![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Elk melayang di hadapan wajah besar [RbX-M2314]; dengan wajah Wanita itu sangat mengerikan, dan semua orang di Medan Perang; menatap wajah mengerikan Wanita itu, tercengang melebarkan mata mereka, ketakutan.
Mereka semua melihat seluruh tubuh Elk disinari cahaya biru terang yang berasal dari mata biru Robot sebesar gedung dua puluh lantai di belakangnya. Di mana Robot tersebut sedang menumpulkan Energy biru yang langsung berubah menjadi bulatan laser disertai kobaran api biru, lalu ia siap menembak.
Tembakan laser berapi biru menghempaskan bayangan hijau di hadapannya; dan tembakan tersebut menelan bayangan hijau itu dan meledakan pasir di tanah yang langsung hangus terbakar.
Namun, Elk yang sudah berada di bawah [RbX-M2314], tak jauh dari Jenderal Moran dan Sirius.
Wanita itu menghadap Batu Besar sangat jauh di hadapannya dengan wajah mengerikan. Dia berusaha keras untuk menahan amarahnya. Elk berjalan perlahan, sambil merepalkan kedua tangannya, dan menatap tajam seorang Penembak Jitu yang berbicara tentang "Wanita gila".
“Hey! Bukankah ... kamu harus tenang?!” Sirius mengingatkan Elk.
Pria muda itu terus menghindari semua roket di depannya yang terus bertambah banyak.
“Benar Elk .... Musuh kita ada di belakangmu! Mereka adalah rekan—“ teriakan Jenderal Moran terputus oleh tatapan dingin Elk.
Wajah Wanita itu yang terlihat sangat mengerikan, terlihat jelas oleh Sirius dan Jenderal Moran.
“Diam ... ini akan berakhir cepat .... Aku akan langsung kembali, sungguh ...!!” janji Elk, menoleh kebelakang, dengan nada dan menatap dingin kedua Pria di belakangnya.
“Yah ... selama ... kamu cepat ... sih,” kata Jenderal Moran, berhenti menyerang dan melebarkan matanya, terkejut. Dia sedikit gugup saat melihat Wanita di depannya yang benar-benar marah.
“Kamu benar-benar harus—“ pinta Sirius terpotong oleh teriakan geram Elk.
“Aku mengerti! Aku mengerti!!” Elk mengerutkan kening, dan melanjutkan berjalan ke arah Batu Besar. Kemudian dia melesat dengan bayangan hijau, menuju ke tempat para Penembak Jitu dan Sappoter berada.
Kita benar-benar berakhir sekarang!!!
Pikiran para Penembak Jitu, dan Sappoter di sekitarnya langsung kosong. Mereka semua melihat seorang Wanita yang melesat sangat cepat dengan bayangan hijau, menuju tepat ke arah Batu Besar pijakan mereka.
Ruth yang kembali sadar melihat bayangan hijau Elk mendekat dengan sangat cepat, terkejut, lalu membuka mulutnya lebar-lebar, menganga.
“Itu Elk!? Kenapa dia ... ke sini?!” Ruth mengigil dan mundur beberapa langkah, sangat ketakutan.
“Kita berakhir sekarang ...!!!” kata seorang Penembak Jitu di depan Ruth, yang dia menengok ke belakang dengan tatapan kosong, putus asa.
“Yah ... aku senang bisa mengenal kalian semua!!” tambah Penembak Jitu di sampingnya, menatap Ruth dengan tatapan yang sama.
Para Penembak Jitu di hadapan Ruth, satu per satu menatapnya dengan tatapan putus asa. Lalu, bayangan hijau yang semakin mendekati mereka semua.
__ADS_1
Elk melesat dengan sangat cepat, mempercepat lajunya ke arah Batu Besar, tempat para Penembak Jitu dan Sappoter itu berada.
Melihat bayangan hijau yang melesat dengan kecepatan maksimum, membuat jantung para Penembak Jitu, dan Sappoter di sekitarnya berdegup kencang, ketakutan.
“Sial! Aku belum mau mati!!” teriak salah satu Sappoter di bawah Batu Besar. Dia langsung melesat dengan bayangan hijau ke arah Medan Perang lain, di mana Mark berada.
“Aku juga!” kata seorang Sappoter lain di samping Sappoter yang telah pergi. Dia langsung mengikutinya dengan bayangan hijau di depannya sudah melesat jauh, tak terlihat.
“Aku juga tidak mau mati!!” seru Sappoter lainnya melesat mengikuti mereka.
“Aku juga!!” Sappoter yang lain berwajah pucat, dan langsung melesat ke arah Medan Perang lainnya.
. . .
“Kami tidak mau mati di tangan Wanita mengerikan itu! Ruth ... kuserahkan semuanya padamu!!” pinta pemimpin regu Sappoter.
“Huh?! Aku ... lagi ...?" gumam Ruth berwajah gelap, dan dia pun menghela napas panjang, frustasi.
Kemudian, satu per satu Sappoter berteriak, dengan bayangan-bayangan hijau yang serentak melesat ke arah Medan Perang lain.
Para Penembak Jitu di atas Batu Besar tercengang, saat mereka melihat ke bawah; mereka melihat belasan Sappoter tanpa berpikir panjang melesat cepat, dengan bayangan hijau meninggakan mereka yang ada di atas Batu Besar.
Orang-orang di atas Batu Besar, menggigil ketakutan; berdiri ketakutan, dan mundur beberapa langkah mendekati Ruth.
