Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-72] Bala Bantuan?


__ADS_3

Komandan Pria paruh baya musuh mengerutkan kening―ia menyadari ada sesuatu yang salah. Tetapi ia terus


menyambarkan Energy-Thunder-nya, dan berkata, “Kau masih saja mengganggu,” ia kemudian menitikberatkan Energy pada kedua tangannya, yang ia langsung satukan kembali kedua telapak tangannya itu di depannya, “Wanita sialan.”


*


Jenderal Sez. yang menyelamatkan prajurit-prajuritnya; serta prajurit Wanita Unit Pugulister, menggunakan Energy-shield berwarna biru, disertai kobaran api biru gelap, terlihat ia akan padam kapan saja.


“Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, huh ....” gumam Jenderal Sez.


Wanita cantik mengenakan kacamata bulat itu terengah-engah, sambil tangan kanannya merepalkan tinju erat ke depannya; dengan seluruh lengan kanannya pun dibaluti oleh Energy kobaran api biru.


Dan Jenderal Sez. terus menahan Energy-Thunder dengan Priasai Energy birunya, tanpa jeda satu napas pun. Meski dia sangat kelelahan, dengan keringat bercucuran dan air mata menggenang di balik kacamata bulatnya, menahan rasa kesakitan. Wanita cantik itu tidak menunjukan sedikit pun rasa ingin menyerah.


*


Prajurit-prajurit pertahanan tersisa, serta prajurit Wanita Unit Pugulister, yang mereka semua terus menyerang Komandan Pria paruh baya.


“Terus serang!” seru salah satu Komandan Wanita Unit Pugulister. Lalu dia menginjak Energy-shield di depannya yang sedang melesat terbang, dan Wanita tersebut langsung menginjak Energy-shield itu, untuk menjadi pijakannya, dan kemudian dia terjun ke bawah.


Diikuti pajurit-prajurit Wanita lainnya terjun ke berbagai arah, dengan Jenderal Sez. berada cukup jauh dari mereka, yang dia terus melindungi mereka dengan Energy-shield berapi birunya.


Energy berbentuk petir terus menyambar, dengan titik pusat tubuh Komandan Pria paruh baya musuh mereka. Sambaran petir ungu yang terus menjadi cepat, serta desisan listrik menggema di udara, dan cahaya ungu menyilaukan medan perang pertahanan.


**


Di dalam hutan rimbun dengan Pohonan, serta rerumputan berbagai ukuran. Para penembak jitu serta Elk dan Litz. yang tersebar, dan bertengger di dahan Pohon cukup besar.


Wanita cantik berambut hitam sebahu, yang berada di Pohon pailng depan, sedang berdiri tegap di ujung tertinggi Pohon, sambil menatap tajam badai salju terus membekukan apapun yang dilaluinya.


“Ada yang tidak beres, di sana,” kata Elk mengertukan kening, menatap ke depan.


Sayatan demi sayatan bercahaya putih, dengan lintasan sayatan itu cukup besar yang berada di dalam ganasnya badai salju, dan disertai kristal-kristal biru mengitari sayatan tersebut, seolah ia sedang menyerang sesuatu.


Di sisi barat badai salju yang terus menyebar, muncul cahaya ungu terang sampai-sampai menembus ganasnya badai salju.

__ADS_1


Sambil menatap cahaya ungu terang yang jauh di depannya, Litz. bertanya, “Tidak beres apanya?”


“Pria bodoh itu ... mungkin sudah mati,” jawab Elk, sambil mengerutkan keningnya semakin dalam.


Seorang Pria dengan gogglescope di lehernya, melompat ke atas dan bertengger di dahan Pohon, dan berkata, “Kupikir tidak.”


Dengan salju yang membumbung tinggi ke atas langit, seekor Monster ungu tiba-tiba muncul di atasnya; Sirius yang muncul tiba-tiba, langsung di serang lintasan sayatan dengan sangat cepat, dan Monster ungu itu langsung menghilang kembali.


Elk berdecak kagum, dan berkata “Sial, ia sangat cepat,” dia mengerutkan kening, menatap tajam bayangan Monster ungu yang termakan linatasan sayatan berwarna putih. “Seperti kecoak.”


“Mmm.... Tidak ada yang menyangka, serangga menjijikan itu masih hidup di Era ini,” kata Ruen, yang berada di bawah Elk.


“Menjijikan?” tanya Gadis manis, sedang berdengger di ujung Pohon tertinggi, sambil menatap heran Pemuda berambut silver di bawahnya. “Kupikir mereka lucu.” Dia tersenyum manis, sambil menyentuh dagunya.


“...!?” Semua orang di sekitar Litz. terkejut, dan langsung mengalihkan pandangannya kepada Gadis manis itu.


Lalu hening cukup lama, dan mereka semua melebarkan mata mereka, menatap Gadis manis yang sedang membayangkan keimutan sesuatu. Sampai, keheningan tersebut pecah saat alat komunikasi Mark dan Ruth, serta Elk yang berkata; dengan ketikan perkata muncul menyertainya, pada panel window di sudut kiri atas Wanita itu: {Maaf membuat kalian menunggu ....}


“Bala bantuan?!” gumam Ruth dan Mark, dengan serempak.


Semua orang yang bertengger di dahan Pohon, mengalikan pandangan mereka kepada panel biru milik Mark dan Ruth.


“Kita harus menjauh dari sini,” kata Mark yang membalikan badan ke arah utara, dan langsung melompat.


“Ok!” seru semua orang dengan serempak.


