Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-46] Pertempuran IX


__ADS_3

Lintasan peluru berbagai warna dari tembakan demi tembakan para Penembak Jitu, mengarah tepat menuju ke arah Komandan Lelaki muda musuh yang tubuhnya dibaluti petir yang menyambar ke sekitarnya.


Alta mengerutkan kening sambil menyambar dengan Petir Putih mengitari tubuhnya, ke arah di mana Jenderal Sez. berada. Kemudian ia melirik berbagai warna titik lintasan peluru di samping kirinya, yang menuju tepat ke arahnya.


Komandan Lelaki muda itu kemudian mengabaikan titik-titik lintasn peluru yang tepat mengarah padanya, dan ia pun mempercepat lajunya diikuti Elk, Jenderal Moran serta Sirius di belakang Alta—mereka ber-tiga berusaha keras untuk mengejarnya.


Namun, Alta dengan tubuhnya dibaluti Petir Putih yang menyambar dengan kecepatan tinggi terlalu cepat untuk terkejar. Dalam dua napas, ia sudah berada tepat di hadapan Wanita mengenakan kacamata bulat yang melayang di udara. Wanita tersebut sedang sibuk melindungi Prajurit batalionnya, dan dia hanya melirik Komandan Lelaki muda yang menghampirinya.


Alta langsung menitikberatkan Energy Petir Putih di tangan kanannya; dan Energy Petir Putih itu perlahan merambat ke atas, dan menyelimuti lengannya—membentuk pedang putih panjang dengan kilatan petir putih mengitarinya. Lalu ia genggam erat Energy berbentuk Pedang Petir Putih itu menggunakan tangan kanannya.


Komandan Lelaki muda itu langsung berhenti di hadapan Jenderal Sez.


Wanita cantik itu sudah berada dalam jangkauan serangan Pedangan Petir Putih Alta, dan tidak sampai setengah napas, Alta langsung menebas secara diagonal Wanita di hadapannya. Tetapi tiba-tiba, tubuh Wanita tersebut dibaluti kobaran api biru.


¤Ssss!!¤


Tebasan Energy berbentuk Pedang Petir Putih yang menebas lingkaran Perisai Biru di hadapannya yang langsung menjadi dua, dan Jenderal Sez. langsung mundur cukup jauh ke belakang, sambil menatap Alta di hadapannya dengan tatapan tajam.


Alta menggenggam Pedang Petir Putih di tangan kanannya dengan kuda-kuda bertarung, seperti ia adalah seorang kesatria.


“Itu ... Sword Art?!” Jenderal Sez. tercengang melebarkan matanya. Dia berada tepat di depan Alta. “Siapa sebeneranya dia?”


Di balik kacamata bulat Wanita cantik itu, terdapat mata tajam yang mengerutkan kening, dan menatap Komandan Lelaki muda di hadapannya.


Komandan Lelaki muda musuh itu langsung menyambarkan Petir Putih yang mengitari tubuhnya, dan menyerang Jendral Sez. secara bertubi-tubi.


Mark terus menembak, dari jarak yang cukup jauh, di atas Batu Besar.


Namun, lintasan demi lintasan peluru tembakan Mark, yang dengan mudahnya dihindari oleh Alta, dan ledakan terdekat dengannya pun ia tebas—sebelum peluru yang meledak tersebut membentuk ‘ruang’, Alta langsung menebas lalu menghancurkan semua ‘ruang’ di sekitarnya.


Elk sudah berada tak jauh di bawah Jenderal Sez. yang sedang diserang bertubi-tubi. Dia mendongak ke atas, sambil mengambil ancang-ancang, dan menguatkan kakinya.


Wanita yang seluruh tubuhnya dibaluti bayangan hijau itu melesat cepat, dan menyerang Alta.


Alta melirik titik hijau di bawahnya. Dan dengan gesit ia langsung menghindar, lalu menebas punggung Elk yang terjun ke bawah. Tetapi, Komandan Lelaki muda itu terhantam oleh Tinju kobaran api emas dari arah belakangnya.

__ADS_1


¤Bom . . !!!¤


Tinju kobaran api emas dengan telak mengenai Alta yang melayang—dan ia langsung mebakar udara di sekitarnya.


Di dalam kobaran Energy api emas, Komandan Lelaki muda itu tersungkur ke depan, dan langsung menoleh ke belakang, di mana seorang Pria Tua sedang menggenggam tinju yang disertai kobaran Energy api emas, yang mengarah tepat padanya .


Elk sudah mendarat dan menginjak tanah, langsung melompat dan melesat cepat ke arah Alta yang melayang di atasnya, untuk menyerangnya kembali.


Jenderal Moran, Elk serta Mark, terus menyerang. Dengan Jenderal Sez. yang terus ditargetkan Alta.


Namun, Wanita mengenakan kacamata bulat itu tidak lupa melindungi Elk serta Jenderal Moran yang sesekali diserang oleh Komandan Lelaki muda musuh mereka.


Kilauan warna emas, hijau, biru dan garis putih yang melesat ke berbagai arah di udara terlihat jelas oleh para Penembak Jitu yang berada di atas Batu Besar. Dengan garis putih yang dibaluti sambaran Petir Putih mengitarinya. Ia melesat ke berbagai arah, dan lebih cepat dari yang lainnya.


