Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-28] Pertahanan Terakhir IV


__ADS_3

“Übersicht ...?! Siapa mereka?” tanya Sirius, mengerutkan kening, kebingungan saat ia mendengar bahwa matahari membuat para manusia kesulitan.


Bukankah Elk berkata, bahwa matahari itu memberi manusia kekuatan ...?!


“Unit khusus Kuil Dewa Matahari yang berada di dalam Gunung Besar, yang pernah kau lihat ...." Elk menjelaskan dengan sangat tenang, menatap Sirius, sambil tersenyum hangat, serta dia terlihat sangat menawan dengan mata hijau cerahnya. "Dan ia menjadi pusat Area serta selter-selter mengitarinya.”


Apa ada yang salah dengan kepala Wanita itu ...!?


Sirius melebarkan matanya, tercengang dan merinding sekujur tubuhnya, mundur selangkah ketakutan, setelah melihat senyum Elk yang sangat manis serta menawan tepat di hadapannya.


Karena dari pertama mereka bertemu pun, tidak pernah Wanita di hadapan Sirius, menjadi ramah dan baik seperti sekarang.


Apa yang diingat Sirius tentang Elk, hanyalah Wanita berapi-api akan amarahnya, dan gila bertarung serta pantang menyerah, juga ia tak lupa bahwa Elk sangat membenci kaumnya.


“Mereka disebut unit ‘Vt327’ yang kami lindungi oleh ke-enam Unit kami, yang tersebar di seluruh penjuru selter,” jelas Elk, masih menatap Sirius, sambil tersenyum hangat dan wajah Wanita itu bertambah manis serta menawan.


Sungguh, apa yang salah dengannya?!


Sirius mundur beberapa langkah ketakutan, dan memeluk bahunya sendiri. Ia merinding melihat prilaku aneh Elk.


“Ya. Itu kami di Benua 4, mungkin berbeda jika Benua lainnya,” tambah Jenderal Moran, mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya. "Mungkin."


Lalu Elk berkata dengan tenang, sambil memejamkan matanya, mencoba untuk mengembalikan ekspresinya, “Semua Alat komunikasi dan senjata kami bukanlah Artefak. Semua itu hanyalah rampasan ... yang kami peroleh dari perang, penyergapan maupun pertempuran biasa ... yang kami modifikasi sedikit.”


“Artefak?!” tanya Sirius tercengang kembali, setelah mendengar istilah yang tidak diketahuinya, dan ia menatap bingung Jenderal Moran dengan tatapan harapan penjelasan.


“Ya .... Kami menyebutnya Artefak Kuno ... Kalau tidak salah ... ada salah satu yang bernama smartphone?!" jelas Jenderal Moran yang masih berpikir menyentuh dagunya. Kemudian Pria Tua itu melambaikan tangannya acuh, seolah melupakan sesuatu. "Teknologi kuno berfungsi untuk berbagai hal kami manusia lakukan menggunakan jaringan satelit atau disebut apa pun itu ....”


“Oh, ya. Buku coklat compang-camping yang kau lihat itupun ialah artefak kami ... para manusia,” tambah Elk menatap tajam Sirius. Dia akhirnya bisa sedikit lebih tenang, dengan percakapan santai mereka ber-tiga, dan tidak lagi tersenyum aneh.


Sirius menghela napas panjang. “Huh ... akhirnya dia kembali ....”


“Meski kami menjadi bodoh akibat perbudakan," kata Jenderal Moran, merepalkan erat tangannya, "dan telah sangat lama menjadi ternak ....” Elk pun menggertakan giginya, tidak mau mengingat hal seperti ini.


“Kami masih bisa mengingat beberapa, dan menulis serta menyatukannya kembali semua informasi di mana Bumi ... Dunia ini, pernah menjadi hunian manusia seutuhnya.”


Jenderal Moran tersenyum lebar, bersemangat, sambil menujuk jari telunjuknya ke bawah.

