Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-26] Pertahanan Terakhir III


__ADS_3

Pemuda mengengakan pakaian prajurit berwarna hitam dan syal abu-abu di lehernya, dengan rambut silver yang bersemangat berapi-api, menurunkan tangannya perlahan, dan berwajah muram. “Yah~ Sebelum itu semua, aku harus memikirkan cara, bagaimana bisa tetap hidup dan lepas dari amarah Elk.”


Salah satu penembak jitu tertawa, “Hahaha.... Kau memang harus berpikir keras tentang itu!!” dan kemudian dia mengangguk diam.


“Terlepas dari itu semua ... kamu bisa mengerti kenapa Elk marah dan kita tidak perlu membantu Jenderal Moran, kan?” tanya Ruth, menatap Pemuda bermata biru di depannya, lalu dia mengalihkan pandangannya ke depan, di mana Jenderal Moran sedang berjuang keras, menahan Energy cannon berapi merah darah.


Diikuti Ruen dan Penembak Jitu lainnya melihat ke arah yang sama, di mana tabrakan dua Energy sangat besar menyebar ke seluruh penjuru MedaPerang, dan membuat orang-orang yang berada di dalam jangkauan radius 28 mil jauhnya, tidak bisa bergerak sedikit pun.


“Aaaaaa!!!” teriakan Jenderal Moran menggema di udara. Pria Tua itu membuka mulutnya sangat lebar, yang langsung diikuti suasana hening di Medan Perang, setelah gema teriakan tersebut menghilang.


Berdiri tegap dengan kuda-kuda kokoh, seperti ia tertancap kuat ke dalam tanah, dengan kepalan tinju Pria tua itu di sampingnya yang perlahan-lahan maju kedepannya, meskipun tubuhnya mundur cepat ke belakang.


Jenderal Moran yang mengerahkan seluruh kekuatannya, memancarkan Energy berwarna emas di seluruh tubuhnya, dan Energy tersebut menjulang tinggi ke atas langit, seperti dia terbakar oleh kobaran api emas transparan.


Mendorong tinjunya dengan sekuat tenaga, tetapi Jenderal Moran terus mundur ke arah Batu Besar yang jauh di belakangnya, dengan cepat diikuti kepalan tangannya mundur kembali ke sampingnya.


“Huh?! Dia akan kalah!! Lihat dengan jelas ... Ruth!” seru Ruen, berjuang keras menolehkan kepalanya kepada Ruth di belakangnya, yang sedang berlutut.


Ruth tak terganggu oleh seruan Ruen, dia terus menatap tajam Jenderal Moran dengan tatapan penuh kepercayaan; kepada Pria tua yang sedang berjuang keras menahan Energy besar jauh di hadapannya.


Dan semua Penembak Jitu berusaha keras menoleh ke belakang, menatap Ruth dengan tatapan bingung.


Hening di atas Batu Besar tempat para Penembak Jitu berada. Semua orang yang berada di atas Batu Besar tersebut menatap bingung Ruth. Lalu, keheningan dan kebingungan mereka terpecah oleh seruan seorang Pria di garis depan, “Apa itu?!” Sirius yang berada tak jauh dari Jenderal Moran, tercengang, lalu semua orang di atas Batu Besar berjuang keras untuk melihat ke depan, di mana Sirius berada.


“Lihatlah, dengan mata kepala kalian sendiri ...!” seru Ruth dengan senyum tipis. “Itu adalah kekuatan ... salah satu Jenderal kita!!”


Senyum di wajah Ruth bertambah lebar.


“Huh?!”


Para Penembak Jitu serentak, mengalihkan padangan mereka, menatap Jenderal Moran yang berada sangat jauh di hadapan mereka.


Semua orang melihat seorang Pria tua mengenakan baju jenderal hijau compang-camping, yang ia sudah hampir menghilang diterpa tabarakan dua Gelombang Energy besar.


Jenderal Moran berusaha keras menahan Energy merah darah di hadapannya, menggunakan kepalan tangan kanan emasnya sendiri.


Dengan seluruh pasir di sekitarnya, sudah habis terhempas ke segala arah, dan hanya menyisakan pijakan tanah, dan pasir di sekitarnya itu membentuk kawah cukup besar, seperti pasir hisap, dengan Pria Tua berambut putih dan berotot kekar, berada di tengah-tengah kawah tersebut.


