![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Mark keluar dari pintu ruangan di mana Jenderal Sez. sedang dipulihkan otomatis, menggunakan Batu Energy inti selter dan dibantu Sappoter Wanita lainnya. Ia menaiki tangga lalu berpapasan dengan seorang Sappoter Pria yang akan masuk ke dalam ruangan, untuk bertemu rekannya akan melaporkan sesuatu.
Tiba-tiba, Sappoter Pria itu berhenti di hadapan Mark, dan menatap kagum Pria bermata merah darah mengenakan gogglescope di lehernya itu.
“Kamu memang hebat Mark. Kau memang pria sejati!” seru Sappoter Pria itu, menepuk bahu Mark.
“Haaahhh....?!" Mark menyipitkan matanya, menatap Sappoter Pria di depannya dengan ekspresi aneh. Seolah-olah ia melihat orang bodoh. "Apa yang kau bicarakan?”
“Aku sedikit mendengar .... Bukankah kamu menanggung semua beban sendirian,” tanya Sappoter Pria itu, “di ... pundakmu?!”
“Hoo~” Mark menyadari sesuatu, menaikan alisnya, dan menatap Sappoter di hadapannya, sambil tersenyum misterius.
“Siapa namamu?" tanya Mark, merangkul Sappoter Pria itu, dengan sok akrab ia menggunakan satu lengan, menariknya dengan kuat, dan menaiki tangga berjalan keluar gua. "Kau pemimpin regu Sappoter, kan?”
"Iya." Sappoter Pria yang dirangkul Mark, menjawab dengan canggung, “Aku .... Ris ...?”
“Kita mau kemana Mark?!" tanya Ris, gugup. "Aku diperintahkan Komandan untuk mengecek apakah Jenderal Sez. akan segera bangun dan ....”
“Santai saja ... Aku pria normal masih menyukai Wanita!!” seru Mark, mengerucutkan bibirnya.
Bukan itu yang aku pikirkan. Meskipun itu memang sangat berbahaya ... pasti ada yang lebih berbahaya dari itu!
Pikiran Ris alang kabut ke mana-mana, berusaha menebak apa yang akan dilakukan Mark kepadanya, tetapi dia langsung kembali tenang, mengingat Mark memberi perintah kepadanya untuk segera memulihkan Jenderal Sez. yang sangat dicintai Penembak Jitu itu.
Pria mengenakan pakaian coklat Sappoter dengan rambut spike prajurit biasa itu mengingat, saat seorang Penembak Jitu yang memberinya intruksi dengan ekspresi yang sangat serius.
Ris diperintahkan untuk berpura-pura ketakutan, supaya kedua Komandan musuh tidak memperhatikan saat gerombolan Sappoter bergerak.
Pria berkulit putih dan muka persegi terlihat tegas yang dirangkul Mark itu memang tahu, bahwa jika ingin menang mudah dalam medan pertempuran, hal utama dan regu pertama yang harus dilenyapkan terlebih dulu adalah mereka, para Sappoter yang berada di belakang.
Jika tidak ada regu yang memulihkan para Prajurit di garis depan, sudah pasti dua Komandan musuh mereka, akan sangat mudah untuk mengugurkan semua batalion pertahanan, seperti memangkas rumput liar dengan arit yang sangat tajam. Sekalipun rumput liar akan pulih, tetapi itu akan sangat lama.
“Mark .... Kau ingin segera memulihkan Jenderal Sez. agar pertempuran ini cepat selesai?” tanya Ris, dan dengan santai mereka ber-dua menaiki tangga.
“Apa?! Tentu saja agar aku mempunyai tempat untuk berlindung, Apa lagi?!" Mark menjentikan jarinya, dan menatap Sappoter di sampingnya sambil senyum lebar, percaya diri. "Tidak ada yang lebih penting dari nyawa Pria tampan ini.”
“Huh?!” Ris tercengang dengan jawaban Mark.
Mark mengerutkan bibirnya. “Aku pergi dengan berani mengabaikan Elk seperti tadi, dan Wanita itu tahu pasti aku yang menyuruh kalian bertindak konyol seperti itu .... Sudah pasti aku yang akan menjadi gumpalan daging dihajarnya, setelah pertempuran ini selesai.”
