![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Sudah kuduga―ini tidak akan berakhir cepat, huh,” desah Mark, menggelengkan kepalanya.
Lalu Pria dengan gogglescope di lehernya itu berjalan ke depan, diikuti Elk, Litz. juga Ruth, dan penembak jitu lainnya beristirahat.
Kemudian, Pemuda berambut silver yang berjalan berdampingan dengan Mark, bertanya, “Kita langsung membantu Jego?” dan dia menoleh ke belakang, di mana badai salju mulai berhenti.
“Kau ingin mati, hah?” tanya balik Mark, melirik ke samping, sambil mengangkat dagunya―ia seperti melihat orang bodoh.
Namun, Pria bermata merah darah itu kemudian berkata, “Oh, ya, kau Elemen es, kan? Sama tidak bergunanya denganku di Unit ini.” Pria itu mengankat bahu sambil mengedutkan bibirnya.
“Dia kan rekanmu! Mark,” desak Ruen kepada Mark, “dan kau juga Elk ...!!” lalu dia mengalihkan padangannya kepada Wanita cantik di sampingnya yang terhalang oleh tubuh Mark.
“Siapa yang kau sebut rekan?” tukas Elk dengan nada sinis, dan menyipitkan mata hijaunya, menatap tajam Pemuda berambut silver itu.
“Sudah kubilang,” bantah Mark, “si botak itu bukan rekanku!”
Kemudian Pria mengenakan kaos putih itu tiba-tiba tersenyum tipis, dan berkata, “Wanita itu!” Mark menujuk ke depan. “Bisa kau sebut ... sebagai rekanku.”
Para penembak jitu serta orang-orang di sekitar Mark menghentingkan langkahnya. Dan di hadapan mereka semua, terdapat gumpalan hitam disertai pernak-pernik putih bersinar, seperti langit malam berbintang.
Gumpalan hitam itu perlahan menghilang, menampakan sosok Wanita bertubuh menggoda mengenakan jaket oranye, dan dia menyandangkan sebuah tongkat panjang berwarna hitam secara diagonal; dengan tongkat hitam tersebut lebih tinggi dari tinggi tubuhnya―tongkat hitam seperti tongkat pramuka.
Wanita itu tinggi semampai bak seorang model.
Wanita dengan tubuh sangat menggoda itu keluar dari gumpalan hitam, dan melangkah dengan langkah lebar menuju ke arah Mark, sambil berseru, “Oh,” dia mengangkat tangannya―menyapa, “kau juga disini ternyata,” dan Wanita itu tersenyum lebar, sambil menjilat bibirnya, menatap tajam Wanita cantik berambut hitam sebahu, “Elk!”
Lalu, keluar juga seorang Wanita berpostur anggun dan berkulit putih, seputih salju yang sangat mulus. Tetapi Wanita yang berjalan berdampingan dengan Wanita berkulit kuning langsat menggoda itu, berwajah dingin dan mata putihnya terus terpaku pada Pria bermata merah darah dihadapannya.
Kemudian dia menatap tajam badai salju di belakang para penembak jitu, dan Wanita anggun itu kembali menatap Mark, sambil berkata, “Sun, aku akan langsung membantu Sez. dan Jenderal Moran.”
Mengenakan jaket putih, dan pakaian serba putih, dengan kulit tanpa cacat sedikit pun, dan postur tubuh sangat anggun, Wanita itu langsung melesat meninggalkan rekannya yang berseru, “Hey―kita ....”
Wanita anggun itu merepalkan rahangnya, sambil melesat terbang di udara―seperti dia sangat jengah saat melihat Pria bermata merah darah―yang ia terus menatapnya. Lalu dia mengabaikan rekan Wanitanya―juga Mark, dan langsung mempercepat lesatan terbangnya, dengan Energy Ice mengitari tubuhnya; berupa kabut salju mengitari tubuh bagian bawahnya.
__ADS_1
Mark berdecak kagum menatap Wanita anggun yang melesat di atasnya, sambil menolehkan tubuhnya, “Hebat .... Wanita itu sama sekali tidak berubah,” dan ia mengalihkan pandangannya kepada Wanita bertubuh menggoda di depannya, lanjut berkata, “Dan, apakah Wanita menawan di hadapanku ini tidak berubah, kan?” dengan seringai lebar di wajah tampannya, sambil merentangkan lengannya, seperti ia menunggu pelukan.
Wanita bertubuh menggoda itu juga merentangan lengannya, berjalan kedepan Mark, dan berkata, “Tentu saja, tidak."
Prajurit-prajurit batalionnya berduyun-duyun keluar dari gumpalan hitam yang sepenuhnya telah menghilang.
Elk mengatupkan tinjunya, dengan tubuh Wanita itu sedikit membungkuk―dia sedang memberi hormat. Dia berada di belakang Pria dengan sandangan sniper di punggunya, berkata, “Kak Sun, sudah lama.”
