![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Kilauan cahaya yang menyilaukan mata semua Prajurit di seluruh penjuru Medan Perang lorong panjang, penghubung pintu dalam dan pintu luar [A327]. Dan gema suara ledakannya pun masih mengguncang Medan Perang tersebut.
Getaran Gelombang Energy mengguncang tanah sampai ke empat penjuru pintu [A327], dan suara getaran keras sampai menggetarkan paru-paru setiap orang yang ada di sepanjang lorong Medan Perang.
Sinar cahaya putih yang menyinari seluruh penjuru Medan Perang perlahan-lahan menghilang. Debu mengepul di seluruh wilayah Pintu tebing, di belakang para Prajurit batalion yang hanya tersisa setengah dari masing-masing keempat batalion Prajurit garis depan.
“Siapa sebenarnya dia?” gumam Jenderal Sez. mengerutkan kening, sambil mendongak ke atas, melihat seorang lelaki muda Komandan musuhnya, yang ia melayang cukup jauh di atasnya.
Berbeda dengan Elk, Mark, Ruen dan Jenderal Sez. yang tetap tenang, seluruh Prajurit batalion yang masih berdiri tegap, tetapi sangat kelelahan. Mereka tertegun dan mematung di tempat.
Tidak ada seorang pun mengharapkan, hanya dengan kedua Komandan musuh di hadapan mereka semua, sudah cukup untuk menghancurkan kedua pintu [A327], yang mereka semua telah lindungi selama ratusan tahun.
“Ini ..." gumam salah satu Prajurit garis depan, sambil bernapas, berat terengah-engah sangat kelelahan, "sudah berakhir?” dan dia menundukkan kepalannya, frustasi, dengan wajah penuh keringat dan tubuh tersayat-sayat luka kecil.
Jenderal Moran yang bernapas berat pun berteriak, “Belum! Ini belum berakhir! Selama kita," lalu Pria tua itu menunduk, melambaikan tangannya ke samping dengan kuat, tetapi dia tiba-tiba ambruk, dan duduk di tanah sambil mengatur napas beratnya, "masih hidup ....”
Serangan terakhir Jenderal Moran yang dia kerahkan sekuat tenaga, dan Pria Tua itu hampir mengosongkan seluruh kapasitas Energy diserapnya, dari matahari yang akan terbenam sebentar lagi.
Semua taktik dan rencana titik akhir matahari senja telah berlalu begitu saja, dengan para bala bantuan benua [2] yang belum tiba juga.
Pria Tua itu mendongak ke atas, menyipitkan matanya, melihat kedua musuhnya tersenyum lebar sambil mengatur Energy mereka untuk gelombang serangan berikutnya. Dia masih terengah-engah karena pemulihan tubuh dan Energy Jenderal Moran serta Prajurit lainnya pun menjadi sangat lambat.
“Ya!" Jenderal Sez. menatap tajam kedua musuhnya, yang melayang di atasnya. "Angkat kepalan tinju kalian! Musuh, masih ada di depan dan di belakang kita!!"
“Aku sudah bilang ... Kami manusia," lanjut Jenderal Sez. sambil merepalkan tangannya dengan erat, "tidak akan pernah menyerah.”
Kemudian Wanita mengenakan kacamata bulat itu meninju langit dengan sangat kuat, sampai-sampai menghempas udara di sekitarnya.
Lalu semua Prajuritnya perlahan mengangkat tinju mereka. Seolah-olah mereka akan meninju langit. Mereka semua sudah sangat kelelahan.
__ADS_1
Dan para regu Sappoter di bagian penyembuh pun sudah tidak seefektif seperti sebelumnya, dalam hal menyembuhkan para Prajurit terluka, yang berbaring di hadapan mereka.
Para regu penyembuh yang terus mengalirkan Energy hijau dari batu yang dipegang oleh masing-masing dari mereka. Para Sappoter itu tak pernah menyerah untuk menyembuhkan, sekalipun rasa sakit sengatan demi sengatan Energy menembus kulit mereka. Kosongnya Energy dalam tubuh mereka, tidak mencukupi untuk jadi jalur wadah aliran Energy di dalam batu yang dipegang mereka.
Memang, penyembuhan dan penyaluran Energy para Sappoter sudah tidak setengah pulih lagi, untuk para Prajurit yang terluka serta kehabisan Energy. Namun, para manusia itu tetap bersusah payah berdiri, meski tidak pulih sepenuhnya, dan kembali ke barisan Tim serta batalionnya masing-masing. Mereka semua berjalan tertatih-tatih sambil mengangkat tinju mereka ke atas langit.
Suara teriakan semangat setiap batalion dengan serempak terus menggema ke seluruh penjuru Medan Perang lorong, dan sampai ke dalam Area [A327] juga selter-selter di sekitarnya: Ooo ...!!!
“Cih ... Ternak-ternak bodoh,” gerutu Komandan Pria paruh baya musuh.
