Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-84] "Giant-Grey"


__ADS_3

Sunarsih membakar seluruh Pohon hitam-abu di hadapannya, beserta buah-buah dan para Grey di sekitarnya memekik tajam: Inkk-innkkk! Tubuh abu-abu mereka semua terbakar, dan terjun―berjatuhan dari Pohon hitam-abu tersebut.


Adapun para Grey yang selamat, mereka semua berlari dengan tubuh abu-abu kerdil mereka terbakar. Mereka terbirit-birit, dan menyebar ke segala arah.


Namun, Sunarsih yang berada tepat di hadapan Pohon besar hitam-abu itu, langsung mundur dengan sangat cepat terbang menuju ke arah utara. “Sial. Kenapa jadi seperti ini?”


Pohon hitam-abu itu pun terus terbakar, dengan kobaran api oranye yang merambat tiba-tiba berhenti, saat retakan ‘ruang’ di tengah Pohon hitam-abu tersebut muncul.


Retakan ‘ruang’ lalu merobek udara di sekitarnya, dan menghisap seluruh api oranye, dan badai salju di sekitarnya.


Kencangnya angin pada ‘ruang’ tipis yang disayatkan Alta, kalah oleh hisapan ‘ruang’ hitam yang ia terus melebar, dan membentuk robekkan ‘ruang’ sangat besar.


Lalu, sebuah tangan abu-abu besar menggenggam tepi robekan ‘ruang’ itu, dan hisapan ruang; seperti hisapan pada black hole, yang kemudian terhenti.


Mencuat keluar sosok kepala Grey sangat besar, dengan dua mata almon besar berwarna hitam pekat―seperti malam tanpa adanya cahaya.


Giant-Grey bertubuh sebesar gedung lima puluh lantai yang perlahan berdiri tegap―ia sekitar dua kali lipat dari besarnya tubuh [RbX-M2314].


Wanita berubuh menggoda yang terus berlari menjauhi Giant-Grey, seperti semut yang berlari dari seekor gajah. Kemudian Sunarsih menoleh dan bergumam, “Bagaimana cara kita melenyapkan itu?” dan dia pun menatap ke depan, lanjut berkata, “Mark? Kau punya ide?”


Namun, Mark, Elk, Litz. dan Jego, serta Sirius yang tidak memiliki kesadaran pun, mendongakkan kepala mereka, menatap tajam ke atas langit yang tertutupi oleh Giant-Grey lainnya.


Sunarsih mengerutkan kening, menatap Pria dengan gogglescope di lehernya, yang ia berdiri tegap mendongakkan kepalanya, sambil menganga, dan Wanita bertubuh menggoda itu pun bertanya, “Kamu kenapa, Mark?”


“Lihat!” jawab Mark, sambil menujuk ke atas Sunarsih.


Wanita bertubuh menggoda itu langsung menoleh, dan mendongak. “Apa itu!?” seru Sunarsih tecengang, melebarkan matanya. “Kenapa Grey bisa sebesar itu?”


Giant-Grey yang lebih bisar dari Giant-Grey yang berada di dalam [A327]. Giant-Grey di luar aurora [A327] sangat besar, dengan ukurannya sepertiga [A327] atau berukuran tiga Gunung besar pusat [A327] jika disatukan.


Mata kosong hitam pekat berbentuk almon sangat besar, menatap ke bawah [A327], seperti ia menatap seluruh manusia di bawahnya.


Sunarsih kemudian berhenti tebang, dan mendarat tidak jauh dari Elk, Litz. dan Jego, dan dia berdiri di atas dahan pohon tidak jauh dari Mark.


“Cih,” decak kesal Elk. “Kita ber-tiga harus terus menahan serangan Monster bodoh ini. Atau membantu melawan dua Grey raksasa itu, Mark?”


Elk terus mencoba untuk mengimbangi kecepatan Monster ungu di hadapannya. Dia melindungi dua rekannya dengan susah payah―dan terus mundur.


Mark tidak menjawab. Ia mengerutkan keningnya, menatap tajam Elk yang mulai kelelahan.

__ADS_1


“Mengapa mereka muncul sekarang?” gumam Mark, dan ia lanjut bertanya kepada Pemuda sappoter di sampingnya, “Bahkan sekarang belum jam 8 malam, kan, Ruth?”


“Iya. Jam 7 pun belum,” jawab Ruth melihat panel biru alat komunikasi di sampingnya. “Aku pikir ...”


“Mayat-mayat ‘mereka’ di luar A327 itu,” jelas Ruth, “Tidak salah lagi ... itulah rencana ‘mereka’ ber-dua untuk melenyapkan Area kita....”


“Area lainnya juga pasti termakan taktik ini,” lanjut Ruth, sambil mengerutkan kening, dan mendongakkan kepalanya. “Tapi ... Jenderal Besar bala bantuan tidak datang tepat waktu di Area-Area yang telah hancur."


Mark mengangguk. “Ya. Mungkin. A327 kita sedikit beruntung.”


