![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Mengapa Komandan musuh, membantai pasukannya sendiri?!” gumam Ruth mengerutkan keningnya, kebingunga. Dia mengalihkan pandangannya pada gundukan ribuan mayat hangus, yang sangat jauh di depannya. "Padahal rencana kami cukup sederhana."
Pemuda Sappoter itu menyentuh dagunya, sedang berpikir keras.
Dengan satu hentakan Energy .Yang matahari titik akhir senja ... kami akan menghancurkan Robot itu, menggunakan setengah gabungan Energy .Yang maksimum, dari serangan Batalion Jenderal Sez. ditambah bantuan salah satu Jenderal.
Dan sisanya mendorong mundur Batalion musuh ... serta mengakhiri musuh yang akan disudutkan oleh para Prajurit bala bantuan.
"Strategi pengepungan ganda ... atau penjepit?! Itulah yang tertulis dalam legenda Bumi kami ..." kata Ruth, mengerutkan kening. "Jika aku tidak salah ...."
Ruth menghela napas.
Tapi ....
Pemuda itu merenung, lalu mendongak, dan menatap langit cerah yang tanpa awan satupun terlihat olehnya. Kemudian dia menunduk, menatap Batu Besar pijakannya dengan bingung, dia bersikeras memikirkan sesuatu. “Itu rencana kami ... tapi ....”
Kemudian dia memejamkan mata.
Kenapa mereka dengan mudahnya mengorbankan prajuritnya sendiri?
Ruth kembali lagi melihat ribuan mayat yang sangat jauh di hadapannya, dengan tatapan tajam.
Pemuda itu berpikir keras, tetapi dia tidak menemukan apapun selain mayat hitam hangus serta para Komandan serta Batalionnya, sedang bertarung melawan dua Komandan musuh, dan dengan susah payah mempertahankan formasi bertahan mereka.
Meskipun hanya dua orang Komandan, mereka ber-dua terihat sangat kuat, dan bisa menahan empat Batalon sekaligus.
Mark yang melihat Prajurit Batalion Pertahanan serta Komandannya, hanya tertawa kecil.
Kemudian, Mark menatap tajam Ruth berada di sampingnya yang terlihat sedang berpikir keras. ”Apa yang kau pikirkan?”
“Huh?!” Ruth terkejut, tetapi dia hanya melirik Mark, dan langsung melanjutkan berpikir, sambil melihat Medan Perang yang sangat jauh di depannya.
“Sudah kubilang kau harus meminta maaf pada Elk terlebih dulu! Tidak ada yang lebih penting dari itu sekarang ...” desak Mark, mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu harus cepat meminta maaf padanya! Jika tidak ... Wanita itu pasti akan menggila ... Sial! Aku bahkan tidak mau membayangkanya!”
Mark menggigil ketakutan, dan memeluk bahunya sendiri.
Lalu, Mark mengerutkan keningnya, saat melihat Ruth yang sangat serius dan mengabaikannya
Mengikuti pandangan Ruth dengan ekspresi bingung, Mark melihat sesuatu, dan ia tiba-tiba membuka mulutnya, ternganga, dan langsung menunjukan ekspresi tercengang sambil melebarkan matanya.
“Itu dia!!” teriak Mark dengan keras, dengan suara Pria itu menggema di Medan Perang. Dan semua Sappoter di bawah Batu Besar menatap heran padanya.
“Kamu menemukan seseuatu Pria bod—?” tanya Elk masih berwajah gelap, di jarak yang sangat jauh dari depan Batu Besar tempat Mark berada.
__ADS_1
"...?!"
“Ap—“ kata Ruth terpotong, saat pemuda itu menengok kesamping di mana Mark yang telah lama menghilang.
Sebelum Elk dan Ruth menyelesaikan kalimatnya, Mark menggenggam sniper serta meraup seluruh batch peluru yang ada di sekitarnya dengan sangat cepat.
Lalu, ia masukan kedalam tas yang langsung ia sandangkan. Ia pun berwajah serius membisikan sesuatu pada seorang Penembak Jitu tak jauh darinya dengan sangat cepat.
Mark langsung melompat sekuat tenaga ke arah Medan Perang lain, dan melesat dengan hanya bayangan hitam terlihat oleh para Sappoter di bawah, dan Elk yang sangat jauh di hadapan Batu Besar dengan geram mengigit bibirnya.
“Dimana dia?!” seru para Penembak Jitu, tercengang. Mereka menolehkan kepala, dan mencari Mark yang telah menghilang di belakang mereka; dan telah hilang juga batch peluru mereka diambil olehnya.
“Aku serah kan rongsokan bodoh itu padamu ... Ruth!” teriakan Mark menggema di udara.
“Huuuhhh?!” Ruth yang terkejut mundur selangkah, dan menegang di tempat, seperti patung.
“Ma—“ kata Jenderal Moran terpotong oleh teriakan Mark selanjutnya: Manisku hampir bangun .... Aku akan menyambutnya dengan senyuman hangat!!
Dan dengan bayangan hitam ia melesat cepat, menuju ke arah kobaran api biru yang terlihat hampir padam.
Huh?!
“Sudah kuduga ....”
Teriakan Elk yang sangat marah menggema di udara menyebar ke seluruh penjuru Medan Perang: Maarrrkk!!!!