Sunarsih langsung berlari, melewati Mark di hadapannya―yang ia tiba-tiba tertegun, dan Wanita bertubuh menggoda itu pun langsung memeluk Elk dengan erat.
Wanita berambut hitam sebahu yang dipeluk Sunarsih, tercengang dan berkata dengan nada lirih, “Kakak senior?”
“Ng....” Sunarsih menenggelamkan mukanya di bahu Elk. Kemudian Wanita bertubuh menggoda itu bertanya, “Kalian ber-dua sudah menikah?” sambil mendekatkan mukanya, ke muka Wanita cantik bermata hijau di depannya.
“Ap―a-apa!?” kata Elk terbata-bata, dengan wajah cantiknya memerah yang langsung dia palingkan ke samping, menatap Litz. yang cemberut.
“Hei!” seru Gadis manis itu, sambil mengerutkan keningnya, dan lanjut bertanya, “Kapan kalian menikah?”
“Itu―Aku, a-aku ....” Elk gelagapan, sambil menundukkan kepalanya―dia sangat gugup.
Pria dengan gogglescope di leher, yang mendengar percakapan kedua Wanita itu, berseru, “Hey, h-hey-hey―Hey!” sambil mencoba untuk memisahkan mereka ber-dua, ia lanjut berteriak, “Stop disitu!!”
Mark menujuk Gadis manis di sampingnya.
“Kalian tidak melihat, ada Gadis kecil disini?” bisik Mark.
“Siapa yang kamu sebut Gadis kecil?!” bantah Litz. sambil mengerutkan keningnya, lalu Gadis manis berambut dikucir kuda itu merenung, dan bergumam, “Tapi tadi itu ide yang sangat bagus!”
“Hey!” seru Mark ketakutan, dan mundur beberapa langkah.
“Oh! Siapa manis ini?” tanya Sunarsih, menatap Gadis manis di sampingnya. Dia langsung tercengang berkata, “Sez. mengecil!?”
Gadis manis itu menatap Sunarsih. “Aku adiknya.”
__ADS_1
“Bisa ajarkan aku, nggak, Kak?” tanya Litz. dengan tatapan penuh harap.
Sunarsih mendekati Gadis manis itu, dengan langkah yang menggoda, sambil menjilat bibirnya, berkata, “Itu mudah―”
“Oke.” Mark menyela sambil melirik ke arah utara; ke pintu bagian dalam yang perlahan terbuka, “Kita harus benar-benar stop candaan berbahaya seperti ini.”
“Tapi―” kata Sunarsih dengan nada menggoda.
Tetapi Mark mengabaikannya. Ia berwajah serius, dan mengerutkan keningnya, berkata, “Kita kedatangan tamu,” Pria itu menoleh, sambil menatap tajam dua Pria berpakaian hijau, datang menghampirinya, “yang tidak diundang.”
*
Esih melesat di udara, dengan setengah tubuh anggun bagian bawahnya yang dibaluti kabut es. Dia menolehkan kepalanya, menatap tajam Pria mengenakan gogglescope di leher, di bawahnya.
“Pria itu sama sekali tidak berubah, cih ....” Dia menggigit bibir bawahnya, lanjut bergumam, “Apa kau masih menyukai, Sez?” lalu Wanita anggun itu langsung mempercepat lesatan terbangnya, dan menatap tajam ke depan, sambil menerjang ganasnya badai salju.
Seluruh tubuh Esih langsung menyatu dengan ganasnya badai salju. Tetapi dia sama sekali tidak merasakan hawa dingin berasal dari angin kencang yang berada cukup jauh di sampingnya.
Wanita anggun itu mengerutkan kening, menyadari ada sesuatu yang salah.
Apa ini?!
“Kenapa "data" Rep ada di sini?” gumam Esih yang tercengang, sambil melebarkan mata putihnya, menatap ‘ruang’ tipis yang dilindungi Alta, tetapi satu cannon berwarna ungu melesat ke arah ‘ruang’ tersebut.
***
{N/A: Yap, tulisanku tambah aneh. Tetapi, jelas yang ada diingatanku, pada waktu aku SMP, aku inget Guru bhs. inggris yang kebingunan dengan suatu pertanyaan “The artnya apa, Pak?” yang dia menjawab; intinya yang kumengerti: “Itu juga bisa berarti The”}
{Jika kujabarkan seperti: “Kemesuman itu ialah bagian dari peradaban ....”} {Walaupun ‘Aku’ bukan orang mesum, tapi “The Ero it’s ....”}
{Atau “Itu benar! Tapi ...."} {“Thats right! But?"}
{Aku tahu mungkin aku salah?! Yah ... aku kurang bisa nyusun kata inggris sih}
__ADS_1
{Namun, jika pake “itu Wanita cantik berlari ....” maupun “itu”-nya diilangin gakkan enak dibaca―Olehku, tentu saja .... Bukan ‘Aku’ yang ada di sana}
{Sebab ‘Aku’ yang berada di sana nggakkan bisa revisi cerita perangku, Hohoho.... ^Kedip-kedip^}