan giginya sambil menatap ke bawah, "aku tahu itu.”


*Aku benar-benar harus berterimakasih pada Sasha.


Gadis itu, selalu berada di sampingku saat aku dalam masalah*.

__ADS_1


“Mmm.... dan terlepas dari itu semua ... kepemimpinan itu ... adalah pengaruh." Jenderal Moran mengangguk puas, lalu tersenyum lebar sambil menatap Medan Perang cukup jauh di depannya. Kemudian dia mengeluarkan Energy cahaya emas yang menjunjung tinggi ke atas langit, dengan kobaran api emas mengitari tubuhnya. "Hanya itu ....”


¤¤¤


__ADS_2