![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Mereka semua terus menyerang dengan formasi yang hampir sempurna, dan Mark langsung menembaki roket yang muncul di punggung [RbX-M2314]. Ia menembak dari jarak yang sangat jauh, tetapi tanpa melewatkan satu pun roket kecil itu.
Namun, tidak ada yang bisa para Penembak Jitu lakukan tentang laser biru dari mata Robot Besar itu; dan laser biru yang tanpa jeda menembaki Elk dan Sirius, dan mereka ber-dua hanya bisa menghindarinya, dan terus menyerang sesekali.
Ruth terus mengamati situasi Medan Perang, dan terkadang dia mengganti batch peluru salah satu Penembak Jitu, untuk membantu mengoptimalkan serangan mereka, sekalipun tidak banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh mereka semua.
Pemuda itu dengan teliti mengamati wilayah sekitar. Kemudian dia menyebarkan Energy hijau dari tubuhnya, yang ia mencakup radius hingga 1 mil jauhnya; dengan titik pusat Ruth yang berdiri tegap, berada di atas Batu Besar di belakang Mark, dan para Penembak Jitu lainnya.
Dan dia selalu rutin mengecek radar berbentuk nampan di tangannya, tanpa melewatkan satupun celah musuh untuk menyergap. Meskipun memang tidak terjadi apa-apa.
Karena para Sappoter lain, serta jebakan tersebar mengelilingi Batu Besar dengan para Penembak Jitu berada di atasnya. Mereka semua tersebar dengan konsentrasi penuh tanpa melewatkan apapun.
Dan juga, mereka semua terus menatap tajam Robot setinggi gedung dua puluh lantai jauh di hadapan mereka; serta lintasan peluru dari tembakan Penembak Jitu, terus meledakkan roket-roket kecil yang keluar di punggung Robot tersebut.
Sampai Robot di hadapan mereka semua, menyimpan senapan besar di punggunggnya dan mengarahkan kedua jari tangannya ke arah Sirius dan Elk.
Laser berapi merah menembaki mereka ber-dua dengan sangat cepat, tanpa jeda sedikit pun. Tetapi, bayangan hijau Sirius dan Elk, sangat gesit menghindarnya.
Mark berdecak kesal, sambil mengganti batch peluru sniper-nya, “Cih ... tidak ada yang bisa kami lakukan tentang itu? Menghindarlah ... kalian berdua!!”
“Tembak terus matanya ... dan ganggu rongsokan bodoh itu dengan cara apapun!” perintah Mark yang langsung menembaki mata biru Robot Besar yang jauh di depannya.
“Oke!” jawab para Penembak Jitu, sambil mengganti batch peluru sniper mereka, dan dengan serentak langsung menembaki Robot Besar yang jauh di depan mereka.
Sirius dan Elk dengan gesit menghindari laser berapi merah itu, tetapi mereka ber-dua tetap hampir kewalahan. Sebab mereka ber-dua sama sekali tak bisa menyerang Robot di hadapan mereka.
Dengan mata Robot yang mengeluarkan percikan-percikan akibat peluru para Penembak Jitu, tetapi Robot Besar itu sama sekali tak terlihat terganggu.
[RbX-M2314] terus menyerang Sirius dan Elk, seperti tanpa hambatan sedikit pun.
__ADS_1
Sirius memikirkan Energy yang ia miliki terbuang percuma, berteriak, “Cepat lakukan sesusatu!” ia menoleh, dan menatap tajam Penembak Jitu yang jauh di belakangnya yang terus menembaki mata biru [RbX-M2314].
“Para Pria bodoh! Cepat gunakan batch peluru yang lain!!” desak Elk dengan geram.
Ruth tergesa-gesa mengeluarkan batch peluru berwarna biru laut dari kotak peluru, dan dia berikan kepadapada Mark. “Aku tidak mengira akan secepat ini ....”
“Ya ... Wanita gila itu berkata ... kita harus menghemat peluru?” gerutu Mark yang langsung menganti batch peluru sniper-nya, dan dengan cepat ia mengaharkan sniper-nya, ke arah tangan kanan Robot Besar di mana Sirius berada.
