![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Ada apa, Shi?” tanya Jenderal Besar Benua [2], yang dia terus menahan ‘ruang’ di atas dan di bawahnya―Pria paruh baya itu melebarkan ‘ruang’ tersebut.
U menoleh ke belakang, menatap tajam Jenderalnya. “Kita harus cepat-cepat mengakhiri pertempuran ini, Jenderal!" desak Pria keren itu. “Musuh menggunakan serta memanfaatkan kekuatan penuh para Grey.”
“Grey?!” kata Jenderal U, terkejut. “Kau serius dengan analisamu itu, Shi? Dan apa yang bisa dilakukan para Reticulian itu ...?”
Jenderal Besar Benua [2] itu menatap bulan yang memancar terang, dan lanjut berkata, “Dan juga,” dan Pria paruh baya berkulit hitam itu, langsung melompat keluar dari ‘ruang’, dengan melepaskan genggaman pada ‘ruang’ tersebut, secara tiba-tiba, “masih lama untuk ‘mereka’ muncul.”
Lalu ‘ruang’ hitam di belakang mereka ber-dua langsung hancur berkeping-keping, menjadi pecahan putih-hitam yang tersebar di udara.
Seorang Pria paruh baya bertubuh hitam pekat sebesar beruang alaska, yang berdiri tegap berdampingan bersama tangan kanannya: merupakan seorang Pria keren bernama ‘U’, mengenakan pakaian Unit Sniper tingkat tinggi berwarna abu-abu terang, dan di lengan kiri atas bajunya terdapat huruf hirigana "し" yang dibaca ‘Shi’.
Jenderal Besar Woon zox. II [BN2]
Pria paruh baya berkulit hitam berotot kekar; dengan otot bisepnya yang menonjol keluar; serta tubuh kekarnya sebesar beruang alaska―tingginya sekitar 20 meter. Mata tajam Jenderal Besar Woon berwarna putih-hitam, menatap tajam Medan Perang cukup jauh di hadapannya, dengan mata kiri putih disertai bekas luka vertikal panjang sampai dagu. Seolah-olah dia buta, tetapi wajah Pria paruh baya itu memancarkan aura serigala alfa.
Benua [2] di mana tanah dulunya adalah tanah bernama Benua Afrika, di mana orang-orang berkulit hitam berada. Namun, tepat pada era perang ini, dimana para Pria berkulit hitam memimpin seluruh Benua.
Jenderal Besar Woon mengelus janggut abunya; dengan janggut abu, dan mata putih-hitam Pria paruh baya itu tajam seperti seekor serigala alfa. “Mmm.... Emang cukup aneh.” Kemudian dia menatap badai salju yang ia setengah meleleh menjadi hujan deras.
“Batalion musuh benar-benar menghilang?” gumam Jenderal Besar Bedua [2] itu. “Oke,” lajut Jenderal Besar Woon berkata, “Kita akan membantu Moran terlebih dulu.”
Kemudian, Pria paruh baya berkulit hitam itu menggenggam Kapak besar―yang dia sandangkan pada punggunnya. Kapak besar dua tangan, sepanjang tinggi tubuhnya, dengan batang berwarna hitam, dan bilah tajam ganda berwarna merah cerah; dengan ukiran merah cerah pada bilah ganda tajamnya―yang ia terlihat sangat berat.
Tetapi, Jenderal Besar Woon hanya menggunakan satu tangannya, mengibaskan Kapak besar dua tangan―dengan bilah tajam ganda itu ke samping, seperti dia sedang menghibaskan tongkat kayu.
“Dan siapa itu? mereka malah datang kemari?” tanya Jenderal Besar Woon, menatap tajam dua Jenderal yang mendekat ke arahnya. “Kau tahu siapa mereka, Shi?”
U menatap tajam Jenderal muda di depan yang menghampirinya. Dia menyirit dan menjawab, “Jika aku tidak salah, dia bernama Perse.” Lanjutnya, “Dan Pria paruh baya yang berlari berdampingan dengannya bernama Jenderal Pongahar.”
“Mereka ber-dua sama-sama dari zox-Family. Bagaimana anda tidak tahu?” tanya U, sambil menengokkan kepalanya, menatap heran Jenderal Besar Benua [2] itu.
Jenderal Besar Woon menjawab, “Keluarga besarku itu luas― tersebar di seluruh pelosok Benua.” Dia menatap balik U. “Bagaimana aku bisa tahu semua nama, dan wajah dari seluruh Keluarga besar?” tambahnya, sambil menghela napas frustasi, “Orang Tua ini tidak memiliki ingatan kuat sepertimu, Shi.”
**
__ADS_1
Monster es yang terus menyerang Prajurit-prajurit bala bantuan, serta Elk dan Litz. terus mendekatinya. Lalu ia langsung merasakan Energy aneh dari arah yang cukup jauh darinya, dan berkata, “Jenderal Besar, huh?!” Alta menoleh ke arah barat, sambil menyeringai lebar. “Tidak buruk.”
Alta tersenyum lebar, dan langsung melesat mendekati Sirius yang membeku.
“Elk!” seru Mark, “Lindungi kawan kita itu, cepat!!”
