![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Monster es berwajah kebingungan, dengan dilema besar pada hati dan keyakinannya, setelah ia mendengar saran
Sirus. Tetapi, Alta hanya menutup kedua mata bongkahan es berwarna birunya, dan berkata, “Sudah kubilang ... untukmu sekarang,” ia kemudian membuka matanya kembali, sambil melirik Sirius yang tepat berada di bawahnya, lanjut berkata dengan nada lirih dan sangat sinis, “cobalah untuk tidak mati dulu.”
Lalu, tubuh monster Alta perlahan menyatu kembali dengan ganasnya badai salju di sekitar mereka ber-dua.
“Cih,” decak kesal Sirius, “tidak bisa, ya?” dan ia bergumam sambil mengerutkan keningnya.
Namun, tepat saat Monster es itu akan menghilang sepenuhnya. Sebuah lintasan serangan berwarna biru, melesat menuju tepat ke arah tubuh Monster es yang perlahan akan menyatu dengan ganasnya badai salju.
Alta menyipitkan matanya, melihat titik lintasan berwarna biru yang menuju ke arahnya. Kemudian ia melebarkan matanya terkejut, dan berteriak, “Sial!!”
Tembakan Energy cannon berwarna biru, yang dengan telak mengenai tubuh uap es Alta; dengan tubuh Monster es itu tercerai berai sambil menjerit-jerit kesakitan: Arrkhh-arkk ...!!
Jeritan Monster es mengiringi suara lesatan cannon berwarna biru lainnya, dan suara tawa Lelaki berkulit hitam yang tidak jauh dari Sirius, dan Monster es tersebut berada, “Ahahaha.... Gahaha, hahaha-hahaha ....” Lelaki itu terus maju, sambil terus menembaki Alta.
Dengan setiap langkah, maupun hentakan kaki Lelaki mengenakan gogglescope di kepala plontosnya itu menancap ke tanah, dan terkadang dia terhentak ke belakang―diakibatkan beratnya senjata yang dia tembakan. Tetapi Lelaki itu terus tertawa terbahak-bahak, dan trus menembak.
Jego kemudian mengganti R.P.G (Rocket Propelled Grenade, atau Granat berpeluncur roket) digenggamnya, dengan [BR-M3241] R.P.G yang dia sandangankan di punggunya.
Dengan sangat cepat, Lelaki berotot kekar itu mengaktifkan [BR-M3241], dan mengarahkannya pada tubuh kabut Alta yang tercerai-berai.
Lalu, Jego berhenti tertawa, dan tersenyum sambil menguatkan kakinya, berkata, “Kami bukan ternak ....” Kemudian sebuah Rudal Merah keluar dari ujung [BR-M3241], dengan linkaran sirquit berwarna biru terbelah dua berbentuk huruf S.
“Dan hanya aku yang bisa kalian panggil bodoh, dasar bodoh!” seru Jego, sambil menembakan Rudah Merah pada [BR-M3241] R.P.G-nya.
*Bhuss ...!*
Suara lesatan Rudal Merah yang diiringi kembali oleh suara tawa Jego, “Aahaha.... Gahaha. Ahaha-hahaha!” Lelaki berkepala plontos itu langsung kembali mengganti R.P.G-nya dengan [BC-M2210], dan dia terus menembaki tubuh Monster es.
__ADS_1
**
Penembak jitu dan yang berada di hutan rimbun terus menjauhi badai salju. Dengan badai salju terus mengejar mereka semua.
Ruen melompat ke Pohon antar Pohon dengan sangat cepat. Dia berlari pada dahan Pohon berbagai ukuran, seakan dia ingin mengejar seseorang.
Lalu, Pemuda berambut silver itu berada tepat di belakang Wanita cantik berambut hitam sebahu. “Hay,” kata Ruen, berlari berdampingan di samping Wanita tersebut, dan mengengokan kepalanya sambil tersenyum tipis, “Elk.”
Elk menegokkan kepalanya, menatap tajam Pemuda bermata biru laut di samping, dan mengerutkan keningnya. “Siapa yang menyuruhmu sok akrab seperti itu?” tanya Wanita bermata hijau itu dengan nada tegas, “Apa kau lupa? Kamu itu masih juniorku.”
Elk mencibir sambil memutar matanya, “Kau bahkan belum masuk Unit bintang 4.”
“Hei!” seru Gadis manis di samping Elk, sambil mengerutkan keningnya, “Kau nggak boleh kasar pada juniormu seperti itu, Elk.”
“Siapa peduli,” kata Elk menoleh kepada Gadis manis itu. “Senioritas itu diper―”
Kemudian Pria mengenakan gogglesope di lehernya itu tersenyum lebar, dan mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
“Aku enggak!! Itu ....” bantah Litz. sambil menundukkan kepalanya. “Aku nggak bermaksud begitu.” Dengan Ruen pun menundukkan kepalanya, dan berkata, “Aku juga tidak bermaksud begitu, Elk ....” Pemuda berambut silver itu menggenggam erat sniper yang dia sandangkan di bahu kirinya, sambil merepalkan rahangnya.
