Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-34] Jenderal Sez.


__ADS_3

Mark melihat Jenderal Sez. mengenakan jaket hitamnya, berkata, “Hoho.... Kamu terlihat sangat menawan mengenakan jaket itu sayangku—” Pria itu bergurau sambil tersenyum hangat dan merentangkan lengannya—seperti ingin memeluk.


“Maksudku, Jenderal.” Mark yang kembali tegap dengan senyum tipis di wajahnya.


“Siapa yang kau sebut sayang itu, hah?” desak Jenderal Sez. menyipitkan matanya, dan di balik kacamata bulatnya dia menatap Mark, dengan tatapan dingin.


“Ayolah ...." Mark mengangkat bahu sambil menaikan sudut bibirnya. "Aku hanya bercanda.”


“Situasi di sini cukup tegang," tanya Mark, mengalihkan pandangannya kepada Sirius di sampingnya, "Kau tahu?”


Sirius sedang duduk di atas batu tanpa suara sedikitpun. Dari saat Jenderal Moran dan Mark berbincang-bincang, Pria berambut putih itu hanya diam membisu, dengan wajah cukup pucatnya. Namum, Pria tersebut tahan yang hampir tidak terlihat.


“Dan lihat. Kenapa Pria tampan bermata emas ini, dari pertama kali datang aku perhatikan," tanya Mark sambil melebarkan senyumnya, dan masih menaikan alisnya, menatap tajam Sirius yang duduk di atas batu kecil, sedang beristirahat, "kawan ini menjadi sangat diam?”


Huh ...?! Dia menyadarinya?


Sirius tercangang dengan pengamatan Mark di hadapannya. Pria bermata merah menyala terang itu menatap Sirius dengan tatapan tajamnya, dan perlahan senyum lebar Mark menghilang.


Memang ada yang salah dengan peringatan yang terus berdengung di telinga Sirius, serta tulisan bahasa asing di hadapannya terus bermunculan. Dan pandangan Pria berambut putih itu pun menjadi berwarna merah, pada sisi-sisi pandangannya, seperti ada sebuah peringatan bahaya.


「Warning!!!」


「You are Energy -1 xj/Cd」


「Warning!!!」


「You are Energy -1 xj/Cd」


. . .


「You are Energy -1 xj/Cd」


「Warning!!!」


Sirius kemudian menengokkan kepalanya ke samping kanan, menatap dengan tatapan memancarkan penuh harap; ia menatap seorang Pria Tua berambut, kulit putih di sampingnya.


Pria Tua itu tanpa mengenakan baju kenderalnya, dengan tubuh sangat kekar berotot sedang bersila sambil menutup mata, berkonsentrasi penuh untuk menyerap Energy di sekitarnya.


Apa dia masih memilikinya ...?


Namun, Sirius tetap tenang menatap balik Mark di depannya. Ia tersenyum tipis, dan berkata, “Tidak ada." Sirius dengan tenang menundukkan kepalanya, dan meniru Pria Tua berkulit putih kekar di sampingnya. Seolah-olah ia sedang menyerap Energy. "Aku mungkin ... hanya kelelahan.”

__ADS_1


“Hoo~ Ya, sudahlah, jika kau tak mau berbicara.” Mark mengangkat bahu secara acuh, memalingkan muka, dan menunjukan ekspresi tidak peduli sambil mengerutkan bibirnya.


“Apa yang kau bicarakan, Mark?” tanya Elk di samping Jenderal Sez.


“Ini adalah permbicaraan antar Pria ..." kata Mark tersenyum santai sambil mengedipkan matanya pada Elk. "Para Wanita bisa ke samping sejenak.”


“Cih ... Tunggu saja." Elk memalingkan mukanya dengan kesal. "Kau pasti akan dihukum berat setelah pertempuran ini selesai ...”


Jenderal Sez. menatap tajam Pria berambut spike prajurit biasa di depannya. “Mark .... Kau memang sangat bodoh untuk mencuri Energy inti selter tanpa berpikir dua kali.”


“Meski aku yang diselamatkan ... aku tidak bisa menyelamatkanmu," lanjut Jenderal Sez. berkata, sambil menggelengkan kepalanya, dan menghela napas frustasi, "dari masalah ini.”


