Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-78] Tinju Seorang Pria


__ADS_3

“Pangkatnya!” bantah Mark, dan lanjutnya dengan nada lirih, “Tentu saja.”


“Apa kalian tidak melihat?” tanya Pria yang mengenakan kaos putih itu, sambil menunjuk ke punggung Wanita bertubuh menggoda yang melayang di atasnya. “Dia sudah menjadi Jenderal Bintang 1, dan Infantri―meski dia masih prajurit, penggunaan toya dalam Akido itu bukanlah hal yang mudah.” Kemudian ia menatap balik Gadis manis dan Wanita cantik di sampingnya, dan lanjut berkata, “Kalian tahu itu, kan ...?”


Namun, Litz. dan Elk di samping Mark, mengedutkan bibir mereka, sambil menatap curiga Pria bermata merah darah itu.


Sunarsih yang melayang di atas mereka semua, berkata, “Ng....” dan dia menoleh, sambil mengedipkan mata, dengan tatapan menggoda kepada Mark, “Kukira kamu lagi mau.”


Litz. dan Elk menatap tajam Mark, dan berkata dengan serempak, “Mau apa lagi itu ...?”


diikuti semua orang menatap tajam Pria bermata merah darah itu, “Mmm....”


“Ma―m-mau apa?” bantah Mark sambil terbata-bata, “A-aku­―aku nggak tahu apa-apa, sungguh!”


Lalu Mark berwajah serius dan langsung terbatuk ringan, “Hey!” ia mendongak menatap mata menggoda Sunarsih di atasnya, “Wanita menawan di sana. Jangan menabur garam di atas luka―oh, ya, kamu membawa oleh-oleh garam?”


Wanita dengan tatapan dan tubuh menggoda itu mengabaikan Pria bermata merah darah di bawahnya. Dan sambil tersenyum santai, dia memutar pecahan tongkat hitam lava, seperti donat, dengan pusat magma di hadapannya, searah jarum jam.


Bola magma di tengah pecahan tongkat hitam lava itu tiba-tiba langsung bercahaya terang, dan Mark di bawahnya berkata, “Jika kamu telah menjadi sekuat ini.” Kemudian ia terkekeh santai sambil menyeringai lebar, lanjut berkata, “Aku pikir―kamu sudah tidak seenak dulu, kan, Sun?”


Sunarsih mempercepat lingkaran hitam di depannya, dan berkata, “Entahlah ....” Kemudian, dia menoleh kembali ke belakang, di mana Mark yang menatapnya dengan tatapan misterius. “Ingin mencobanya setelah ini, tampan?”


Elk langsung memelototi Mark dengan wajah menyeramkan, diikuti Litz. di sampingnya merepalkan tangannya.


“Tid―T-Tidak. Aku hanya bercanda,” bantah Mark. “Dan juga ... kenapa kalian ber-dua jadi panas seperti itu?”


Gadis manis dan Wanita cantik itu memalingkan muka dengan serempak. “Humpph!”


Sunarsih terkekeh, dan kembali fokus pada bola magma di hadapannya. Bola magma tersebut lalu mengeluarkan magma yang berputar, mengikuti putaran lava searah jarum jam disekililingnya, membentuk tornado cukup besar di hadapannya―yang ia perlahan siap menembak.


Tubuh menggoda Wanita di hadapan bola magma itu bergetar, dan berkeringat deras, sebab dia menahan Energy panas bola magma tersebut.


“Dan untuk mu, cantik,” kata Sunarsih, menoleh ke belakang, sambil tersenyum lebar menatap tajam Elk. “Jika kamu tidak bertindak cepat,” lanjutnya sambil mengedipkan mata, “aku yang akan mengambilnya.”


Elk berdecak kesal, dan menggerutu, “Siapa juga yang peduli dengan Pria bodoh itu.”

__ADS_1


Sunarsih tertawa, lalu dengan lirih dia berkata, “Kamu sama sekali tidak berubah, Elk.”


“Ng. Tidak apa sih. Tapi, apa kalian semua sudah siap?” tanya Wanita bertubuh menggoda itu, sambil menatap prajurit-prajurit di bawahnya.


Lalu Sunarsih menembakan tornado magma di depannya, sambil bekata dengan nada menggoda, “Untuk Pria-pria tampan di bawahku, kalian bisa maju sekarang.”


Tornado api magma yang berputar cepat searah jarum jam, maju ke depan―dengan Sunarsih yang mengendalikannya, terus menjulurkan tangannya, dan sesekali dia memutar pecahan tongkat hilam berlava itu, dengan pusat bola magma yang terus membesar.


Badai salju yang terus mencair, dan ia terus mundur ke pusatnya; dengan pusat badai salju tersebut yaitu ‘ruang’ tipis yang terus diserang oleh Monster ungu.


