![Planet? [War Of K-M-XGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/planet---war-of-k-m-xgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Bekerjasamalah dengan kekasihmu ....”
“Bekerjasamalah dengan kekasihmu ....”
. . .
“Bekerjasamalah dengan kekasihmu ....”
Kata-kata Mark yang terus menggema di kepala Elk, Wanita itu kemudian menggertakan giginya dengan geram berteriak, “Siapa yang kau sebut kekasih itu?!”
Namun, dia diabaikan oleh Mark sedang sangat fokus melindungi Jenderal Sez.
“Cih ....” Elk mendecakan lidahnya sambil mengangkut Sirius. Tetapi kemudian tiba-tiba dia melemparkan lagi tubuh Pria berambut putih ditentengnya itu—Elk terkejut melebarkan mata saat melihat kulit Sirius perlahan berubah.
“Kenapa tubuhmu menjadi seperti itu? Kau makan apa?!” tanya Elk menatap tajam Sirius di bawahnya.
Tetapi Sirius mengabaikan Elk, dan ia hanya mengerutkan kedua alisnya seperti sedang kesakitan, dengan seluruh tubuh putih Pria itu terdapat bercak ungu gelap, yang secara perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Melihat Sirius berubah perlahan, Elk kemudian menengokkan kepalanya ke arah batu besar di mana para penembak jitu dan Ruen berada. “Kita benar-benar harus mundur?” gumam Elk mengerutkan kening.
Pemuda berambut silver berteriak sambil mengangkat tangan kirinya membentuk ‘ok’ terlihat jelas oleh Elk, “Percaya lah ....” Ruen langsung menembaki Alta yang sudah berada tepat di atas Elk, “aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku! Elk.” Dia dan penembak jitu lainnya menembaki Komandan Lelaki muda musuh mereka secara serempak.
“Diamlah ...!! Tapi ....” teriak Elk tiba-tiba jengkel. Tetapi dia langsung menggertakan giginya mencoba untuk tetap tenang, “tolong tetap lindung aku.” Elk berkata sambil merepalkan erat rahangnya juga menatap Sirius di bawah.
“Oke~ ....” jawab Ruen dengan sangat bersemangat. Mata biru laut Pemuda itu berbinar terang memancarkan rasa penuh kebahagiaan.
Lintasan-lintasan peluru berbagai warna terus menuju tepat ke arah Komandan Lelaki muda musuh. Elk yang berada di bawahnya mengangkut kembali Sirius—Wanita itu langsung membuat mereka ber-dua menjadi tak kasat mata, dan menjauh dari Alta yang melayang di udara.
Alta mengerutkan kening sambil secara terus menerus diperlambat oleh Ruen, dan dibantu setengah penembak jitu lainnya. “Argghh,” geram Komandan Lelaki muda musuh itu.
Kemudian Alta menggunakan sword orbit: membentuk orbit lintasan Energy Pedang Petir Putih mengitari tubuhnya. “Mereka selalu saja menggangguku!” Alta melirik sebentar ke arah batu besar di mana para penembak jitu tersebut berada.
Kemudian Alta mengalihkan pandangannya ke bawah, di mana Elk yang sudah lama menghilang. Ia menggertakan giginya berkata, “Kau pikir kau bisa lari, Hah?” Alta merepalkan rahangnya sambil meregangkan kedua lengannya.
__ADS_1
Energy cahaya putih yang perlahan keluar dari tubuh Komandan Lelaki muda musuh itu. Cahaya putih tersebut langsung melesat menyebar ke segala arah di sekitarnya—tetapi sebuah peluru dengan telak mengenai kepala belakang Alta.
¤Prcakk!!!¤
“Sialan!” Kepala Alta yang tersentak sedikit ke depan, dan ia langsung menoleh ke belakang, di mana lintasan peluru berwarna oranye belum menghilang, dan titik-titik lintasan berbagai warna peluru lain menuju tepat ke arahnya.
Alta akan memindai wilayah sekitarnya menggunakan Energy putih: ia bisa sebarkan sejauh radius 4 mil jauhnya. Tetapi ia langsung terganggu oleh tembakan Ruen yang jauh di atas batu, Pemuda berambut silver itu menembaknya menggunakan peluru biasa.
Sword orbit kemudian digunakan kembali oleh Alta, untuk menahan semua titik peluru yang menargetkannya. Tubuh Alta tiba-tiba menjadi cahaya putih, dan menghilang dari pandangan para penembak jitu.
Ruen berada jauh berada di atas batu besar, bersama penembak jitu lainnya tercengang serempak. “Ruth! Pindai Energy yang dimilikinya, cepat!” perintah Ruen sambil menoleh ke belakang, di mana Ruth yang sudah memindai Energy: menggunakan alat dengan suquit biru rumit, dan berbentuk seperti nampan.
Ruth sangat serius melihat alat dipegangnya, dengan titik-titik Energy dan berbagai warna teradapat pada layar alat tersebut.
