Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-24] "Jiàn shén?"


__ADS_3

[RbX-M2314] memusatkan Energy merah darahnya pada kedua tangannya. Lalu bulatan Energy cannon disertai kobaran api merah darah, terlihat oleh semua orang di Medan Perang.


Sinar Energy merah darah yang menerangi ke kedua sisi penjuru Medan Perang.


“Ini adalah pertama kalinya kami menghadapi benda itu ...” jelas Jenderal Moran, sambil merepalakan tangan kanannya dengan erat. Lalu dia menitikberatkan Energy emas yang dimilikinya pada kepalan tinjunya.


Kemudian, Jenderal Moran langsun membuka telapak tangan emasnya yang bersinar terang, menyinari wilayah sekitarnya, dengan warna emas yang perlahan melahap sinar merah darah di hadapannya.


Robot itu langsung menembakan cannon disertai kobaran api merah darah di tangannya, tanpa mempedulikan cahaya emas tersebut.


Lalu terbentuk robekan ‘ruang’ hitam yang berada tepat di hadapan cannon, yang ia melesat tak jauh dan menuju tepat ke arah Jenderal Moran.


Robekan ‘ruang’ itu mengeluarkan cahaya emas yang langsung melahap seluruh sinar merah darah, dan menerangi seluruh penjuru Medan Perang.


Jenderal Moran mengankat tangannya ke atas langit, dan mengerahkan semua tenaganya untuk mengeluarkan sebuah kepalan Tangan Besar dari ‘robekan’ ruang, sambil berkata, “Semua Jenderal, Komandan serta Prajurit ... di tiga Area yang kami maksud telah hancur itu ....”


“Sudah gugur, tanpa merusak musuh ... serta tidak mendapatkan sedikit pun informasi.”


Jenderal Moran yang merepalkan tangan bercahaya emasnya, dan dia langsung meninju ke arah kepala Robot bermata biru jauh di hadapannya, dengan kekuatan penuhnya, menghempaskan pasir di sekitar Pria tua itu.


Cannon yang melesat dengan lintasan kobaran api merah darah mengitarinya ke arah Batu Besar. Tetapi, ia tertahan oleh Kepalan Tangan yang disertai kobaran api emas, sebesar kepala Robot bermata biru di hadapannya.


Tabarakan kedua Energy besar itu menyembabkan Gelombang Energy yang menyebar ke seluruh penjuru Medan Perang, yang membuat semua orang berlutut dan tak bisa berdiri.


Namun, terlihat jelas oleh semua orang di Medan Perang, Jenderal Moran yang berdiri tegap dengan Energy emas mengitarinya, sedikit demi sedikit mendorong mundur Energy cannon berwarna merah darah di hadapannya.


Lintasan dengan kobaran api merah darah mengelilinginya, tertelan oleh lintasan bergelombang dan pernak-pernik cahaya emas yang mengitarinya. Secara perlahan ia mendekati wajah besar Robot bermata biru terang.


“Jenderal Moran!!! Terus ... dorong ...!!” teriak para Penembak Jitu yang jauh di belakang Pria Tua itu.


Satu per satu dari mereka memberi semangat kepada Jenderal Moran, meski mereka semua tidak bisa menggerakan satu jaripun.


Para Penembak Jitu dan Ruth yang berlutut melihat Gelombang Energy emas, menghempaskan semua pasir di sekitarnya.

__ADS_1


Cannon dengan kobaran api merah darah perlahan menjauh, dan terdorong mundur ke arah kepala besar Robot berwarna kobaran api merah darah di hadapan mereka.


“Apakah aku perlu menggunakan peluru ini?” Salah satu Penembak Jitu mengeluarkan batch peluru berwarna ungu, dengan tulisan '[Xy-99]{子弹头}' tertulis di depannya.


“Menurutku ‘Xb-99’ yang tadi kau tembakan mungkin lebih baik?” seru Penembak Jitu yang berada jauh di ujung Batu Besar. “Yah. Kau tau? Seperti meledakan tepat di mantanya yang sedang fokus pada Jenderal Moran.”


“Ya! Itu juga bisa langsung menghantam tangannya dan mengganggu aliran Energy yang dimilikinya,” kata Penembak Jitu lainnya, juga menoleh kepada Ruth, dan menunggu persetujuannya.


Para Penembak Jitu di atas Batu Besar, satu per satu berjuang keras menolehkan kepala ke belakang, melihat Ruth. Mereka penasaran apa yang dipikirkan Pemuda itu.


Ruth yang ditatap dengan tatapan penuh harapan, menelan ludahnya, gugup gemetar.


“Itu .... Tunggu sebentar! Untuk sekarang pasang dulu batch peluru tertulis '[Xy-99] {子弹头}' ... dan berapa batch peluru 'Xb-99' lagi yang kamu miliki?” tanya Ruth kepada Penembak Jitu yang tak jauh di depannya.


