Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-77] Punggung Seorang Wanita


__ADS_3

Wanita cantik berambut hitam sebahu yang maju ke hadapan Sunarsih.


Wanita bertubuh menggoda itu sedang cemberut dan bergumam, “Kenapa Unit Intelejen di Benua 4 ini bekerja seenaknya?” dia menggelembungkan pipinya, dan menggerutu, “Aku masih mau bicara dengan Sez.”


“Kak Sun, tolong hancurkan badai salju itu,” pinta Elk sambil mengatupkan tinjunya, dengan hormat.


“Huh ... padahal aku masih mau ngobrol dengan Sez. dulu,” gerutu Sunarsih. “Perihal Pria ini ....” Dia mengedipkan matanya kepada Mark, yang ia langsung membeku di tempat.


Mark yang mematung dan membeku di tempat, berkata dengan lirih, “Untuk sekarang, Sun―”


"Ya, ya, itu mudah ....” Wanita bertubuh menggoda itu langsung menggenggam tongkat hitam yang disandangkannya .


¤Wung ...!!¤


“Ok―aku duluan, Elk.” Lalu Wanita dengan tubuh menggoda itu langsung melesat, menuju ke arah badai salju di depannya, dengan tongkat hitam digenggaman tangan kanannya perlahan berbuah memancarkan sirquit rumit berwarna oranye magma, disertai sedikit asap putih mengitarinya.


“Wanita itu,” gumam Ruen, melebarkan matanya tercengang, “sangat panas!”


Mark mengangguk setuju, dan berbisik pada Pemuda berambut silve itu, “Sunarsih memang berbahaya ... meskipun dia sangat enak―”


“Enak apanya?” desak Elk.


“Tentu. Suaranya!” bantah Mark, sambil tersenyum canggung. “Dia pandai bernyanyi, bukan?”


“Emm....” gumam semua orang, menatap tajam Pria dengan gogglescope di lehernya itu.


“Kupikir Theophone bukan hal yang mudah dipelajari,” gumam Elk, sambil mengerutkan keningnya. Dan Wanita cantik berambut sebahu itu pun menggerutu, “Cih, kau pikir aku anak kecil? Aku bisa langsung tanya ke senior Sun.”


Mark panik dan berkata, “Ok. Kita kesampingkan itu dulu itu!” Pria mengenakan kaos putih itu pura-pura serius, menatap tajam badai salju di depannya, “Selagi Sunarsih membuka celah, kita akan langsung masuk, dan membantu dua kawan kita.” Dan Mark lanjut bertanya, “Tapi ... Sun, kenapa hanya 2 batalion ...?” ia menoleh ke belakang, di mana para prajurit sedang bersiap untuk menerjang maju. “Dan, di mana Jenderal Besar Benua 2?”


Sunarsih yang melayang di udara, dengan tubuh menggoda berwarna kuning langsatnya, sedang menitikberatkan Energy berwarna oranye pada tongkat berwarna hitam disertai sirquit rumit berwarna oranye lava. Kemudian, Wanita itu menoleh kepada Mark di bawahnya, dan menjawab, “Tampan, kau pikir ... seperti apa situasi di garis depan saat ini?”


“Yah ... aku juga sudah lama tidak ditugaskan ke sana ....” kata Mark, sambil menggaruk kepala belakangnya. Lalu ia menengok ke samping. “Kau bukannya dari benua 3?” tanya Mark kepada Ruen di sampingnya.


“Ya ... tapi, aku bukan di garis depan,” jawab Ruen, “Aku dari Benua 3 bagian timur.” Lanjutnya, “Hanya ada Benua-benua yang belum terjelajahi, di sekitarnya.”


Pemuda berambut silver itu menengokkan kepalanya dan tersenyum lebar, mentap Mark di sampingnya.

__ADS_1


Wanita bertubuh menggoda yang melayang di udara, terus menitikberatkan Energy berwarna oranye pada tongkat hitam digenggamannya.


Tongkat hitam itu kemudian terpecah, menjadi pecahan-pecahan berwarna oranye; dengan lava mengalir keluar dari pecahan-pecahan tersebut.


Lalu, pencahan-pencahan berwarna oranye disertai lava oranye itu meyebar ke sekitar tubuh menggoda Sunarsih, dan ia langsung berkumpul di hadapan Wanita itu, membentuk lingkaran berlubang, seperti donat atau orbit pada Planet Saturnus.


Sisi lingkaran disertai lava-lava menetes ke bawah, yang ia terus berputar secara perlahan searah jarum jam, dengan kedua lengan Sunarsih menjulur kedepan. “Ng....” Dia menyentuh dagunya, menggunakan tangan kiri. “Sudah kuduga, perbedaan Benua itu merepotkan,” desah Wanita bertubuh menggoda itu sambil menggelengkan kepalanya.


Energy terkumpul di tengah lubang, dan perlaham memancarkan bulatan cahaya oranye, berupa magma yang sangat panas.


“Itu!” seru Ruth tercengang, “Matahari kecil!?”