Elk berwajah merah gelap, terus menatap bayangan hitam Mark yang melesat ke arah Medan Perang lain. Dia merepalkan tangannya dengan erat, sambil menggertakan giginya.
“Apa tidak apa dia pergi seperti itu?” tanya Sirius dengan santai, menunjuk bayangan hitam yang melesat cepat sangat jauh di depannya.
“Sudah pasti tidak!” bentak Elk yang masih marah berapi-api. “Pria bodoh itu ...”
Elk menggertakan gigi sambil merepalkan tanganya, menginjak-injak pasir dengan geram.
Jenderal Moran hanya bisa menghela napas panjang, setelah melihat Mark sudah hampir mendekati cucunya yang terbakar kobaran api biru, hampir padam.
Pria Tua itu kemudian mengalihkan pandanganya kepada [RbX-M2314] yang tergencet Telapak Tangan berapi emas, tidak lain ialah serangannya sendiri.
“Yah. Tak ada yang bisa kita lakukan tentangnya,” kata Jenderal Moran, menggelengkan kepalanya, frustasi, dan kembali menghela napas.
Elk yang geram menghentikan menginjak injak pasir kemudian menatap tajam Jenderal Moran. “Kita harus menghukum ia, dengan hukuman militer setelah ini selesai!”
“Kenapa ia selalu dibebaskan dari kesalahan bodohnya ... meski aku sudah berkali-kali melaporkanya ke para Jenderal Pusat Komando?!” tanya Elk dengan geram mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Hahaha....” Jenderal Moran hanya menjawab pertanyaan Elk dengan tertawa-terbahak bahak.
“Hah?!” Elk tercengang melihat Jenderal Moran tertawa terbahak-bahak di depannya.
Sirius mendengar jawaban Jenderal Moran pun ikut tercengang, dan para Penembak Jitu serta para Sappoter memperlihatkan wajah yang sama.
Jenderal Moran berhenti tertawa dan menatap tajam Robot setinggi gedung dua puluh lantai di hadapannya. Kilauan partikel emas yang menyebar ke seluruh penjuru Medan Perang telah menghilang sepenuhnya.
“Tidak ada yang lebih tahu tentang Medan dan situasi pertempuran dari pada bocah itu ...” kata Jenderal Moran dengan tenang menatap Robot bermata biru terang di depannya. “Mark mungkin memperhatikan sisi Medan Perang lain. Apabila kamu perhatikan dengan jelas tadi ... Batalion serta Komandan kita sedikit terdorong mundur oleh kedua Komandan musuh ...”
Jenderal Moran menatap tajam Elk.
“Tidak ada yang seperti itu! Pria bodoh itu hanya ingin menggoda cucumu!” bantah Elk, mengayunkan tangan kanannya, dengan geram, dia menatap tajam Jenderal Moran.
“Ia ... hanya ingin menggoda Jenderal Sez ...” gerutu Elk, menunduk sambil merepalkan kedua tangannya.
“Jika itu benar. Memangnya kenapa?” tanya Jenderal Moran menatap Elk, sambil mengangkat alisnya. “Apa kau cemburu, karena bocah itu hanya memperhatikan cucuku?”
“Ti—t-ti—dak!!” kata Elk terbata-bata.
Jenderal Moran tertawa dan langsung menghela napas. “Hahaha... seperti itu kah.”
“Itu tidak ... seperti itu ... tidak ada yang seperti itu!” bantah Elk dengan wajahnya memerah, malu.
“Yah ... jadi intinya kita hanya bisa mengurus Robot itu tanpa Penembak Jitu terbaik, huh,” sela Sirius, menatap Robot di depannya, sambil menghela napas panjang.
Elk menatap Sirius menghela napas sedikit tenang, karena Sirius mengalihkan arus pembicaraan mereka. Kemudian Wanita itu menatap tajam [RbX-M2314] di hadapannya.
Robot setinggi gedung dua puluh lantai berwarna merah darah dan bermata biru terang, yang berdiri tegap, bersiap untuk menyerang kembali. Dan es yang membekukan tangan kanannya retak, lalu perlahan hancur berkeping-keping, dengan dentuman keras jatuhnya es, menghempaskan pasir ke segala arah.
Sirius dan Elk berwajah gelap melihat bongkahan es yang hancur. Karena tanpa di batasi lengan kanannya, [RbX-M2314] akan mudah memukul mundur mereka ber-dua.
“Cih ... sudah aku bilang ... Pria bodoh itu harusnya tetap di sini membantu kita!” geram Elk, menggertakan giginya.
“Yah ... Aku tadi melihat ia membawa seluruh batch peluru yang ada di sekitarnya.” Sirius menggelengkan kepalanya sambil menghela napas frustasi. Ia sangat jeli mengingat Mark dari jarak sangat jauh di depannya. Mark yang meraup semua amunisi di sekitarnya dengan sangat cepat.
Dan Robot di hadapan para Prajurit Medang Perang, memulai seranganya dengan menembakan roket-roket kecil di punggungnya, seperti biasa.
Roket itu melesat ke segala arah dan mengarah menuju mereka ber-tiga yang berada di hadapannya.
“Sialan! Seperti ini lagi?!” pekik Elk, sangat kesal saat dia menghindari semua roket yang menargetkannya.
¤¤¤
__ADS_1