Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[ST1-A0] Tidak Semua Buah Jatuh Dekat Dengan Pohonnya III


__ADS_3

“'Bangsa'?!” gumam Jenderal Perse. “Membentuk ‘Negara’?” Menaikkan suaranya, dia berteriak, “Hal bodoh apa yang kau katakan, Ayah?!! Kita sudah menjadi satu kesatuan Manusia!!” lalu suaranya menghilang kembali bergumam, “Kenapa kita harus terpecah lagi ...? Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu.”


Pria muda tampan itu mengayunkan lengannya ke samping dengan tegas, membentak, “Apa kau gila!!?”


Elf geram merepalkan rahangnya, dan menambahkan, “Dia memang sudah gila, Nak”


Jenderal Perse pun merepalkan mata dan mulutnya sembari terus berpikir keras. Namun, tepat saat dia mundur selangkah, akan memutuskan untuk mundur dari pemberontakkan, suara serak seorang Pria paruh baya di dalam Kuil Dewa Matahari, berkata, “Kau menyebut Ayahmu sendiri gila, Bocah? Bukankah itu sangat tidak sopan, hah ...!?”


Sambil menolehkan tubuhnya dan berkata, “Jenderal Lok,” Elf mengerutkan kening, menatap tajam Pria paruh baya berkulit putih, dan berambut putih panjang yang berjalan keluar Kuil Besar.


Namun, Jenderal Lok mengabaikan Perempuan tua cantik di hadapannya. Dia malah menatap tajam Pria muda tampan yang sedang bimbang dan terlihat kebingungan.


“.... Bocah, apa kamu akan memilih jalan yang berbeda dari kami?” tanya Pria paruh baya berambut putih panjang itu. “Itu tidak masalah, tapi ....”


“Jangan terlalu memaksanya, Lok.” Jenderal Pongahar berkata, sambil tersenyum lebar, “Dia, pasti masih belum paham.”


Pria paruh baya berkumis tipis itu menengokkan kepalanya, menatap Anaknya dengan tatapan hangat.


“Kau tahu, Nak.” Jenderal Pongahar menggelengkan kepala. “Perdamaian Dunia yang aku katakan, hanya membutuhkan sedikit ‘politik’ serta beberapa pengorbanan Manusia.” Dia terus mengoceh, lalu merentangkan lengannya, “Kita hanya perlu mengorbankan para Manusia hasil produksi yang kebetulan menjadi Manusia kelas bawah, dan beberapa budak! Bukankah ini hebat!!? Ini ‘Perdamaian Dunia’ yang kita bicarakan! Per-da-mai-an!!” Dia berhenti sejenak, saat bibirnya bergetar saat mengeja kata ‘Perdamaian’.


Pria paruh baya berkumis tipis itu terus mengoceh dengan semangat, “Tidak akan ada perang dan pertempuran lagi! Kita akan membentuk dan mengelola Negara, Kerajaan hanya untuk para Manusia kembali!” dan dia terengah-engah karena semangat yang menggebu-gebu. “Untuk mendapatkan semua itu... kita hanya perlu mengorbankan beberapa Manusia.”


“Beberapa.” Jeneral Perse mengerutkan kening, lalu bergumam, “Maksudmu ...?”


Jenderal Pongahar menatap Jenderal Perse sambil tersenyum menyeramkan. “Hanya beberapa ratus Manusia per-tahun.”


“Apa!?” pekik Jenderal Perse. Tubuhnya bergetar, dan mundur beberapa langkah. (Pria muda tampan dan Perempuan tua cantik itu terkejut serentak, dan melebarkan mata mereka). “Sedikit ‘Poltik’?!!” teriak Elf. “Hal menjijikan apa yang kau katakan, Pongahar?”


Elf menoleh dan menatap tajam Pria paruh baya berkumis tipis di belakangnya. Dengan tatapannya berubah menjadi tatapan jijik, dia lanjut berkata, “Tidak akan pernah bisa ‘mereka’, untuk dibujuk, negoisasi atau semacamnya! Kau hanya dibodohi ...!!”


Setelah Perempuan tua cantik itu meninggikan nada suaranya, dia lanjut berkata dengan nada lirih, “Kau, harusnya sudah tahu itu, kan, ‘mereka’ itu―”


“Kau salah,” sela Jenderal Lok. “Apa kamu tahu, mengapa Pusat Benua membiarkan Tim Monster itu bergabung dengan zero di Garis Depan Benua?” Dia menatap jauh ke depan, di mana Sirius sedang terbaring tak sadarkan diri. “Dan mengapa kita tidak hanya mengambill Energy yang ‘mereka’ miliki saja―seperti yang biasa kita lakukan?” Lalu dia menatap tajam Elf di depannya.