“Siapa yang kau panggil gila?!” teriak Elk, menatap tajam para Penembak Jitu yang sangat jauh di atas Batu Besar.
“Itu Ruth!!!” dalih Mark yang langsung menembak.
“Ruth yang berbicara ... Sungguh! Bukan aku!” tegas Mark, sambil menatap tajam lintasan peluru yang ditembaknya
Lintasan peluru biru yang melesat cepat ke arah tangan besar di hadapan Sirius, diikuti serpihan krisal es putih mengitari lintasan tersebut.
Dan para Penembak Jitu lainnya yang tanpa henti menembaki mata biru Robot yang jauh di hadapan mereka.
Sirius dan Elk langsung melesat dengan bayangan hijau ke arah kanan kepala [RbX-M2314], dan mereka ber-dua terus menyerang kepala Robot Besar itu tanpa jeda sedetik pun.
Mengabaikan Sirius dan Elk, [RbX-M2314] dengan cepat mengumpulkan Energy merah darah di tangan kirinya, lalu ia arahakan ke Batu Besar di mana Mark dan Penembak Jitu berada.
“Sial!? Apa mesin bodoh itu penembak jitu ...” umpat Mark yang langsung menembak, tepat ke arah tangan kanan [RbX-M2314].
“Ini 7 mil jauhnya ... apa rongsokan bodoh itu percaya akan sampai ke sini?!” gumam Mark, mengerutkan keningnya.
Energy di tangan kiri [RbX-M2314] membentuk lingkaran cannon besar berapi merah darah, dan mengarah ke hadapan para Penembak Jitu dan Mark, yang langsung Robot itu tembakkan.
Lintasan peluru yang Mark tembakan terlambat, dan peluru itu tertelan cannon.
__ADS_1
Energy berapi merah darah itu dengan cepat melesat ke arah Penembak Jitu dan Mark.
“Mark ... lakukan sesuatu! Ruth?! Tidak adakah yang bisa kau lakukan?” desak seorang Penembak Jitu tidak jauh jitu di samping Mark, dan mereka semua panik, bergegas membereskan peralatan.
“Tentu saja," kata Mark, “kita hanya bisa berla—”
Saat Mark akan bangun dan kabur melompat kesamping, Telapak Tangan Besar berapi emas tiba-tiba muncul menghadap cannon berapi darah itu, dan menahanya. Seolah-solah ia tertahan batu besar.
Lalu Gelombang tambrakan kedua Energy langsung meneyebar ke segala arah.
Para Sappoter di sekitar Batu Besar serta para Penembak Jitu di atas Batu, berlutut tak bisa berdiri.
"...!?"
Sosok berdiri tegap dengan telapak tangannya diselimuti Energy emas, merentangkan tangannya ke depan. Terlihat jelas oleh para Penembak Jitu berada di atas Batu Besar, dengan Energy emas yang mengitarinya perlahan menghilang.
“Hohoho ... Bos!" seru Mark. "Kau akhirnya bangun?” Lalu ia menengok ke bawah Batu, melihat Jenderal Moran yang dengan susah payah menahan cannon berapi merah darah.
“Jenderal Moran sudah pulih!?” seru para Penembak Jitu, serempak.
“Siapa yang kau panggil ‘Bos’?!” Jenderal Moran menoleh, dan mendongak, menatap tajam kerumunan di atas Batu Besar yang tak jauh darinya.
“Ruth yang berbicara!!!” dalih Mark dengan suara keras, dan ia langsung berusaha dengan susah payah bersembunyi.
“Aku lagi ....” gumam Ruth dengan wajah panik. Dia tengkurap di atas Batu Besar, tak bisa menggerakan satu jari pun.
Para Penembak Jitu itu langsung mengikuti Mark. Mereka berjuang keras untuk bersembunyi dari pandangan Jenderal Moran. Dan mereka pun bersiap untuk menyerang [RbX-M2314], yang sangat jauh di hadapan mereka.
¤¤¤
__ADS_1