![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Grrr ....” geram Sirius, sambil menatap tajam Elk di depannya.
Monster ungu itu tiba-tiba berhenti menyerang Elk―serta kedua rekan Wanita itu. Karena ia mencium bau sesuatu yang tajam, berasal dari arah barat, dan Sirius langsung menoleh ke belakang.
Energy besar yang terpancar dari Jenderal Besar Woon, membumbung tinggi ke langit, dan langsung terlihat oleh mata ungu Sirius.
Bentrokan Energy es Alta dengan Energy murni Jenderal Besar Benua [2] itu; bentrokan dua Energy yang berada jauh dari tempat di mana Monster ungu itu berada.
Elk tidak berhenti menyerang Sirius. “Ia kenapa?!”
Namun, Monster ungu itu mengabaikan Wanita cantik berambut hitam sebahu yang menyerangnya. Ia menghilang menjadi kabut ungu, dan dengan sangat cepat ia sudah berada di antara Grey serta para Prajurit Wanita bala bantuan―mereka sedang mengepung Grey.
Grey sebesar lelaki remaja manusia itu langsung menargetkan Sirius.
Tetapi, tepat saat Monster ungu itu berada di jangkauan serangannya, ia langsung menggenggam leher Grey yang akan menghilang―menjadi kabut abu.
Grey kecil itu langsung tercekik, dan kepalanya langsung terputus dari tubuhnya.
Tubuh kerdil serta kepala Grey yang terpisah, tergeletak di hamparan es, dan secara perlahan ia menghilang menjadi abu.
“Sial. Satu serangan?!” seru salah satu Komandan Wanita Prajurit bala bantuan. “Jauhi Monster ungu itu! Kita bantu melawan Grey lainnya!”
“Baik!” jawab para Prajuritnya serempak.
Para Prajurit bala bantuan mengabaikan Sirius yang terus berlari, menghilang, dan melompat ke depan, menuju ke arah Energy murni Jenderal Besar Woon.
Dan Elk yang mulai kelelahan, mendongakkan kepalanya, sambil mengatur napasnya.
“Elk!” seru Mark. “Kita kejar kawan kita.”
Pria bermata merah darah itu langsung menyandangkan sniper-nya, dan melompat ke depan―turun dari dahan Pohon cukup besar.
“Beri aku waktu sebentar,” pinta Elk, terengah-engah. “Ini sangat melelahkan.”
Litz. dan Jego pun ambruk. Mereka ber-dua duduk di hamparan es, sambil mengatur napas mereka.
Mark menatap Sunarsih dan berkata, “Aku serahkan yang di sini kepadamu, Sun.”
“Ng.” Wanita bertubuh menggoda itu mengangguk.
“Kejarlah Monster ungu itu,” kata Sunarsih. “Aku tahu. Mungkin ia akan berguna di masa depan.”
Sunarsih kemudian memisahkan diri, menuju ke arah Prajuritnya yang sedang mengepung para Grey.
“Hati-hati. Sun,” seru Mark. “Gray raksasa itu terlihat sangat kuat.”
“Ng,” jawab Sunarsih, sambil menoleh dan mengedipkan matanya. “Aku tahu, tampanku.”
Kemudian, seorang Pemuda berambut silver tiba-tiba berdiri, sambil menyandangkan sniper-nya, dia berseru, “Mark. Aku ikut!”
Mark menatap tajam Ruen, dan berkata, “Tidak―kau disini, lindungi Ruth dan Sunarsih.”
“Tapi―” kata Ruen, mengerutkan keningnya.
Pria mengenakan gogglescope di lehernya itu langsung berbalik, dan lanjut berlari.
“Lakukan saja perintahku!” desak Mark.
Ruth mendekati Pemuda berambut silver itu, dan berkata, “Sudahlah.” Dia menepuk bahu Ruen. “Nanti setelah pertempuran ini juga, kau akan bertemu dengan Elk lagi.”
“Emm....” Reun mengangguk, dan mempersiapkan sniper-nya kembali. Pemuda berambut silver itu pun tengkurap dalam posisi menembak.
Lalu, Mark sampai di tempat Elk, Litz. dan Jego beristirahat, dan ia langsung berseru, “Ayo! Kawan kita sudah jauh.” Mark terus berlari, dan ia langsung diikuti oleh mereka ber-tiga.
**
Sirius terus berlari.
Dan ia melesat―menghilang―mucul menjadi kabut ungu, menuju ke arah gunung besar, pusat [A327]. Dan semakin ia mendekati Energy murni Jenderal Besar Woon; semakin ia menjadi sadar kembali―dengan dua mata sclera-nya berubah menjadi putih kembali.
