
Semua menunggu ruangan IGD terbuka, mereka semua berdoa yg terbaik untuk Aurel.
Kedua orang tua Aurel juga telah datang , Ceysa tak henti-hentinya menangis di pelukan Brata , baru saja menemukan putrinya sudah dapat musibah seperti ini.
Akhirnya pintu IGD pun terbuka menampilkan dokter muda yg memeriksa keadaan Aurel.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"Tanya Brata mewakili yg lain dengan wajah yg panik dan khawatir.
"Syukurlah keadaan Aurel masih baik-baik saja. karna cepat di bawa kemari. Detak jantung nya sudah lemah saat kalian membawanya kemari.
Owh ya pak, apa Aurel pernah mendapatkan kekerasan sebelumnya? Tanya dokter tsb. Pertanyaan terkahir dari dokter membuat semua orang yg berada di sana terkejut bukan main. Apa tadi? Aurel mendapatkan kekerasan?.
"Saya tidak tau dok , kami baru saja menemukan putri saya setelah sekian tahun lamanya menghilang karena suatu masalah.
"Hm , maaf sebelumnya dok , kenapa dokter bertanya seperti itu?"tanya Farez penasaran.
"Ketika saya memeriksa keseluruhan, saya menemukan banyak luka memar di badan adik anda. seperti luka pukulan dan cambukan. Sepertinya adik anda juga mengalami trauma akan hal tersebut , yang mengakibatkan ketika ia di kasari atau di bentak akan membuat sakit pada jantungnya dan bisa saja ia kehilangan nyawanya kalau hal tersebut terus terjadi.
Semua orang yang berada disitu terdiam mendengar pertanyaan hal tersebut.
Bahkan ketiga abangnya menggeram dalam diam ketika membayangkan hal tersebut terjadi pada adik kesayangannya mereka.
"Apa trauma itu bisa di sembuhkan dok?"tanya Ceysa dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Tentu saja bisa , asalkan ia rutin menjalani pengobatan. dan saya sarankan ia di bawa ke psikiater untuk bisa di tindak lanjut, karena itu berhubungan dengan psikisnya."ujar dokter tsb.
"Apa saya boleh menemui anak saya dok?"tanya Brata.
"Tentu saja , tapi kami akan memindahkan ia keruang rawat dulu , dan satu lagi kalian semua jangan bertanya dulu tentang hal traumanya itu takutnya ia bisa kambuh lagi"ucap dokter tsb.
"Baik dok , dan putri saya tolong di letakan di ruang VVIP ya dok"ucap Brata.
"Baik pak"Balas dokter tersebut sembari meninggalkan mereka semua.
Kini semuanya sudah berada di ruangan Aurel ,ruangan ini sangat besar jadi cukup menampung banyak orang.
"Pi , bukannya Aurel tinggal di panti tapi kenapa Aurel bisa ngalamin itu semua pi?"Tanya Ceysa dengan mata sembabnya.
"Papi akan bertanya ibu panti mi , tapi untuk sekarang kita fokus ke Aurel dulu."jawab Brata.
"Kalian semua pulang gih , ini udah malam lagian besok kalian harus sekolah"ucap Altez yang menyuruh temannya dan teman adiknya untuk pulang.
"Itu yang perempuan namanya siapa?"tanya Ceysa karena sudah penasaran dari tadi melihat perempuan di perkumpulan anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Saya Qila Tante , temannya Aurel sekaligus teman sebangkunya Aurel juga"jawab Qila ramah.
"Makasi ya udah mau jadi temannya Aurel , oh ya Tante boleh minta tolong gak?"Tanya Ceysa.
"Boleh tan, minta tolong apa tan?"tanya Qila.
"Tolong jagain Aurel ya , kalo abang-abangnya gak si samping dia, Aurel itu fisiknya gak sekuat kita ,jadi Tante selalu wanti-wanti semua kegiatannya."ujar Ceysa.
"Tenang aja tan , Qila bakal jagain Aurel kok. lagian Aurel itu udah kayak adik Qila soalnya Aurel gemesin banget Tan"ucap Qila dengan senyumannya.
"syukurlah , yaudah berhubung sekarang udah malem kalian semua pulang ya , besok boleh kesini lagi kok"ucap Ceysa ramah.
"Baik Tante"jawab mereka serentak sembari meniggalkan ruang rawat Aurel.
Semua diruang tersebut kembali diam dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
Abas dan Farez duduk di kursi di samping brankar Aurel , tak henti-hentinya Abas menciumi punggung tangan kembaran tsb.
sedang kan Altez duduk di sofa bersama kedua orang tuanya.
"Mami sama papi pulang aja , biarin kita yang jagain Aurel."ucap Altez.
"Mami mau jagain Aurel aja",ucap Ceysa
"Baiklah , kalian semua jangan tinggalin Aurel sendirian ya , kalau ada apa-apa langsung kabarin mami"ucap Ceysa.
"Iya mi , kami gak mungkin Tinggalin Aurel sendiri."balas Altez.
Sepeninggal kedua orang tuannya , ruangan kembali hening. Sampai Abas memulai pembicaraan.
"Bang , gimana sama tyas?"tanya Abas.
"Masalah itu biar Abang sama papi yang menangani, kalian tenang saja"ucap Farez.
"Pokoknya jangan biarin di sekolah di tempat kita lagi , aku gak mau liat wajahnya masih berkeliaran di sekolah"timpal Altez.
Abas yang dari tadi memegang tangan Aurel merasakan ada pergerakan pada tangannya.
"Aurel kamu udah sadar"tanya Abas.
ugghhh....
"Haa-usss"ucap Aurel serak.
__ADS_1
"Ni minumnya , sini Abang bantu Duduk"ucap Farez sembari membantu Aurel untuk duduk agar minum dengan nyaman.
"Ada yang sakit?"tanya Abas.
"Kepala Aurel sakit"ucap Aurel.
"Yaudah , tidur lagi yaa"ucap Farez sembari membaringkan Aurel.
"Abang mau gak tidur di samping Aurel"tanya Aurel.
"Tidur disini?"tanya Farez sembari menunjuk tempat tidur bagian kanan Aurel.
"Iya , Aurel mau di peluk"ucap Aurel.
"Yaudah , manja banget kalo lagi sakit"ucap Farez sembari menaiki brankar Aurel.
Farez menarik tubuh Aurel ke dalam pelukannya , dan sembari mengusap punggung Aurel agar cepat tertidur.
Lama kelamaan mata Aurel menjadi sayu dan akhirnya tertidur.
Sedangkan Abas dan Altez melihat kejadian tersebut dengan perasaan dongkol.
"Seharusnya gua yang disana"batin mereka.
.
.
.
.
.
.
.
...Segitu dulu ya :)...
...Besok kita lanjut lagi...
...salam sayang untuk semua readers ku...
__ADS_1