![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Apa ... tidak ada cara lain?!
Sirius mengerutkan keningnya. Seolah-olah mentap tajam kedua Komandan yang berada cukup jauh di hadapannya, dan 'mereka' perlahan terus mendekatinya.
Tetapi sebenarnya, Pria muda bermata emas itu hanya menatap angka hitung mundur yang terpampang di hadapannya:
「0,15 .Ark」
“Dia memakan sampah,” desis Komandan muda musuh, “dengan mudahnya?!" lanjutnya berdecak, "Cih," lalu ia menaikkan sudut bibirnya, sambil menatap para manusia di bawahnya. "Betapa bodonya kalian memberikannya sampah itu."
Ya. Tak apa sih ... Jadi, misi ini akan jauh lebih mudah.
Komandan muda musuh itu terus menyerang dengan semua "data" yang ia miliki; dari Meteor kecil yang Pria muda itu keluarkan dari kedua tangannya yang langsung ia lemparkan; sampai Petir-petir putih yang menyambar ke wilayah terbanyak para Prajurit batalion pertahanan di bawahnya.
Namun, semua "data" itu dengan mudahnya tertahan oleh berbagai ukuran Energy-shields kobaran api berwarna biru merupakan ‘sk’ Jenderal Sez.
Dan Mark, Ruen serta Penembak Jitu lainnya mengganggu 'mereka' ber-dua.
Lintasan-lintasan peluru melesat, dan menghadang sekaligus mengganggu kedua Komandan musuh, tetapi Komandan musuh juga tidak diam, 'mereka' ber-dua sesekali menyerang dengan listrik ungu, serta Petir puith yang menyambar Batu Besar yang cukup jauh di samping belakang 'mereka'.
Namun, dengan kejelian Wanita yang mengenakan kacamata bulat, serangan-serangan kedua Komandan musuh itu pasti akan terhalang, jika 'mereka' ber-dua menargetkan para Sappoter, Unit sniper- ataupun sub-support lainnya.
Kedua Komandan musuh mengerutkan kening, merasa tidak sedang, karena sejak datangnya Jenderal Sez. tak satupun Sappoter atau sub-suport yang gugur di tangan 'mereka'.
Hanya beberapa Tim Prajurit garis depan yang terjun dengan kepulan asap mengitari mereka, seperti pesawat jatuh dari langit dan menabrak tanah dengan keras, itupun masih terselamatkan oleh para Sappoter yang sangat sigap berada disegala arah penjuru Medan Perang lorong.
“Dorong terus mereka, sampai ke dalam lingkaran pelindung Area,” kata Komandan muda musuh yang terus mendorong mundur musuh. Dan kemudian ia tiba-tiba berhenti.
Lalu Komandan muda musuh itu menoleh. "Mereka sudah cukup lemah dan kelelahan,”
ia mengerutkan keningnya, menatap rekan Komandannya. “Kau sendiri juga bisa mengatasinya, kan,” lanjutnya, "Orang Tua?"
“Ya ...” jawab Komandan Pria paruh baya itu, langsung mengambil alih posisi rekan Komandannya.
__ADS_1
Dan Komandan muda musuh langsung melesat menuju ke arah di mana Sirius berada. Tiba-tiba, ia menyambar dengan petir putih mengitari tubuhnya.
Semua Prajurit mencoba menghalau sambaran Petir Putih yang sedang mencoba mendekati Jenderal Moran, dan suara teriakan seorang Pria di atas Batu Besar, di mana para Penembak Jitu berada terdengar menggema ke seluruh penjuru Medan Perang: Elk .... Lindungi kawan kita. Hanya kau yang bisa kuandalkan ...!!
Mark terus mencoba menghalau Komandan muda musuhnya, dengan terus menembak.
Tidak ada satu Tim atau batalion pertahanan pun yang bisa menghadang Komandan muda musuh, yang terus menyambar dengan Petir Putih mengitari tubuhnya, dan ia mengarah tepat ke arah Pria Tua berambut putih dan Sirius, serta Elk berada.
Para manusia sudah sangat kelelahan, juga mencapai batas kapasitas Energy yang mereka bisa gunakan, dan mereka pun terus terdorong mundur oleh kedua musuh yang melayang di hadapan mereka.
Para Prajurit yang terus mencoba menghadang Komandan muda musuh, langsung tersambar Petir Putih, lalu mereka berguguran dan melesat terjun ke bawah dan menabrak tanah. Beberapa dari mereka terjun ke berbagai arah dengan kepulan asap hitam mengitari tubuh mereka.
Para Sappoter kembali sibuk melesat, dengan tubuh mereka menjadi tak kasat mata, untuk menyelamatkan para Prajurit terbaring hangus, dan tersebar di segala arah penjuru Medan Perang.
Jenderal Moran mengerutkan keningnya, saat melihat Komandan muda musuh dengan tubuhnya dibaluti Petir Putih, yang ia menyambar mendekatinya super-cepat, menuju ke arahnya.
“Cih ... lindungi!?" gerutu Elk, mengerutkan bibirnya. "Kau pikir dia anak kecil ....”
