Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-29] Pertahanan Terakhir V


__ADS_3

Jenderal Moran melesat dengan petir emas mengitari tubuhnya. Dia melesat sangat cepat, menuju Robot sebesar gedung dua puluh lantai yang terus menjauhinya.


Lalu, suara Wanita cukup lembut terdengar oleh semua orang di Medan Perang; sampai-sampai suara tersebut menggema ke kedua sisi penjuru Medan Perang: Hey~!! Kalian ber-dua .... Pikirkan cara untuk menahan rongsokan ini~!!


Elk geram menggertakan giginya, tetapi dia terus menerus menyayat secara diagonal menggunakan belati angin hijaunya berkali-kali, ke kaki besar [RbX-M2314] yang ia tidak bergeming sedikitpun. Robot itu terus melesat maju dengan bayangan merah mengitari tubuhnya.


“Kita harus menahannya," tuntut Elk yang terus menyerang, dan mencoba untuk menahan Robot di depannya, "sampai bala bantuan datang!”


“Bukankah ... ‘berpikir itu’ adalah pekerjaannya para Sappoter melarikan diri tadi?” tanya Sirius yang berada di kaki Robot lainnya, mencoba dengan segala cara untuk menahan Robot Besar di depannya.


Elk yang terus menyerang menyadari sesuatu.


“Ah~!! Hey kalian Pria-pria di sana," kata Elk, menggunakan nada lembut seorang wanita.


"Pikirkanlah cara, tanpa harus menghamburkan terlalu banyak peluru!!”


Dia, mulai lagi ...!? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Sekalipun suara Elk terdengar lembut; tetapi suaranya masih sampai ke Batu Besar di mana Ruth dan para Penembak Jitu berada.


Ruth, Ruen serta para Penembak Jitu yang sedang bersiap-siap pindah ke titik Batu Besar berikutnya, menghentikan pergerakan mereka, setelah mendengar suara lembut Elk yang sangat jauh di garis depan.


“Apa kita sudah mati sekarang?!” tanya salah satu Penembak Jitu, sambil menatap Ruth di depannya dengan tatapan kosong.


Ruen melebarkan matanya, menatap Elk dengan bayangan hijau mengitari tubuh Wanita itu, yang jauh di depannya. “Aku, ada di surga!?”


Para Penembak Jitu saling menatap bingung, sekaligus tercengang dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka membantu Ruth dengan tergesa-gesa, mengambil dan memindahkan semua senjata, amunisi serta jebakan yang ada.


Tak seorang pun dari mereka semua berani berpikir bahwa mereka masih hidup, setelah mendengar nada suara lembut Elk seperti itu. Dalam sekejap, semua senjata dan amunisi, serta jebakan yang ada, sudah ada di tas Ruth serta di bantu oleh Ruen juga Penembak Jitu lainnya.


Mereka semua pindah ke titik Batu Besar yang tak jauh dari Pintu Besar, yang ia telah menjadi lubang besar, serta tidak jauh juga dari Medan Perang di mana Mark berada.


“Kenapa Elk tidak marah-marah," tanya Ruen yang membantu membawa beberapa tas berisi jebakan, meskipun dia membawa sniper-nya cukup besar di depannya, "dan mengancam membuhuh kita lagi?”


“Kau tahu ...? Seberapa kuat pun kita," jawab Ruth, mengangkat bahu, "kita tetap manusia!” lalu dia menengok Ruen di sampingnya. Dan mereka menuju ke arah Batu Besar lain yang tak jauh di dipannya.


“Itu adalah salah satu kelemahan Energy jiwa.” Ruth menggelengkan kepalanya, sambil menghela napas panjang. “Elk, mungkin dalam masa fungsi otaknya sedang melemah untuk beberapa saat.”

__ADS_1


Ruth mengangkat bahunya.


“Fungsi otak? Maksudmu dia menjadi ...?!” tanya Ruen, tercengang dengan apa yang telah dijelaskan oleh Ruth.


Pemuda berambut silver dan bermata biru itu menatap Elk cukup lama, mencoba untuk mencerna informasi. Kemudian dia melirik ke atas langit, seperti mengingat sesuatu.


“Dia?!” Ruen melebarkan matanya, menyadari sesuatu.


“Ya! Dia menjadi ‘bodoh’ untuk sementara!!” tegas Ruth, menggelengkan kepalanya, dan tersenyum tipis.


“Huh ... kupikir, aku sudah berada di surga, melihat senyum Elk menjadi cantik seperti itu!” Ruen yang akhirnya mengerti. Kemudian dia menghela napas panjang, dan menjadi tenang kembali.


Ruth, Ruen dan para Penembak Jitu sampai di Batu Besar yang mereka semua tuju. Namun, Ruth memisahkan diri untuk menyebarkan jebakan di sekitar Batu Besar l.


Sangat cepat dia menyebarkan jebakan dan langsung melesat dengan bayangan hijau ke atas Batu Besar, dan suara seorang Pemuda menggema di Medan Perang. “Kau sangat cantik Elk!! Gunakan lagi Energy jiwamu!"


Ruen lanjut berteriak, dengan semangat yang tak kenal malu suaranya menggema ke kedua sisi penjuru Medan Perang, "Aku akan menjadi penggemarmu, dan mencintaimu selamanya!! Sungguh!!”