“Itu, tapi ....” gumam Elf, melihat Jenderal Lok kembali sambil menautkan alisnya. “Seperti yang telah dikatakan para Pahlawan maupun Transcendence,” dia sedikit kebingungan, tetapi masih dengan tegas berkata, “... ‘mereka’, tidak bisa kita ajak bernegoisasi, dibujuk atau semacamnya. Dan di Era Perang ini, kekuatan ialah hal yang paling


penting!” Elf menaikkan suaranya, “Kalian sudah tahu itu dari awal―Tapi ... mengapa?!”

__ADS_1


Perempuan tua cantik itu mengasihani kedua Jenderal itu, dan dengan lirih kembali bergumam, “Mengapa kalian malah memberontak pada Sistem Dunia saat ini?”


Elf juga tidak mengerti dengan keputusan Pusat Komando Benua, Jenderal Besar Benua [1]: Loong Sei yang membiarkan beberapa dari ‘mereka’ bergabung dengan Prajurit Pertahanan Garis Depan Umat Manusia, di Benua [3].


“Negara,” kata Elf sambil menatap tajam Jenderal Lok di depannya, “dan ideologi dalam bendera yang kalian kibarkan itu memiliki banyak sisi gelap, dan telah membuat ricuh di setiap sudut Benua. Itu semua tertulis jelas dalam sejarah kebodohan Manusia terdahulu. Kalian harus berpikir ulang―”


“Kami punya cara untuk menanggulangi, dan mengatasi semua itu,” sela Jenderal Lok. “Itu semua cukup mudah, kupikir.”


“Kami, huh,” gumam Elf. “Kalian benar-benar memisahkan diri dari Sistem Dunia?”


"Manusia-manusia pada Era terdahulu saja yang terulalu bodoh―” kata Jenderal Lok, menggertakkan giginya, dengan nada jijik, “bahkan mungkin terlalu bodoh untuk disebut sebagai ‘Manusia’.”


“Berperang hanya untuk merampok wilayah dan hanya untuk mendapatkan beberapa butiran rempah,” tambah Jenderal Pongahar. “Kami yang akan―”


Guncangan besar seperti gempa besar memutus perkataan Jenderal Pongahar. Semua orang yang berada di wilayah Kuil Dewa Matahari melihat dua pasang kaki besar Giant-Grey menuju ke arah mereka.


“Bukankah kalian sama?” Jenderal Perse mengabaikan Giant-Grey yang mendekat.“Kalian bahkan lebih parah!” dengan suaranya bergetar, dia menurunkan suaranya, “Kumohon,” dia mencoba memohon kepada dua Jenderal di depannya, “menyerahlah dengan gagasanmu itu, Ayah.”


“Kami sama seperti Manusia bodoh terdahulu? Tentu saja, tidak,” bantah Jenderal Lok. “Seperti yang tertera pada lambang bendera yang berkibar itu.” Dia berdiri tegap, dan melihat bendera-bendera merah darah berlambang Palu dan Arit di berbagai sudut Aula Besar. “Kami yang akan memanen dan membuat industri ‘Manusia’, dan mengirimkan semua hasil industri kepada ‘mereka’.”


“Jangan terlalu kasar pada mereka, Lok,” pinta Pria paruh baya berkumis tipis itu. “Kita hanya membutuhkan Elf―”


Namun, Jenderal Lok membunuh dua penjaga gerbang di hadapannya yang sedang sekarat. Petir Putih yang langsung menyambar kedua penjaga pintu Kuil, dan menghanguskannya.


“Kau ....” Perempuan tua cantik yang dilindungi oleh dua penjaga yang telah hangus terbakar itu, tercengang.


“Kau terlalu lembut, Pongahar,” kata Jenderal Lok, “Walaupun kedamaian sudah ada di depan kita,” dia mengangkat tangannya―seperti memberi perintah, “Kita harus tetap waspada.“ Lalu dia menatap tajam Jenderal Perse dan Elf, kemudian lanjut berkata,” Dan untuk kalian. Asalkan kalian tidak mengganggu, kalian pun akan menikmati ‘Perdamaian Dunia’ yang kami ciptakan.”


Elf mengerutkan keningnya, saat melihat orang-orang di sekitar bendera merah yang berkibar, melumpuhkan para pengungsi serta Unit Übersicht di sekitarnya. Mereka yang lumpuh, tengkurap dan kejang-kejang di tanah lalu terikat dengan Energy aneh.


Dan ujung tiang-tiang bendera itu pun membentuk jalur berwarna merah. Mereka saling terhubung dengan bendera lainnya. Lalu Jalur tersebut menutupi seluruh Aula Besar serta orang-orang di dalamnya.


