![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Para Penembak Jitu di atas Batu Besar tengkurap dalam posisi menembak sambil menggenggam erat sniper mereka. Dan dengan intruksi serta perhitungan Ruth dan pemilihan batch peluru yang telah pemuda itu susun.
Mereka mulai menembaki semua roket yang melesat-keluar dari punggung Robot bermata biru jauh di hadapan para Penembak Jitu itu berada. Beberapa roket lolos, dan melesat mengarah ke arah Sirius dan Jenderal Moran.
Jenderal Moran menghela napas panjang, dan melirik yang Penembak Jitu yang sangat jauh di belakangnya. “Mereka akhirnya mulai, huh ....”
Suara melesatnya roket-roket gelombang berikutnya, terdengar di seluruh penjuru Medan Perang, diiringi suara seorang Pemuda berteriak, “Semuanya bersiap ... TEMBAK!”
Lalu berbagai warna lintasan peluru melesat ke arah [RbX-M2314], dan mereka semua mengenai telak semua roket yang baru saja muncul di punggung Robot Besar itu.
Elk mendongak, melihat berbagai warna lintasan peluru yang tepat berada di atasnya.
Kalian harusnya melakukan itu dari awal Pria-pria bodoh ...!!
Wanita itu kemudian mempercepat lajunya, melesat sangat cepat, dengan bayangan hijau yang langsung tiba di 3 mil jauhnya. Di hadapan Robot dengan mata biru terang, sedang mengumpulkan Energy di kedua matanya, yang ia berubah menjadi laser kobaran api biru terang, dan ia langsung menembak Elk yang jauh di hadapan Robot tersebut.
Dan melesanya lintasan peluru berwarna hijau di atas Elk, peluru hijau yang langsung mengarah tepat menuju laser tersebut.
Melirik lintasan peluru hijau di atasnya, Elk mengabaikan laser kobaran api biru yang mengarah langsung kepadanya. Dia langsung menguatkan kedua kakinya, lalu melompat ke depan serta melesat sangat cepat, dengan bayangan hijau menyertainya, menuju tepat ke arah kepala besar Robot bermata biru di hadapannya.
Lintasan peluru hijau yang melesat cepat mendahului Elk. Lalu peluru hijau itupun meledak tepat di hadapan Wanita cantik itu.
Ledakan kecil dari peluru langsung merobek ‘ruang’ di sekitarnya, dan kemudian ia mengeluarkan angin kencang yang langsung berubah menjadi perisai hijau bulat, berputar sangat cepat. Kemudian putaran angin perisai tersebut bertambah cepat yang langsung menahan laser kobaran api biru di hadapannya.
Laser dengan kobaran api biru yang berada tepat di hadapan Elk pun tertahan oleh perisai hijau angin. Kemudian ia tersebar ke segala arah, mengikuti putaran angin perisai.
Percikan-percikan laser biru itu melesat ke pasir, dan menghanguskannya.
“Cih ... harusnya kalian melakukan itu dari tadi ...” gerutu Elk, sambil menerjang perisai putaran angin di depannya, yang sekejap mata ia langsung menghilang setelah menahan laser.
Elk melesat sangat cepat tiba di hadapan wajah besar [RbX-M2314], dan dia langsung menendang dengan tendangan samping, tepat ke wajah Robot bermata biru itu, sangat kuat. Kemudian suara dentuman keras terdengar ke seluruh Medan Perang, serta terlihat jelas Robot tersebut mundur selangkah ke belakang.
Wanita itu langsung menginjak wajah besar Robot, dan melesat terjun ke tanah, dengan bayangan hijau, sangat cepat Elk mendarat di pasir yang tidak jauh dari Sirius dan Jenderal Moran.
Elk menggertakan giginya, melihat Robot di depannya. “Cih .... Sialnya, ini seperri tak akan ada habisnya.”
__ADS_1
Mereka ber-tiga melihat [RbX-M2314] melangkahkan kakinya yang mundur, dan ia langsung berdiri tegap kembali memulai serangan roket serta laser mata birunya.
Dengan roket-roket melesat keluar dari punggung Robot Besar itu, langsung meledak ditembaki oleh para Penembak Jitu yang jauh di belakang mereka ber-tiga. Dan mereka ber-tiga pun bisa sedikit mudah menyerang Robot di hadapan mereka.
Namun, Elk, Sirius dan Jenderal Moran tetap frustasi mengindari laser dengan kobaran api biru, yang berasal dari mata Robot Besar itu.
Para Penembak Jitu jauh di belakang mereka ber-tiga, kegirangan saat menembaki roket dengan pola yang sama, dan salah satu dari mereka berkata, “Sial ... perhitunganmu benar-benar tepat, Ruth!”
“Yah .... Jujur, itu sangat beresiko ... itu akan meleset jika Elk tidak mengerahkan seluruh tenaga pada kakinya ...” kata Ruth mengerutkan keningnya, menatap Robot yang terus diserang oleh ketiga orang di depannya, dengan kilauan warna hijau serta emas yang melintas di mata Pemuda itu.
“Tapi ... apapun itu ... kau telah berhasil, Ruth! Semangatlah!!” seru seorang Penembak Jitu, sambil mengganti batch peluru dengan sangat cepat, dan langsung menembaki roket-roket yang melesat keluar dari punggung [RbX-M2314].
“Tapi ... kenapa orang sepertimu sangat berani ... membuat rencana senekat seperti itu?!” tanya sorang Penembak Jitu yang paling ujung. Dia terkejut saat menyadari kepribadian Ruth.