“Aku tidak peduli tentang itu. Asalkan kamu selamat," balas Mark, menutup matanya kemudian mengerutkan kening, mencoba menahan amarah yang diakibatkan rasa khawatir berlebihan pada Wanita di depannya, "itu sudah cukup bagiku ....”


Mark membuka mata merah darah terangnya, dan dengan tatapan tajam yang mengarah tepat ke arah mata, di balik kacamata bulat Wanita di depannya. “Dan kau juga sangat bodoh gegabah seperti tadi. Apakah kamu tahu betapa khawatirnya aku, saat melihat kubah perisai Energy-mu itu?” tanya Mark yang masih mengerutkan kening, dengan tatapan kedua mata merah terangnya, seperti menembus kacamata bulat Jenderal Sez.


Mark sangat marah menujuk Sirius yang membuka matanya dengan diam. Ia sedang memperhatikan mereka ber-dua bertengkar. “Jika Pria itu tidak dengan bodohnya menolongmu saat kilatan listrik ungu menyerangmu, kau takan mempunyai cukup Energy untuk bertahan ...." Lalu, kerutan di kening Mark menjadi sangat dalam, dan ia merepalkan satu tangannya sangat erat. "Dan kamu pasti sudah mati sekarang!”


“Cih ..." decak kesal Jenderal Sez. sambil mengangkat bahu, dan memalingkan muka. "Saat itu, aku tidak bisa memikirkan hal lain.”


“Kamu masih bisa memberi perintah prajurit kita untuk mundur!" bentak Mark, sangat marah, dan melambaikan tangannya ke samping. "Dan gunakan seperempat Energy-mu serta bantuan para Sappoter untuk menahan "data" Komandan muda itu," lalu Mark memalingkan muka, "itu pasti sudah cukup.”


“Tanpa harus membuatmu," lanjut Mark bergumam, sambil merepalkan kedua tangannya dengan erat, "terluka.”


“Itulah bodohnya kamu ... Kamu memang tidak berubah dari dulu," gerutu Mark, menutup matanya, lalu menghela napas panjang, mencoba untuk tenang, "selalu gegabah mengerahkan semuanya di awal pertempuran.”


“Jika kita pikirkan dengan jelas dari awal ..." kata Mark, sambil menyentuh dagunya, berpikir, "semua Pintu Luar di seluruh Area Benua 4, memang sangat tidak berguna, sejak Jenderal Bors datang ke Bumi." Mark melebarkan lengannya sambil menatap tenang Jenderal Sez. "Dan pada akhirnya benar, hancur juga, kan?”


Kemudian Pria mengenakan gogglescope di lehernya itu memalingkan wajanya ke arah Medan Perang.


“Cih ...." Jenderal Sez. menyilangkan kedua tangan dan memalingkan wajahnya juga mengerutkan kening. "Kau tidak akan pernah mengerti seperti apa rasanya jadi pemimpin!”


“Dari dulu, Kau dan Elk hanya bisa bermain-main ..." gerutu Jenderal Sez. melirik Mark, sambil munujuk Elk di sampingnya. "Kalian ber-dua juga selalu saja mengabaikan perintahku.”


Elk tercengang, dan mengerutkan keningnya. Dia tidak senang dibawa-bawa. “Hah!? Aku ...?! Kenapa Aku juga?”


“Dan juga, siapa yang mau dipasangkan dengan Pria bodoh ini!” bantah Elk dengan wajah memerah, menunjuk-nunjuk Mark di depannya.


“Meski aku terlihat sep—“ Mark akan menjelaskan sesuatu, tetapi terpotong saat ia melihat Pria berambut putih di sampingnya melambaikan tangannya. “Bisakah kalian beristirahat sebentar? Pertempuran kita selanjutnya—“ Sirius yang akan menyarankan sesuatu pun terpotong oleh tatapan tajam kedua Wanita di depannya yang langsung berkata dengan nada sangat dingin,  “Diam kau makhluk aneh ....” Jenderal Sez. menyipitkan matanya, menatap Sirius di bawahnya. Meskipun mata Wanita itu terhalang oleh kacamata bulatnya, dinginnya tatapan itu terasa menembus tulang belakang kedua Pria yang menatapnya.


