![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Esih berdecak kesal, “Aku tidak bisa mengeceknya ke sana, huh.” Kemudian dia langsung mempercepat lesatan terbangnya, menuju tepat ke arah Jenderal Moran dan Jenderal Sez. berada.
Wanita anggun itu terus menatap ‘ruang’ tipis yang diserang oleh Energy cannon berwarna ungu, dan mempercepat kembali laju lesatan terbangnya, menembus badai salju ganas di hadapannya.
*
「+En: 99 xs*o/e%」
Monster ungu itu sangat panik menatap angka yang menujukan sisa Energy dimilikiny, sambil terus menggerakan tubuhnya, dan mengeram-ngeram nada monster.
“Sial!!” Sirius merepalkan kedua matanya. “Apa aku akan kelihalangan akal lagi?”
Namun, saat Monster ungu itu akan pasrah, sebuah tembakan cannon biru, dari arah belakangnya dengan telak mengenai bongkahan es berwarna biru yang membekukan seluruh tubuh Sirius.
*Bom!!!*
Cannon biru yang dengan telak mengenai Sirius, dan menghancurkan bongkahan es membekukannya; dengan bongkahan es tersebut hancur, menjadi puing-puing kecil yang meleleh, serta tubuh Monster ungu itu terjun ke depan, terdorong cannon biru.
“Dia menyelamatkanku?!” gumam Sirius, mengerutkan keningnnya sambil menatap tajam Jego yang tertawa terbahak-bahak, dan menembaki Alta bertubuh uap es.
Monster ungu itu pun mendarat di tanah―yang berupa hamparan es; dengan uap es yang terus keluar dari pijakan Sirius. Dan ia langsung menatap tajam cannon-breath yang ia tembakan.
Energy cannon berwana ungu yang ditembakan Sirius, dengan telak mengenai ‘ruang’ tipis inti dari ganasnya angin kencang yang membentuk badai salju.
*Bom!!!*
Sudara ledakan cannon berwarna ungu di langit, yang diiringi oleh suara umpatan seekor Monster es di sekitarnya: Sial ...!!
Lalu Monster es itu kembali menyerang Sirius, dengan sayatan dua Sword Ice-nya secara membab! buta ke arah Monster ungu.
*Chrakk!!*
Tepat saat Alta menyerang Monster ungu itu kembali, suara retakan pada ‘ruang’ tipis itu terdengar, disertai bergetarnya angin kencang serta salju yang keluar darinya.
**
Wanita anggun yang keluar dari salju, langsung menitikberatkan Energy-Ice pada kedua lengannya. Kemudian dia menjulurkan kedua lengannya ke depan, dan menembakan Energy-Ice tersebut.
“Pria paruh baya itu siapa?” gumam Esih, sambil menatap tajam Komandan Pria paruh baya yang terus menyerang prajurit-prajurit pertahanan di sekitarnya―ia dikelilingi oleh Unit Pugulister dan Jenderal Moran, tetapi ia terus mendorong mundur.
Komandan Pria paruh baya musuh tertawa terbahak-bahak, dan ia langsung menembakan Energy petir ungu ke arah Jenderal Moran.
Pria Tua itu sedang kewalahan, dengan Energy emas yang dimilikinya telah mencapai batasnya.
__ADS_1
Energy petir ungu yang sangat cepat menyerang Jenderal Moran. Dan dia melirik ke panel biru alat komunikasinya, di mana wajah cantik Jenderal Sez. pun sedang kewalahan.
Pria Tua berambut putih, dengan tubuh kekar itu membentuk telapak tangan besar disertai kobaran api emas di hadapannya. Kemudian telapak tangan tersebut menahan serangan Komandan Pria paruh baya musuhnya.
Tetapi, telapak tangan dengan kobaran api emas itu hancur, dengan Energy petir ungu terus menyambar ke arah Jenderal Moran.
*
Jenderal Sez. yang berada cukup jauh dari Jenderal Moran, mengumpat sambil menitikberatkan Energy kobaran api birunya di lengan kanannya, “Sial! Kenapa―” tetapi Wanita mengenakan kacamata bulat itu terlalu tergesa-gesa, saat menitikberatkan Energy-nya.
Kenapa kalian tidak menampilkan situasi Jenderal Moran yang terdesak?
Wanita cantik itu meyirit, menatap tajam panel biru alat komunikasinya.
*
Energy-shield yang dibuat Jenderal Sez. pun langsung hancur, seperti kertas putih tertusuk belati tajam.
Komandan Pria paruh baya musuh terkekeh santai, sambil mempercepat sambaran Energy petir ungunya, dan berkata, “Kau mati, Pria tua!”
Tetapi, tepat saat sambaran petir ungu itu berada di hadapan wajah tua Jenderal Moran, sebuah tornado es dari arah belakang, menghantam telak Komandan Pria paruh baya musuh.
*Bhuss!!!*
Dengan suara lesatan serta hantaman seperti suara lesatan rudal.
Energy petir ungu yang disambarkan oleh Komandan Pria paruh baya musuh itu membeku, dengan sangat cepat, serta tornado es yang mengganggunya, menyebabkan Energy berbentuk petir ungu itu berhenti tiba-tiba di hadapan wajah Pria Tua berambut putih yang bergumam, dan tecengang, “Huh?!”