Pria Tua itu tidak menyerah. Dia membuka mulutnya, bejuang keras untuk berteriak. Tetapi, dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dan kilatan listrik emas sedikit demi sedikit keluar dari tubuh Jenderal Moran.


Situasi yang lebih hening, tanpa adanya teriakan perjuangan seorang Jenderal di garis depan yang membuat semua orang bingung.


Apa yang terjadi?!

__ADS_1


Keheningan yang langsung terpecah oleh suara tawa seorang Wanita, tak jauh dari Jenderal Moran, “Haha.... Kita menang!!”


Elk tersenyum lebar, sambilmenatap tajam [RbX-M2314] di hadapannya.


Mata Jenderal Moran tiba-tiba terbakar kobaran api emas yang berkobar terhempas Gelombang tabrakan dua Energy, ke belakangnya.


Dan Kepalan Tangan Besar disertai kobaran api emas di atas langit, di hadapan semua orang berubah menjadi Kepalan Tinju padat, dengan ukiran rune rumit berwarna biru laut, terukir memancar terang serta mengalir, seperti aliran sungai air berwarna biru.


“Apa itu?!”


Semua orang di Medan Perang, menatap Kepalan Tinju tersebut dengan ekspresi yang sama seperti Sirius.


“Hoho.... Sudah kubilang, kan," kata Elk menengokkan kepalanya, menatap Sirius, sambil tersenyum bangga dia berdiri, dan meregangkan tubuhnya. "Kau mungkin akan mempelajari itu ...!”


“Itu ...!?” Sirius tercengang kembali, melihat Elk yang dengan mudahnya berdiri dan menggerakan tubuhnya.


“Ya! Itu adalah ‘Jiwa’ yang aku maksud." Elk dengan tiba-tiba mengumpulkan sejumlah Energy .Yang matahari titik akhir senja yang sangat besar, dan ia langsung mengitarinya. Kemudian Energy tersebut berubah menjadi angin hijau yang menghembuskan pasir di sekitarnya ke segala arah, serta langsung dia serap. "Menarik, bukan ...?”


Setelah menyerap semua angin hijau di sekitarnya dengan sangat cepat, Wanita itu langsung meledakan semua Energy yang diserapnya.


Elk yang seluruh tubuhnya berubah menjadi berbentuk angin hijau transparan, dan kedua mata Wanita itu terbakar api hijau, serta ia berkobar ke belakangnya.


“Hahaha.... Aku sudah lama tidak merasakan ini ...!!!” seru Elk dengan penuh semangat.


Suara Wanita cantik itu terdengar tidak jelas oleh semua orang, seperti suara yang ditimbulkan jika berbicara di hadapan kipas angin yang berputar sangat cepat. Namun, suara Wanita itu menggema ke kedua sisi penjuru Medan Perang.


“Yap ... Kita akan akhiri ini secepat mungkin ...” jawab Elk dengan suaranya yang menggema di udara.


Wanita itu dengan hanya bayangan hijau terlihat oleh semua orang, menuju ke arah Batu Besar untuk mengambil ancang-ancang.


Saat bayangan hijau tersebut berada di jarak 4 mil jauhnya dari hadapan Robot sebesar gedung dua puluh lantai, dengan tubuh terdapat kobaran api merah darah, Elk berhenti dan menguatkan kakinya. Lalu dia melesat ke arah Robot tersebut dengan super-cepat.


Hanya Haris Hijau terlihat oleh semua orang di Medan Perang; dengan Garis Hijau itu melesat super-cepat ke arah belakang Tinju Padat disertai rune biru, yang langsung di hantam oleh Garis Hijau tersebut.


Gelombang Energy hijau dan emas sampai menerangi ke kedua sisi penjuru Medan Perang. Serangan gabungan sangat kuat yang bisa dilakukan oleh umat manusia di Era ini.


Elk menendang Tinju rune biru yang sangat besar di hadapannya dengan kekuatan penuh, dan langsung mendorongnya tepat ke arah kepala besar Robot bermata biru.


Lalu, Tinju Padat yang sebesar rumah kecil disertai rune rumit berwarna biru laut mengitarinya, menghantam kuat kepala Robot di hadapannya, dan suara dentuman sangat keras terdengarke kedua sisi penjuru Medan Perang.