“Tapi ... dimana Lelaki berkulit hitam dan berkepala plontos,” kata Ruen, sambil membereskan sniper serta amunisinya, “yang tertawa aneh,” dan dia menyentuh dagu, mengingat sesuatu, “bernama Jego itu ...?”


Dengan para penembak jitu langsung membereskan peralatan dan amunisinya, yang dibantu oleh Ruth. Mereka semua pun langsung mengikuti Mark.


**


Terus berada di dalam ganasnya badai salju; dengan aning kencang terus menghempas puing-puing dan bongkahan es serta salju di sekitarnya. Sirius sedang dalam posisi bertarung, sambil terus menyebarkan Energy berwarna ungu ke sekitarnya―mencoba untuk mencari posisi Monster es.


Namun, berapakalipun Monster ungu itu menyebarkan Energy-nya, ia tidak bisa menjangkau Monster es, yang seolah-olah tubuh Alta itu sepenuhnya menyatu dengan ganasnya badai salju.

__ADS_1


“Apa!?” seru Sirius tercengang, melebarkan matanya. Kemudian Monster ungu itu menggertakan giginya, dan lanjut bergumam, “Tidak ada cara lain, kah?” lalu ia menatap tajam celah tipis ‘ruang’ yang dibuat Alta, yang ‘ruang’ tersebut terus mengeluarkan angin kecang dengan salju menyertainya.


Suara Monster es langsung terdengar, menggema di sekitar Sirius, “Kau ingin mengancurkan itu?”


“Bermimpilah!” seru Monster es itu, dengan sayatan bercahaya putih; disertai kristal-kristal biru yang menyertai lintasan sayatan tersebut langsung menyerang Sirius.


Monster ungu itu terkekeh santai, dan berkata, “Apa ayahmu itu tidak takut,” Jenderal Bors menyerang kalian dari belakang?” lalu tubuh Sirius muncul tidak jauh dari bekas serangan sayatan Alta.


Tetapi, tepat saat gema suara Monster ungu itu menghilang, ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya.


Aku melambat?!


“Kau baru menyadarinya,” kata Monster es, dengan nada monster, “Pria bodoh.” Kemudian ia menyerang Sirius kembali, dengan sayatan-sayatan yang membab!-buta menyerang Monster ungu itu.


Monster ungu dengan mudahnya menghindari semua serangan Alta. “Dan .... Aku juga tahu, bahwa Jenderal Son ... pasi sudah menguasai salah satu wilayah Planet bernama Bumi. Kenapa kamu tidak―” kata Sirius terpotong oleh suara tawa menjengkelkan yang sangat mengganggu, menggema di dalam ganasnya deru badai salju, “Hahaha..... Gahahaa, ahaha-hahaha.”


“Suara siapa itu!?” seru kedua Monster dengan serempak, dengan dilanjutkan suara gema Monster es di udara menggerutu, “Sialan ... Pria bodoh itu lagi?!”


“Kau mati! Ternak bodoh!!” Monster es itu mengeram, sambil menyerang dengan sayatan Sword Ice-nya, ke asal suara tawa Pria itu.


*Sss!!*


Namun, suara tawa itu masih terus menggema; yang ia terus mengiringi suara pembekuan sayatan Sword Ice Alta, “Hahaha..... Gaha, ahaha-hahaha ....”


“Cih ....” Monster es itu berdecak kesal, dan Alta pun menyerang Sirius kembali.


Menghindari serangan Alta dengan mudahnya, Sirius tersenyum dan berkata, “Oh ya, aku lupa memberitahumu. Sasha memberiku pesan ....”


Lalu, Monster es itu perlahan menampakan dirinya, melayang di udara dengan kristal-kiristal es mengitari tubuhnya; tubuh Alta yang menjadi seperti uap putih, yang ia mengambang di udara. “Apa?! Dimana alat itu? Alat untuknya memberimu pesan.” desak Monster es itu, sambil mengerutkan keningnya, dengan mata penuh harap, lanjut berkata, “Cepat berikan alat itu padaku!”


“Sudah kuhancurkan, membuat [sr-00],” kata Sirius dengan, sambil mengedutkan bibirnya. Kemudian ia menyeringai lebar dengan gigi tajam berbentuk gergajinya, lanjut berkata, “Tapi gagal untuk meledakan Robot bangsawan itu


“Kau juga lihat, kan? Pada awal pertempuran kita ...” tambah Sirius, sambil melambaikan ekornya secara acuh, “ledakan besar yang membuat kerusakan, sampai satu jut―” potong Monster ungu itu sambil melebarkan matanya, dan lanjut berkata, “Sampai-sampai menghancurkan tanah dengan diameter sangat besar.” Kemudian, Sirius menaikan sudut bibirnya.


“Kau ....” kata Monster ungu itu mengeram. “Bodoh ...!!” Sambil merepalkan rahangnya sangat jengah, ia pun menoleh ke arah pintu zero yang telah hancur.

__ADS_1


Namun, Sirius mengabaikan amarah Alta, dan dengan santainya ia berkata, “Yah ... kupikir alat itu sudah menjadi abu.” Kemudian ia merentangkan lengannya, sambil lanjut berkata dengan nada monster sepenuhnya; dengan suara parau Sirius meggema; serta mengiringi suara deru ganasnya badai salju, “Kenapa kau tidak bergabung denganku? Kita pasti akan menemukan,” dengan menyeringai lebar gigi tajam berbentuk gergajinya, Sirius pun lanjut berkata, “Sasha.”


***


__ADS_2