“Haaa~ ...??” Elk yang terus menyerang, mengerutkan kening, saat mendengar teriakan seorang Pemuda. Tetapi dia berusaha keras untuk tetap tenang, dan mengembalikan ekspresinya.


Ruth yang berada di sekitar Ruen dengan cepat mendekatinya, dan menegurnya, “Ruen!! Kau cari mati—“


Ruth tercengang, membuka lebar matanya, melihat pemuda di depannya.


Ruen ... Dia, serius ...!?


Ruen yang terpesona oleh Elk yang masih dalam masa kebodohannya. Dia mentap Wanita berambut sebahu dengan bayangan hijau mengitarinya. Kemudian Pemuda itu menatap Elk dan tersenyum hangat padanya.


“Kau bocah!! Elk itu tergila-gila pada Mark. l Bukankah kamu mendengar obrolan Jenderal Moran tadi ...?!” kata salah satu Penembak Jitu yang telah mempersiapkan semua sniper-nya.


“Haaah ...?” Elk yang tiba-tiba menghentikan serangannya, menatap tajam Batu Besar tak jauh di depannya.


“Dia telah kembali pulih ...!?” seru para Penembak Jitu di atas Batu Besar, serempak ketakutan, dan mundur beberapa langkah.


“Kalian benar-benar ingin mati, hah ...?” tanya Elk yang kembali menggunakan nada dingin, dan menyipitkan matanya, menatap Batu Besar di mana para Penembak Jitu berada.


Para Penembak Jitu itu langsung tengkurap. Mereka ketakutan sambil memeluk sniper-nya dengan erat, dan menenggelamkan kepalanya seperti burung unta. Mereka semua mencoba untuk bersembunyi dari jarak pandang Elk yang sangat tajam.

__ADS_1


“Dan kau juga bocah bodoh?” Elk dengan tatapan dingin, menatap Ruen yang sangat jauh di depannya.


Berbeda dengan para Penembak Jitu yang menenggelamkan kepalanya ketakutan, seperti burung unta.


Pemuda mengenakan pakaian hitam militer, dengan syal abu-abu di lehernya yang berkibar terhempas angin ke belakang. Dia berdiri tegap tanpa rasa takut sedikitpun, menatap Wanita yang jauh di hadapannya.


Dengan tatapan hangat mata biru laut Pemuda itu, tertuju pada Elk yang jauh di hadapannya, sekalipun Wanita itu menatap balik Ruen dengan tatapan yang sangat dingin.


Pemuda berambut siver itu sangat teguh, dan kepercayaan diri penuh, berkata, “Aku tidak mau mati sekarang! Tapi ... Aku benar-benar serius!! Sungguh ...!!!” Ruen merepalkan tangannya ke depan, dengan tekad yang sudah sangat bulat.


“Untukmu ... Aku akan bertarung meskipun itu melawan jenius seperti Mark!” teriak Ruen, berdiri tegap kemudian meninju dadanya sendiri, dengan semangat.


“Aku sudah bilang,” bantah Elk, "tidak ada yang seperti itu!"


Elk mengerutkan kening, sambil mengayunkan belati hijaunya di tangan kirinya ke samping, lalu hembusan angin mengitari Wanita itu.


Elk yang melihat tekad kuat tanpa rasa takut akan kematian sedikitpun, terpancar terang dari mata biru laut Pemuda yang jauh di hadapannya. Kemudian Wanita itu melirik [RbX-M2314] yang sudah sangat jauh darinya.


“Cih ...!! Terserah ...!” gumam Elk dengan geram menggertakan giginya, dan melambaikan tangan kanannya acuh, lalu dia menatap Robot dengan bayangan merah yang terus menjauhinya.


“Sialan. Rongsokan itu sudah sangat jauh?!” geram Elk, merepalkan rahangnya. Kemudian dia langsung menggunakan Energy hijau yang mengitari tubuhnya, dan melesat untuk mengejar Robot di depannya.


“Jadi, aku memiliki kesempatan?!” seru Ruen, tercengang, melihat Elk membiarkannya hidup, dan tidak langsung membunuhnya.


Ruen kegirangan meninju langit menggunakan tangan kanannya, tetapi gema suara Wanita sangat jengkel terdengar olehnya: Kau cari mati .... HAH?!


Elk terus mengejar bayangan merah darah di hadapannya.


Ruth yang mematung ketakutan di samping Ruen, kembali sadar dan berkata, “Hah!? Kita benar-benar tidak mati lagi?!” dia tercengang, melihat bayangan hijau menjauhi mereka semua.


“Ya! Kita tidak akan mati sekarang,” kata Ruen dengan semangat, dan langsung tengkurap sambil menggenggam sniper-nya, dalam posisi menembak.


“Elk sudah memberiku kesempatan untuk menjalin hubungan dengannya." Ruth tertawa terbahak-bahak dan langsung mengganti batch pelurunya dengan batch yang tertulis [Xy-99] {bullet} di depannya. "Hahaha....!!”


“Kau benar-benar ingin mati!? Bocah!!” teriak Elk sangat geram, menengok Ruen yang berada di atas Batu Besar yang cukup jauh. Dia pun sudah hampir sampai mengejar Sirius, dan Jenderal Moran yang berusaha keras menahan bayangan merah darah di depannya.


¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2