![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Cih ...!” Elk dengan geram menggertakkan giginya, lalu mendekat dengan cepat ke tempat di mana Jenderal Moran berada.
Wanita itu mengambil sesuatu dari kantong belakangya; dia mengambil sebuah kotak kaca tebal yang transparan, berisi batu seukuran kepalan tangan manusia dewasa, berwarna oranye memancar terang. Tidak lain yakni [StA.++T112], dengan setengah Energy tersisa, karena telah digunakan Sirius untuk membuat [sr-T00]: mesin berbentuk bola basket biru terang yang sudah ia ledakan.
Sirius mengerutkan kening, memperhatikan Elk menghampiri Jenderal Moran tak jauh darinya. Ia menatap batu yang tak asing baginya. “Apa yang akan Wanita itu lakukan?”
Elk mengeluarkan batu bercahaya oranye itu dari kotak transparan. Kemudian menggenggam erat [StA.++T112] di tangan kanannya, dan menyentuh kening Jenderal Moran di hadapannya dengan jari telunjuk tangan kiri.
Batu oranye itu memancar terang dari genggaman Elk yang memejamkan matanya, berkonsentrasi untuk mentranfer Energy dari [StA.++T112] ke dalam wadah inti Energy Jenderal Moran.
“Apa yang Elk lakukan?!” tanya Ruen menolehkan kepalanya dengan santai, menatap Ruth di belakangnya.
“Hey! Apakah kau lupa? Dia kan harusnya Sappoter juga," sela salah satu Penembak Jitu di samping Ruen. "seperti Ruth.”
“Hah?! Oh iya ... Aku lupa ...” kata Ruen, menepuk dahinya. “Ya~ Dia satu-satunya Sappoter aneh yang berada di garis depan.”
“Hey! Kau ingin mati dua kali dihabisi oleh Elk ...?” tegur seorang Penembak Jitu lainnya, sambil menatap Ruen dengan senyum aneh.
“Huh?! Tidak, tidak, tidak ...“ jawab Ruen, menggelengkan dan melambaikan tangannya dengan sangat cepat.
“Aku dengan segenap hati ... meminta maaf padamu Elk!!" teriak Pemuda berambut silver itu menggunakan nada sedih. "Ampunilah nyawa Pria kecil ini ... Kumohon ....”
“Meski aneh ... Elk sangat hebat .... Kau tahu?!“ kata Ruth menatap tajam Elk yang jauh di depannya, masih mengalirkan Energy batu oranye terang digenggamanya kepada Jenderal Moran.
“Dan ... apa kamu ingin mati, mengganggu konsentasinya seperti itu?” tanya Ruth, tersenyum santai sambil mengalihkan pandangannya kepada Ruen yang tak jauh di depannya.
“Ti—“ Ruen yang akan berkata langsung menutup mulutnya dengan cepat.
“Kita harus segera bersiap!" perintah Ruth, yang langsung berdiri sambil menatap tajam Robot yang tertutup debu mengembung ke atas langit jauh di depannya. "Sirius berkata bahwa benda itu masi hidup."
“Meskipun aku tidak mau percaya ... sungguh ...” kata Ruth, menutup mata sambil menggelangkan kepalanya.
Ruth kemudian lanjut berkata sambil tersenyum tipis yang memancarkan kehangatan, “Lebih baik sedia payung sebelum hujan.”
“Huh ... salah satu legenda pribahasa manusia yang sudah hampir punah!?" kata Ruen, menyentuh dagunya, seperti sedang berpikir. "Jika aku tidak salah sih.”
“Hebat. Kau bisa mengingatnya, Ruth!” kata Ruen, menatap Pemuda tepat di depannya yang memakai pakaian coklat sappoter, dengan desain anggota biasa.
__ADS_1
Ruen dan semua orang langsung bersiap dan mengecek masing-masing sniper mereka, dan batch peluru, apakah ada kerusakan. Dan batch peluru sniper yang berhamburan ke segala arah, terhempas tabrakan dua Gelombang tabrakan Energy. Lalu mereka menyusun semua batch peluru serta mengecek perlatan dengan sangat teliti.
“Yah ... semua seni, budaya dan kata-kata bijak hampir punah saat pebudakan ‘mereka’, yang membodohkan kita para manusia ...” gumam Ruth, mengerutkan kening dan merepalkan tangannya dengan erat.
“Aku hanya mengingat beberapa yang tertulis di artefak ... sih,” kata Ruth, menggaruk kepala belakang nya dengan ekspresi canggung.
Semua orang menatap Pemuda memiliki rambut spike prajurit biasa yang cukup tampan, dan bermata hitam gelap serta kulit sawo matang di hadapan mereka.
Mereka menatap Ruth dengan tatapan kagum.
“Itu sudah bagus, menurutku ...” kata salah satu Penembak Jitu yang berada di paling ujung di atas Batu Besar, di mana mereka berdiri dengan tenang mengangkat sniper-nya, dan menopangkannya pada bahunya.
“Ya! Kami hanya tahu, dan diperintahkan untuk latihan menembak setiap detik, menit, jam, maupun hari ...” kata Ruen, menatap tajam Ruth di depannya.
Kemudian para Penembak Jitu lainnya berdiri, dan menghadap Ruth, sambil tersenyum santai. “Hanya menembak yang bisa kami lakukan ....”
