Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-38] Pertahanan Terakhir VII


__ADS_3

Kilauan berbagai warna tabrakan "data" Energy dengan Energy-shield biru yang dikendalikan oleh Jenderal Sez. menghiasi kedua sisi Medan Perang.


Ditambah asap-asap kecil berwarna putih yang membumbung dan melayang di atas langit, di berbagai arah penjuru lorong Medan Perang, akibat ledakan hancurnya semua roket yang tertahan oleh perisai Energy berwarna biru.


Para Sappoter yang tadinya sangat teramat sibuk melesat kesana-kemari dengan tak kasat mata, untuk menyelamatkan para Prajurit Garis Depan yang terluka dan terbaring di tanah.


Namun, sejak munculnya Jenderal Sez.


Mereka bisa bernapas sejenak, dan fokus penuh untuk menyembuhkan para Prajurit yang terluka, di bagian regu penyembuhan.


Semua orang di Medan Perang melihat kilauan kobaran api perisai biru laut di seluruh penjuru langit dan daratan Medan Perang lorong, dengan bebatuan di sekitar mereka semua.


“Jenderal Sez. telah pulih!” seru salah satu Prajurit batalion Jenderal Sez. dengan penuh semangat, melihat kilauan perisai kobaran api biru yang perlahan menghilang, dan menjadi partikel-partikel biru, lalu menyebar ke seluruh penjuru lorong.


“Ya! Keluarkan semua yang kalian miliki!” perintah para Komandan pertahanan dengan serempak.


“Bala bantuan pasti akan segera tiba!" tambah seorang Komandan pertahanan lainnya. "Jangan tahan kekuatan kalian satu napas pun!!”


Meskipun keringat bercucuran dengan pandangan mereka sudah sangat kabur, para Prajurit bataion masih bisa menjawab serentak, dengan suara lantang dan tegas; dengan suara mereka semua menggema ke seluruh penjuru lorong Medan Perang: YA!!


“Ya ...!!!”


“Yaa ...!!”


. . .


“Oooo ...!!!” sorakan para Prajurit pertahanan dengan serempak mengguncang Medan Perang. Meski mereka semua lelah, dengan keringat serta luka bercucuran di seluruh tubuh mereka.


Para Prajurit itu tetap bersemangat, dengan sorot mata mereka semua, menatap ketiga musuh di hadapan mereka. Seolah-olah mereka ingin memakannya.


“Pastikan untuk mengerahkan semua yang kita miliki ...!!” desak salah satu Komandan batalion Jenderal Sez. dengan penuh semangat. Dia mengangkat tinjunya ke arah kedua Komandan musuh yang hanya terluka sedikit.

__ADS_1


“Jangan mempermalukan Unit garis depan Pugulister kita ....” gumam salah satu Komandan dengan lirih, sambil mengerutkan keningnya. Dia mendongak serta fokus penuh menatap tajam dua Komandan musuh yang melayang di atas langit.


Kedua musuh di hadapannya itu masih sibuk, dan mengabaikan teriakan-teriakan manusia di segala penjuru Medan Perang.


Mereka ber-dua menyerang dan bertahan menggunakan Meteor-meteor kecil di kedua tangan Komandan muda, yang ia lemparkan dengan sangat cepat. Serta perisai listrik ungu Komandan Pria paruh baya yang menahan berbagai ‘sk’ Elemen Bumi. Seolah-olah Energy mereka ber-dua miliki tidak ada habisnya.


Beberapa Prajurit mundur, untuk memulikan Energy-nya dan Komandan batalion Jenderal Sez. yang langsung melesat dengan bayangan hitam, bergiliran menyerang kedua musuhnya, diikuti para Prajuritnya di belakang yang melesat ke atas langit, mengikuti lesatan bayangan hitam tersebut.


Sorakan demi sorakan semangat para Prajurit garis depan menggema di lorong penghubung Pintu Luar yang telah hancur menjadi abu, dan pintu dalam [A327] bagian timur, berada tepat di belakang mereka semua.


Para Prajurit tersebut melindungi pintu dalam [A327] dengan sekuat tenaga, dan tekad tak goyah sedikitpun tertera di mata semua Prajurit garis depan.


Pertarungan menjadi lebih mudah dengan kedua Jenderal pertahanan memimpin.


Jenderal Sez. melindungi mereka para Prajuritnya yang berada di Garis Depan, menjadikan tidak ada satu Prajurit pun ragu, untuk melesat maju menyerang musuh mereka.


Rotasi demi rotasi tanpa jeda satu napaspun mereka lakukan hingga dua kali lebih cepat.


Jenderal Moran dan Jenderal Sez. yang terus menyerang, serta bertahan dengan formasi juga teknik gabungan yang sama.


