![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Jenderal Besar Woon memutar-mutar Kapak bergagang hitam, dan bilah ganda tajam berwarna merah terang, yang digenggamnya erat dengan tangan kanan, sambil menunggu jangkauan serangan Monster es yang menuju ke arahnya.
Alta yang melesat cepat, dengan setengah tubuhnya dibaluti uap es. Seolah-olah setengah tubuh Monster es itu menghilang.
Pria paruh baya dengan janggut seperti serigala alfa itu menyeringai tajam; dengan dua taring tajamnya mencuat keluar, dia berkata, “Dan untuk kalian berdua. Jenderal-jenderal terbilang baru ....” Jenderal Besar Woon menatap tajam Jenderal Perse, dan kemudian dia tiba-tiba berhenti di wajah paruh baya berkumis hitam Jenderal Pongahar.
Sambil menatap tajam Jenderal Pongahar, Jenderal Besar Benua [2] itu berkata, “Terserah―apapun yang kalian telah lakukan,” dan seringai di wajah Jenderal Woon langsung menghilang, “pasti akan ada ganjarannya ....”
Jenderal Besar Woon mengalihkan pandangannya kembali kepada Monster es yang menghampirinya, lanjut berkata, “Untuk sekarang, kalian ber-dua ....”
“Menyingkirlah, jika tidak ingin tertebas,” desak Jenderal Besar Woon, sambil menatap tajam Jenderal Perse.
Kemudian Jenderal Besar Benua [2] itu menerjang maju―terbang melesat menuju ke arah Monster es di hadapannya.
“Namun, jika kalian bersikukuh untuk membantu ... Aku tidak akan bertanggung jawab,” tambah Jenderal Besar Woon, “jika salah satu dari kalian benar-benar tertebas.”
“Memangnya apa yang kita―” bantah Jenderal Perse mengerutkan keningnya―dia merasa tidak ada yang salah. Tetapi Jenderal Pongahar di sampingnya langsung menyela Pria muda itu, “Saya―Kami mengerti Jenderal.”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu,” kata Jenderal Besar Woon sambil menoleh ke belakang, menatap tajam Jenderal Pongahar. “Tentu. Intuisi Shi―tangan kananku―tidak pernah salah ....” Lalu Pria paruh baya berkulit hitam itu menyeringai lebar, sambil mengalihkan pandangannya kembali ke depan, dan mempercepat laju terbangnya.
Tubuh hitam Jenderal Besar Benua [2] itu semakin memanas, dengan api merah pekat langsung mengitari serta membakar tubuhnya.
“Tenang saja. Ini akan berakhir cepat,” gumam Jenderal Besar Woon tersenyum tipis.
Lalu, Monster es yang tubuhnya setengah uap es itu, juga mempercepat laju terbangnya―dengan setengah tubuh uap esnya, seperti menyatu dengan udara di sekitarnya. Kemudian Alta tiba-tiba berhenti, dan melayang di udara. Ia menitikberatkan Energy-nya pada genggaman Sword Ice di tangan kanannya, dan Monster es itu langsung menusukkan Sword Ice-nya.
Sword Ice yang ditusukkan Alta, langsung memanjang, ia melesat sangat cepat―dengan lintasan tusukkan Sword Ice tersebut, menuju tepat ke arah Jenderal Besar Woon.
Pria keren di belakang Jenderal Besar Benua [2] itu, berkata, “Kita harus pergi dari sini.”
Kemudian U langsung berlari, menuju ke arah utara.
“Huh ... Sekalipun Anda itu tangan kanan Jenderal Besar Benua [2],” gerutu Jenderal Pongahar. “Maaf, tapi Anda masih dibawah kami, Shi.”
U hanya mencibir, dan terus berlari, “Seperti yang telah Jenderalku katakan: Terserah.”
__ADS_1
Lalu tusukkan Sword Ice Alta, dengan cepat sampai ke hadapan Jenderal Besar Woon, dan Pria paruh baya berjanggut abu itu langsung menangkis tusukkan Sword Ice Alta dengan Kapak besar hitam-merah perkatnya.
*Sss ...!!*
Lintasan tusukkan Sword Ice Alta, terus melesat ke belakang Jenderal Besar Woon, dan mengarah tepat ke arah Jenderal Pongahar.
“Sial,” umpat Jenderal pongahar, serta Jenderal Perse sescara serempak. Mereka ber-dua langsung menghindari serangan tusukkan Sword Ice Alta.
Sword Ice yang sangat panjang, langsung Alta tebaskan ke samping dengan sangat kuat―sampai-sampai Jenderal Besar Woon yang melayang di udara, bergerak ke samping.
“Kau sangat kuat juga, huh,” gumam Jenderal Besar Benua [2] itu.
