![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
{Jenderal Sez. memerintahkan kami untuk memblokir jalur alat komunikasimu kepadanya, Mark}
Pesan teks yang entah dari siapa, tetapi Mark mengerti saat ia membaca tulisan tersebut sambil mengerucutkan bibirnya.
“Huh,” Mark mengendus tidak percaya, dan terus menembaki kedua musuhnya, kemudian ia bertanya, “kamu pasti bercanda .... Mana mungkin Pria tampan ini diblokir?”
{....}
“Ayolah .... Aku sudah bosan melihat wajah Pria Tua itu,” gerutu Mark, kemudian ia menembak kembali.
“Aku akan mentraktirmu daging Stegosaurus!” saran Mark dengan matanya berbinar sambil terus menembak.
{....}
“Oke-oke .... Aku mengalah, bagaimana dengan Rex?!” tanya Mark mengangkat bahu sambil melambaikan batch peluru digenggamnya ke samping. "Sungguh. Aku yang akan memburunya sendiri, dan itu benar-benar enak .... Aku tidak bohong."
Namun, tetap tidak ada jawaban apa pun.
Lalu, Mark memasang batch pelurunya, dan ia langsung menembaki Alta dan Komandan Pria paruh baya, yang posisi mereka ber-dua terus menjauhinya.
“Apalagi Pria Tua itu terlalu dekat, cih .... Aku tidak suka Pria.” Mark menggerutu sambil mendecakan lidah, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
{....}
Masih tidak ada jawaban dari mereka, tetapi suara Pria Tua serak yang terdengar oleh Mark, di panel berwarna biru di atas kanannya, seperti suara Pria Tua tersebut berada tepat di sampingnya, ”Siapa yang kau sebut tua? Umurku baru tiga ratus tahun!” seru Jenderal Moran sambil merepalkan rahangnya kesakitan, menatap tajam Mark, tetapi dia langsung mengalihkan pandangannya kepada dua musuh di depannya.
“Hey, Kenapa kalian sambungkan ke Pria tu―maksudku Jenderal Moran?” tanya Mark mendongak menatap balik Jenderal Moran, sambil menyipitkan mata merah darahnya.
Wajah Jenderal Moran terlihat jelas oleh Mark. Terpampang sebuah gambar wajah Pria Tua berambut putih di panel window berwarna biru, dan dia terlihat sedang kesakitan, tetapi terus bertarung dengan Alta―gambar tersebut mundur tiba-tiba; dengan sendirinya menjauh; dengan sudut pandang wilayah medan perang garis depan, di sekitar wilayah Pria Tua itu.
Mark kembali dalam posisi menembak. “Yah .... Kita kesampingkan itu dulu ... berapa lama lagi bala bantuan tiba?“ ia bertanya sambil menembaki Alta yang terus menjauhinya.
“Ini sudah terlalu lama .... Apa yang kalian lakukan sih? Kalian itu,” kata Mark, “sedang merobek ‘ruang’ kubah benua―atau kalian malah tidur?!” kemudian ia menyipitkan matanya curiga, menatap panel biru di samping kanan atasnya.
Lalu, panel biru gelap bergetar―di kanan atas Mark, dan suara mekanisme system pria menjawab, disertai ketikan perkata muncul mengiringi suara tersebut―di panel biru gelap tersebut: {Kami berusaha semaksimal mungkin .... Mark}
{Sekitar 5 menit lagi, bala bantuan benua [2] tiba} Tambahnya tertulis di bawah kalimat sebelumnya.
“Hmm ... itu yang kau sebut sebentar lagi?!” tanya Mark dengan nada cepat, sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Ia bingung, tetapi Mark terus menembaki Alta yang terus menjauhinya, sambil berkata, “Bagaimana menurutmu ....” kemudian ia menoleh ke samping kanan, di mana seorang Pemuda berambut silver―dia menggendong sniper di punggungnya, dan dia sedang berjalan ke arah para penembak jitu; mereka sedang dalam posisi menembak. “Ruen?” tanya Mark.