¤Bom!!!¤


Sirius yang masih tidak bisa bergerak, terhempas jauh ke arah samping Batu Besar, dan dengan sangat cepat pasir dan debu disekitarnya berhamburan ke segala arah.

__ADS_1


“HA!!” Elk yang masih dalam posisi setelah menendang, melayang di udara, dengan tubuhnya di lbaluti angin hijau transparan. Kemudian dia perlahan mematikan Energy jiwanya, dan sedikit demi sedikit bayangan hijau mengitarinya menghilang.


Senyum puas pada wajah cantiknya melihat debu dan pasir terhempas ke segala arah, dan Wanita itu berpikir ini sudah berakhir, dan dia langsung berbalik, lalu perlahan terjun ke bawah.


Elk yang terjun ke bawah pasir di mana Jenderal Moran berada. Dia melihat Pria Tua itu tertutup gumpalan debu-pasir yang perlahan menghilang.


Baju compang-camping Pria Tua itu yang telah menghilang, menyisakan celana hijaunya. Elk melihat tubuh putih kekar berorot Pria Tua itu yang tanpa luka segores pun. Namun, Jenderal Moran terengah-engah dan bernapas berat, karena semua kekuatan dan Energy-nya telah terkuras habis oleh serangan gabungan mereka ber-dua.


Jenderal Moran yang masih dalam posisi tinjunya menghadap langit, dengan mata putihnya, menatap kosong Elk berada tepat di hadapannya.


“Jenderal kau sudah ber—“ kata Elk terpotong oleh suara seruan seorang Pria yang terhempas menjauhi mereka ber-dua, “Ini belum berakhir!!! Dia masih hidup ...!!” Sirius yang masih terhempas, menatap angka di depannya, tercengang.


「-531.187」


Hanya setengah juta?!


“Padahal gabungan serangan tadi, mungkin bisa menghancurkan satu sector di Planet Mx kami,” gumam Sirius, mengerutkan kening.


“Apa!?” Elk mengerutkan keningnya, menatap tidak percaya kepada Sirius yang cukup jauh di depannya. Ia terhalang debu dan pasir yang berhamburan ke segala arah.


Masih terhempas dengan cepat menjauhi Elk dan Jenderal Moran, Sirius menstabilkan pijakannya ke salah satu batu di sekitarnya. Kemudian ia berdiri tegap, menatap tajam gumpalan debu serta pasir mengembung ke langit, seperti badai pasir yang cukup jauh di hadapannya. Mengabaikan Elk, Sirius bertanya kepada suara mekanisme wanita, yang suaranya berasal entah dari mana.


Berapa sisa Energy yang dia miliki?


「RbX-M2314」


「+H: 93.221.163/100.000.000」


「+En: 2.117.450/5.000.000 xj/Cd」


“Dia tidak menggunakan Energy-shield birunya?!” Sirius tercengang, melihat jumlah Energy yang masih dimiliki Robot Besar itu, yang tidak berkurang terlalu banyak.


Kenapa dia tidak menggunakan perisai Energy birunya?


Padahal ... tadi itu serangan yang cukup mematikan ...


“Masih belum ... ini masih sangat jauh untuk membunuhnya ..." jawab Sirius dengan santai menghela napasnya. "Mungkin dia bahkan tidak terluka.”


“Apa?! Kamu ...!!” Elk sekali lagi terkejut, dan menggertakan giginya. Wanita cantik itu tercengang dengan jawaban Sirius yang begitu percaya diri, tetapi dia tetap tidak mau percaya.


Wanita itu tak mau percaya dengan apa yang dikatakan Sirius, tetapi entah mengapa ada sesuatu hal membuat Elk percaya kepada Pria yang berdiri tegap diatas batu setinggi manusia, sambil menatap gumpalan debu mengembung tinggi ke atas langit di hadapannya.


“Aku bilang ... kita masih jauh untuk membunuhnya,” kata Sirius dengan mata emas giok terangnya, menatap Wanita tak jauh darinya.

__ADS_1


Pria itu terlihat memiliki kepercayaan diri penuh akan kata-kata yang telah ia ucapkan.


¤¤¤


__ADS_2