![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Ok.” Sunarsih langsung menjauhi Pohon hitam yang tumbuh sangat cepat―ia merambat dan tumbuh menjulang tinggi ke atas langit, tanpa hambatan satu detik pun.
Wanita bertubuh menggoda itu berlari sangat cepat, dengan tubuhnya setengah terbakar api oranye. Kemudian dia langsung melompat, dan melayang di udara―terbang menuju ke arah Elk, Litz. dan Jego, serta dua batalion prajurit bala bantuan, yang mereka semua menyerang Monster ungu di hadapan mereka.
Monster ungu itu sangat cepat, sampai-sampai Elk yang tercepat pun tidak bisa menandingi kecepatannya.
“Hey, Pria bodoh ....” Wanita berambut hitam sebahu itu berseru, dan berusaha keras menghindari serangan-serangan Sirius, “Cepatlah kembali sadar!”
Para prajurit batalion yang mengitari Monster ungu itu pun tidak bisa melakukan apa-apa. Mareka hanya melancarkan serangan-serangan biasa yang dengan mudahnya dihindari Sirius, dan mereka hanya bisa menunggu celah dengan posisi siap siaga; dengan celah yang tidak satu pun ia beri pada mereka semua.
Lalu, Sunarsih melayang di atas para prajuritnya, berseru, “Kalian semua―termasuk juga batalion Ice!” lanjutnya, “Cepat tinggalkan Monster ungu itu. Serahkan saja pada Elk dan rekannya.”
“Tapi, Monster ini sangat kuat, Jenderal,” bantah seorang Komandan Wanita batalion Jenderal Esih.
Sunarsih mengerutkan keningnnya, menatap tajam Komandan Wanita itu. “Tinggalkan saja!” desak Wanita bertubuh menggoda itu, sambil merepalkan rahangnya geram.
“Tapi―” gumam Komandan Wanita itu.
“Lakukan saja perintahku!!” bentak Sunarsih.
Mark yang tidak jauh dari kedua Wanita itu, berkata, “Para sayangku di sana―maksudku, Sun ... Santai lah,” lalu Pria mengenakan gogglescope di lehernya itu perlahan berdiri, sambil menopangkan sniper-nya pada bahu kanannya.
Sunarsih kemudian menyentuh dahi, dan menutup mata sambil mengatur napasnya―dia mencoba untuk tetap tenang.
“Makasih. Mark,” kata Wanita bertubuh menggoda itu, sambil menatap Mark, dengan tatapan hangat. “Aku hanya jengkel, Monster es itu lolos begitu saja.”
“Dan untuk kalian para Wanita cantiku―maksudku Prajurit-prajurit pemeberaniku,” seru Mark, menatap tajam kedua batalion bala bantuan, yang sangat tegang terus bersiaga. “Patuhilah Jenderal Sun,” lanjutnya sambil mengerutkan kening.
__ADS_1
“Baik,” jawab salah satu Komandan Wanita batalion Jenderal Esih.
Lalu, Pohon yang merambat di hadapan para prajurit bala bantuan itu, telah sampai menyentuh aurora di atas langit; dengan daun-daun berkabut abu-abu yang merambat ke sekitar aurora di atas langit.
Pohon hitam berdaun abu-abu itu tidak berhenti tumbuh dan merambat; ia terus tumbuh dan merambat, dan menjadi seperti hutan kecil di tengah badai salju―dengan dahan-dahan cukup besar yang merambat ke sekitarnya.
Sunarsih menyipitkan mata, menatap tajam Pohon hitam-abu yang tidak jauh di depannya, bergumam, “Kenapa ia bisa memiliki bibit Grey?” lanjutnya bertanya sambil menoleh ke belakang, “Bukannya Monster es itu hanya seorang Komandan?”
Mark menjawab, “Yah ... dari awal perang ini juga, Lelaki muda itu emang aneh.”
Pohon hitam berdaun kabut abu itu tiba-tiba berbuah; dengan buah yang tiba-tiba tumbuh dari bunga-bunga berwarna putih cerah―seperti bunga mawar.
Lalu buah-buah berwarna abu-abu itu perlahan tumbuh dan membesar, menjadi sebesar lelaki remaja manusia―dengan bentuk buah abu-hitam itu, seperti buah apel cukup besar yang berdiameter 70 cm.
Buah berwarna abu-abu dan berapi hitam itu lalu jatuh satu per satu ke tanah―mereka semua terjun ke bawah dengan api hitam yang membakar dahan serta batang Pohon di sekitarnya―beberapa dari mereka membentur dahan Pohon; dan beberapa dari mereka mendarat di tanah.