Mark mengerutkan kening, sambil terus menembak, mencoba mengganggu. Tetapi ia tidak berhasil, serta para Penembak Jitu di sampingnya pun memiliki ekspresi yang sama.


“Apa kita perlu berhenti dan membantu para Unit Pugulister, Mark?” tanya Ruth yang berada di belakang para Penembak Jitu yang terus menembak. “Jika terus menembak ... peluru kita tidak akan cukup.” Ruth menunduk sambil merepalkan tangannya, dengan ekspresi khawatir. “Dan juga, Unit garis depan semuanya sedang terdorong mundur ....”


Ruth menatap tajam Prajurit batalion garis depan yang cukup jauh di hadapannya.


“Tapi—“ bantah Ruth terpotong melihat Ruen tengkurap dalam posisi menembak di depannya.


Pemuda di hadapan Ruth itu, mengangkat tangannya sambil menoleh ke belakang. Pemuda berambut silver itu memiliki ekspresi yang sama dengan Mark.


“Aku juga tidak tahu sih. Tapi, Komandan muda itu,” sela Ruen yang mengalihkan pandangannya kembali, kepada Alta yang cukup jauh di depannya, sambil mengganti batch peluru sniper-nya dengan sangat cepat, ”memang terlihat sangat berbahaya.”


Pemuda itu pun langsung lanjut menembak.


“Huh ....” Ruth hanya bisa menghela napas panjang, frustasi. Dia kemudian berbalik, dan berjalan menuju ke arah kotak peluru. Dan dia harus berpikir ulang serta memperhitungkan semuanya lagi.


Sirius berlari tertatih-tatih di bawah semua orang yang sedang menyerang Alta. Ia terus maju mendekat, dan ia sama sekali tidak diperhatikan oleh siapa pun.


Para manusia dengan adrenalin puncak mereka, terus mencoba bertahan. Mereka berda cukup jauh di samping Pria muda berambut putih yang berlari tertatih-tatih kelelahan itu.


Prajurit batalion pertahanan terus menyerang berotasi tak henti-hentinya, meskipun mereka sudah berada dalam batas kekuatan dan Energy yang mereka semua miliki.

__ADS_1


Empat Komandan pertahanan yang terus bergiliran, serta melakukan rotasi dengan tiga tarikan napas yang tak henti-hentinya menyerang dan bertahan.


Satu orang Komandan Wanita dengan tubuhnya dibaluti bayangan hitam, melesat dengan cepat menuju tepat ke arah musuhnya. Pria paruh baya yang berada tepat di hadapannya, melayang di udara sambil terus menyambarkan listrik ungunya, seperti Energy yang dimilikinya itu tidak habisnya.


Komandan Wanita tersebut sedikit lengah, dan serangannya meleset ke arah samping kiri. Dia melebarkan matanya langsung menoleh ke belakang, di mana Komandan Pria paruh baya di belakangnya, langsung menjulurkan lengannya.


Listrik ungu menyambar tepat ke arah Komandan Wanita. Dan ia langsung dengan telak mengenainya. Kemudian dia melesat terjun dengan kepulan asap hitam serta listrik ungu mengitari tubuhnya—seperti pesawat jatuh yang terjun dari langit kemudian menabarah tanah.


Sirius melihat Komandan Wanita muda yang melesat tejun, dan akan mendarat tak jauh di sekitarnya.


¤Buk!!!¤


Tubuh Wanita dengan kepulan asap hitam mengitarinya tepat berada di hadapan Sirius, lalu ia berlari tertatih-tatih mendekatinya.


Sirius sampai tepat berada di hadapan tubuh dengan kepulan asap perlahan menghilang. Dia menggeliat kesakitan.


Dan entah kenapa, Pria berambut putih itu meneguk ludahnya sendiri saat melihat tubuh Wanita terluka di bawahnya. Ia pun berjongkok memajukan lengannya akan menyentuhnya, tetapi listrik ungu mengitari tubuh Wanita tersebut belum menghilang.


Pria muda berambut putih itu menengok ke samping kanan, memempehatikan sekitarnya, di mana para Sappoter tak kasat mata sedang berkonsentrasi penuh memperhatikan alur pertempuran. Namun, konsentrasi mereka sangat berkurang dengan wajah kelelahan dan terengah-engah, yang bahkan tidak memperhatikan Komandan Wanita di hadapan Sirius.


Sirius kemudian mengalihkan pandangannya kembali, menatap Wanita terbaring di hadapannya, dengan kilatan listrik ungu yang mengitari tubuhnya belum menghilang.


Apa aku harus ...?


Kilatan mata emas Sirius berubah menjadi warna ungu gelap perlahan, dan listrik yang mengitari tubuh Wanita di hadapannya perlahan menghilang. Ia kemudian menjulurkan lengan kanannya seakan, akan menyentuh Wanita tersebut, dan suara mekanisme wanita terdengar di telinga Sirius, serta angka hitung mundur yang terpampang di hadapannya:


「0,4 .Ark」


Aku ... tak punya pilihan lain, kan?


Sirius meneguk ludahnya kembali, melihat angka hiitung mundur yang terpampang di hadapannya, lalu dengan mata ungunya ia mengalihkan pandangannya, melirik Wanita terluka di bawahnya.


Ya! Aku benar-benar tidak punya pilihan lain!


¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2