
...HAPPY READING...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Hari demi hari , bulan demi bulan telah di lalui Aurel dengan mengikuti kemoterapi demi kesembuhannya. Dan hari ini adalah hari terakhir pengobatan , dan juga hari untuk mengecek kesehatan Aurel.
Ceysa dan Aurel sedang menunggu hasil pemeriksaan di depan ruangan dokter , mereka berharap semoga hasilnya seperti yang mereka inginkan.
"Mami , kalau adek gak sembuh gimana?"Tanya Aurel pada Ceysa yang dari tadi mendekap tubuh kecil putrinya.
"Kok nanya gitu sih? Adek pasti sembuh , apalagi selama pengobatan Adek kian membaik."jawab Ceysa.
"Tapi Adek takut mi , semua orang udah berkorban banyak demi Adek kalau Adek gak sembuh semua usaha mereka jadi sia-sia apalagi Naf dia botakin kepalanya demi Adek"Ucap Aurel dengan lirih.
Apa yang di ucapkan Aurel memang benar , setelah Naf melihat keterpurukan gadisnya karena kerontokan rambut , Naf langsung menuju Salon untuk membotaki kepalanya. untung saja sekarang sudah mulai tumbuh jadi Aurel tidak merasa bersalah terlalu dalam.
"Maka dari itu Adek harus optimis , Mami sangat yakin kalo Adek pasti sembuh."ucap Ceysa memberi semangat kepada putrinya.
"Adek kenapa sedih?"Tanya Farez yang baru saja datang bersama Naf.
"Ada apa baby?"tanya Naf.
"Adek gak sedih kok , iya kan mi?"ucap Aurel sembari meminta pertolongan dari Ceysa agar mereka berdua tidak curiga.
"Iya , Adek gak sedih kok. Papi mana Rez?"tanya Ceysa mengalihkan pembicaraan.
"Papi masih di kantor mi , bentar lagi nyusul kesini."Jawab Farez.
"ADEKKKKKKK"teriak Abas yang memenuhi koridor rumah sakit.
plak!
"Awww! sakit tau gak"ucap Abas dengan delikkan matanya pada Altez yang baru saja memukul kepalanya.
"Jangan berisik! Lo pikir ini dirumah"ucap Altez yang jengah Melihat tingkah adiknya yang sangat absurd.
"Hahahaha rasain loo"ucap Rei di sela-sela tawanya.
Aurel yang merasa di panggil langsung melepaskan dirinya dari pelukan Ceysa.
__ADS_1
"Abang... , mana pesanan Adek?"tanya Aurel pada Abas.
"Nih , kalau gak habis kasih Abang ya"ucap Abas sembari memberikan bakso bakar yang tadi di pesan Aurel sebelum Abas kerumah sakit.
"Eh! Belum juga dimakan, kamu kan bisa beli juga kenapa minta punya Adek"ucap Ceysa sambil mencubit paha Abas.
"Aduh mi , kan kalau gak habis sama Adek mi bukan minta sekarang"Elak Abas.
"Mami dapet dari mana sih anak kayak Abas?"tanya Ardhan.
"Di selokan , gak sengaja waktu itu denger suara anak kecil nangis eh ternyata dia karena kasian ya mami pungut bawa pulang deh"ucap Ceysa dengan santai.
"Mami jangan gitu , masa Abas di bilang anak pungut sih"balas Abas tak terima di Katai anak pungut.
"Jijik gua liat Lo kayak gitu bas , gak cocok sama sekali"timpal Raka.
"Mamiiiii , mereka ledekin Abas"Rengek abas seperti anak kecil.
"Diam! jangan berisik!"ucap Farez yang sudah jengah Melihat tingkah Abas yang tidak mencerminkan seorang laki-laki.
"Enak banget ya?"tanya Naf ketika melihat Aurel memakan dengan semangat bakso bakar itu sampai sausnya berlemotan di sekitar bibir.
"Enak , Naf mau coba?"Tanya Aurel sembari menyodorkan satu tusuk bakso bakar pada Naf.
Dengan semangat Naf menerimanya apalagi disuapi Aurel.
"Tidak buruk"ucap Naf sembari mengunyah bakso tersebut.
Ardhan yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecut , mau bagaimana tidak mudah baginya menghilangkan perasaan itu.
Raka yang melihat wajah sendu Ardhan langsung menepuk pelan punggung Ardhan bermaksud menenangkan sahabatnya.
Cklek.
Terdengar suara pintu yang dibuka dari ruangan dokter.
"Hm , aku ikut"Timpal Farez.
"Adek juga boleh ikut kan mi?"tanya Aurel.
"Adek diluar aja ya , biar Mami sama bang Farez aja yang masuk"ucap Ceysa.
