![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
"Bocah," kata Elk dengan nada dingin.
“Siapa namamu? Ruen!? Akan kuingat itu," ancam Elk, "tunggu!”
“Aku akan benar-benar menunggumu! Sungguh ..." balas Ruen, mengarahkan sniper-nya ke arah samping bayangan Robot merah darah, sebesar gedung dua puluh lantai dengan kilatan listrik biru di kepalanya.
Pemuda berambut silver itu langsung menembak dengan perhitungannya sendiri. Kemudian lintasan peluru berwarna ungu; dengan kilatan listrik ungu mengitari lintasan tersebut, melesat cepat ke arah [RbX-M2314] yang cukup jauh di hadapan Ruen.
Lintasan peluru yang melesat tersebut terlihat oleh semua orang di Medan Perang, dengan peluru yang berada di depan lintasan, semakin mempercepat lajunya.
Penembak Jitu di samping Ruen mendekat, dan menepuk bahunya sambil tersenyum hangat. “Kami mendukungmu Ruen ... Berhasilah! Pastikan untuk mendapatkan Elk ... Semangat!” diikuti para Penembak Jitu di belakangnnya menatap Ruen, dan memberi semangat.
Jadi ... Wanita itu akan benar-benar akan melupakan akan kita.
Tanpa menyadari apa yang dipikirkan para Penembak Jitu, Ruen berkata dengan penuh semangat dan tekad kuat, “Siap! Pasti aku akan mendapatkan hatinya.” Ruen tersenyum lebar, sambil menepuk dadanya sendiri.
“Apa kau benar-benar serius, Ruen?!” tanya Ruth yang masih tercengang dengan tekad Ruen.
Ruen berkata sambil mengalihkan pandangannya, “Tentu saja. Aku tidak pernah melihat Wanita secantik Elk.” Dan dia melihat lintasan peluru yang dia tembakan, semakin mendekati bayangan berwarna merah darah sangat jauh di depannya.
“Huh ... jadi seperti itu,” Ruth menghela napas panjang, melihat tekad teman barunya yang sudah sangat kuat, terlihat di mata biru lautnya.
“Tapi, kau harus hati-hati ...!” tergas Ruth, mengerutkan kening. “Kamu bisa benar-benar mati di tangannya, kau tahu?”
Ruth menatap Pemuda penuh tekad, dan menepuk bahunya mengingatkan.
“Aku sudah tahu itu ... sungguh,” jawab Ruen menutup mata sambil menggelengkan kelapanya, menunjukkan bahwa dia sangat mengerti. “Tidak apa aku mati di tangan Wanita yang kucintai.”
__ADS_1
Ruen merepalkan tinjunya dan menatap tajam Ruth berada di hadapannya dengan mata biru memancar terang penuh akan tekad kuat.
“Aku percaya dia tidak akan membunuhku. Entah dari mana rasa percaya ini berasal ... tapi,” kata Ruen, menatap kebawah, “aku sangat percaya!”
Ruen tersenyum hangat sambil menatap bayangan hijau seorang Wanita, sedang mencoba bersusah payah untuk menahan Robot sebesar gedung dua puluh lantai yang jauh darinya. Lalu semua orang menatap lintasan peluru mengarah kepada Robot tersebut.
Lintasan peluru di atas semua orang melesat, dan tepat mengenai mata kiri Robot yang telah hangus. Bayangan merah darah mengitari Robot tersebut menghilang Diikuti robeknya ‘ruang’ keluar dari mata hangusnya.
[RbX-M2314] di hadapan semua orang tiba-tiba berhenti dengan kilatan listrik ungu keluar dari dalam ‘ruang’ di dalam mata hangusnya, dan perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya; serta ia langsung mengikat seluruh tubuhnya dengan sangat erat.
“Aku benar-benar percaya perasaan ini tidaklah bohong,” gumam Ruen, menatap [RbX-M2314] cukup jauh di depannya yang tidak bisa bergerak sedikit pun.
Elk, Jenderal Moran dan Sirius langsung menyerang dengan formasi dan pola yang sama. Kemudian kilatan emas serta hijau terus menghantam Robot yang terikat listrik ungu tersebut.
“Siapa bocah itu sebenarnya?!” gumam Elk, mengerutkan kening, menatap tajam Pemuda yang menembakan peluru, mengikat Robot yang sedang diserangnya.
“Itu aku!! Ruen,” teriak Ruen, tersenyum lebar, dan dengan bangga dia berdiri dan menujuk dirinya sendiri, "yang menembakan itu! Hebat, bukan?"
