![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Jika dipantau dari atas, puncak Gunung Besar itu datar dengan Kuil Besar di tengahnya, dan dataran yang berbentuk huruf ‘H’ dengan sisi utara dan selatannya melengkung. Dan juga terdapat lengkungan membentuk ‘n’ di sisi timur, dan ‘u’ di sisi barat yang merupakan jalan menuju ke pintu depan Kuil.
Di sebelah timur halaman Kuil dataran Gunung Besar itu, Jenderal Pongahar dan Jenderal Perse sedang berjalan santai menuju Kuil Dewa Matahari. Di sisi kanan-kiri jalan yang mereka ber-dua lewati terdapat Pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Terdapat bangunan-bangunan Kuil berukuran kecil yang megitari Kuil Dewa Matahari sebagai pusatnya. Dengan Gerbang Torii berbaris rapih yang diikuti Pohon-pohon setelahnya―dan ia semua membentuk jalan menuju pintu Kuil tersebut.
Jenderal Pongahar dan Jenderal Perse pun sampai di hadapan Gerbang Torii terakhir. Kedua Jenderal itu berdiri tegap, sambil menatap tajam dua penjaga gerbang dan seorang Perempuan cantik di tengahnya yang sedang mengerutkan kening. Seolah-olah Perempuan cantik itu telah menunggu kedatangan dua orang di hadapannya.
Gerbang Besar terakhir di hadapan Pria paruh baya berkumis tipis itu berbeda dengan Gerbang Torii sebelumnya―ia sama-sama berbentuk persegi, tetapi ruang kosong di tengahnya berbentuk lingkaran, dan berwarna cyan disertai siquit rumit yang terukir di Gerbang Besar tersebut.
Gerbang Torii terakhir yang merupakan batas antara wilayah halaman dan Kuil Dewa Matahari. Hanya Unit Tingkat Atas Übersicht yang diperkenankan untuk memasuki wilayah Kuil Dewa Matahari. Dan ada penghalang kuat tetapi transparan yang memisahkan kedua wilayah halaman dan Kuil tersebut.
Jenderal Pongahar melihat Perempuan cantik di depannya, sambil menyeringai lebar. “Kau sudah lama menungguku, ternyata.” Lalu dia berkata dengan seringai lebarnya langsung menghilang, “Elf.”
Meskipun terdapat penghalang kuat di hadapan Pria paruh baya berkumis tipis itu, suara tegasnya masih terdengar oleh Perempuan cantik, serta kedua penjaga yang berada di samping kiri-kanan Perempuan cantik yang berpostur tegas itu.
“Kalian ber-dua," kata Perempuan cantik di hadapan kedua Jenderal itu, "Berani-beraninya kalian memasuki wilayah ini.” Dengan nada sedingin es, dia lanjut berkata, “Apakah ini semua bisa aku tanggapi sebagai pemberontakkanmu, Pongahar?”
“Kesampingkan itu .... Aku tahu Zehn tidak ada di sini.”
“Apa?!”
“Kau tahu, kan,“ kata Jenderal Pongahar, “mengendalikan informasi adalah salah satu senjata terkuat untuk memenangkan perang.”
Jenderal Perse di samping Jenderal Pongahar, merasakan ada sesuatu yang salah.
“Huh!? Perang?” Pria muda tampan itu terkejut, dan berkata, “Bukankah kita hanya akan meminta beberapa informasi,” lalu dia mendongak, “dan hanya mengamankan apa yang telah menjadi hak kita?”
Jenderal Perse menatap monumen matahari besar yang berada di atas Kuil Besar di hadapannya.
“Ya.” Jenderal Pongahar menjawab, “Kita juga akan mengamankan monumen matahari itu, tenang saja.”
__ADS_1
Terkejut dengan apa yang dikatakan Ayahnya, Jenderal Perse gugup dan mundur beberapa langkah―dia jelas merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan apa yang telah dikatakan Jenderal Pongahar di sampingnya.
Perempuan cantik di hadapan kedua Jenderal itu merupakan Generasi ke-11 Unit Übersicht.
Terlepas dari tiga tingkatan di bawahnya, terdapat Unit High Tier yang merupakan posisi tidak bisa dimiliki sembarang orang, maupun dari Family selain dari keluarga atau keturunan berdarah asli Übersicht.
Unit High Tier yang merupakan pemimpin setiap Unit Übersicht. Terdapat dua orang dari Generasi berbeda yang memimpin tiga tingkatan di bawahnya. Dan di setiap Benua terdapat 2 orang Unit High Tier yang memimpin dan mengendalikan jalur informasi antar Benua.