"Kamu disini aja sama aku"ucap Naf sembari menggeser tubuh Aurel agar Lebih dekat dengannya.
"Yaudah , Adek disini aja mi"jawab Aurel pasrah.
Ceysa dan Farez langsung masuk kedalam untuk bertemu dokter yang menangani putrinya.
"Selamat siang nyonya Ceysa dan pak Farez."sapa dokter itu.
"Siang pak , Langsung saja pada intinya saya tidak ingin bertele-tele."ucap Farez.
Ceysa langsung menyenggol Farez ketika mendengar ucapan yang tidak sopan dari Mulut putranya.
"Hm , baiklah... kalian bisa liat sendiri di kertas ini."ucap dokter sembari memberikan kertas yang bertuliskan hasil tes kesehatan Aurel.
Ceysa langsung mengambil kertas itu lalu membukanya.
"Jadi.."
"Ya , seperti yang nyonya Ceysa lihat kanker yang menggerogoti tubuh Aurel sudah tidak ada lagi. Sungguh ini sebuah keajaiban. Cukup banyak pasien yang meninggal apalagi penyakit Aurel juga sudah berada di tahap yang penyembuhannya mungkin agak susah dan lama. Tapi putri anda beruntung , ia masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidupnya lagi oleh tuhan."ucap dokter tersebut dengan tersenyum.
"Terimakasih dok , hasilnya sesuai dengan harapan saya"ucap Ceysa dengan air mata bahagia.
"Hm, baiklah. apa masih ada yang ingin kalian tanyakan lagi?"tanya dokter itu.
__ADS_1
"Tidak dok"Jawab Ceysa.
"Kalau begitu , Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Saya harus segera pergi karena sebentar lagi ada pasien yang harus saya tangani.
"Baiklah dok , sekali lagi terimakasih untuk semua bantuannya. Kami berdua pamit dulu"ucap Ceysa sembari menggandeng tangan Farez untuk mengikutinya keluar.
Sesampai di luar Semua orang telah menanti kabar dari mereka , bahkan Brata , Bram Ratih dan juga El juga sudah datang.
"Sayang , bagaimana mana hasilnya?"Tanya Brata penasaran.
"Syukurlah , perjuangan Adek selama ini gak sia-sia."ucap Ceysa.
"Maksudnya?"tanya Bram yang tiba-tiba tidak mengerti maksud kakak iparnya. Begitu juga yang lain. Mereka seperti orang yang baru saja di hipnotis terlihat linglung.
"Astaga , kalian tidak mengerti maksud ku?"tanya Ceysa
"Semuanya menggelengkan kepala kecuali Aurel yang sudah mengerti maksud Maminya.
"ck , Aurel udah sembuh , kankernya udah gak ada lagi"ucap Ceysa.
Lantas mereka semua pun tersenyum bahagia mendengar ucapan Ceysa. Sekarang Aurel tidak akan mengikuti kemo lagi , dan tidak ada mengkonsumsi obat-obatan yang banyak lagi.
Brata langsung menghampiri Aurel yang sedari tadi di pelukan Naf.
"Papi bangga sama Adek , akhirnya Adek berhasil terbebas dari penyakit ini"ucap Brata sembari mencium pelipis putrinya.
"Ini juga berkat doa papi dan yang lainnya. Terimakasih selalu ada buat Aurel , maaf kalau selama ini Aurel ngerepotin kalian semua"ucap Aurel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"No princess , tidak ada disini yang merasa direpotkan. Kamu gak boleh berfikiran kaya gitu lagi"ucap Brata sembari menghapus air mata Aurel yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Adek sayang Papi banyak-banyak"ucap Aurel sambil memeluk tubuh tegap Brata.
"Jadi papi doang ni? kami enggak?"tanya Abas mengganggu keromantisan bapak dan anak tersebut.
"Sayang kalian banyak-banyak juga"ucap Aurel menghampiri satu persatu keluarga dan memberikan kecupan ke pipi Masing-masing dari mereka.
Setelah acara peluk-pelukan tadi , kini mereka semua berada dalam mobil menuju kediaman Nelson. Tidak semua hanya keluar saja. Yang lain tidak ingin egois. Mereka tak ingin mengganggu keluarga itu untuk merayakan kesembuhan Putri satu-satunya di keluarga tersebut. Toh besok mereka juga bisa kesana.
Tanpa terkecuali Naf , ia juga kembali ke kantor mungkin ia akan memantau dari cctv nya saja.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bentar lagi menuju end:') Udah siap berpisah dari si cantik Aurellia? Hm semoga ending yang aku buat tidak mengecewakan kalian huhuhu...
...Selamat membaca , peluk sayang untuk semuanya🤗😘 jangan lupa tinggalin jejak ya🙃🔪...