Namun, Sirius tetap tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Ia hanya bisa menatap ke depan, di mana bentrokan dua Energy besar yang terus berlangsung.
Apa itu?!
Dan ....
Kenapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku!?
Sirius mencoba untuk menggerakan mulutnya untuk berbicara. Tetapi yang keluar dari mulutnya, hanyalah geraman seekor monter: Grrrr!
__ADS_1
Sial. Apa yang terjadi padaku ....
Masih ada efek samping pil itu lebih merepotkan lagi!?
Sirius menatap sudut kiri atasnya, yang terdapat tabel―angka aneh menujukan rentang hidup dan sisa Energy yang dimilikinya:
<<<<<<———>>>>>>
「+H: 107T*E%」
「+En: 40 xs*o/e%」
<<<<<<———>>>>>>
Sebentar lagi aku mati!?
Atau bagaimana ... aku tidak terlalu mengerti dengan perhitungan error ini.
Lalu, Monster es itu menembus, dan menerjang badai salju di hadapannya.
Sirius melirik ke samping, di mana ia melihat Robot sebesar gedung dua puluh lantai, berada di arah timur, yang perlahan berdiri.
Dengan tubuh [RbX-M2314] setengah membeku, tetapi Robot yang wajahnya setengah hancur itu tetap tidak bisa bergerak.
Berapa lagi rentang hidup yang dimilikinya?
Sirius terus melirik [RbX-M2314] yang tidak jauh darinya. Monster ungu itu melihat juga sisa Prajurit sedang melawan Komandan Pria paruh baya.
Eh!? Apakah ia masih akan muncul?
Melompat, dan menerjang maju musuh mereka, Sirius melihat para Prajurit Wanita tersisa yang tanpa rasa takut, terus menyerang Komandan Pria paruh baya musuh mereka.
“Terus Serang!” seruan serempak para Prajurit-prajurit Wanita yang mengiringi suara mekanisme pemberitahuan yang tidak jelas di telinga Monster ungu itu.
*Ping!*
Masih muncul ternyata!
「RbX-M2314」
「+H: 90.221.163 / 100.000.000」
「+En: 1.715.180 / 5.000.000 xj/Cd」
Ia bahkan tidak berkurang.
Hanya Energy-nya saja yang berkurang tajam?
Monster ungu itu melirik terakhir kalinya [RbX-M2314] sedang berdiri tegap, dengan bongkahan es yang menyelimuti tubuhnya berhamburan ke segala arah.
Aku tidak bisa melihatnya lagi.
Tubuh monster Sirius tidak bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri. Ia terus berlari menuju Energy murni yang tidak jauh lagi di hadapannya.
Apa yang ingin dilakukan oleh diriku ini.
Sial. Aku tidak mau bertindak mesum lagi ...!!
Elk, Litz. dan Jego terus berlari mengikuti Mark, mengejar Sirius. Mereka semua tertinggal jauh oleh Monster ungu itu.
Lalu, Pria yang menyandangkan sniper di punggungnya itu, menghilang dari pandangan ketiga orang di belakangnya―ia menembus badai salju di hadapannya.
Jego yang mulai diam―dia mulai lelah tertawa, berkata, “Kita harus cepat-cepat mengejarnya ....” Dengan setiap hentakkan kakinya mengeluarkan suara, dia terus berlari.
“Iya. Kamu sih, lambat.” Litz. menoleh ke belakang, di mana Jego terus berlari sambil mengangkut dua R.P.G besarnya. “Tidak bisa kah kau buang salah satu dari itu?”
“Tentu saja, tidak!” bantah Jego, mengelus [BC-M2210] R.P.G yang dia tenteng. “Mereka berdua ialah anak-anakku.”
“Iuhhh ....” Litz. langsung mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
Lalu, Elk pun menembus badai salju yang diikuti Litz. kemudian Jego.
Keluar dari ganasnya badai salju, Gadis manis berambut hitam dikucir kuda itu menengok, menatap [RbX-M2314] menuju ke arah yang sama dengannya.
“Elk,” kata Litz. menatap punggung Wanita berambut hitam sebahu di depannya. “Apa kita enggak akan menahan Robot besar itu?”
“Tidak. Kita terlalu lelah sekarang,” jawab Elk yang terus berlari, mengikuti punggung Mark. “Kau tidak tahu, kan, seberapa kuat Robot sialan itu?” dan dia menoleh ke belakang, sambil mengerucutkan bibirnya.
“Aku enggak tahu sih.” Litz. terus menengok, menatap tajam [RbX-M2314]. “Tapi ....”
__ADS_1
“Patuhi saja Mark―tampanmu itu,” sela Elk, menujuk Mark dengan kepala sampingnya.