Sirius dan Elk kemudian bersiap untuk menyerang. Walaupun mereka ber-dua hanya bisa mengulur waktu, sampai Energy serta kekuatan Pria Tua yang duduk di belakang mereka pulih sepenuhnya.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, tapi ....” gumam Sirius mengerutkan kening sambil menyentuh dagunya, berpikir keras. Kemudian ia menengok ke samping kanan di mana Elk berada. “Apa kamu masih mempunyai batu bercahaya oranye tadi?”
Elk mendengar Pria berambut putih di sampingnya. Dia menyipitkan mata, menatap Pria tersebut seperti menatap orang bodoh, dan berkata, “Kau pikir itu kubis, hah?” dan dia menunduk kemudian menggelengkan kepalanya. “Semua batu-Energy itu sangat sulit untuk didapatkan, dan yang setengah kau pakai sudah habis, untuk menyembuhkan Jenderal Moran.”
“Mungkin yang lainnya juga tidak punya banyak batu tersisa,” kata Elk, menatap tajam Sirius di sampingnya. Lalu Dia menaikan sudut bibirnya. ”Dan jika aku punya satu, kau pikir akan kuberikan padamu begitu saja?”
Benar juga ... Aku lupa Wanita ini sangat membenciku.
Dan apalagi itu kubis?!
Sirius hanya bisa menghela napas panjang, frustasi, dan menggelengkan kepalanya sambil menutup mata, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada sosok Petir Putih yang hampir mendekatinya.
Petir Putih yang menyambar menuju ke arah kepulan asap membumbung tinggi ke atas langit di belakang mereka ber-tiga, lalu berhenti di atas Jenderal Moran yang sedang duduk disembuhkan oleh para Sappoter yang mengitarinya. Dan Elk serta Sirius berada di depan Pria Tua itu, dalam posisi siap bertarung.
__ADS_1
Sirius mendongak, melihat Lelaki berambut putih sebahu, bermata hitam pekat yang melirik ke arahnya dengan lirikan tajam.
“Ternyata itu kamu!” ungkap Sirius, mengerutkan keningnya sambil menatap tajam Lelaki yang melayang di atasnya. “Alta.”
Elk terkejut langsung menengokan kepalanya ke samping kiri di mana Sirius berada. “Kau mengenalnya?!”
Komandan muda musuh itu hanya diam, sambil menatap tajam Sirius.
Alta tiba-tiba mengerutkan keningnya, menjadi sangat marah daat melihat Pria muda berambut putih, bermata emas yang tepat berada di bawahnya. “Diamlah."
Sambaran Petir Putih keluar dari tubuh Alta yang menjulurkan lengannya ke bawah, menyambar mereka ber-dua dengan sangat cepat. "Kau harus membayar, apa yang telah kau lakukan.”
Elk dan Sirius menghindari sambaran Petir Putih tersebut, dengan melompat menuju ke dua arah yang berlawanan. Kemudian Wanita bermata hijau itu bertanya lagi, “Kau mengenalnya?” lalu Elk mengambil belati di kantong belakangnya. Kemudian dia menitikberatkan Energy hijau pada belatinya, dan dengan sangat cepat Wanita itu langsung lemparkan belatinya sekuat tenaga, ke arah Alta tak jauh di atasnya.
“Ya. Dia adik Sasha." Sirius menjawab, "Rekanku ....” Kemudian ia menggunakan [sbf-221], merupakan satu-satunya "data" dimilikinya.
Pria berambut putih itu mengarahkan jarinya kepada Alta yang melayang di atasnya, dan ia langsung menembakan laser ungu, yang melesat cepat, dan ia menuju tepat ke arah Komandan Lelaki muda yang sedang berdiri tegap, melayang di udara.
Kedua lintasan serangan melesat sangat cepat menuju ke arah Alta. Tetapi, ia hanya diam dan berdiri tegap, melayang di udara.
Komandan Lelaki muda itu menutup matanya sambil menggertakan giginya, geram.
“Dan kau sangat lemah sekarang?" pekik Alta, membuka matanya, dan menatap ke bawah di mana Sirius berada. "Kenapa Sasha harus mengorbankan dirinya untuk sampah sepertimu!”
Lalu dua shields listrik ungu menghadang serangan Elk dan Sirius.
Sirius merepalkan tangannya erat sambil mengatupkan rahangnya setelah mendengar Alta. “Aku tahu itu .... Tapi, kenapa kau bergabung dengan Jenderal Bors dan Rox?" Sirius mendongak ke atas, menatap tajam Komandan Lelaki muda yang melayang di udara. "Kakak perempuanmu pasti tidak akan senang!”
Komandan Lelaki muda itu menatap balik Sirius di bawahnya sambil mengerutkan kening, tidak setuju, dan berkata, “.... Apa aku salah mengikuti ayahku sendiri?”
“Dan tentu,” lanjut Alta berkata sambil merentangkan kedua tangannya ke samping. “hanya aku ..." lalu dua Meteor disertai kobaran api merah darah, sebesar bola basket, perlahan muncul di kedua telapak tangan Alta, "yang boleh membunuhmu.”
Sirius mendongakkan kepalanya. Seolah-olah menatap Komandan Lelaki muda musuhnya yang melayang di atasnya. Namun, ia sebenarnya hanya terpaku pada angka terus berkuarang, dan tiba-tiba ia menjadi sangat cepat berkurang, yang terpampang di hadapannya:
__ADS_1
「0,12 .Ark」
¤¤¤