Pemuda sappoter berkulit sawo matang itu melebarkan matanya langsung berteriak, “Dia berada melesat menuju arah tenggara! Cepat pindai dengan gogglescope-mu!” perintah Ruth tergesa-gesa sambil mengeluarkan gogglescope dimilikinya—semua orang yang memiliki gogglescope memakainya, dan mereka langsung mengaktifkannya secara serempak.
Elk menenteng Sirius terlihat oleh para penembak jitu dan Ruth. Bayangan hijau tak kasat mata, berubah menjadi cahaya hijau terang, di balik mata semua orang yang menggunakan gogglescope mereka masing-masing.
“Dia terlalu menjauh .... Cih,” Ruen mendecakan lidahnya—dia langsung memeluk sniper-nya, kemudian dia melompat kedepan menuju batu besar lainnya.
“Kupikir di sini cukup.” Ruen berguman sambil menoleh ke belakang, dia melihat Ruth dan para penembak jitu lainnya menuju ke arah di mana dia sedang berjongkok. Kemudian dia mempersiapkan sniper-nya
Ruen melepaskan gogglescope di kepalanya: dia turunkan ke lehernya seperti Mark, gogglescope yang berbentuk seperti kacamata selam, berwarna biru sirquit rumit pada kaca dan bingkainya.
Kemudian Ruen langsung tengkurap dalam posisi menembak, dia langsung menembaki lintasan Energy cahaya putih melayang di udara, melesat cepat menuju ke arah Elk—dengan jalur yang akan dilalui Alta dan Elk secara keseluruhan, yang masih ada diingatan Pria berambut silver itu.
¤dor!¤
¤dor!!¤
. . .
¤dor!!!¤
__ADS_1
Lintasan-lintasan peluru berwarna oranye, yang ditembakan oleh Ruen melesat cepat menjauhinya.
Energy cahaya putih yang mengejar Elk dan Sirius, dengan tubuh mereka ber-dua tak kasat mata. Di dalam Energy cahaya putih tersebut terdapat Alta—ia langsung melirik arah sudara tembakan-tembakan.
“Benar saja!” desis Alta mendecakan lida sambil menghentikan pergerakannya, ia langsung menggunakan sword orbit: menggunakan Energy putih di lengannya, yang berbentuk lintasan pedang seperti orbit mengitarinya—ia menebas seluruh peluru menghampirinya.
Namun, satu peluru lolos dari lintasan cahaya putih sword orbit-nya, ia melebarkan matanya tercengang berteriak, “Apa?!” peluru oranye itu langsung mengengenai wajah Alta.
¤Prcakk!!!¤
Kepala Komandan Lelaki muda itu tersentak ke belakang, dan percikan-percikan oranye menyebar di sekitar kepalanya: seperti percikan saat memotong atau mengelas baja.
“Sialan!!” jerit Alta sangat jengah, karena kedua kalinya ia terkena tembakan Ruen.
Komandan Lelaki muda itu menegapkan kembali tubuhnya—menatap tajam di atas batu besar jauh di hadapannya, di mana Ruen dan para penembak jitu lainnya berada.
Alta kemudian menatap tajam pada titik lintasan peluru yang ditembakan oleh semua penembak jitu, dengan lintasan peluru tersebut menuju tepat ke arahnya. Ia pun menggunakan sword orbit kembail menghancurkan semua lintasan peluru tersebut.
Setelah semua lintasan peluru di hadapannya lenyap, Alta menoleh ke bawah di mana Elk yang sudah lama menghilang. “Cih ... kenapa manusia itu harus membawa Sirius?” gerutu Alta sambil merepalkan rahangnya sangat geram.
Alta mengalihkan pandangannya kepada para penembak jitu, yang jauh di depannya berkata dengan geram, “.... Tapi mereka juga terlalu jauh dariku.”
Dengan lintasan berbagai warna kembali menargetkan Alta. “Apa aku hanya bisa menunggu matahari tebenam?” gumam Alta memikirkan sesuatu, kemudian ia mendongakkan kepalanya ke atas langit yang perlahan mulai menggelap.
“Bersama orang tua itu ... kita musnahkan terlebih dulu regu penyembuh mereka,” kata Alta tersenyum menyeramkan, kemudian ia menatap tajam ke arah pintu dalam [A327] tertutup asap yang perlahan menghilang. “Dengan begitu ... ini pasti akan berakhir cepat!”
Dan pasti Sirius pun akan berada di salah satu tempat regu penyembuh itu!
Mata berbinar Alta melirik titik-titik lintasan peluru berbagai warna yang menghampirinya—dengan santai ia menggunakan sword orbit yang menghancurkan semua titik lintasan peluru tersebut.
Alta langsung menerjang melesat cepat, ia melesat maju menuju ke arah Jenderal Moran, dan Mark yang sedang bersusah payah menembaki rekannya.
Namun, satu lintasan peluru oranye lolos dari pandangannya lagi, dan peluru oranye melesat cepat menuju pelipis kanan Alta, yang sama sekali tidak menyadarinya—ia langsung melirik ke samping kanan di mana peluru oranye berada tepat di depan pupil mata hitamnya.
__ADS_1
“Sial!!”
¤¤¤