“Aku ....” kata Litz. merona.
Lalu Gadis manis itu memalingkan mukanya, dan berkata, “Oke.”
Mereka ber-empat mempercepat laju larinya―berusaha keras mengejar Sirius.
[RbX-M2314] yang tidak jauh dari Mark, Elk, Litz. dan Jego. Robot sebesar gedung dua puluh lantai itu berada tepat di belakang Sirius. Dan Komandan Pria paruh baya berada di samping [RbX-M2314], terus mendorong mundur para Prajurit Wanita yang tersisa.
Robot besar itu kemudian membantu Komandan Pria paruh baya untuk mendorong mundur Esih.
Wanita anggun itu hanya sedikit terluka―meski dia terus terlindungi oleh Energy-shiled Jenderal Sez. tetapi dia tetap geram, terus terdorong mundur oleh Komadan Pria paruh baya musuhnya.
“Apa yang akan ia lakukan?!” seru Esih, tidak sengaja Wanita anggun itu mendongak, menatap pergerakan Giant-Grey di atasnya.
Di atas langit; di atas aurora―merupakan kubah pelindung [A327]. Giant-Grey mengangkat lengannya yang membentuk tinju kuat. Lalu Giant-Grey itu langsung menghantamkan tinju kuatnya ke bawah, dan menghantam kubah-aurora pelindung [A327].
Kubah-aurora yang langsung bergetar hebat. Seolah-olah ia akan hancur kapan saja.
“Sial. Tidak ada kah yang bisa kita lakukan tentang itu?” tanya Esih, dan dia menoleh ke belakang. “Sez. apakah―” Wanita anggun itu akan menanyakan sisa kapasitas Energy yang dimiliki Jenderal Sez.
Namun, terlihat jelas oleh Esih, bahwa Wanita berkacamata bulat di belakangnya itu mulai kelelahan. Jenderal Sez. terus melindungi Prajurit-prajuritnya, sekalipun dia bernapas berat, dengan tubuhnya bergetar kesakitan, dia terus menitikberatkan Energy-nya pada kedua lengannya.
“Cih,” decak kesal Esih, tidak tega melihat rekannya. Kemudian Wanita anggun itu langsung menyerang Komandan Pria paruh baya musuhnya kembali.
Sirius berada tepat di hadapan dua bentrokan Energy besar.
Apa yang akan kulakukan di sini?!
Lalu, lesatan peluru dengan lintasan berwarna putih yang sangat cepat, menuju tepat ke arah Monster ungu itu.
Menghindarlah Aku!!
Jeritan hati Sirius kepada dirinya sendiri. Namun, tubuhnya tetap tidak mengikuti keinginannya―ia hanya diam terpaku. Seolah-olah menunggu celah, untuk mendekati Energy murni di hadapannya.
*Prackk!!!*
Peluru yang dengan telak mengenai mata ungu Sirius.
Sial. Apa yang aku inginkan sih?
Monster ungu itu langsung tersentak ke belakang dan mengeram: Graaa!!!
*
U yang menembak Sirius, sedang tengkurap dalam posisi menembak. Pria keren itu berdecak kagum dan berkata, “Sial. Monster ungu itu sangat kuat.” Kemudian U langsung menembaki Sirius kembali.
*
Sirius langsung berdiri dan mengeram, dengan nada monster: Grrraa!!!
Meski ia terlihat tidak terluka serius. Monster ungu itu meratapi jumlah rentang hidupnya yang berkurang cukup banyak.
<<<<<<———>>>>>>
「+H: 104T*E%」
「+En: 30 xs*o/e%」
<<<<<<———>>>>>>
Sirius melirik ke sudut kiri atasnya, dan mengeram kembali: Grrr!!
Itu sangat menyakitkan!
Bukankah alat itu sama dengan apa yang digunakan oleh Pria bernama Mark itu?!
Monster ungu itu kemudian menatap berbagai lintasan peluru yang kembali menargetkannya, sambil mengeram-ngeram, nada monster: Grrr-Graaa!
Oke. Aku harus berpikir bagaimana cara menghindari itu semua.
Sirius mengeram sambil merentangkan lengannya, dan sedikit membungkuk, dengan wajah yang sangat menakutkan ia mengeram kembali: Grrraaa!!
Oke-oke ... sebelum itu, aku harus diam dulu.
Monster ungu itu pun kembali mengeram: Grrr-graa!!!
Emm.... Oke. Ini sangat memebingungkan.
__ADS_1
Sirius mengeram kembali―tetapi sekarang ia berdiri tegap; dengan nada suara lirih dan tetap parau ia mengeram: Grrr.
***