Lalu tiba-tiba, sebuah tangan kecil berkulit abu-abu, mencuat keluar dari dalam buah hitam-abu yang menabrak tanah―dan ia mengeluarkan kabut hitam. Kemudian tangan tersebut merobek buah itu dari dalam, lalu merangkak keluar sesosok kerdil yang tertutup kabut hitam di sekitarnya.
Sosok kerdil bertubuh seperti goblin dalam fantasi, tetapi berkulit warna abu, dengan lengan panjang menyentuh tanah, dan kedua mata hitam pekat berbentuk almon; dengan kedua mata kosong berbentuk almon hitamnya, seperti gelapnya langit malam tanpa adanya satu pun bintang maupun bulan.
Mengikuti sosok kerdil yang keluar dari kabut hitam, keluar satu per satu dari belahnya buah abu-hitam. Mereka berjalan tertatih-tatih di belakangnya―dan juga buah pada Pohon hitam-abu itu terus tumbuh, dan berjatuhan.
“Cih, mereka benar-benar Grey,” decak kesal Mark.
Sunarsih menatap tajam para Grey yang berjalan ke arahnya, dan berkata, “Tentu. Mereka Grey,” lalu dia menoleh, menatap Mark, dengan tatapan menggoda kembali, “Tidak ada hal lain selain kekacauan, saat Pohon itu tumbuh membesar, tampanku.”
“Tapi, untungnya kita mempunyai kamu, Sun,” kata Mark, sambil tengkurap kembali dalam posisi menembak. “Bakar saja semua Pohonnya!”
__ADS_1
Wanita bertubuh menggoda itu kemudian mengalihkan pandangannya ke depan kembali, sambil memutar-mutar tongkat hitamnya, dan berkata, “Ng. Meski itu tidak mudah .... Aku akan mencobanya.”
Para prajurit Wanita batalion bala bantuan di bawah Sunarsih, mempersiapkan formasi mereka, dengan satu instruksi langsung dari Komandan mereka masing-masing.
Dengan Sunarsih memimpin serangan, dan tubuh menggoda Wanita itu setengah terbakar, yang langsung menerjang para Grey di hadapannya.
“Serang!” seru Komandan Wanita batalion prajurit bala bantuan Jenderal Sunarsih, serta Jenderal Esih serempak. Dengan suara tembakan para penembak jitu, mengiringi seruan para Komandan Wanita tersebut.
**
Jenderal Pongahar tidak membantu Esih serta Jenderal Sez. yang berjuang melawan Komandan Pria paruh baya musuh mereka. Pria paruh baya berkumis hitam itu malah menyambut Jenderal Besar Woon serta U tangan kanannya.
U mengerutkan kening, menatap tajam Jenderal Perse yang menghampirinya.
Jenderal Perse kemudian mengatupkan tinjunya―hormat dengan tubuh sedikit membungkuk kepada U dan Jenderal Besar Woon, dan berkata dengan nada dan tatapan Pria tampan itu sangat sinis, “Shi. Lama tidak bertemu.”
“Ng,” U hanya mengangguk sedikit. “Aku tidak tahu apa yang telah kalian lakukan,” lanjutnya berkata sambil menatap kedua Jenderal di depannya, dengan tatapan curiga, “Tapi untuk sekarang, kita lenyapkan terlebih dulu kedua Komandan musuh itu.”
“Kami!?” bantah Jenderal Pongahar, dengan nada dan senyum sinis, sambil merentangkan lengannya. “Apa maksud Anda ... Shi?”
Pria keren itu hanya menatap tajam, mata hitam pekat Pria paru baya berkumis hitam di hadapannya.
Kemudian U menutup mata sambil menggelengkan kepalanya, berkata, “Tidak. Aku tidak bermaksud apa-apa.”
U menggertakan giginya, dan dia akan bersiap pergi, sambil berkata, “Aku akan pergi ke hutan itu Jenderal. Apakah anda―”
Namun, Pria keren itu terdiam, saat dia melihat Jenderal Besar Woon tersenyum lebar dan berkata, “Kurasa kita tidak perlu repot-repot mencari musuh terkuat.”
__ADS_1
“Ternyata ‘mereka’ ingin menerjang kematian 'mereka' sendiri ....” Jenderal Besar Benua [2] berkulit hitam itu mengibaskan Kapak dua tangannya ke samping, dan bersiap untuk bertempur.
***