Monster es itu menitikberatkan Energy-nya, pada kepalan tangan kanannya. Lalu Alta langsung menghantamkan Energy pada kepalan tangan kanannya, kepada bongkahan es yang membekukan Monster ungu, sambil berkata, “Silahkan nikmati menyerang rekanmu sendiri―sebentar.” Tangan Monster es itu langsung menembus bongkahan es, dan mencekik leher Sirius. “Aku ingin mencoba ternak yang sedikit kuat itu.”
Kemudian Alta langsung menarik keluar tubuh Sirius dari bongkahan es―dengan cekikkan masih kuat mencengkram leher Monster ungu itu.
“Urrkk!!” Sirius tercekik, serta sisa Energy yang dimilikinya berkuarang.
Monster ungu itu mencoba untuk membebaskan diri. Namun, cekikkan Alta sangat kuat, dan Monster es itu langsung melemparkan tubuh Sirius ke depan―menuju tepat ke arah Wanita cantik berambut sebahu yang terus berlari menghampiri mereka ber-dua.
Di tambah Alta langsung menyayatkan Sword Ice pada tangan kirinya, menuju tepat ke arah Sirius yang terlempar.
Sayatan Sword Ice Alta, yang langsung menyayat tubuh Monster ungu.
“Ssss!!!*
「+En: 59 xs*o/e%」
「+En: 57 xs*o/e%」
「+En: 54 xs*o/e%」
. . .
「+En: 52 xs*o/e%」
Sirius melebarkan mata ungunya, menatap sisa Energy yang dimilikinya, dengan tatapan frustasi.
Lalu sclera putihnya perlahan berubah menjadi warna hitam kembali.
「+En: 50 xs*o/e%」
__ADS_1
“Sial,” umpat Monster ungu itu, langsung kehilangan kesadaranya, dan bola mata ungunya bersinar terang.
「**************」
Sirius mengeram, “Grrr ....” Lalu ia mendarat dan menghantam tanah.
Elk yang berada tepat di hadapan Monster ungu itu, tiba-tiba berhenti berlari, dan memasang kuda-kuda kokoh. Dia menjadi waspada.
Alta langsung melesat ke Gunung besar, asal suara tajam seorang Jenderal Besar yang telah ia dengar.
Tetapi, tepat saat Monster es itu berada di setengah badai salju, Sunarsih menghadang menghadang Alta, dan dia berkata dengan nada menggoda, “Kau mau kemana, tampan?”
Monster es itu menyipitkan mata, menatap tajam Wanita bertubuh menggoda yang menghadangnya. Kemudian ia mengambil benih dari jubah hitamnya; berupa benih berbentuk bola tenis berwarna hitam, yang Alta genggam dan langsung ia lempar ke bawah, sambil berkata, “Menyingkirlah dari hadapanku, ternak bodoh.”
“Bibit Grey?!” seru Mark dan Sunarsih, serempak. Mereka ber-dua melebarkan mata mereka, menatap benih hitam yang terjun ke tanah.
Lalu, tepat saat Sunarsih tercengang, Monster es langsung menghilang di hadapan Wanita berkulit kuning langsat dan bertubuh menggoda itu.
“Sial!!” umpat Sunarsih yang langsung melesat terjun, mencoba untuk mengambil benih hitam, tetapi terjunnya benih hitam yang dilemparkan Alta, terlalu cepat mencapai tanah.
Suara Monster es yang telah menjauh menggema di udara, dengan ganasnya badai salju menyertainya, “Yah ... bermain-mainlah dengan mereka sebentar. Aku akan melenyapkan pemimpin besar kalian terlebih dulu.” Lanjutnya, “Jika pemimpin kalian lenyap, pasti akan mempermudahku untuk melenyapkan kalian, hahaha....”
“Tunggu―” Sunarsih menoleh ke belakang, mencari Monster es itu. Tetapi Alta telah menghilang sepenuhnya dari jangkauan deteksi Wanita bertubuh menggoda itu.
Kemudian Sunarsih mengalihkan pandangannya kembali, kepada benih hitam yang langsung tenggelam ke bawah tanah―seolah tanah tersebut menelan benih hitam itu.
“Pergi dari sana, Sun!!” desak Mark. “Cepat!”
“Apa?!” Sunarsih langsung mengikuti intruksi Mark. Dia melompat ke samping, dan berlari menuju ke tempat di mana Elk, Sirius, Litz. dan Jego berada.
Di belakang Wanita bertubuh menggoda yang berlari, tumbuh sebuah Pohon berwarna hitam pekat, dengan partikel-partikel hitam, seperti api hitam membakarnya. Pohon tersebut tumbuh sangat cepat, yang dengan hanya beberapa detik ia sudah setinggi 50 meter.
“Sial. Apa itu?!” gumam Mark tercengang, dan ia lanjut berteriak―memberi intruksi kepada para Prajurit bala bantuan. “Bersiap untuk bertempur! Dan pimpin mereka semua, Sun!”
***
__ADS_1
{N/A: Yah. Emang kayak "L" sih, "し" tuh. Tapi, "L" itu karakter yang terlalu tinggi, huh} * {Aku nggak sanggup bayanginnya. Hohoho~}