Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-40] Pertahanan Terakhir IX


__ADS_3

Energy-shield biru dengan telak menahan Meteor merah yang berdiameter 180 centimeter, yang telah hancur menjadi abu.


Para Prajurit garis depan yang berada di bawah Energy-shield biru tersebut, terhempas ke segalah arah, dan mereka mencoba untuk menstabilkan pijakannya dengan susah payah.


Meski dua Gelombang tabrakan ‘sk’ Jenderal Sez. dan "data" Komandan muda musuhnya tidak dalam kekuatan penuh mereka. Dua Gelombang Energy itu cukup untuk menghempaskan manusia yang ukurannya tidak lebih besar dari pintu dari Robot sebesar gedung dua puluh lantai, , yang terus menejang maju.


[RbX-M2314] melesat dibaluti bayangan merah darah, ditambah kilatan listrik biru korslet di kepalanya. Robot itu terus maju dengan mudahnya diikuti semua Prajurit garis depan yang mencoba menahannya, tetapi mereka terhempas ke segala arah.


Setengah batalion yang menyerang Komandan Pria paruh baya musuh, melesat ke samping, membantu menghentikan Robot tersebut. Namun, mereka semua masih tidak cukup kuat, dan Robot sebesar gedung dua puluh lantai itu pun telah sampai di jangkauan tembakannya.


Dengan senapan besar di tangan Robot Besar yang berdiri tegap menghadap pintu dalam [A327]. Robot itu kemudian mengumpulkan Energy di senapannya, lalu cahaya putih terkumpul di ujung senapan tersebut, dan menyinari seluruh penjuru lorong panjang Medan Perang.


Senapan Besar yang mengarah tepat ke arah Pintu berwarna hijau yang lebih kecil dari pintu luar [A327]. Pintu tersebut diapit dua tebing, dengan bentuk persegi panjang dan lambang zero di tengahnya.


Semua [scg-T321] di sisi-sisi Pintu Besar itu telah hancur, dan tertimbun puing-puing bebatuan, akibat terhempas Gelombang Besar Energy.


Jenderal Moran berdiri dengan tegap sambil menitikberatkan Energy pada ke-dua tangannya yang membentuk telapak tangan budha. Lalu, ke-dua telapak tangan langsung memancarkan cahaya emas, dan perlahan-lahan kobaran api emas membakar ke-dua telapak tangannya.


Pria Tua itu langsung menghantam batu pijakannya, dan diikuti sebuah robekan ‘ruang’ terbentuk di atas [RbX-M2314]; dengan robekan 'ruang' itu selebar gedung dua puluh lantai, yang menutupi seluruh tubuh Robot di bawahnya.


Cahaya emas perlahan keluar dari robekan ‘ruang’ yang menyinari seluruh penjuru lorong Medan Perang, dan tidak kalah dengan cahaya putih Robot di bawahnya.


Lalu, perlahan sebuah jari besar keluar dari ‘ruang’, secara perlahan-lahan ia membentuk Telapak Tangan Besar disertai kobaran api emas.


“Cih ...” decak kesal Komandan muda musuh yang mendongakkan kepalanya ke atas, sambil menyipitkan mata, melihat Telapak Tangan Besar tersebut.

__ADS_1


Melayang di atas tak jauh dari Telapak Tangan Besar berapi emas dan [RbX-M2314], Komandan muda musuh itu mejulurkan lengan kanannya ke arah Telapak Tangan Besar tersebut, yang berada tepat di atasnya. Kemudian ia mengeluarkan petir berbentuk Naga Putih dari lengannya, dengan Kepala Naga Energy Putih sebesar dua manusia dewasa, yang ia langsung menyambar ke atas langit.


Petir Naga Putih terus menyambar dengan kecepatan penuh, menuju tepat ke arah robekan ‘ruang’ di atas Telapak Tangan Besar disertai kobaran api emas. Kemudian Kepala Petir Naga Putih yang lansung menggigit 'ruang' tersebut, dan listrik-listrik putih menyebar ke seluruh Telapak Tangan Besar berapi emas di bawahnya.


“Apa!?" Jenderal Sez. tercangang, melebarkan matanya. Dia terus menahan serangan dari Komandan musuh paruh baya. "Kenapa ia bisa menggunakan Elemen Petir?”


Jenderal Sez. lanjut bergumam, “Bukankah 'mereka' ber-dua hanyalah seorang Komandan ...?”


Listrik putih itu langsung mengikat Telapak Tangan Besar Besar secara perlahan, dengan gigitan Petir berbentuk Kepala Naga Putih kepada ‘ruang’ di atasnya yang semakin erat.