Elk menaikan sudut bibirnya, dan berkata dengan acuh, “Kau masuk dulu Unit Sniper Bintang 6 ....” Wanita itu melirik Pemuda berambut silver itu, sambil mempercepat laju larinya, dan lanjut berkata, “Baru kamu pantas ... untuk berbicara denganku.”
Kedua mata Ruen terbuka lebar, dan berbinar―langsung menatap punggung Wanita cantik di hadapannya.
Lalu Elk menoleh, menatap tajam kedua mata biru Ruen yang berebinar, sambil menaikan dagunya, berkata, “Aku tidak butuh bocah tidak berguna!” dan Wanita itu kemudian melompat cepat, dan berada di samping Mark―berlari berdampingan dengan Pria itu.
“Ingat itu!” tegas Elk.
“Siap ...!!” teriak Ruen dengan gembira, sambil menyeringai lebar dan menutup matanya.
__ADS_1
Mark melirik Pemuda bermabut silver yang gembira itu, sambil berlari serta melompat di antara Pohon, dan berdampingan dengan Elk. Kemudian ia mendesah frustasi dan berkata, “Elk,” Pria mengenakan gogglescope di lehernya itu mengengokkan kepalanya, dan dengan mata merah darahnya, ia mentap tajam Wanita cantik di
sampingnya, “Kau harus santai pada Pemuda berambut silver itu ....” Kemudian Mark mengerutkan kening. “Masuk Unit Bintang 6?” cibir Mark sambil mengedutkan bibirnya.
Pria yang menyandangkan sniper di bahu kanannya itu menggelengkan kepalanya, sambil mendesah keras, ia lanjut berkata, “Jika dia bisa masuk Unit Sniper Bintang 4,” dan menatap tajam Pintu Zero bagian utara; masih cukup jauh dari Mark dan lainnya, ‘yah, cukup dalam sepuluh tahun saja lah―aku akan merekrutnya ke zero!” Pria itu menaikan sudut bibirnya, sambil memutar bola matanya, langsung menengok kepada Wanita cantik yang terus berlari berdampingan dengannya.
Pintu dalam zero; di bagian timur di hadapan Ruth, Elk, Litz. serta para penembak jitu lainnya―yang mereka terus berlari, sudah terlihat oleh mereka semua. Tetapi anehnya, pintu tersebut masih utuh, dan tanpa ada suara bentrokan pertempuran sedikit pun.
Mark mengerutkan keningya sangat dalam; sambil merepalkan tangannya sangat erat di sampingnya―dan mempercepat laju larinya. Saat Pria itu akan melompat, Wanita cantik yang berlari berdampingan dengannya, menyusulnya sambil menengokkan kepalanya, berkata, “Bodoh!” dan dia menjulurkan lidahnya―mencoba terlihat imut sambil memutar bola mata hijaunya, “Urus saja urusanmu sendiri.”
Lalu Pria itu kembali tenang dan menyeringai lebar, berkata, “Kau ingin menjadi seperti Gadis itu?” ia melirik ke belakang, di mana Litz. terus mengikuti mereka ber-dua.
“Tapi sayanganya kamu tidak semanis Litz.” Mark mengangkat bahu, sambil mengedutkan bibirnya, dan lanjut tertawa terbahak-bahak, “Hahaha....”
“Apa?!” Litz. yang mendengar perkataan Pria di depannya , merona dan bertanya pada Pemuda sappoter berkulit sawo matang di sampingnya, “Aku manis?”
“Itu ....” gumam Ruth.
Sebelum Ruth menyelesaikan perkataannya, dia melihat Elk menendang Mark di sampingnya sambil berkata, “Terserah!”
*Buk!!!*
Tendangan cukup keras Elk, dengan telak mengenai Mark yang menjerit, “Arkkh!! Sialan kau, Elk!” ia kemudian terlempar ke belakang, dan berlari berdampingan dengan Ruen.
Jeritan Mark mengiringi suara retakan ‘ruang’, yang memeretakan udara; dan ia berada tepat di hadapan Pintu bagian dalam zero. Dengan semua orang yang berlari, serta melopat di antara Pohon ke Pohon berhenti. Mereka semua bertengger di dahan pePohonan berbagai ukuran, dan sebagian dari mereka yang di tanah mendongakkan kepala mereka, menatap tajam retakan ‘ruang’ tersebut, tetapi dengan seringai lebar pada wajah mereka.
“Huh ....” desah Mark menutup mata, sambil mendongak dan menggenggam pelipisnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya―ia berusaha terlihat keren, “Mengapa kau baru tiba sekarang,” dan di antara celah jari tangannya; dengan bola mata berwarna merah darahnya, ia menatap tajam retakan ‘ruang’ hitam di atasnya, “Sunarsih ...?”
***
__ADS_1