![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Aku ... tadi ... hampir saja ... mati!?
“Aku ...” gumam Sirius yang masih tercengang, melebarkan matanya. Ia mencoba tenang dengan mengatur napas sambil menutup matanya.
Setelah kembali tenang, Sirius menengok ke samping kiri di mana Elk masih berputar-putar di udara, menjauhinya; dia berputar-putar mengkuti arus perisai angin yang telah menghilang di hadapan Pria itu.
Pria muda itu pun melihat lintasan peluru berwarna putih yang melesat ke arah belakang Elk, dan ia pun langsung meledak tak jauh di belakang Wanita itu.
Robekan ‘ruang’ yang mengeluarkan banyak benang tebal Energy putih, langsung melesat ke segala arah kemudian terbentang menjadi lingkaran, seperti jaring laba-laba.
Elk yang terlempar, mendarat tepat di jaring laba-laba tersebut dengan punggungnya menyentuh Energy elastis itu tanpa cedera sedikit pun. Namun, wajah Wanita cantik itu menjadi sangat dingin.
Wanita berambut hitam sebahu itu pun turun ke bawah, dan menginjak pasir yang terhempas Energy angin hijaunya. Dia menunduk dengan tubuhnya bergetar, menahan amarah.
Elk pun menggenggam erat belati di tangan kiri, lalu perlahan retakan kecil terlihat pada bilah tajamnya. Lalu, Wanita itu menatap tajam Batu Besar yang berada sangat jauh di hadapannya.
“Berhenti memanjakanku seperti itu,“ kata Elk, sambil menghempaskan pasir di sekitarnya dengan Energy hijau, yang ia keluar dari tubuhnya. Dia mengambil ancang-ancang, dan menggenggam erat belati di tangan kirinya.
“Bocah sialan!!” teriak Elk yang sangat jengkel, dan dia melempar belatinya sekuat tenaga, dengan lintasan garis hijau yang melesat sangat cepat, menuju tepat ke arah Batu Besar yang berada jauh di depannya.
seruan panik para Penembak Jitu ketakutan di atas Batu Besar: KITA MATI!
Namun, Ruth dengan sigap langsung memeberi perintah, untuk menunduk saat melihat titik hijau yang melesat ke arah mereka semua, “Menunduk!!”
Para Penembak Jitu dan Ruth menunduk ketakutan, kecuali seorang Pemuda dengan sniper yang dia sandangkan pada pundaknya, yang berdiri tegap dan menatap titik hijau yang menghampirinya, sambil tersenyum hangat.
“Hey, Ruen? Kau ... ingin mati!?” desak Ruth yang melihat Ruen dengan kepercayaan diri penuh, menegakan tubuhnya. “Cepat menun—“
Sebelum Ruth menyelesaikan kalimatnya, titik hijau itu menghantam bongkahan batu yang menonjol tepat di bawah kaki Ruen yang berdiri tegak.
Belati itu menembus Batu Besar pijakan Pemuda yang menatap Elk, dengan tatapan hangat. Wanita cantik itu berada jauh di hadapannya, lalu senyum Pemuda itu pun bertambah lebar.
“Aku masih hidup, bukan?” tanya Ruen mengangkat alisnya, dengan senyum lebarnya menoleh ke belakang di mana Ruth berada. “Aku tahu dia tidak membunuhku .... ”
Ruen menggenggam sniper-nya dengan erat.
“Karena aku tidak melihat satu bagianpun dari Wanita cantik di depanku," kata Ruen, menatap Elk yang sangat jauh di depannya, yang Wanita cantik itu menatap balik Pemuda itu dengan tatapan yang bertambah dingin, "yang bermaksud untuk membunuhku.”
__ADS_1
Ruen kemudian menoleh kembali, dan menatap Ruth serta para Penembak Jitu di sekitarnya. “Apa kalian melihat bagian mana dari Elk yang ingin membunuhku?”
“Bagian mana darinya yang tidak mau mengambil nyawamu?!” gumam Ruth tercengang, dan mengedutkan bibirnya.
Semua bagian dari Wanita itu ingin membunuhmu!!
Dari napas sampai pandangannya pun, Elk terlihat sangat jelas ingin membunuhmu!!!
Para Penembak Jitu, Ruth serta Sirius dan Jenderal Moran di garis depan pun menggelengkan kepala mereka, dan menghela napas panjang.
Ruen terkekeh santai dengan percaya diri mengangkat bahu. “Tidak ada, kan?! Hehe....”
“Y—a-aku kehabisan kata-kata ... terserahmu ... lah,” jawab salah satu Penembak Jitu di samping Ruen.
“Kau bisa kembali menyerang, Elk!!” perintah Ruen yang mengalihkan pandangannya kembali kepada Elk, yang jauh di depannya. Dan dia langsung dalam posisi menembak, kembali mengatur batch peluru dan sniper-nya.
“Cih..?! Belatiku meleset!?” decak kesal Elk, mengabaikan Ruen. Dia melesat dengan bayangan hijaunya, menyerang kembali Robot yang terikat oleh listrik ungu. “Tunggu saja bocah." Suara dingin Wanita cantik itu menggema sampai ke kedua sisi penjuru Medan Perang. "Setelah ini aku akan benar-benar ....”