Jenderal Moran cukup jauh di bawah Komandan muda musuhnya. Dia terus mencoba dengan keras untuk menahan hancurnya ‘ruang’ di atas [RbX-M2314]. Pria Tua itu mengerahkan seluruh kekuatan dan sisa Energy yang dimilikinya, untuk mendorong telapak tangan berapi emasnya ke bawah, di mana sebuah batu adalah pijakannya.


Seorang Pemuda Sappoter berteriak cukup jauh dari wilayah sambaran Petir Naga Putih dan Jenderal Moran, “Mark, Ruen!” dan dia melihat lintasan peluru hitam serta ungu yang melesat tepat ke arah kedua Komandan musuh.


Sebelum Ruth memberi perintah, Mark berbisik kepada Ruen dan mereka ber-dua serentak mengganti batch peluru sniper, yang langsung mereka tembakan, tepat ke arah kedua Komandan musuh mereka.


“Hei, Orang tua ... urus itu!” perintah Komandan muda, sambil menyipitkan matanya, melihat kedua titik lintasan di samping kanan bawahnya.


Komandan Pria paruh baya itu langsung membuat salah satu shield-listrik ungu di sekitarnya, dan menahan kedua lintasan peluru tersebut.


Peluru hitam yang tertahan oleh shiled-listrik ungu langsung meledak dan membentuk ‘ruang’ kecil di sekitarnya, dengan hisapan angin black hole langsung menyedot seluruh perisai listrik ungu.


Diikuti peluruh ungu pun tertahan, tetapi ia langsung menempel di shield-listrik ungu dan menyebar ke seluruh shield, lalu membukus seluruh Energy lisrik ungu, yang ia menyebar seakan-akan ingin melarikan diri; Ia menyebar seperti peremen karet basah membungkus benang. Setelah shield-listrik ungu terbungkus oleh Energy ungu elastis itu l, ia langsung meledak.


Melihat kedua ledakan kecil peluru tak jauh dari kedua Komandan musuh yang melayang, Komandan Pria muda mendecakan lidahnya, “Cih ... itu ampir saja.”

__ADS_1


Komandan Pria paruh baya itu terus menahan serangan Jenderal Sez. dan tembakan-tembakan Mark, serta Ruen juga Penembak Jitu lainnya, yang tak henti-hentinya menembak.


Dengan kerutan urat di pelipis Jenderal Moran, yang terus berusaha keras mencoba menekan telapak tangannya ke bawah.


Tetapi Komandan muda musuhnya, dengan santainya merepalkan tangan dibaluti petir Energy putih yang langsung ia jadikan kepalan tinju.


Lalu, gigitan Kepala Naga Petir cukup jauh di atas Komandan muda musuh itu, langsung merobek ‘ruang’ yang dibuat oleh Jenderal Moran, dan listrik-listrik putih yang mengikat Telapak Tangan Besar kobaran api emas dengan erat, langsung meretakan seluruh Telapak Tangan Besar tersebut.


Telapak tangan Jenderal Moran yang dia dengan susah payah tekan ke bawah langsung terpental ke belakang, dan Telapak Tangan Besar kobaran api emas di atas Pria Tua itu pun hancur berkeping-keping, lalu terjun ke bawah Robot Besar di bawahnya.


Kemudian Petir Naga Putih yang menyambar ‘ruang’ di atasnya, langsung tertelan kegelapan dan menghilang begitu saja.


Puing-puing Energy Telapak Tangan Besar kobaran api emas yang sebesar [RbX-M2314], berjatuhan ke bawah. Dan Robot sebesar gedung dua puluh lantai itu langsung menembakan Energy yang telah penuh di moncong senapannya.


Cannon Besar Energy putih melesat sangat cepat menuju ke arah Pintu di hadapan Robot tersebut yang mundur satu langkah ke belakang.


“Tidak ...!!” seru Jenderal Sez. menoleh ke belakang, mengikuti arah lintasan cannon tersebut, dan dia langsung menitikberatkan Energy biru lautnya di kedua telapak tangannya.


Wanita mengenakan kacamata bulat itu langsung membuat tiga Energy-shields biru jauh di belakangnya, yang ia semua tepat berada hadapan Pintu Dalam cukup besar berwarna hijau.


Namun, satu per satu Energy-shields biru itu hancur, dan tertelan lintasan cannon cahaya Energy putih yang melesat cepat sampai menabrak area pintu dalam [A327].


¤BOMM!!!!¤


Gelombang ledakan cannon cahaya Energy putih menyebar ke sekitar area pintu dalam [A327], dan ia sampai ke para Prajurit garis depan, serta Jenderal mereka.

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2