*
Jenderal Sez. pun melebarkan matanya, terkejut.
“Ice!” seru Wanita cantik mengenakan kacamata bulat itu, menatap alat komunikasi di samping kanannya, di mana Esih yang terus menembakan tornado es, dengan kedua lengannya yang dia julurkan kedepan.
Wanita anggun itu berdiri tegap, dan terus menyembakan Energy berbentuk tornado es―dengan ia melesat cepat ke depan dan membekukan udara serta apapun yang dilaluinya.
Lalu, Jenderal Sez. bertanya, “Kenapa Ice ada di sini? Bukankah dia berada di Benua 3?” dengan suara mekanisme seorang pria menjawab: {Bantuan tidak sepenuhnya dari Benua 2 ....}
{Namun, yang pastinya bala bantuan sudah tiba ... bisa Jenderal lihat ke belakang. Jenderal Woon zox. II [BN2] keluar pada titik yang berbeda, karena kapasitas Energy yang dimiliki beliau terlalu besar}
“Pusat mengirim Jenderal Besar Woon, kah ....” gumam Jenderal Sez. sambil menoleh ke belakang.
Salah satu Jenderal Besar yang memliki kekuatan legenda mitos itu?
__ADS_1
**
*Chrakkk!!*
Di hadapan gunung besar―yang ia sebagai pusat [A327] dengan selter-selter mengitarinya, terdapat retakan udara sangat besar; dengan suara retakan ‘ruang’ bergema sampai ke empat penjuru pintu [A327].
Semua orang di luar badai salju ganas, menoleh ke arah gema suara retakan ‘ruang’ itu.
“Namun, kami menang!”
**(Jenderal Sez. dan Elk serempak berseru)**
“Kita menang!!”
Sunarsih menyipitkan mata, menatap Wanita berambut sebahu di hadapannya yang kegirangan, dan berkata, “Ng.... Itu belum tentu, sayangku ....”
“Dan kenapa kalian berada di hutan?” tanya Sunarsih heran, dengan nada menggoda.
“Yah ... kenapa kau di sini, Makhluk aneh?” tambah seorang Pria berkulit putih, mengenakan baju Jenderal, menatap tajam Mark.
“Seharusnya kau langsung membantu mereka menyerang, dasar lac―” kata Pria paruh baya yang berjalan berdampingan dengan Pria berkulit putih itu, tetapi terpotong oleh Mark merentangkan lengannya―seperti ia ingin melindungi Sunarsih, dan berkata dengan nada sinis, “Oh ... kedua Jenderal hebat ada di sini?!”
“Kenapa kalian ada di sini?” tambah Mark. “Kenapa kau tidak mati saja, Perse?”
“Kamu―” Jenderal Perse merepalkan rahangnya, menatap tajam Pria mengenakan gogglescope di depannya.
Elk menepuk bahu Mark, dan berkata, “Tenanglah, Mark ....” Kemudian, Wanita cantik berambut sebahu itu, menatap tajam Pria paruh baya berkumis hitam tebal di depannya, lanjut berkata dengan nada sinis, “Kau telah bekerja keras, Jenderal Pongahar.”
“Hmp! Jangan kira karena kau itu cucu Elf, aku akan takut,” kata Jenderal Pongahar, sambil memalingkan muka, dia lanjut berkata, “Ayo kita pergi dari sini, Nak.”
Lalu Jenderal Pongahar dan Jenderal Perse, melesat menuju ke arah gunung besar yang merupakan pusat [A327].
“Hey, Pria tampan,” kata Sunarsih mendekati Mark, dengan langkah menggoda. “Kenapa kau jadi marah seperti itu?”
Mark menelan ludahnya, sambil melirik ke bawah dan berkata, “Hohoho.... Jika kau ingin menyembunyikan daun, ya, baiknya itu di hutan.”
“Kita kesampingkan itu dulu. Bisakah kamu―hey, wajah manisku ada di sini!” seru Mark, menatap panel biru alat komunikasinya.
Wanita cantik mengenakan kacamata bulat, yang wajahnya terpampang pada panel window berwarna biru itu sedang meyirit, dan kemudian dia menatap tajam panel biru alat komunikasinya.
“Manisku―maksudku Jenderal, jangan mengerutkan keningmu seperti itu―” kata Mark, yang disela Sunarsih di sampingnya, “Wah, Sez.” Menempelkan tubuh menggodanya, dia pun lanjut bertanya, “Apa kabar?”
“Sekarang bukan saatnya reuni! Cepat lenyapkan Monster es itu dulu!” desak Jenderal Sez. di panel biru alat komunikasi Mark, yang dia terus melindungi Jenderal Moran serta prajurit-prajuritnya.
__ADS_1
Dengan tatapan hangat mata merah darahnya, Mark menatap wajah Wanita cantik berkatamata bulat itu, sambil berseru gembira, “Hebat Sec―sialan kau! Kenapa kau ganti lagi!!” tetapi panel window itu langsung berubah kembali, menampilkan Esih yang terus menyerang Komandan Pria paruh baya, cukup jauh di depannya.
***