Penembak Jitu itu menjawab dengan terkekeh canggung, “Tinggal 2 batch peluru tersisa ... hehe ....”


“Hanya dua?!” Penembak Jitu di sampingnya tercengang.


“Dan kamu benar-benar berani menembakannya ...?!” kata para Penembak Jitu lainnya dengan serempak.


“Jika Jenderal Sez. yang berada di sini, kamu sudah menjadi bongkahan es, berani-beraninya menghamburkan batch peluru seperti itu!” tegas Ruth, menatap Penembak Jitu itu.


“Ya~” gumam lirih Penembak Jitu yang menggenggam erat batch peluru sniper '[Xy-99] {子弹头}'.


“Dan jangan menembak! Tunggu intruksi dariku!” perintah Ruth dengan tegas, menatap tajam semua Penembak Jitu di depannya.


“Ya!" jawab para Penembak Jitu. Mereka dengan susah payah memasang batch peluru masing-masing pada sniper-nya. Lalu menunggu intruksi Ruth, serta Gelombang Energy mereda.


“Kenapa kita tidak menembak dengan batch terlemah saja. Untuk mengganggunya?!" kata salah satu Penembak Jitu termuda, yang menembakan [Xb-99]{bullet} tak jauh dari Ruth. "Aku masih sangat kuat untuk berkonsentrasi dan menembak!”


“Hey! Kamu sudah salah menghamburkan amunisi langka dan banyak protes seperti itu ... Mark sudah mengingatkan kita—“ kata salah satu Penembak Jitu, menegur Penembak Jitu muda di samping, tetapi terpotong oleh Ruth yang bertanya, “Biarlah .... Dia masih baru." Pemuda Sappoter itu tersenyum, sambil menatap Penembak Jitu muda di depannya dengan tatapan hangat. "Dan, Siapa namamu?”


“Ruen ... Pak!!“ jawab Penembak Jitu muda itu dengan tegas, lalu menundukan kepalanya, gugup.

__ADS_1


“Tidak perlu gugup seperti itu .... Kita sumuran. Kau bisa memanggilku Ruth ...” kata Ruth dengan santai.


“Baik!” kata Ruen dengan tegas kembali.


Para Penembak Jitu lainnya tertawa, sambil menggelengkan kepala. “Hahaha.... Ruth bilang kamu harus lebih santai ....”


“Tapi ... dari mana kau mendapatkan dua batch peluru kuat itu?" tanya Ruth, mengerutkan kening, dan menatap tajam Ruen di depannya. "Itu semua sangat langka ....”


Ruen dengan santai, menjawab, “Dua batch peluru ini pemberian saudaraku.”


“Saudara?!” seru semua orang menatap Ruen di depan mereka, dengan bingung, lalu mengerutkan kening.


“Dia berasal dari pusat zero di Benua 0!” tambah Ruen, tersenyum santai.


“Emang ada Benua 0?” tanya salah satu Penembak Jitu dengan berjuang keras menengok Ruth, menatap bingung Pemuda Sappoter itu.


Penembak Jitu lainnya melakukan hal yang sama. “Bukankah Benua hanya ada 4 yang tersisa?!”


“Itu ... seharusnya ini tetap menjadi rahasia, karena Sirius ada di sini,” bisik Ruth, mengerutkan kening.


“Tapi ... ya, sudahlah ... Elk tidak akan membunuhku hanya karena ini,” gumam Ruth, menghela napas. "Mungkin ...."


“Benua itu tersembunyi ... dan dibuat oleh legenda sword god Jenderal Besar Gora—“ penjelasan Ruth terpotong oleh Ruen yang berkata, “Tunggu! Legenda bagaimana? Dia masih hidup!”


“Apa?!” Semua orang terkejut, setelah mendengar perkataan Ruen.


“Jenderal Besar Goran ... sang 劍神!? Aku pernah baca informasi tentangnya ... Bukankah menurut catatan sejarah, dia gugur di Garis Depan Benua 3 .... Saat Jenderal Bors datang ke Bumi, sekitar ...." Salah satu Penembak Jitu itu mengingat sesuatu, dan tercengang, tidak percaya, "4000 tahun yang lalu?!”


“Dia masih hidup?!” pekik para Penembak Jitu lainnya dengan ekspresi yang sama.


Ruth mengerutkan kening, sambil bergumam, “Berapa umurnya sekarang?”


“Entahlah .... Tapi tentu. Beliau masih hidup ...." jawab Ruen, tersenyum lebar. "Saudaraku bawahan langsung Jenderal Besar Goran, yang merupakan pemimpin sekaligus pendiri zero.”

__ADS_1


“Hey? Jika kalian melihat dengan jelas .... Ruen itu," tanya seorang Penembak Jitu yang menatap bingung pemuda bermata biru laut, berambut silver, berkulit seputih es di depannya, "bukan dari Benua 4, kan?”


¤¤¤


__ADS_2