“Kau pikir kau siapa, hah?" tambah Elk, menatapnya dengan dingin, tetapi dia tiba-tiba menggertakan giginya. Wanita itu tidak mau mengakui bahwa Sirius telah menyelamatkan Jenderal Sez. "Ketahuilah tempatmu Pria bodoh!”

__ADS_1


“Ya. Kami sedang rapat keluarga ...." Mark berkata dengan santai melambaikan tangannya, tetapi bibir Pria itu bergetar ketakutan, terus mencoba untuk tersenyum, "Kamu bisa ke samping dulu sebentar kawan.”


“Huuhh....” Sirius hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan dengan frustasi ia menghela napas panjang.


Pria dengan [xious-M4221] berwarna biru terang di dada kirinya itu hanya bisa memperhatikan tiga manusia di hadapannya bertengkar.


“Cih ... siapa juga yang mau menjadi keluargamu,“ gerutu Elk dengan nada lirih.


Wanita itu kemudian memalingkan wajahnya yang memerah.


“Kau selalu seperti itu, Jenderal,” kata Mark, sambil menatap sedih Jenderal Sez. "Ia pernah menyelamatkanmu. Kamu masih ingat, kan?" Lalu Mark menatap Jenderal Sez. di depannya dengan tatapan melankolis. “Dan, jika ia makhluk aneh .... Lalu, aku ini, di matamu itu ... apa?”


“Bawahan serta teman masa kecil.” Jenderal Sez. menjawab singkat serta cepat, dan dengan nada sangat tegas, sambilmenatap dingin Pria di depannya.


“Jangan menjawabnya dengan serius seperti itu," gumam Mark, menggaruk kepala belakangnya dengan canggung. "Aku jadi malu.”


. . .


Mereka ber-tiga menjadi diam membisu, setelah pertengkaran terjadi. Tidak ada yang mau mengalah untuk meminta maaf terlebih dulu.


Gema suara keras pertempuran di garis depan tidak henti-hentinya mengeluarkan suara bentrokan Energy.


Sirius terus memperhatikan Elk, Mark dan Jenderal Sez. yang masih diam membisu. Ia menatap satu per satu dari mereka ber-tiga dengan tatapan sedih. Kemudian Pria itu menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.


Pria muda itu mengenang saat di pesawat buatan Jenderal Rox, dimana Sasha dan Bixy selalu bertengkar beradu argumen serta Sef yang pasti melerai pertengkaran mereka berdua.


Sirius kemudian mengalihkab pandangannya, menatap tajam ke arah garis depan Medan Perang.


“Huh ... Aku memang tidak terlahir untuk menjadi pemimpin, ya ...” gumam Sirius menggelengkan kepala sambil menutup matanya kembali. Kemudian menatap ketiga manusia di depannya. Ia bahkan tidak bisa melerai pertengkaran kecil seperti itu.


Jika kuingat kembali ... Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa melihat 35 rekan Timku, mengorbankan diri mereka begitu saja.


Sasha selalu ada menolongku saat Tim dalam keadaan kritis ... jika tidak ada Wanita itu ... mungkin Tim yang aku pimpin selama ini sudah lama lenyap.


“Jika Sasha tidak selalu di sampingku," Sirius memejamkan mata, menggenang wajah cantik Sasha yang selalu ceria di sampingnya, "aku mungkin hanya menjadi Prajurit pecundang.”


Keheningan dipecah oleh suara isak tangis seorang Wanita, dengan air matanya yang menggenang di balik kacamata bulatnya, dan dia berkata, “Aku tahu ... aku memang tidak cukup kuat ataupun cerdas seperti kalian berdua untuk bisa bergabung dengan zero.”


Walaupun Wanita itu adalah Jenderal, yang merupakan pemimpin besar salah satu Area di Benua [4]. Tetapi Jenderal Sez. masih manusia dan wanita biasa.


“Aku hanya ingin melindungi pintu rumah." Jenderal Sez. bergumam lirih sambil melihat ke bawah, "Tempat di mana kalian ber-dua bisa pulang.”

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2