“Aku akan memberimu sedikit saran ...." Mark menaikan sudut bibirnya. "Kau pasti tahu bahwa Wanita Itu selalu benar, bukan?”
__ADS_1
“Jika kau salah ... tunjukanlah bahwa kau adalah pria yang berbicara dengan punggungnya ...." Mark mengoceh dengan penuh percaya diri, sambil mereka ber-dua terus menaiki tangga. "Dan semua masalah, akan selesai!”
“Maksudmu menanggung beban sepertimu," tanya Ris, menatap heran Mark, "dan melindunginya?”
“Tentu saja tidak, bodoh!" jawab Mark, mengerutkan keningnya, dan meyipitkan mata, menatap Pria yang dirangkulnya, seperti melihat orang bodoh. "Mereka itu sangat kuat, untuk apa kita melindunginya?”
Mark melepaskan rangkulanya, sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengela napas panjang, menatap Ris di sampingnya, seperti dia tidak ada harapan lagi, dan ia pun menggelengkan kepala sambil menghela napas kembali.
“Jika kau berpikir ini Era dimana para Pria menggunakan kekuatan super power-nya, yang berkuasa menjadi kesatria memimpin Dunia ..." kata Mark, merentangkan lengannya, dengan keyakinan penuh ia menjelaskan, "Kau harus berpikir ulang dua kali untuk berhubungan dengan seorang Wanita!!”
“Tapi ... Aku tidak mau sendiri selamanya!” tukas Sappoter Pria itu, tidak setuju.
“Maka dari itu ....” Mark tiba-tiba berhenti berjalan, dan menatap tajam Ris, sambil tersenyum misterius.
Mereka sampai di luar pintu dengan cahaya ‘sk’ dan “data” yang berbenturan cukup jauh di hadapan Mark dan Ris.
Pria mengenakan gogglescope di lehernya itu menepuk bahu Ris kemudian dengan erat menggenggamnya sangat kuat. Mark melihat bayangan hijau, melesat keluar dari formasi bertarung dan menuju tepat ke arah mereka ber-dua.
“Mark?!” Ris tercengang dan menyadari sesuatu. Keringat dingin di punggungnya menetes, saat dia merasakan Aura pembunuh tajam, sampai menusuk tulang belakangnya. Tetapi sudah terlambat jika dia ingin kabur.
Melihat Elk yang sedang marah berapi-api menghampirinya dengan sangat cepat, mata merah darah Mark menatap tajam Pria di depannya sambil tersenyum, berkata, “Maka dari itu ... kau harus menujukan punggungmu pada Wanita cantik di belakangmu ini ....” Mark menggunakan tubuh Ris sebagai perisai daging, dimana Elk sedang melesat cepat akan meninjunya.
¤buk!!!¤
“Ya. Terimakasih, kau Pria hebat ..." gumam Mark, menyatukan tangan sambil menutup mata, berjongok tak jauh dari Elk yang masih marah berapi-api. "Semoga kau bisa bahagia dengan Wanita itu, Ris ...”
Elk mengerutkan kening. “Apa yang kau bicarakan?”
“Tidak ada ... hanya saja ...." Mark menujuk Ris yang tertancap di tebing yang pura-pura tak sadarkan diri. "Dia menyuruhku mencuri Energy inti salah satu selter untuk membangunkan manisku.”
“Apa daya Aku yang tidak bisa menolak? Aku juga ingin dia cepat sembuh ...” gumam Mark, dengan mata merahnya, menatap ke bawah. Seolah-olah memancarkan rasa penuh kesedihan.
"Haahh ...? Katakan sekali lagi," desak Elk, menyipitkan matanya menatap dingin Pria di depannya.
“Ya ... Aku bisa apa ..." gumam Mark, mengangkat bahu, dan kembali menatap Elk, sambil tersenyum tipis. "Aku hanya Penembak Jitu kecil, yang sangat membutuhkan Sappoter. Mana mungkin aku menolak seorang pemimpin regu?”
Elk mengerutkan kening melihat kelakuan Mark. “Kau pikir aku bodoh, hah?!”
“Tentu tidak. Tapi ...." Mark mengerutkan kening, menatap tajam Wanita di depannya, menyadari sesuatu. "Kamu!?”