Mark langsung melanjutkan menembaki Alta, dan Ruen yang berjongkok tidak jauh darinya menjawab, ”Entah ... tapi, apa tidak ada cara lain,” dia menggelengkan kepala sambil mempersiapkan sniper-nya, “untuk benar-benar menahan mereka ber-dua?” tanya Ruen menengok ke samping kiri, menatap Mark kemudian dia menoleh ke belakang menatap Ruth.
“Em, ya .... Aku juga tidak tahu .... Kita hanya bisa menembak di sini, dan ... batch peluru kita juga sudah hampir habis,” jawab Ruth sambil menurunkan kotak peluru yang dia gendong, kemudian dia menghitung batch peluru tersisa di kotak peluru tersebut, “Emm ....” dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas frustasi.
“Aku kira ini cukup, tapi ...” Ruth berkata sambil menatap tajam kedua musuhnya, yang terus menjauhi batu besar pijakannya, “apakah mereka masih memiliki kartu truft lain .... Kita sama sekali tidak tahu.”
**
Di depan celah tebing; jauh tertinggal dari para prajurit sedang bertahan sambil mundur, di depan pintu dalam zero; telah hancur.
Merupakan tempat regu penyembuh yang para Sappoter telah tinggalkan. Elk terus bertarung melawan Monster ungu di hadapannya.
Serangan demi serangan Wanita itu yang dengan mudahnya dihindari oleh lawannya. Monster ungu yang terus menghindari serangan Wanita tersebut, perlahan ia menyeringai lebar, dengan gigi runcing tajam: seperti gergaji; berwarna putih, dan sangat panjang, dengan mulut lebar.
“Cih, kenapa kita jadi seimbang?” gerutu Elk mengerutkan keningnya, sambil terus menyerang.
Pukulan, sayatan dan tendangan dengan berbagai kuda-kuda telah Elk gunakan, tetapi lawannya terus menghindar.
Lintasan berwarna hijau serangan Wanita yang menyerang Monster ungu, di dalam lintasan tersebut terdapat pukulan, sayatan, dan berbagai tendangan Elk―saking cepatnya dia menyerang, dan dia terus menyerang tanpa jeda setengah detik pun.
Saat mereka berbaku hantam, telapak tangan Sirius melesat maju―menjulur ke depan sangat cepat; sampai-sampai lengannya disertai listrik-listrik ungu mengitarinya, dan menuju tepat ke wajah Elk: seperti tangan tersebut akan menggenggam wajah Wanita di hadapannya.
Elk langsung mundur selangkah sangat cepat, dengan langkahnya disertai lintasan cahaya hijau, kemudian dia menggerakan kepalanya menghindari tangan ungu Sirius.
Wanita itu langsung menendang Sirius, dengan Wanita tersebut memasang kuda-kuda rendah: secara diagonal dari bawah ke atas―kaki kanan Elk melesat cepat, dan tepat menuju ke arah perut Sirius.
Namun, Monster ungu ditendang Elk menghindar, Monster ungu tersebut, dengan sangat cepat menyampingkan tubuhnya; setiap gerakan Sirius disertai petir ungu―saking cepatnya, dan Wanita itu terkejut langsung berteriak, “Apa?!” ia menggenggam kaki jenjang Elk, kemudian Sirius langsung menggangkat kaki Elk ke atas; tubuh Elk pun ikut ke atas, dan langsung ia banting kaki Elk ke bawah dengan sangat kuat.
*Buk!!!*
Punggung Wanita itu langsung menghantam tanah. “Ughh ....” desah berat Elk, yang dia terbanting menghembuskan napasnya sangat keras: seperti jika dia terpukul dibagian perut, dan tanah di punggung Wanita itu hancur, dengan retakan menyebar di sekitarnya.
“Sial!!” dia berteriak sambil menguatkan kakinya, kemudian dia langsung memutar tubuhnya, dengan kaki kiri akan menendang rahang kiri Sirius, dan hempasan tendangan berwarna hijau; membentuk kurva, langsung menghempaskan puing bebatuan, dan debu di sekitar mereka ber-dua.
*whuss*
Tetapi sebelum tendangan Elk sampai di rahang Sirius―masih membentuk lengkungan kurva, Monster ungu yang masih menggenggam erat kaki Elk. Lalu, ia menunduk dan langsung melempar kaki dingenggaman tangannya ke belakangnya.