“Teleportasi?!” gumam Perempuan tua cantik itu, tercengang.


Elf yang tercengang, melebarkan matanya. Kemudian, dia menoleh ke belakang dan melihat dua Giant-Grey yang semakin mendekatinya.


Perempuan tua cantik itu berwajah gelap, bergumam, “Semoga anda tepat waktu,” lalu merepalkan matanya.

__ADS_1


Sosok Werewolf di bawah Gunung Besar; dan dia di bawah empat kaki Gian-Grey. Dia terus diserang oleh kedua makhluk itu. Dan akibat hancurnya penghalang, salah satu Giant-Grey dapat melihat Kuil Dewa Matahari dengan jelas. Ia langsung menembakkan cannon berapi hitam dari kedua mata hitamnya ke arah Aula Besar.


*BOM!!*


Cahaya merah menerangi seluruh puncak Gunung Besar sebelum dimakan oleh kobaran api hitam dari c/annon besar yang Giant-Grey tembakkan. Setengah Gunung Besar luluh lantah akibat cannon tersebut, dan membentuk kawab cukup besar ke sekitarnya.


Tidak sampai disitu, Gelombang Energy dari ledakan cannon besar itu pun menyebar. Ia menghempaskan Jenderal Perse walaupun dia berpegangan ke Pohon Besar.


Suara ledakan cannon besar itu terdengar sampai ke seluruh penjuru wilayah [A327].


Namun, Jenderal Pongahar masih berdiri tegap, dan menggenggam sebuah cube seperti milik Alta. Dia langsung mengaktifkannya―tetapi cube milik Pria paruh baya berkumis tipis itu lebih besar dan berwarna cyan.


Jenderal Perse yang terus terhempas dengan suaranya bergetar, berkata, “Kalian akan mengorbankan mereka semua ...!?”


“Ini hanya pengorbanan kecil,” jawab Jenderal Pongahar. “Hanya dengan pengorbanan kecil ini, kita semua―Manusia, akan mendapatkan KEDAMAIAN ...!!”


Sambil terus mengatifkan cube digenggamnya, Jenderal Pongahar maju ke depan, mendekati Elf. “Bukankah ini bagus?” Dia menolehkan tubuhnya ke belakang, dan menatap Jenderal Perse dengan tatapan penuh harap. “Jika kau ingin bergabung, kemarilah, Nak.”


Perasaan Jenderal Perse berkecamuk, saat melihat Jenderal Lok dengan santainya berjalan dan menggenggam bahu Elf. Kemudian mereka ber-tiga berada di dalam sirquit dibuat oleh Energy yang Jenderal Pongahar sebarkan―ia membentuk segitiga sama kaki.


“Kami yang akan mengendalikan informasi. ‘Jika kalian tidak ingin tertusuk dari belakang. Berhati-hatilah’.” Jenderal Pongahar berkata, sambil menutup mata, dan melihat ke arah cube di depannya lagi, “Beritahu saja itu pada mereka―Pusat Benua, Perse,” lalu dia mempercepat penyaluran Energy ke cube berwarna cyan yang melayang di depannya, “Kami ... pasti akan kembali.” Dia mengoceh seperti itu karena dia tahu bahwa Anaknya akan menggelengkan kepala.


Dan Benar saja, Jenderal Perse menggelengkan kepala, sambil menggenggam erat Pohon dan merepalkan kedua matanya.


“Bocah, kami menunggumu,” tambah Jenderal Lok. “Cepatlah buka matamu.”


“Aku akan menunjukkan rasa terimakasihku pada kalian,” kata Jenderal Pongahar. “Dengan tidak menghancurkan Area 327 ini.”


Tubuh Jenderal Pongahar, Jenderal Lok, dan Elf menjadi partikel cyan berbentuk persegi, dan persegi-persegi itu melayang ke atas dan lenyap begitu saja.


Lalu suara Pria paruh baya menggema di sekitar Gunung Besar menyertai hilangnya partikel berwarna cyan terakhir, yang berkata, “Aku,” dengan awalan nada sedih, dia menegaskan perkataannya, “Tidak. Kami ... akan selalu menunggumu, Nak.”


Elf dan kedua Jenderal baru saja di transfer, entah ke Benua atau Planet yang tidak akan bisa dikutahui. Dan suara ratapan lolongan serigala: Auuu....!!!! Menggema sampai ke seluruh penjuru wilayah [A327].


Di bawah Gunung Besar, siluet tubuh hitam Werewolft yang tiba-tiba berbalik, dan menyerang salah satu Giant-Grey dengan geram.


***

__ADS_1


__ADS_2