__ADS_1


“Mereka itulah 7 Pahlawan pembuat buku ensklopedia bumi, dan para manusia yang mengusai ‘bela diri’ masing-masing," lanjut Jenderal Moran. Dan dia telah kembali seperti semula, "Sehingga kami bisa melawan balik kalian para ...” menatap tajam Sirius dengan senyum lebar seperti biasanya. “Kaum Raasts!”


“Maksudmu—“ koreksi Sirius, tetapi terpotong oleh suara seorang Wanita terdengar sangat jengkel di depannya, “Tapi apapun kehebatan Pahlawan ... manusia tidak akan pernah bisa menang Perang sendirian!” gerutu Elk, mengerutkan bibir, dan memalingkan mukanya.


“Meski ‘Pahlawan’ itu adalah pahlawan yang terkuat di Bumi ini!!” gumam Elk, menutup mata, sambil menyilangkan tangannya. Dia merasa sangat jengkel, saat mengingat sesuatu.


Jenderal Moran tidak bisa menahan tawanya melihat Elk yang begitu geram. “Hahaha... Kau terlalu dingin berkata seperti itu terhadap gurumu sendiri, Elk.”


“Cih! Aku tidak mau mengingat Pria menjengkelkan itu,” gerutu Elk, melambaikan tangannya ke samping.


“Gara-gara Pria itu," gumam Elk, "Mark yang dulunya pemalu dan disiplin, menjadi bodoh, dan konyol seperti sekarang.”


“Haha.... yaa, sekalipun dia seperti itu," kata Jenderal Moran tersenyum, sambil menatap tajam Elk di depannya, "dia tetap gurumu!”


“Humphh!!”


Elk memalingkan wajah dan mengerutkan bibirnya tidak setuju.


Sirius melihat matahari, tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah! Jadi itu sebabnya kamu geram terhadap matahari ...?!” Ia mengangkat alisnya menatap Elk.


Elk berkata dengan tenang mengangkat bahunya. “Ya .... Itu seperti pedang mermata dua untuk kami.”


Pria muda itu berpikir sejenak menatap matahari kembali. “Mmm ... aku pikir, aku cukup mengerti," tanya Sirius sambil menjetikan jarinya, "Itu seperti kelebihan dan kekurangan, Benar?”


Jenderal Moran tersenyum dan mengangguk santai. “Yah. Kurang lebih seperti itu.”


Teriakan seorang Pemuda Sappoter terdengar dari belakang mereka ber-tiga tepat di atas batu besar: SEMUANYA BERSIAP!!! Ruth berdiri di atas Batu Besar, bersama para Penembak Jitu yang tengkurap dalam posisi menembak. Mereka semua serius, dab menatap tajam gumpalan debu jauh di depannya.


Gumpalan debu yang seperti badai pasir di hadapan semua orang perlahan menghilang, diikuti munculnya Robot sebesar gedung dua puluh lantai, bermata biru yang melesat cepat, sambil menggenggam senapan silver besar dengan kedua tangannya.


Mata biru [RbX-M2314] yang hanya tersisa mata kanannya saja, ia disertai kilatan listrik biru. Karena mata kiri Robot Besar itu telah hangus, menghitam dan wajahnya pun hancur setengah, menyisakan sirquit cahaya biru sangat rumit, serta kobaran api merah darah pada setengah wajahnya.


“Hohoho ... Jenius! Lihat itu!" seru Elk tersenyum lebar, menunjuk-nunjuk Robot di depan merek, lalu menoleh ke belakang di mana Sirius berada. "Mesin bodoh itu terluka!”


“Ya. Tapi ... dia masih bisa bergerak cepat seperti itu?!” gumam Sirius mengerutkan kening, dan bersiap untuk gelombang serangan berikutnya.


“Cih ... seharusnya kau sedikit frustasi!” decak kesal Elk, sambil mengambil belati dengan tangan kiri, di saku belakangnya. “Kau terlalu tenang ...!!”

__ADS_1


Elk mengerutkan bibirnya, melihat Sirius yang masih fokus pada Robot Besar yang cukup jauh di hadapannya.