“Apa kita harus ... mengikuti mereka?!” tanya seorang Penembak Jitu kepada Ruth, dengan tatapan kosong, sambil menunjuk bayangan hijau Sappoter yang sudah hampir sampai ke tempat di mana Mark berada.
“Huh?!” Penembak Jitu itu sadar, lalu mengedutkan bibirnya saat melihat Ruth yang sudah mematung, dengan seluruh tubuhnya memutih, seolah tidak ada jiwa di dalamnya, akibat rasa takut berlebihan yang dirasakan Pemuda Sappoter itu.
“Apa kita—“ kata seorang Penembak Jitu terputus oleh teriakan seorang Pria yang jauh di sisi Medan perang lain: Kita hampir mendorong mundur musuh ...!! Dengan nada percaya diri dan keyakinan teguh, suara teriakkan Pria itu menggema.
“Hah?!” seru semua orang di atas Batu Besar kebingungan, dan berdalih pandangan mereka, menatap Medan Perang lain di mana Mark berada.
“Manisku sudah hampir bangun ... Hey! Kau yang di sana!! Jangan malas. Terus serang musuh dengan segenap kemampuanmu!!!” perintah Mark dengan tegas, dan ia sangat terdengar serius. Dengan suaranya sampai menggema ke Medan Perang di mana Elk dan Sirius, serta para Penembak Jitu berada.
“Serang saja! Dan terjang maju! Jangan takut dua makhluk bodoh itu!!” desak Mark dengan sangat percaya diri. “Percayalah pada Pria tampan ... di belakangmu ini ...!!!”
. . .
Hening ketiga kalinya terjadi, di mana Jenderal Moran yang menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Semua orang mengalihkan padangan mereka ke asal suara teriakkan tersebut.
“Hey ... lihat!?” bisik salah satu Penembak Jitu, yang menatap bayangan hijau di depannya berhenti mendekati mereka.
Elk yang tiba-tiba berhenti menengokkan kepalanya ke arah Medan Perang lain, sambil menatap tajam asal suara Pria tersebut. Kemudian dia dengan geram, mengegetakan giginya.
Wanita itu menggigit bibirnya kemudian berteriak: MARK!! Setelah suara teriakan Elk sampai menggema ke Medan Perang di mana Mark berada, Elk langsung menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan keras, mencoba untuk tenang.
“Tunggu setelah ini selesai ... aku akan benar-benar mencincangmu, Pria bodoh!!” gerutu Elk.
Elk berbalik dan melesat menuju ke arah [RbX-M2314] di mana Sirius serta Jenderal Moran berada, dengan bayangan hijau mengitari tubuhnya.
Huh?! Kita benar-benar selamat?
“Terimakasih atas pengorbanan nyawamu, Mark ...” gumam semua orang di atas Batu Besar, berdo’a merapatkan telapak tangan mereka sambil memejamkan mata.
Jasamu akan selalu kami kenang selamanya ....
Para penembak jitu di atas batu dengan ekspresi serius berdo’a, dan Ruth yang kembali sadar. “Hah?! Kita benar-benar selamat dari amukan Elk!?”
“Ya! Ini berkat Mark yang mengorbankan hidupnya untuk kita!” jawab seorang Penembak Jitu di samping Ruth.
Ruth merepalkan tangannya, bersemangat karena terbebas dari aura kematian yang sangat dekat di depannya. “Benar ... Elk sudah cukup tenang ... kita sekarang harus sangat fokus pada musuh di depan kita.”
Aura kematian itu menjauh dengan bayangan hijau yang menghempaskan pasir di sekitarnya, menuju tepat ke arah [RbX-M2314]. Di mana terlihat oleh Pemuda itu, sebuah kilauan emas Jenderal Moran yang menghantam Robot Besar di hadapannya sekali pukul.
Robot tersebut mundur beberapa langkah kebelakang, dan langsung berlutut. Tetapi ia dengan segera berdiri tegap kembali.
Sirius menyerang dengan pukulan dan tendangan, serta sesekali ia menyerang dengan "data" yang dimilikinya, tidak lain ialah [sbf-221]: berupa tembakan laser oranye dari kedua jarinya. Dengan koordinasi, formasi Jenderal Moran serta Pria muda dengan bayangan hijau itu, cukup efektif menyerang Robot bermata biru di hadapan mereka ber-dua.
Ruth kembali melihat bayangan hijau Elk yang melesat cepat ke arah tubuh Robot Besar berwarna merah darah berapi, sebesar gedung dua puluh lantai di hadapannya. Kemudian Pemuda Sappoter itu mengeluarkan alat berbentuk nampannya, dan memperhitungkan sesuatu.
Lalu, Ruth yang langsung memilih jenis batch peluru, dan langsung dia bagikan kepada para Penembak Jitu.
“Ini?!” gumam seorang Penembak Jitu itu, tercengang, melebarkan matanya saat mengambil dan menggenggam salah satu batch peluru di sampingnnya.
“Dengarkan seluruh intruksiku .... Untuk sekarang, tembak semua roket yang muncul di punggung Robot itu. Kemudian tembak semua roket menghampiri Elk, jika dia sudah ditargetkan!” perintah Ruth dengan tegas.
“Ya!” jawab para Penembak Jitu di atas Batu Besar secara serempak. Mereka serentak tengkurap, dalam posisi menembak, sam.bil menggenggam erat sniper mereka masing-masing.
__ADS_1
¤¤¤