“Kami tidak akan pernah menyerah!!” seru seorang Prajurit di tengah barisan batalion pertahanan Jenderal Sez. Dia mendongak ke atas dengan tinju kuat yang dia arahkan kepada kedua musuhnya, yang melayang di atasnya.
“Ya ... Kami manusia tidak pernah menyerah!!”
“Ya ...!!!”
“Fokuskan sisa Energy dan kekuatan yang kalian miliki." Komandan mereka ikut berteriak sambil merepalkan kedua tangannya dengan erat, dan menatap tajam kedua musuh di depannya, "Kita akan mengakhiri ini segera!”
“Mengakhiri?!” tanya Komandan Pria paruh baya musuh, sambil menaikan alisnya, dan tersenyum lebar. Kemudian ia menyipitkan matanya, menatap ke bawah.
“Hahaha...." Komandan paruh baya tersebut tertawa terbahak-bahak. "Lucu sekali."
Dengan suara tawa Komandan musuh Pria paruh baya melayang di udara itu, sampai-sampai menggetarkan udara di sekitarnya, serta menggema di seluruh penjuru lorong Medan Perang.
Di bawah Komandan musuh itu, terdapat berbagai warna mata manusia yang menatap tajam kedua Komandan musuh mereka yang melayang di udara. Mereka semua merepalkan kedua tangan, untuk menyerap semua Energy di sekitarnya dengan susah payah.
Meski mereka kesakitan sambil menggertakan gigi, untuk menyerap sisa-sisa Energy .Yang, mereka tetap melakukannya dengan tegad kuat dan pantang menyerah, di wajah pucat dan bercucuran keringat deras di seluruh tubuh para Prajurit batalion pertahanan.
Melihat manusia-manusia di bawahnya masih tidak mau menyerah juga, Komandan Pria paruh baya musuh menjulurkan lengannya. Lalu listrik ungu dari lengannya langsung menyambar salah satu Tim, dalam batalion prajurit pertahanan tak jauh di bawahnya.
__ADS_1
Namun, lintasan peluru berwarna hijau, melesat jauh di atas Batu Besar, dari arah samping kanan Komandan Pria paruh baya tersebut.
Peluru hijau meledak tepat di hadapan para Prajurit batalion pertahanan sedang mengumpulkan Energy di sekitarnya. Kemudian peluru hijau tersebut meledak di sekitarnya dan membentuk ‘ruang’ kecil serta langsung mengeluarkan perisai angin bulat berwarna hijau yang berputar sangat cepat.
Perisai angin itu dengan telak menahan listrik yang menyambar para Prajurit di bawahnya. Lalu kilatan listrik menyebar ke segala arah mengikuti arus perisai angin yang berputar sangat cepat.
Seorang Pria mengenakan gogglescope di lehernya perlahan berdiri sambil menggenggam erat sniper yang ia sandarkan pada pundaknya. Pria itu menatap tajam Komandan yang menyambarkan listrik, dan berkata, “Manisku sudah bilang ... Kami manusia," lalu Mark menyeringai lebar, 'tidak akan pernah menyerah!”
“Hey, Mark!" tegur Ruen, "Aku yang menembakan itu!”
Pemuda berambut silver itu masih tengkurap dalam posisi menembak, di samping Mark. Ruen mengerutkan keningnya, tidak setuju, sambil mendongak melihat Pria mengenakan kaos putih di sampingnya.
“Diamlah bocah ... Biarkan Pria dewasa untuk bertindak keren sedikit ....” bisik Mark, menengok ke bawah.
“Kalian masih bisa bergurau seperti itu?” tanya Komandan Pria paruh baya musuh, sambil melirik Mark, dan menatapnya dengan tatapan dingin.
“Hahaha.... Kalian sudah berada di ujung tebing dan hampir mati.” kata Komandan Paruh baya musuh tersebut yang tertawa santai sambil merentangkan kedua lengannya, dengan percaya diri. "Sudah terlambat untuk menyerah ...."
“Padahal aku sudah bilang untuk menyerah.”
Mark mengangkat bahu sambil mengerutkan bibirnya, lalu memalingkan mukanya, dan melirik kedua Komandan musunya yang jauh di depan Batu Besar pijakannya. “Cih ... siapa tahu. Mungkin juga kami yang akan menang, kan?”
“Kau bisa diam Orang Tua ... Setelah Energy-mu terisi penuh," kata Komandan muda musuh dengan tenang, "habisi mereka semua dengan cepat.”
Komandan muda itu melihat ke bawah, di mana Sirius dengan wajah pucat yang tak jauh di samping kaki kanan [RbX-M2314]. “Aku akan merantai xious-M4221 itu, dan mengakhiri ini dengan cepat."
“Yah. Aku juga sudah cukup bosan bermain dengan ternak-ternak ini ...” gerutu Komandan Pria paruh baya, sambil melambaikan tangannya, dan menatap ke arah yang sama, di mana Pria muda berambut putih serta mata emas dan wajah tampanya sangat pucat, yang ia mulai bergerak perlahan.
¤¤¤
__ADS_1