“Hehe....” Ruen hanya terkekeh santai, menggaruk belakang kepalanya, merasa senang dipuji oleh Elk yang jauh di depannya.
Meski Elk menatap Pemuda berambut silver itu dengan tatapan dingin, Ruen melihat mata hijau terangnya yang indah merasa tenang. Seakan-akan dia bisa menembak dengan akurasi seribu persen tepat sasaran sekali lagi.
“Hey ... sungguh Ruen, kenapa kau terihat begitu senang? Dia menatapmu ....” Ruth berada di samping Ruen yang terlihat berseri-seri sambil menggenggam sniper-nya dengan erat. “Seolah dia akan memakanmu hidup-hidup!!”
Ruth menggigil ketakutan melihat tatapan dingin Elk; meskipun tatapannya tertuju pada Ruen di sampingnya.
“Tidak apa dia memakanku. Apabila dia kembali menjadi dirinya sendiripun ....” jawab Ruen yang mengganti batch pelurunya, menggunakan peluru normalnya kembali.
__ADS_1
Lalu para Penembak Jitu lainnya bersiap menembak, dan berkonsentrasi, sambil menempelkan mata kanan ataupun kiri mereka pada scope sniper mereka. Mereka semua serius kembali, karena di hadapan mereka semua terdengar dengungan keras pada punggung Robot sebesar gedung dua puluh lantai, yang menandakan akan ada gelombang roket-roket berikutnya.
“Aku tetap menyukainya.” Ruen menggenggam sniper-nya dengan erat. Kemudian menahan napasnya, melihat seorang Wanita yang disukainya dengan mata kiri pada scope sniper-nya.
Suara lesatan roket-roket berhamburan ke segala arah, terdengar ke kedua sisi penjuru Medan Perang. Ruen langsung menembaki semua roket yang menghampiri Elk dengan akurasi lebih dari seratus persen.
“Cih ... Kenapa aku jadi sangat jengkel seperti ini,” gumam Elk, mengertukan keningnya. Namun, dia tetap menyerang, melesat dengan bayangan hijau mengitari seluruh tubuhnya.
Menggunakan belati hijau yang diselumuti putaran Energy sangat cepat, Elk menusuk tepat di mata biru Robot yang disertai kilatan listrik menyambar ke segala arah. “Padahal aku sangat mudah menyerang benda bodoh ini ...!!”
Elk melepaskan belati dari mata Robot tersebut kemudian terjun ke bawah, dan merilik ke atas Batu Besar di samping kanannya. Dia melihat Ruen mengankat tangan kirinya memberi kode ‘ok’, yang berarti situasi masih terkendali.
“Mengapa bocah itu terasa sangat mengganggu?” gerutu Elk, mengerutkan bibirnya, dan kemudian melanjutkan serangannya lagi.
Gelombang demi gelombang roket terus muncul dari punggung Robot berwajah setengah hancur sangat besar berwarna merah darah, dengan ketiga orang di garis depan terus menyerang tanpa henti yang hanya bertujuan untuk menahannya.
Satu roket melesat ke arah Elk dan meledak tepat di wajahnya. Asap putih yang mengembung di sekitarnya diiringi dentuman keras tendangan samping Elk tepat di wajah besar Robot.
Wanita itu langsung melesat terjun ke bawah dengan pijakan wajah Robot di hadapannya ke arah Sirius, yang tanpa Elk sadari. Dia terjun langsung melesat seakan dia akan menginjak wajah Sirius dengan kaki kirinya, yang dia dimaksudkan untuk pijakan sementara. Namun, malah menyerang tepat ke arah wajah Pria itu.
Dengan kecepatan penuh disertai bayangan hijau pada kaki kiri Elk, seperti tendangan depan menuju tepat ke arah wajah Sirius.
Sebelum kaki kiri Elk tersebut mencapai 10 meter di wajah Sirius, sebuah lintasan peluru hijau melesat dari arah Batu Besar dan meledak tepat di hadapan Sirius.
Robenkan ‘ruang’ yang langsung mengeluarkan putaran angin perisai yang tepat di hadapan wajah Sirius, dan menahan serangan kuat Wanita dibaluti bayangan hijau.
Kejadian itu sangat cepat sehingga Penembak Jitu, Ruth dan Jenderal Moran pun tercengang.
__ADS_1
“Huh ...?!” gumam Sirius, melebarkan matanya, menatap kosong kedepan, di mana perisai putaran angin hijau menghembus, dan tercerai-berai, menghilang ke segala arah. Lalu hembusan salah satu sayatan angin yang menyentuh wajah Pria itu.
¤¤¤