Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0

Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-25] Pendekar!


__ADS_3

Pemuda bermata berwarna biru laut, berambut silver dan kulit seputih es, menatap bingung para Penembak Jitu di depannya dan berkata, “Tentu saja, bukan .... Aku berasal dari benua 3.”


“Benua ...3!? Medan Perang hamparan es," kata Ruth, tercengang dan melebarkan matanya, "dan salju itu?!”


“Benua 3 itu ... Garis Depan Medan Perang, umat manusia, kan?” tanya seorang Penembak Jitu yang tak jauh dari mereka ber-dua.


Ruen menjawab dengan santai, “Ya. Tiga bulan lalu, aku dipindah tugaskan ke Benua 4 ini.”


Ruth masih tercengang, dan berusaha keras untuk mencerna informasi yang di terimanya, sambil mengerutkan kening, memikirkan sesuatu.


“Semua Garis Depan Medan Perang sedang dalam keadaan genting, kan?" tanya Ruth, sambil menatap tajam Pemuda berambut silver di depannya. "Kenapa kau ada di sini?!”


Ruen hanya tersenyum santai. “Yah~ Siapa yang tahu ...?”


“Aku hanya mengikuti perintah atasan ....” Pemuda berkulit es di hadapan Ruth, tersenyum misterius.


"...?!" Semua orang di atas Batu Besar menatap Ruen dengan tatapan curiga.


Saat hening di atas Batu Besar, seorang Penembak Jitu melihat ke arah di mana tabrakan Energy besar sedang terjadi cukup lama.


“Lihat! Jenderal Moran terdorong mundur!!” seru seorang Penembak Jitu itu. Dia berjuang keras, untuk menujuk ke arah tabrakan Energy emas dan Energy merah darah, yang sangat jauh di depannya.


Jenderal Moran dengan seluruh kekuatannya, berjuang keras untuk mendorong serangan laser berapi merah darah di hadapannya.


Namun, [RbX-M2314] mengeluarkan Energy intinya, bukan menggunakan out enegy dari matahari dengan bantuan teknologi senapan besar berwarna silver di punggungnya, yang ia akan mudah diganggu.


Semua orang di Medan Perang melihat Kepalan Tangan berapi emas yang melayang di udara, sambil menahan cannon serangan Robot Besar. Namun, ia sedikit demi sedikit mundur ke arah Batu Besar. Dan Jenderal Moran pun tedorong mundur dengan cepat, dan menghempaskan seluruh pasir di sekitarnya.


“Hey, Ruth!?" tanya Ruen sekali lagi. "Apa kita benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa di sini? “


Ruen menggenggam erat batch peluru sniper terlemahnya: [S0-25], sambil tersenyum percaya diri menatap Ruth. “Kita masih bisa menggunakan batch peluru terlemah!”


“Apa kau bod—“ bentak seorang Penembak Jitu di sampingnya, terpotong oleh semua orang yang bersusah payah mengangkat tangan mereka—sambil tersenyum misterius, dan Ruth berkata, “Kamu bisa mencobanya!” dia menatap Ruen di depannya dengan tatapan serius.


“Oke~ ...!” Ruen langsung mengganti batch pelurunya dengan sangat cepat, dan dia langsung menembakannya. Lalu lintasan peluru berwarna oranye yang mengitari Gelombang tabrakan dua Energy besar jauh di depannya.


¤dor!!!¤


“Dia benar-benar .... Jenius ...! Fttth!!" gumam semua orang, lalu mereka semua menahan tawa, mengasihani Ruen. "Hahaha...."


Suara gema tembakan sniper Ruen, diiringi oleh suara teriakan Wanita yang terdengar sangat marah. Seolah-olah dia akan membunuh seseorang kapan saja, “Hey! Pria bodoh mana yang menembakkan itu!!”


Elk kembali berteriak dengan amarah berapi-api. “Kamu berani menghamburkan amunisi seperti itu!?"

__ADS_1


“Kau pikir perang ini akan cepat selesai, hah?" tanya Elk, mengerutkan kening, sambil merepalkan rahangnya.


“Sial?! Kenapa Elk marah? Aku hanya ingin membantu ...” bantah Ruen menengok ke samping melihat semua orang di batu besar itu tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha....”


“Dia benar-benar bodoh ...” Ruth menggelengkan kepalanya, sambil berusaha keras menahan tawa.


“Ruen yang menembak! Dia menggunakan batch peluru, dan memperhitungkannya sendiri ....” teriak seorang Penembak Jitu.


Teriakan Penembak Jitu lainnya dengan serempak, “Sungguh!!”


“Ruen ...?!” gumam Elk. “Ruen dan Mark!! Tunggu saja!”


Suara Elk yang sangat dingin menggema ke kedua sisi punjuru Medan Perang.


“Kenapa aku sendiri yang mati?!” kata Ruen, menatap para Penembak jitu, dengan wajah gelap, ketakutan.


“Ruen ... cobalah lihat ke depanmu!” pinta Ruth, melihat lintasan peluru oranye di depannya.


“Huh?!” Ruen mengikuti pandangan Ruth, dan dia melihat lintasan peluru yang ditembaknya.


Semua orang di Medan Perang melihat dengan jelas, lintasan peluru oranye yang mengitari dua tabrakan Gelombang Energy, dan melesat sangat cepat, mengarah tepat menuju kepala besar Robot di hadapannya.


Saat peluru tersebut berada di 1 mil jauhnya dari Robot bermata biru itu, peluru tersebut lenyap termakan Gelombang Energy yang tak terlihat.