“Karena ... menurutku .... Robot itu tidak mempunyai pikiran atau di sebut A.I. yang tinggi kukira ...? Mungkin. ” Ruth menengokkan kepalanya, dengan bingung dia menatap Penembak Jitu itu.
"Oh aku tahu itu! Aku pernah baca ... Artificial Intelligence tinggi itu hanya ada dalam legenda, benar ...?" tanya seorang Penembak Jitu yang tepat di depan Ruth.
Ruth melihat Penembak Jitu di hadapannya dengan tatapan tajam. Dia sangat terkejut, karena tidak banyak Penembak Jitu maupun Prajurit yang berpengetahuan tinggi.
"Ya. Seluruh teknologi itu hancur ... sekitar ... 4000 tahun lalu saat Jenderal Bors datang ..." jawab Ruth, tersenyum santai, sambil menatap Penembak Jitu di depannya.
“Hey ... Tungu—“ kata Ruth terpotong, saat
melihat Penembak Jitu itu mengganti batch peluru sniper-nya dengan sangat cepat, dan langsung menembak.
Kemudian lintasan peluru berwarna hitam yang melesat cepat dengan kilauan pernak-pernik putih mengitarinya, menuju tepat ke arah kepala besar Robot bermata biru di hadapan mereka.
“Huh?! Kenapa Ruth? Aku ... salah?!” tanya Penembak Jitu yang menembakan batch peluru hitam itu.
“Jika itu kena telak ... ia akan sedikit merobek tubuh berapi darah Robot itu!" seru Penembak Jitu di sampingnya. "Mungkin."
Mereka semua melihat lintasan peluru hitam diikuti kilauan pernak-pernik berwarna putih mengitarinya, yang melesat cepat menuju ke arah Robot sebesar gedung dua puluh lantai.
"?!!??!!"
__ADS_1
Saat peluru hitam itu berada tepat di depan mata biru terangnya, Robot Besar itu mengelak, dengan cepat ia menggerakkan kepalanya ke samping kiri.
“Apa?!” semua orang di Medan Perang, serempak terkejut, saat melihat lintasan peluru hitam yang melesat di atas mereka, dengan mudahnya dihindari oleh [RbX-M2314], yang ia berada tepat di hadapan mata biru terang Robot Besar itu.
Robot itu menghindar?! Tidak mungkin!!
Lintasan peluru hitam itu terus melesat sampai mengenai Batu Besar yang tak jauh di belakang [RbX-M2314]. Lalu ia meledak dan merobek ‘ruang’ di sekitarnya, serta membentuk sebuah black hole kecil yang mengeluarkan pusaran angin sangat kuat. Kemudian ia langsung menghisap semua udara, batu serta pasir di sekitarnya.
“Apa itu?!” gumam Sirius, mengerutkan kening saat melihat black hole kecil yang melenyapkan batu serta pasir dengan sangat cepat di depannya.
“Cih ... menggunakan amunisi berharga seperti itu ... dan dia meleset,” gerutu Elk yang geram, sambil melanjutkan serangannya, "begitu saja?!"
Wanita cantik itu melesat cepat dengan bayangan hijau mengitari tubuhnya.
Para Penembak Jitu yang jauh di hadapan [RbX-M2314], tercengang. Mereka kebingungan dengan reaksi Robot bermata biru itu, yang ternyata ia bisa menghindar.
Tapi ... kenapa dari tadi benda itu diam saja, dan menerima serangan?!
Keheningan di atas Batu Besar yang merupakan pijakan para Penembak Jitu itu, terpecah oleh suara teriakan seorang Pemuda di dekat mereka. “Ganti batch peluru itu! Gunakan yang sudah aku susun saja!! Dan terus tembak!”
Ruth dengan geram menggertakan giginya.
“Baik!” jawab Penembak Jitu yang menembakan batch peluru hitam itu. Dia langsung mengganti batch peluru sniper-nya, dan langsung fokus menembaki roket-roket yang berada di sekitar Elk.
Di Medan Perang garis depan, Jenderal Moran terus menghantam dengan kekuatan penuh Robot di hadapannya. Lalu suara dentuman keras, serta kilauan Energy emasnya menghiasi Medan Perang. Diikuti Elk dan Sirius yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh bayangan hijau, melesat ke berbagai arah.
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami ... jika Robot itu mempunyai A.I. tinggi?” tanya Jenderal Moran kepada Sirius, sambil menatap tajam Pria muda itu.
“Kalian tidak ada yang bertanya padaku?! Aku kira, kalian sudah tahu ...” jawab Sirius dengan santai, sambil melanjutkan serangannya.
“Haaa~?!” Semua orang dengan serentak dan menatap tajam Sirius.
“Apa yang aneh? Ini bukan pertama kalinya kalian melawan dia, kan?!” tanya Sirius kebingungan, saat ia melihat ekspresi semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Sial!!!” umpat Elk, mengerutkan kening. Dia terus menyerang Robot bertubuh kobaran api merah darah. Wanita itu melompat, dan melesat terbang ke arah kepalanya.
__ADS_1
“Yah. Ini memang salahku, karena tidak bertanya .... Kupikir teknologi itu sudah punah 4000 tahun lalu,” gumam Jenderal Moran, berhenti menyerang. Kemudian dia berdiri tegap sambil menatap tajam [RbX-M2314] sebesar gedung dua puluh lantai di depannya.
¤¤¤