__ADS_1
Cahaya hijau lintasan kurva tendangan Wanita itu menjadi tidak beraturan, dan tubuhnya terlempar sangat cepat, dengan tubuh Wanita tersebut disertai lintasan hijau di kakinya; dia terbang sambil berputar-putar; melesat cepat menuju ke arah batu cukup besar.
“Cih,” decak Elk kesal, sambil dia terus terbang melesat di udara―tubuhnya berputar-putar, kemudian dia melirik batu cukup besar yang akan dia tabrak, dan berkata, “jadi seperti itu ...?!”
Namun, dia tidak menabrak batu seperti Sirius dengan punggunggnya.
Wanita itu menguatkan kedua kakinya, dan dia langsung memijak samping batu, dengan kaki kedua kaki Elk―kaki dia langsung tertancap kuat ke dalam batu itu, dia geram sambil memasang kuda-kuda kuat kemudian berteriak, “Kau gagal .... Monster bodoh!!” dia melompat ke depan, dengan cahaya hijau mengitari tubuhnya.
Elk terbang melesat cepat, kemudian dia roll ke depan―menstabilkan pijakannya, dan langsung berlari menuju ke arah Sirius, dan mereka ber-dua memulai pertarungan lagi.
**
Di depan prajurit garis depan yang terus mundur, dengan prajurit batalion terus berkurang, dan hanya menyisakan satu batalion tersisa, dengan tinggal kurang dari seribu orang dalam batalion tersisa tersebut.
Namun, terdapat beberapa Unit Pugulister yang tersebar di sisa batalion prajurit garis depan, dan mereka sangat kuat, berbeda dengan prajurit garis depan lainnya―para prajurit biasa yang terus berguguran.
Prajurit Unit itu bisa bertahan dari serangan kedua lawannya, menggunakan posisi bertarung khusus, yang melayang di udara ataupun di darat. Mereka menggunakan alat berbentuk sarung tangan: berbentuk hand protector karate: dengan sirquit rumit berwarna biru mengitarinya; terbuat dari besi yang sangat keras; dua sarung tangan kanan-kiri, dan masing-masing prajurit memiliki warna sirquit berbeda.
Unit tersebut sangat kuat, sampai-sampai bisa bertahan dari empat ribu prajurit―telah gugur ataupun terluka, dan tidak satu pun dari mereka yang gugur; mereka hanya terluka kecil dan bisa diabaikan.
Para Unit Pugulister yang meloncat dan melesat kesana-kemari menyerang kedua musuhnya, mereka semua menyerang tanpa keraguan sedikit pun.
Kilauan berbagai warna yang terus mencoba menghantam dua musuhnya.
Namun, dua Komandan musuh mereka sangat gesit, dan terlalu cepat untuk mereka lawan, sehingga serangan mereka seperti sia-sia.
Lalu, satu sambaran listrik ungu, yang menyambat tepat ke arah para prajurit Unit Pugulister terbanyak, tetapi langsung mereka tahan dengan meninjukan tinjunya ke arah samparan listrik ungu tersebut.
Sebuah kepalan Tinju-Energy berwarna biru menahan telak sambaran listrik ungu yang menargetkan Unit itu.
Para batalion tersisa pun terus menyerang dan bertahan, sambil mereka terus mundur.
Dengan adanya Unit Pugulister yang tersebar di batalion tersisa. Mereka jadi bisa leluasa saat menyerang kedua musuh, dan mundur secara teratur.
Unit itu sangat kuat, dan mereka terbilang lebih kuat daripada Komandan mereka―merupakan pemimpin Unit tersebut. Namun, para Komandan mereka masih tetap berani memberi perintah dengan lantang, dan tanpa rasa takut sedikit pun, meski Unit Pugulister lebih kuat dari mereka.
Meski Unit Pugulister sangat kuat―mereka yang terus melompat kemudian melesat menerjang maju menyerang musuh mereka, dengan tanpa sedikit pun rasa takut, tetapi berbanding terbalik dengan para pemimpin mereka yang sedikit takut.
Namun, mereka tetap tidak bisa memimpin, karena seperti yang telah Jenderal Moran jelaskan: pemimpin itu harus memimpin, bukan mengelola.
__ADS_1
***