Pria paruh baya berkulit hitam itu langsung mengaitkan Kapak hitam-merahnya pada Sword Ice Alta, dan dia langsung mengangkat Kapaknya ke atas―dan ia pun terlempar ke samping lainnya Jenderal Besar Woon.
Jenderal Besar Benua [2] itu langsung terbang ke depan menerjang maju, terus mendekati Monster es, sambil berkata, “Hanya itu yang kau bisa,” dia menyeringai lebar, memamerkan dua taring tajamnya. “Monster ...?”
**
Pohon berbatang, dahan, dan ranting serta akar-akarnya berwarna hitam pekat―tetapi daun-daun berwarna abu yang terus tumbuh. Ia tumbuh dan merambat sangat cepat, lalu tiba-tiba berhenti, dan membentuk hutan kecil di tengah badai salju yang tidak berhenti mengeluarkan angin kencang, berasal dari ‘ruang’ tipis di atas langit.
Sunarsih yang terus menerjang ganasnya badai salju, dengan ‘ruang’ tipis berada di hadapannya bergetar-getar―sebab serangan Sirius yang cukup kuat.
Salah satu Grey sudah berada di jangkauan serangannya―ia berada tepat di hadapan Sunarsih. Kemudian Grey langsung menyerang Sunarsih, dengan tembakan little cannon pada mulut kecilnya yang menganga sangat lebar.
Wanita bertubuh menggoda itu melirik Grey, dan langsung menangkis little cannon di hadapannya.
*Sss ...!!”
Little cannon yang langsung terbelah dua, dan ia melesat ke belakang Sunarsih.
Lalu para prajurit-prajurit Sunarsih langsung menerjang maju, dan melawan para Grey di hadapan mereka. Tetapi, tepat saat para prajurit batalion menggunakan ‘sk’ yang dimiliki mereka.
Kerdil berkulit abu-abu, bermata almon hitam perkat itu langsung menghilang―menjadi abu dan muncul kembali, menghindari serangan para prajurit Wanita batalion bala bantuan.
Hanya ada beberapa dari serangan para prajurit Wanita yang mengenai Grey.
__ADS_1
“Ini tidak ada bedanya dengan melawan Monster ungu itu,” gerutu Komandan Wanita prajurit Jenderal Sunarsih.
“Bagi prajurit menjadi beberapa Tim untuk satu Grey!” perintah Wanita bertubuh menggoda itu.
Mereka melawan Grey dengan beberapa Tim melawan satu Grey yang selalu menghilang-muncul, menghindari semua serangan-serangan prajurit Wanita di sekitarnya―dan sesekali ia juga menyerang.
Sayatan demi sayatan lengan panjang Grey, dan little cannon dari mulut kecilnya, yang seperti tidak ada habisnya 'mereka' tembakkan.
Para Grey terus menyerang prajurit Wanita yang mengepungnya.
Sunarsih dengan susah payah menghindar dan menyerang beberapa Grey yang menghadangnya. Lalu dia pun berada tepat di hadapan Pohon besar berbatang hitam-berdaun abu.
Kemudian Wanita bertubuh menggoda itu menitikberatkan Energy kobaran api oranye-nya pada tongkat hitam digenggaman tangan kanannya.
Berada tepat di belakang Sunarsih, salah satu Grey menitikberatkan Energy berwarna abu-abu pada lengan kanan kecil panjangnya―dan ia langsung menyayatkan lengan tajamnya secara diagonal.
Namun, tembakan Mark menyelamatkan Wanita berubuh menggoda itu―dengan Grey yang langsung tersenak dan menabrak Pohon yang tidak jauh di sampingnya.
*dor!!!*
“Hati-hati sayangku―maksudku, Sun,” seru Mark, mengiringi suara tembakan sniper-nya.
Sunarsih memutar tongkat hitamnya, sambil menolehkan tubuh menggodanya ke belakang, sambil berkata, “Tidak apa, tampanku,” dan dia mengedipkan matanya. “Makasih ....”
“Tetaplah waspada terhadap sekitarmu!!” desak Mark. “Amunisi kami tidak banyak.”
“Ok ....” jawab Sunarsih, sambil mengangkat tangan kirinya―membentuk huruf O dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu-jarinya.
Lalu Wanita bertubuh menggoda itu langsung mengayunkan tongkat hitam yang disertai kobaran api oranye itu, ke depan.
Kobaran api oranye yang langsung membakar Pohon hitam-abu di hadapannya. Dengan api oranye yang terus merambat, sangat cepat membumbung tinggi ke atas langit.
“Kupikir,” gumam Sunarsih, “ini sudah selesai?”
“Belum!!” teriak Mark. “Cepat pergi dari sana, Sun!”
__ADS_1
Sunarsih menoleh, menatap Mark yang berwajah panik. Kemudian dia mengerutkan keningnya, dan tercengang. “Apa!?”
***