“Jadi ... kau harus semangat!!” Ruen menepuk bahu Ruth, sambil tersenyum lebar.
“Karena kita yang hanya bisa menembak, mereka di garis depan hanya bisa mengerahkan semua kekuatannya dengan dibantu oleh kita ...” jelas Ruen, menggenggam erat bahu Ruth. “Dan kau pun mempunyai peran sangat penting bagi kami ...!!” dia meninju dada Ruth, dengankepalan tangan kanannya dengan santai.
“Hey! Siapa yang menyuruhmu berperan menjadi bos kami?” tanya seorang Penembak Jitu di belakang Ruen.
“Hahaha....”
Semua orang di atas Batu Besar tertawa hangat dengan serempak.
Sirius sangat jauh di hadapan Batu Besar tersebut, masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka semua yang berada di atas Batu, diiringi tawa memancarkan kehangatan.
“Sedia payung sebelum hujan?!” gumam Sirius kebingungan, mendengar kata asing yang cukup menarik baginya.
Dan apa itu payung?! Hujan?
“Tapi dari percakapan mereka ...." Sirius mengangkat alisnya. "Aku pikir itu artinya, untuk menghindari semacam resiko?! Mungkin.”
Sirius tersenyum lebar, sambil menyentuh dagunya. “Tidak buruk ....”
“Tapi, tanpa Sasha .... Tetap saja," kata Sirius, menghela nafas panjang frustasi, mengingat tidak adanya Gadis itu di sampingnya. "aku mungkin bukan Kapten yang dapat di andalkan.”
__ADS_1
Pria itu menggelengkan kepalanya, dan kemudian menatap tajam seorang Wanita yang sangat mirip dengan Sasha, sedang berkonsentrasi mentranfer Energy kepada Pria Tua tak jauh di hadapannya.
Lalu, Elk menyingkirkan jarinya dari dahi Jenderal Moran. Dia pun mundur beberapa langkah, sambil berkata, “Selamat datang kembali Jenderal." Elk menggertakan giginya sangat kesal. "Menurut Sirius ... serangan kita tidak berpengaruh.”
“Benarkah?! Tapi serangan tadi, cukup untuk menghancurkan satu selter,” Jenderal Moran mengerutkan kening, tak percaya, dan dia langsung meregangkan tubuhnya.
Semua orang bersiap untuk gelombang pertempuran berikutnya, lalu seorang Pria muda memakai pakaian dan berambut putih, perlahan mendekati Jenderal Moran dan Elk di garis depan.
“Bukankah di setiap Area ada seorang petinggi ... seperti ... Jenderal Besar?!” tanya Sirius kepada Elk dan Jenderal Moran. “Kita akan aman jika ada—“ Sirius yang terpotong melihat Jenderal Moran menggelengkan kepalanya, dan Pria Tua itu langsung berkata, “Tidak ada.”
“Apa?!” Sirius terkejut dengan jawaban Jenderal Moran, lalu ia melihat Elk yang tak jauh di depannya.
Elk yang sama menggelengkan kepalanya sambil merepalkan kedua tangannya dengan erat.
“Jenderal Besar Benua 4 kami sedang dalam misi bala bantuan, di garis depan benua 3. Dia pergi sekitar empat bulan lalu, kurasa?!” kata Jenderal Moran, menyentuh dagunya, sedang berpikir dan mengingat sesuatu.
“Sebab itu kami meminta bala bantuan benua 2!!” tambah Elk yang menatap tajam Sirius, lalu menggertakan giginya.
“Bukankah kalian bisa menghubungi dengan alat komunikasi bola kecil itu?!” tanya Sirius, tercengang. “Dan benda kotak yang Jenderal Moran sentuh!?”
“Itu hanya bisa digunakan di dalam Benua 4 ini ...” jawab Jenderal Moran, sambil menggelengkan kepalanya. “Masing-masing benua di bumi ini terhalang oleh kubah Energy aneh dari matahari bu—"
Jenderal Moran menutup mata dan mencoba berpikir keras, seperti ingin mengingat sesuatu.
"Bulan?" tambah Elk di depan Pria Tua itu. Wanita cantik itu tiba-tiba menjadi cukup tenang, dan memancarkan senyum pada wajah cantik dan mata hijau terangnya.
"Ah! Ya! itu!!" jawab Jenderal Moran, mengangguk diam.
"Kedua Energy itu yang menghalangi alat komunikasi jaringan maupun nirkabel ...!” kata Elk dengan santai mengangkat bahu, dan mengerutkan bibirnya.
Mengapa mereka berdua terlihat menjadi ... sedikit aneh ...!?
Sirius memperhatikan kedua orang di hadapannya, tampak ada yang sangat berubah dari mereka ber-dua. Tetapi ia tidak bisa menjelaskan apa itu.
Pria muda bermata emas itu menatap Elk dan Jenderal Moran dengan tatapan tajam, sambil mengerutkan kening, memikirkan sesuatu. Kemudian Pria Tua berambut putih di hadapan Sirius melanjutkan penjelasannya, “Kita hanya bisa berkomunikasi antar benua 14 hari sekali ... dan itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang kami sebut ....” Jenderal Moran dengan tenang, menatap tajam Sirius di depannya.
“Übersicht ...!!”
__ADS_1
¤¤¤