“Aku mengerti sekarang." kata Ruen dengan tubuhnya bergetar ketakutan, sambil menoleh, menatap Ruth yang di belakangnya perlahan. "Tapi ...."


Ruen bersusah payah menunjukkan wajah pucatnya. Seolah-olah tidak ada jiwa di dalam tubuhnya, dan lanjut berkata, “Apa aku benar akan mati?! Ruth ...?” lalu air mata pun menggenang di wajah Pemuda bermata biru laut itu.


“Tentu!!!” tegas semua Penembak Jitu di sekitar Ruen, sambil tersenyum lebar. “Dan terimakasih atas pengorbanan nyawamu juga. Elk jadi melupakan kita.”


Mereka kemudian berdo'a lagi dengan sunguh-sungguh. “Jasa, pengorbanan kalian ber-dua akan kami kenang selamannya ... sungguh.”


“Aku tidak mau mati,” tukas Ruen mulai menangis.


“Jika seperti itu," saran Ruth, sambil menatap santai Ruen, "kenapa kamu tidak menghubungi saudaramu?!”


“Oh iya .... Dia anggota zero juga, kan?” tanya seorang Penembak Jitu di sampingnya. “Dan, kuingat dia memiliki pangkat lebih tinggi dari Elk?!”


Mendengar tentang saudaranya sama-sama anggota zero, Ruen yang kembali tenang, dan dengan wajah serius, dia berkata, “Tidak. Dia memang anggota zero mids di Garis Depan, tapi dia lebih lemah dari Elk.” Pemuda berambut silver itu mengerutkan keningnya. “Bahkan mungkin lebih lemah dari Mark!”


Ruth menatap tajam semua orang di atas Batu Besar, dengan wajah gelap.

__ADS_1


“Apa?!” Semua orang serempak, tercengang.


“Ya. Itu mungkin salah satu alasan aku di pindah kan ke sini,” kata Ruen, sambil menatap dan tersenyum misterius kepada Ruth.


Semua orang menatap tajam Ruen, sambil berpikir keras. “Kenapa para Prajurit Garis Depan ... yang sering bertempur,” gumam Ruth, mengerutkan kening, "bisa lebih lemah dari Sayap Benua kami?!"


“Sederhana,” jawab Ruen, menatap tajam Ruth yang penasaran. “Aku di sini untuk menjadi lebih kuat!”


“Lebih kuat?! Ada apa di Benua 4 ini yang kami tidak tahu?” Semua orang kebingungan dengan jawaban Ruen.


“Salah satu Pahlawan terkuat, dari 7 Pahlawan lainnya, saat Perang Besar terakhir yang terluka ada di Benua ini!!” jawab Ruen, dengan semangat merepalkan tangannya.


“Sekalipun tidak mudah mencarinya .... Dan mungkin juga dia ada di Benua Bawah." Ruen menggenggam erat tinjunya. "Tapi .... Aku akan tetap mencarinya!”


“Pahlawan yang kau maksud itu ... salah satu dari 劍神 tadi??” tanya Ruth yang masih tercengang, terbawa arus semangat Pemuda berambut silver di depannya.


“Tentu. Bukan," bantah Ruen dengan santai. "Hanya Jenderal Goran yang tersisa dari semua dewa pedang ....”


“Dan Jenderal Goran hanya menjaga dan melatih para Prajurit zero, yang akan dikirim ke Garis Depan Medan Perang ...”


“Yang lainnya telah gugur di garis depan ...” kata Ruen menggertakan giginya. “Dia adalah yang terkuat—”


Perkataan Ruen terpotong saat menatap semua orang di hadapannya; lalu dia tersenyum melihat orang-orang di hadapannya sangat bersemangat.


Mata semua orang terbuka lebar, tercengang menyadari sesuatu.


Tidak ada yang berpikir, bahwa selama ini ada seseorang membimbing Elk dan Mark, untuk menjadi sangat kuat seperti itu.


“Yah, itu benar! Dia satu-satunya Pahlawan tersisa yang kemungkinan besar, bisa bertarung pada gelombang Perang Besar berikutnya,” jelas Ruen dengan semangat berapi-api. “Tidak lain adalah Pendekar ...."


Ruen tersenyum lebar merepalkan erat tangannya dengan perasaan gembira dan harapan besar yang memancar terang di kedua mata birunya, menerangi semua orang yang berada di atas Batu Besar.


“Silat ...!”


Ruen menatap semua orang di hadapannya, dengan tatapan cerah diikuti perasaan hangat akan kemenangan Perang Besar berikutnya.


“Jadi ... jika Jenderal Goran masih hidup, itu kabar yang sangat sangat bagus untuk kita ...!!" kata Ruth, menatap Elk sedang berlutut tidak bisa bergerak sedikitpun. “Di tambah ....”


Para penembak jitu mengikuti pandangan Ruth, melihat Elk yang jauh di hadapan mereka semua sedang berlutut dengan amarah berapi-api.


Semua orang di atas Batu Besar menatap Wanita berambut hitam sebahu itu, dengan tatapan harapan dan semangat.


“Ya!!! Kita akan memenangkan Perang Besar gelombang berikutnya," seru Ruen yang dengan semangat berapi-api mengangkat tinjunya, dengan susah payah dia meninju langit, "dan merebut Benua Baru yang masih diduduki oleh ‘mereka’ ...!!”

__ADS_1


Mungkinkah ... kami ... Manusia, benar-benar bisa menang!?


¤¤¤


__ADS_2