“Aku pernah bilang, kan,” kata Elk, melambaikan belati di tangan kiri, sambil menggelengkan kepalanya. "Kejeniusanmu itu tidak berguna di Medan Perang pada Era ini."


Saat semua orang di Medan Perang bersiap, Robot di hadapan mereka semua melesat sangat cepat dengan bayangan merah ke samping kanan mereka, mengabaikan Elk, Sirius dan Jenderal Moran.


“Apa?!”


“Kemana rongsokan itu melesat, Ruth?!” teriak Elk, melesat dengan bayangan hijau, mencoba mengejar Robot di depannya, yang ia sudah menjauhi ketiga orang di garis depan.


“Dia menuju ke arah Mark berada! Robot itu menuju tepat ke arah A327," teriak Ruth, sambil menunduk, melihat alat berbentuk nampan di tangannya. "Pintu Dalam!!”


Sirius, Elk dan Jenderal Moran mengejar Robot yang melesat dengan bayangan merah ke arah Mark berada. Mereka ber-tiga besusah payah untuk menahan Robot sebesar gedung dua puluh lantai itu.


“Sial." Elk, menggertakan giginya. Kemudiab dia menusuk Robot di depanya dan langsung terpental ke belakang. "Bala bantuan masih belum tiba kah?”


“Apakah kalian tidak mempunyai alat teleportasi?” tanya Sirius, sambil terus mengejar dengan bayangan hijau, dan sesekali menendang serta memukul Robot berapi merah darah yang melesat terlalu cepat, dan hampir tak terkejar olehnya.


“Kita memerlukan satu bulan untuk menembus kubah Energy aneh yang mengitari setiap benua,” jawab Jenderal Moran, mengerutkan bibirnya dan terus mencoba menahan Robot di depannya, mengunakan Energy emasnya.


“Hah?! Satu bulan ...?" tanya Sirius tercengang, mendengar Jenderal Moran berbicara hal yang membingungkan. "Maksudmu 150 .Ark?!”


“Kita bahkan tidak akan ada setengah .Ark matahari akan terbenam!!” desak Sirius yang terus mencoba untuk menahan Robot di depannya.


“Hahaha... ada satu kekuatan rahasia Vt327 yang bahkan kami tidak tahu," kata Jenderal Moran, "dan itu disebut mera~!!" yang terpotong, saat melihat [RbX-M2314] semakin cepat menjauhinya dengan bayangan merah darahnya.


Lalu Pria Tua itu melesat cepat dengan bayangan emas, dan dia langsung berada di hadapan wajah besar Robot itu, sambil mengumpulkan Energy emas di kepalan tangan kanannya, yang langsung dia hantamkan ke wajah Robot Besar itu.


¤Whuuss!!¤


Robot sebesar gedung dua puluh lantai menghindari hantaman Energy emas Jenderal Moran, dengan gesit ia melesat ke samping kiri; dan ia langsung melesat menjauhi mereka ber-tiga kembali. Kemudian Energy di kepalan tangan Jenderal Moran menyebar ke segala arah, dan ia pun langsung menghilang.


“Apa?!” Ketiga orang di garis depan tercengang, dan menatap heran, Robot di depan mereka yang menghindari hantaman Energy tersebut dengan mudahnya.


“Dia sangat besar dan kuat. Tapi," gumam Jenderal Moran, terkejut, "juga bisa gesit seperti itu?!” dan dia masih melayang di udara, lalu mengerutkan keningnya, sambil menoleh ke belakang, di mana Robot Besar dengan bayangan merah darah, mengabaikannya, dan terus melesat menjauhinya.


Pria Tua berambut putih itu pun terjun, lalu mendarat di salah satu batu berukuran cukup besar di sekitarnya; dan batu tersebut langsung hancur berkeping-keping, menjadi pijakan Jenderal Moran untuk melesat kembali, dengan petir emas mengitari tubuhnya, dia melesat cepat, berusaha keras mengejar [RbX-M2314] yang terus menjauhinya.

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2