Perempuan tua cantik itu bernama Elf―yang juga merupakan nenek dari Elk. Walaupun dia berparas cantik dengan kulit putih mulus, dengan sorot mata tajam dewasa serta sepuhnya, dia tak bisa menyembunyikan umurnya. Mata oranye terang Elf yang menatap tajam Jenderal Pongahar di depannya, sambil bertanya dengan nada dingin, “Apa kalian benar-benar akan mengkhianati Manusia?”
“Mengkhianati?! Tentu―Tidak,” bantah Pria paruh baya berkumis tipis itu. “Ini semua hanya untuk,” sambil tersenyum lebar, dia merentangkan lengannya dan lanjut berkata, “Perdamaian DUNIA.”
“Perdamaian Dunia?!”
(Elf dan Jenderal Perse berkata, dan dengan serentak tercengang)
“Ayah, apa kau serius?” Pria muda tampan di samping Jenderal Pongahar itu, terkejut. “Ini ....”
Lalu, kecemasan Jenderal Perse pun terjadi. Sebuah sambaran Petir berwarna putih dari dalam wilayah Kuil Dewa Matahari, menyambar langsung dua penjaga Elf.
*Duar!!!*
Sambaran Petir Putih dengan telak menyambar penjaga pintu di samping kiri-kanan Perempuan tua cantik itu. Namun, mereka ber-dua masih bisa melindungi Tuannya sambil mengerang: Ught! Dan langsung ambruk.
Kubah-perisai emas yang merupakan Energy pelindungi Elf, melindunginya tanpa sedikit pun luka.
Perempuan tua cantik itu lalu berkata dengan sedikit gugup dan terkejut, “Kau benar-benar serius, Pongahar?”
“Ka-ka-kalian―” Jenderal Perse langsung menengok ke arah Aula Besar di sampingnya. “Kalian siapa?”
Pria muda tampan itu sedikit menjerit dan mundur beberapa langkah, saat melihat sebagian dari orang-orang yang berada di Aula Besar di sampingya memisahkan diri.
__ADS_1
Mereka memisahkan diri sambil menggenggam cube berwarna coklat dan menoleh ke arah Elf.
“Kau,” sahut Perempuan tua cantik itu, menautkan alisnya. “Benar-benar serius, Pongahar!”
“A-a-apa―apa yang akan mereka lakukan di sini?” Jenderal Perse gugup, dan bertanya kepada Jenderal Pongahar di sampingnya, “Ayah, bukankah kita hanya akan menuntut beberapa informasi, kan?”
Kemudian, beberapa dari orang-orang di Aula Besar itu mengangkat tongkat yang sangat panjang.
“Ini,” jawab Jenderal Pongahar, “adalah kebangkitan dari Bangsa kita, Perse.”
Pria paruh baya berkumis tipis itu menengok ke samping, di mana Anaknya sedang gugup-gemetaran dan mundur beberapa langkah. “Kita akan membentuk Negara kita! Kebangkitan Negara kita!!”
Tongkat yang diacungkan oleh sebagian orang di Aula Besar itu lalu melepaskan sebuah bendera warna merah darah, dengan lambang di tengahnya bercahaya emas terang.
Cahaya emas terang yang menerangi Aula Besar di setiap sudut bangunan Aula Besar itu. Dan orang-orang yang mengibarkan bendera itu mengangkat tongkat besar yang mereka genggam dengan semangat penuh.
“Dan kita hanya perlu beberapa pengorbanan untuk mencapai itu.” Jenderal Pongahar merepalkan tangannya. “Bukankah itu semua sepadan?”
Selagi Jenderal Perse masih berwajah pucat, Elf berteriak, “Kau gila!!”
Lambang bendera palu-arit menyilang berwarna emas terang, dengan latar kain bendera tersebut berwarna merah darah. Ia bersinar dan berkobar saat terterpa angin di setiap sudut Aula Besar.
Jenderal Pongahar hanya tersenyum tipis saat diteriaki Perempuan tua cantik di hadapannya.
Menyertai senyuman Pria paruh baya berkumis tipis itu, Gerbang Torii di hadapannya tiba-tiba menonaktifkan dirinya sendiri. Gerbang Besar itu mati perlahan dari bawah ke atas, menjadi warna coklat-kayu. Lalu penghalang yang mengitari Kuil Dewa Matahari pun langsung menghilang.
“Sedari awal, aku ingin tahu,” gumam Elf, mendesah pasrah dan menerima kekalahannya. “Ke mana Jenderal Cu dan Jenderal Lok menghilang.”
Perempuan tua cantik itu lanjut berkata, “Ternyata kau di sini,” sambil menoleh ke belakang, di mana pintu Kuil Besar di belakangnya terbuka.
***
__ADS_1