Semua orang di bawah Energy bola magma itu, merasakan panas meskipun sekarang masih malam hari. Dengan cahaya bulan yang memancar terang, yang ia kalah oleh bola magma bercahaya kecil di hadapan Sunarsih―dan bola magma tersebut secara perlahan membesar.


Badai salju di hadapan Wanita bertubuh menggoda itu pun mundur, yang ia seperti ketakutan.


“Ng.” Sunarsih mengangguk ringan, menatap bola magma didepannya; dengan lingkaran lava ungu menglilingi bola magma tersebut. “Kupikir ... ini tidak buruk,” kata Wanita bertubuh menggoda itu sambil menjilat bibirnya.


*


Di dalam ganasnya badai salju yang perlahan mereda, Sirius terus diserang oleh Monster es, yang ia menyadari sesuatu―ada yang salah. Dengan setiap sayatan Sword Ice Alta terus menedekatinya.


Monster ungu itu langsung membeku kembali, dan ia menyipitkan matanya, menatap titik Energy cannon biru yang menuju tepat ke arahnya.


Dia akan menyelamatkanku lagi ...?


“Kenapa?” gumam Sirius. “Kenapa kau terus menyelamatkaknku?” lanjutnya bertanya pada Jego, yang Lelaki berkulit hitam, berkepala plontos itu, sambil tertawa dia terus menembaki semua sayatan Sword Ice Alta.


Jego tiba-tiba berhenti tertawa, sambil tersenyum lebar, mejawab, “Musuh dari musuh kita, adalah musuh kita!” Kemudian dia lanjut tertawa terbahak-bahak, “Hahaha.... Gahahaha, ahaha-hahaha....”


“Hah?!” Sirius tercengang, dan tubuh ungunya langsung terhantam Energy cannon berwarna biru, yang ia kemudian terpental jauh ke samping.


Alta yang melihat semua serangannya dihentikan oleh Jergo, geram dan berteriak, “Ternak sialan ...!!”


Lalu Monster es itu menyerang Jego menembaki sayatan Sword Ice Alta, sambil terus mundur ke arah utara.


Lalu, sebuah tetesan air di kepala plontos jego, “Hujan ditengah badai salju?!”

__ADS_1


“Tidak.” Sirius terus menghindari serangan-serangan Monster es.


“Aku pikir ada seseorang yang akan membantu kita,” kata Sirius yang terus menghindar, sambil mencoba menyerang ‘ruang’ tipis, pusat badai salju, yang berada tepat di atasnya.


Jego dan Sirus kemudian serempak mendongak ke atas, menatap badai salju yang perlahan meleleh, meneteskan air―seperti hujan.


Badai salju yang terus mendekati punggung Jego, yang dia terus mundur menembaki sayatan Sword Ice Alta. “Aaa!! Hunjannya semakin deras!?” teriak Jego, dengan hujan deras berasal dari lelehnya salju di atasnya.


Dan suara Wanita bertubuh menggoda di atasnya, yang berkata, “Ho~ Siapa Lelaki itu?”


Wanita bertubuh menggoda yang melayang di udara, sedang menitikberatkan Energy-nya pada tongkat hitam berubah menjadi pecahan di hadapannya, yang ia melingkar dengan pusat magma kecil.


Magma di tengah pecahan lava itu terus mebesar, dengan Sunarsih terus menitikberatkan Energy pada kedua tangannya; yang kedua lengannya dia tentangkan ke depan. Dan dia melirik kebawah, menatap punggung Jego mengenakan jaket, yang bertuliskan: AKU TAMPAN!


“Dia, dari Sad-Family?!” gumam Sunarsih tercengang, sambil mengedutkan bibirnya.


Berbeda dengan tulisan prajurti biasa maupun Family lainnya, yang mereka bertuliskan “[N] Nomber”, “[A] Area” dan “[S] Selter” maupun “[C] Cabang / [M] Menengah/ [P] Pusat”.


Jego yang berasal dari Family terbawah tidak mempedulikan hal itu, yang tulisan punggung Sad-Family akan langsung, serta mudah dikenali oleh orang-orang Benua lainnya.


“Jangan hiraukan Lelaki bodoh itu,” kata Mark, “Kamu fokus aja mendorong.” Kemudian ia menatap punggung Wanita bertubuh menggoda yang melayang di atasnya, bertuliskan:


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


[A002] ¤ [S1223]


[A/E-Shaolin] ¤ [A/UT-Akido]


{No. 1382}B1 ¤ {No. 2431}I7


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Mmm.... Wanita itu.


Mark memandangi tubuh Wanita bertubuh menggoda yang melayang di atasnya; ia memandangi tubuh Sunarsih dari atas ke bawah, dan begumam, “Aku sudah tidak bisa menggodanya lagi, huh ....” Pria yang mengengakan gogglescope di lehernya itu menghela napas frustasi, dan melebarkan matanya, menatap kembai tubuh Sunarsih, “Dia sudah sebesar itu!?”


“Apanya yang besar?!” desak Elk dan Litz. serempak, dan mereka ber-dua langsung menyipitkan matanya  menatap tajam Mark di samping mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2