“Kau selalu terlalu bersemangat ... menggunakan Energy jiwamu secara berlebihan, seperti biasa,” kata Mark, menatap tajam Elk, dengan kerutan di keningnya belum menghilang.
__ADS_1
“Apa urusanmu?" bentak Elk, marah. "Kau menggunakan Energy inti selter tanpa seijin Jenderal Pusat!”
Elk geram, menggertakan giginya. “Kamu padahal bisa menungguku sebentar.”
“Tapi kalian ber-tiga terlalu lama,” jawab Mark, mengangkat bahunya.
“Cih ... kamu pikir mudah menahan rongsokan itu?” gerutu Elk, menggertakan giginya, dan menyilangkan lengannya. “Dan lagi, kau tidak ada di sana!”
Elk mengerutkan bibirnya, dan langsung melewati Mark, menuju celah gua di belakang Pria bermata merah darah itu.
“Tapi, sungguh ..." Mark tersenyum kecil menoleh ke belakang. "Aku sangat khawatir padamu. Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi.”
“Cih ... terserah,“ decak Elk, tergesa-gesa masuk ke dalam celah gua, dengan wajah memerah.
Mark mendekati Ris yang tertancap di tebing dan menariknya keluar. “Terimakasih Kapten," kata Mark, sambil tersenyum lebar, "kau penyelamat hidupku!”
“Sial. Mark," tanya Ris, mengerutkan keningnya, "kau tidak merasa bersalah sama sekali?”
“Tentu tidak. Aku sudah menjodohkanmu dengan seorang Wanita cantik seperti itu? Dan, kau bahkan tidak puas?!” balas Mark, menyipitkan matanya, menatap Sappoter Pria di depannya.
“Aku salah ingin membantu teman baruku ...?” Mark mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya. “Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. sekarang kau bisa melapor pada Komandanmu, bahwa Jenderal Sez. akan segera pulih.”
Mark menepuk bahu Ris, sambil menyeringai lebar.
Ris berdecak kesal kesal, “Cih .... Oke-oke ... Aku memang harus bergegas.” Dia hanya bisa menahan amarahnya, lalu menjadi tak kasat mata dan melesat menuju arah Medan Perang yang tak jauh darinya.
Mark yang membalikan badan, akan masuk ke dalam celah gua, berhenti tiba-tiba, ketika ia melihat Jenderal Moran dan Sirius mendekatinya.
Mereka ber-dua akan beristirahat dan digantikan oleh Tim lainnya, untuk menahan Robot sebesar gedung dua puluh lantai cukup jauh di belakang mereka.
“Kamu." Jenderal Moran menatap tajam Mark di depannya, dan bertanya, "Kudengar kamu mencuri Energy inti salah satu selter?”
“Ya." Mark dengan santainya menjawab, sambil mengangkat bahu, "Kita sudah tidak punya waktu lagi.” Mark menatap tajam pertempuran yang cukup jauh di depannya. “Aku punya firasat buruk tentang alur pertempuran ini.”
Jenderal Moran menghela napas panjang, frustasi. “Tapi mungkin kali ini, kamu tidak bisa lolos. Aku sudah pernah bilang ... jika hal rumit seperti ini terjadi lagi, mungkin bahkan ayahmu pun tidak bisa membantumu.”
“Aku tak apa, asalkan dia baik-baik saja ..." Mark menatap Jenderal Moran di depannya, dengan tatapan yang memancarkan keyakinan penuh. "Aku benar-benar tidak masalah, sekalipun hukuman terberat akan menimpa diriku ini.”
“Cih ... Bocah ini,” gumam Jenderal Moran menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mencoba mencari cara memecahkan masalah, karena bagaimanapun, yang ditolong oleh Mark adalah cucu Pria Tua berambut putih itu sendiri.
Saat mereka beristirahat dimana Mark sedang berbincang-bincang dengan Jenderal Moran, mereka ber-dua melihat seorang Wanita mengenakan kacamata bulat, serta jaket, celana hitam panjang seperti milik Elk yang berjalan di sampingnya, keluar dari celah gua .
__ADS_1
Lencana kecil berwarna emas terang menempel di dada kanan jaket hitam yang berbentuk senapan laras panjang dan pointer di tengah-tengahnya, juga bintang emas kecil yang terukir enam buah mengitarinya.
¤¤¤