Melihat celah di hadapannya, Ruth memerintahkan para penembak jitu untuk maju, dan Pemuda itu pun berlari maju―tetapi dia memisahkan diri, untuk kembali menyebarkan jebakan yang hancur terterpa ganasnya badai salju.


Mark berlari menerjang hujan deras yang disebabkan lelehnya salju di udara, dan terterpa Energy tornado api magma. Ia pun melompat ke atas dahan Pohon, dan langsung menempatkan sniper-nya, sambil menatap ke bawah. “Dia belum mati?” gerutu Pria itu, melihat Jego yang terus mundur sambil menembaki―bertahan dari sayatan Sword Ice Alta.


Setelah Ruth mengatur jebakan serta menempatkan posisi para penembak jitu, dia mendekati Mark, Litz. dan Elk yang berada di sekitar.


Pemuda sappoter itu menoleh ke belakang, menatap Sunarsih yang masih melayang. “Dia benar-benar bisa memasuki dua Unit?” kata Ruth yang terdengar jelas oleh Monster es.


Monster es mendengat perkataan Ruth.


Tubuh monster Alta mulai terlihat; dengan tubuh Monster es itu langsung meleleh, seperti es terkena sinar panas matahari. “Cih, ada yang mempunyai ‘sk’ Elemen panas sekuat ini?” decak kesal Alta.


Tetapi, Monster es itu terus menyerang Jego serta Sirius, sambil mecibir, “Apa kau pikir itu cukup, hah?”


Lalu dia memfokuskan serangannya kepada Lelaki berepala plontos di hadapannya, yang dia terus mundur, dengan sayatan berkecepatan cahaya.


Jego langsung berhenti tertawa, dan mengerutkan keningnya, bergumam, “Sial?”


Alta bertubi-tubi menyatkan Sword Ice-nya kepada Jego; dengan jumlah sayatan Sword Ice di hadapan Lelaki berkulit hitam itu tidak terhitung, dan juga ia semua tidak terlihat olehnya.


Dan dari arah belakang Jego, terdapat berbagai warna lintasan peluru yang melesat cepat, menuju ke arah semua sayatan Sword Ice Alta.


Lelaki berotot kekar itu menoleh ke belakang, di mana para penembak jitu terus menembak, serta Mark yang berteriak padanya, “Lihat kedepan, bodoh!!”


“Huh?!” Jego langsung mengalihakan padangannya kembali. Namun, sayatan Sword Ice Alta di hadapannya; yang ia menyatkan horizontal―tepat berada di hadapan Lelaki itu.

__ADS_1


*Sss!!!*


“Urkhh ...!!” jerit Jego yang tubuhnya terhantam oleh sayatan Sword Ice Alta, secara terus menerus―sampai panjang lintasan sayatan tersebut habis, dengan tubuh kekar Lelaki itu langsung membeku.


Meski tubuh membeku Jego perlahan mencair―akibat panas tubuh Lelaki itu sendiri, ditambah panas Sunarsih di atasnya.


Tetapi, tepat saat tubuh jego membeku seluruhnya, dan juga sayatan demi sayatan lainnya menghampiri Jego, Monster ungu melesat menuju ke arah Lelaki berkepala plontos itu, sambil merepalkan tangan monsternya, membentuk kepalan tinju besar serta kuat.


Sirius langsung meninju wajah Jego dengan kepalan tangan tijunya berebentuk monster, dan berwarna ungunya.


*Buk!!!*


“Hahaha.... Terimakasih.” Jego terhantam tinju Sirius, dan terlempar ke arah utara, di mana Mark, serta para pemebak jitu berada. “Tapi lain kali ... jangan meninju wajah tampanku, ok?”


Sirius berkata, “Maaf.”


“Kau,” kata Monster es, langsung menyerang Sirius, “sungguh bodoh, Sirius.”


Sayatan demi sayatan kedua Sword Ice Alta, langsung menghantam telak Monster ungu di hadapannya. Dengan tubuh Alta perlahan terlihat sedang menggerakan kedua tangannya, dan mengehentikan semua lintasan peluru para penembak jitu, dengan sekali tebasan Sword Ice secara horizontal.


Sirius pun membeku kembali, dengan bongkahan es besar disekujur tubuhnya, sampai-sampai menyebar ke sekitarnya.


「+En: 81 xs*o/e%」


「+En: 80 xs*o/e%」


「+En: 79 xs*o/e%」


. . .


「+En: 74 xs*o/e%」


Monster ungu itu menatap tajam sisa Energy yang dimilikinya. Dan ia bergumam, sambil perlahan menutup kedua matanya, “Sebentar lagi. Aku ....”


***

__ADS_1


__ADS_2