“Kita hanya bisa berharap pada kekuatan Jenderal Besar Woon,” gumam Ruth.


Pria mengenakan gogglescope di lehernya itu menggaruk kepala belakangnya, dengan canggung berkata, “Emm.... Yah. Orang Tua serigala itu memang cukup kuat sih.”


**


Esih terus menyerang Komandan Pria paruh baya musuhnya, dengan tornado es pada kedua lengannya yang terus dia tembakan, tanpa jeda satu detik pun.


Kemudian Wanita anggun itu mengerutkan kening, menatap ke depan, di mana bayangan besar menutupi cahaya bulan.


“Grey sebesar itu?!” gumam Esih menoleh, dan langsung tercengang. “Apakah ia penyebab Area lainnya hancur begitu saja?”


Komandan Pria paruh baya musuh mereka, tersenyum lebar dan terus mendorong mundur para manusia di hadapannya dengan sangat mudah.


Esih dan Jenderal Sez. terus mundur ke arah Jenderal Moran yang sangat kelelahan―dengan mata putih kosongnya, menatap ke depan. Kemudian Pria Tua itu pun mendarat di tanah, dan seorang dari Unit Sappoter pun mendekatinya.


“Anda telah berjuang keras, Jenderal,” kata Sappoter Wanita tak kasat mata itu.


“Aku belum―” gumam Pria Tua berambut putih itu, yang dia langsung menutup matanya, dan terjatuh ke belakang.


Sappoter Wanita tak kasat mata di samping Jenderal Moran, langsung menangkap Pria Tua berambut putih itu, dan dia langsung mengangkutnya, menuju ke regu penyembuh terdekat.


*


Jenderal Besar Woon yang langsung berada tepat di hadapan Monster es, dan dia langsung mebacokkan Kapak bergagang hitam dan bilah merahnya ke depan, secara diagonal.


*Buk!!!*


Kapak hitam-merah yang menghantam Sword Ice Alta―ia menahan telak bacokan Jenderal Besar Benua [2]. Tetapi tubuh Monster es itu langsung mundur beberapa langkah di udara.

__ADS_1


Sword Ice sangat panjang digenggam Alta tiba-tiba terbelah―menjadi ukuran semula, dan menjadi uap es yang menyebar ke segala arah.


“Jadi ini rencana kalian, huh?” cibir Jenderal Besar Woon. “Menghancurkan seluruh Area sebelumnya seperti ini ....”


“Ya?!” Monster es itu melebarkan matanya―mengejek Jenderal Besar Benua [2] di hadapannya.


Jenderal Besar Woon mengerutkan keningnya, dan berkata, “Sungguh naif.”


“Apakah itu salah?” tanya Alta, sambil menitikberatkan Energy-nya pada Sword Ice yang baru saja terbelah.


Jenderal Besar Woon langsung menerjang maju, dan membacokkan Kapak hitam-merah terangnya kembali, secara bertubi-tubi. “Kalian tidak menginginkan daging murni kami lagi?”


Monster es hanya menyeringai misterius, sambil menghindari semua serangan Jenderal Besar Benua [2] di hadapannya―dan sesekali menangkis dengan Sword Ice lainnya.


“Jika salah satu dari kami .... Jenderal Besar datang ...” gumam Jenderal Besar Woon, sambil menitikberatkan Energy kobaran api oranye terangnya, pada Kapak yang digenggamnya, menggunakan dua tangan.


Jenderal Besar Woon langsung berputar sangat cepat membentuk tornado kecil, dan lanjut berteriak, “Kalian sudah lama lenyap!!”


Monster es itu tersedot oleh tornado yang di buat oleh putaran Kapak Jenderal Besar Woon. Namun, Alta tertawa sambil menahan sayatan―bacokkan dalam tornado yang terus menghisapnya, “Hahaha.... Siapa yang tahu.”


Alta langsung memasang posisi bertahan. “Mungkin kami yang akan menang?”


“Jangan sombong hanya karena menjadi ternak yang sedikit kuat!!” teriak Alta, sambil menyayatkan Sword Ice-nya.


Tetapi Monster es itu langsung tersentak, dan terlempar ke belakang.


“Urgghtt....” Monster es itu mendesah berat, dan langsung menstabilkan tubuhnya. “Sudah kuduga kau sangat kuat.“ Alta tertawa terbahak-bahak, dan kemudian memasang posisi bertarung kembali.


Monster es yang langsung menyayatkan kedua Sword Ice-nya ke depan, secara membab! buta.


Jenderal Besar Woon mengendus. “Hanya ini yang kau bisa?”


Lalu, Pria paruh baya berkulit hitam itu langsung menyebarkan Energy kobaran api oranye ke sekitarnya.


Energy oranye yang langsung melelehkan sayatan Sword Ice Alta, dan ia membumbung tinggi ke atas langit.


“Jika hanya itu yang kau bisa lakukan, huh,” kata Jenderal Besar Woon yang langsung menyerang Alta. “Matilah .... Monster bodoh!”


***

__ADS_1


__ADS_2