Lalu, Komandan muda musuh itu langsung merentangkan lengannya, sambil tersenyum lebar, dan berkata, “Ternak-ternak bodoh ...!! Hahaha....”


¤BOM!!!!¤


Suara tawa seorang Komandan muda yang melayang di udara tersebut, mengiringi suara keras ledakan besar dari arah selatan, suara tersebut menggema sampai Pintu Timurbdi mana mereka semua berada. Dan diikuti guncangan tanah, seolah gempa bumi terjadi.


“Sialan ...!!” umpat seorang Pria sambil menggenggam sniper-nya di depan, sambil terus menembak. “Jego ... Kau mati begitu saja, hah!?”


Mark yang tak berhenti sedetikpun menembaki semua roket yang melesat keluar dari punggung Robot sebesar gedung dua puluh lantai, cukup jauh di hadapannya. Ia mengerutkan kening sambil menatap ke arah Pintu Dalam, yang jauh di samping kanannya.


Cih ... Dasar Pria lemah ... Tunggu Aku menghajarmu dulu, baru kau bisa mati!

__ADS_1


Beberapa Prajurit pun mendecakkan lidah mereka, mendesah frusatsi, dan beberapa dari mereka bahkan tidak fokus menyerang musuh, dan langsung tersambar petir ungu serta terhantam Meteor kecil berwarna merah, lalu mereka melesat terjun dan menabrak tanah.


Mereka semua mencoba untuk berkonsentrasi penuh pada musuh di hadapan mereka semua, meskipun tekad dan semangat para Prajurit batalion pertahanan sangat kuat.


Namun, kekhawatiran akan serangan dari belakang dan rekan-rekan mereka semua, yang berlatih serta berjuang bersama, tidaklah mudah untuk dihilangkan.


Meskipun para manusia dianugrahi ‘sk’ dan ketahanan serta kekuatan yang sangat kuat, tetapi mereka semua masih manusia pada umumnya, tidak berubah sedikit pun.


Dengan tubuh tak kasat mata, Ris seorang Sappoter yang gilirannya untuk berada di Garis Depan, melesat ke arah salah satu Prajurit terbaring hangus, terluka. Dan dia langsung mengangkutnya sangat cepat. Hingga dua tarikan napas, Pria berwajah tegas itu sudah berada di barisan belakang, sambil menggendong Prajurit terluka tersebut.


Tak jauh dari Batu Besar di mana Mark serta para Penembak Jitu berada, Wanita dengan jaket hitam yang terus menerus melindungi  Prajurit batalionnya di Garis Depan.


Jenderal Sez. tak henti-hentinya menggerakan tangan yang terbakar kobaran api biru, tanpa jeda satu detik pun. Diikuti  muncul dan menyebarnya Energy-shield di atas langit sampai hampir menutupi seluruh penjuru lorong Medan Perang.


“Litz.” Jenderal Sez. bergumam, dan menggertakan giginya, dengan kedua mata di balik kacamata bulatnya, memancarkan penuh rasa khawatir.


Konsentrasi Wanita berkacamata bulat dan mengenakan pakaian serba hitam itu terganggu. Dengan Energy kobaran api biru pada lengan Wanita tersebut, sedikit demi sedikit mulai padam. Serta tersebarnya Energy-shield di atas langit mulai sedikit demi sedikit berkurang.


Saat Jenderal Sez. akan menutup mata di balik kacamata bulatnya, tiba-tiba terdengar suara seorang Pria yang sampai di telinga Wanita cantik itu.


Suara Pria serak yang sampai menyebar, dan menggema ke seluruh penjuru Medan Perang lorong: JEGO TIDAK AKAN MATI SEMUDAH ITU!!


Suara teriakan keras dari arah Batu besarnya tak jauh di wilayah garis depan Medan Perang.


Jenderal Sez. dan yang lainnya, melirik ke asal suara tersebut.


Mereka semua melihat seorang Pria mengenakan kaos putih, berdiri di atas Batu Besar, sambil menggenggam sniper di punggungnya, dan tersenyum lebar, sangat percaya diri.


“Percayalah pada Lelaki botak itu, sayang,“ teriak Pria itu, memotong perkataannya sendiri sambil mengangkat sniper-nya ke atas, dan senyum di wajahnya bertambah lebar, “maksudku Jenderal ... Fokuslah pada musuh di hadapanmu.”


Mark kemudian mengarahkan sniper-nya ke depan, dengan posisi menembak Pria itu masih berdiri. Lalu, ia arahkan sniper-nya ke salah satu roket yang menargetkan Jenderal Sez. yang mulai tidak fokus akan keselamatannya sendiri.

__ADS_1


¤dor!¤


¤¤¤


__ADS_2