“Aku sudah bilang ... aku juga menantikannya!” seru Ruen, menembakan sniper-nya tepat ke arah roket-roket yang mengarah kepada Elk.
“Kamu!” geram Elk dengan kesal menggigit bibirnya.
Lintasan berbagai warna peluru melesat ke arah Robot berapi merah darah sebesar gedung dua puluh lantai. Robot besar yang ditahan oleh segelintir orang yang tidak lebih besar dari pintu, atau jendela sebuah gedung tersebut.
Robot Besar itu perlahan bergerak, dan menghentikan gelombang roket yang muncul di punggungnya.
Tangan yang sangat terikat oleh listrik ungu di samping badanya, perlahan-lahan bergerak dan terangkat.
“Mesin itu bergerak!” seru Ruth, mengerutkan keningnya saat melihat Robot yang jauh di depannya bergerak. “Bukankah peluru Xy-99 bertahan sampai 15 menit?! Ini bahkan belum ... 2 menit?”
“Oh~ Aku lupa memberi tahu kalian ... Kedua batch peluruku itu hanya prototipe sih ...?!” kata Ruen dengan santai mengangkat alisnya, dan terus menembak. Dia mengganti batch peluru yang sudah habis dengan sangat cepat kemudian langsung melanjutkan menembaki semua roket yang berada jauh di depannya.
“Tentu saja!” gumam Ruth menyentuh dagunya, sambil mengangguk diam, dan menyadari sesuatu.
Tidak mungkin unit sniper-A327 bintang dua seperti Ruen mendapatkan teknologi bintang delapan seperti itu.
“Bahkan Mark yang sudah menjadi unit sniper bintang 5, tidak mempunyai satupun batch peluru bintang 6.” Ruth mengerutkan kening, menatap Ruen di depannya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
“Mark sudah menjadi penembak jitu bintang 5 semuda itu?!” Ruen tercengang, langsung menoleh ke belakang.
“Kalau begitu, aku harus mengambil ujian promosi cepat-cepat,” kata Ruen, sambil menggenggam sniper-nya dengan erat. Kemudian dia lanjut menembaki roket-roket yang jauh di depannya.
“Kau hanya ingin pamer pada Elk, Nak?” tanya salah satu Penembak Jitu tertua di antara mereka. Dia menengok Ruen sambil mengganti batch peluru sniper-nya dengan sangat cepat.
“Tentu saja ...!!” jawab Ruen dengan tegas.
Penembak Jitu paruh baya itu tersenyum misterius. “Kau harus tahu bahwa menjadi Penembak Jitu bintang 3 itu sangat sulit ....”
“Ya ... aku tahu itu!” Ruen mengerucutkan bibirnya. “Tapi aku ... tidak akan menyerah, untuk mendapatkan hati Elk!!”
Suara teriakan Ruen mengiringi terputusnya listrik-listrik ungu yang mengikat Robot sebesar gedung dua puluh lantai di hadapan Pemuda itu.
Robot dengan setengah wajah hancur itu langsung melesat dengan bayangan merah darah, menuju ke arah di mana Mark dan Pintu Dalam berada.
“Cih ... bocah bodoh itu harus benar-benar aku beri pelajaran ...” gerutu Elk, menggertakan giginya dan langsung melesat, mengejar Robot Besar.
“Hey, Bocah ...! Bukankah kamu mempunyai satu peluru lagi?!” tanya Elk yang terus mengejar Robot di depannya dengan geram.
Ruen terlalu kegirangan, Elk yang tidak lain adalah cinta pertamanya, yang untuk pertama kali Wanita cantik itu bertanya padanya. “Siap! Aku akan segera menembak ...!!” Lalu Ruen dengan semangat, langsung mengganti batch peluru sniper-nya dengan batch [Xy-99] {bullet}. Dia menggantinya dengan cepat.
Tetapi, Pemuda tampan berambut silver itu terlalu bersemangat, sehingga dia lupa memperhitungkan jarak, jangkauan serta arah angin wilayah objek yang akan ditembaknya.
Lintasan peluru melesat di belakang bayangan merah darah Robot Besar yang terus maju bahkan tidak repot untuk menghindar.
“Kau mati ... Ruen!” seru Ruth dengan panik, mundur selangkah ketakutan.
“Huh!? Tembakanku meleset?” Ruen mengerutkan kening.
“Tentu saja kau meleset," teriak Elk, sangat jengkel menggertakan giginya, dan mengejar Robot di depannya, dangan lesatan tubuh Wanita itu dibaluti bayangan hijau. "Cih!”
“Aku akan benar-benar akan mencincangmu, Bocah ....” gerutu Elk dengan susah payah mengejar, bersama Sirius dan Jenderal Moran yang mencoba dengan segala cara, menghentikan Robot Besar di depan mereka.
[RbX-M2314] melesat sangat cepat, menuju ke tempat Medan Perang di mana Mark berada, dan Robot Besar itu tak jauh lagi mendekati wilayah Pintu Dalam.
Di hadapan Robot Besar itu adalah lorong di mana batalion dan Komandan Prajurit pertahanan, serta Mark yang terus melindungi Jendral Sez. juga pintu dalam [A327].
__ADS_1
¤¤¤