Possesive Brothers

Possesive Brothers
__69__


__ADS_3

...HAPPY READING...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Disebuah bangunan tua terlihat dua orang wanita yang sedang menahan sakit di sekujur tubuhnya. Siksaan demi siksaan telah mereka dapatkan.


"A-ampun bunuh saja aku sekarang , aku sudah tidak kuat lagi"ucap salah satu dari mereka.


"Jangan terburu-buru , aku masih punya banyak waktu untuk bermain-main dengan kalian"ucap lelaki yang berwajah cukup menakutkan.


tap


tap


tap


Terdengar langkah seseorang yang memasuki ruangan penyiksaan dua wanita Tersebut.


"Selamat datang tuan Naf"sapa pria tadi.


Yaps!! yang menyekap kedua wanita itu adalah Naf , dengan susah payah iya mencari keberadaan Mereka agar tidak di dahului oleh Ardhan lagi.


"Hm, dimana kedua wanita itu?"


"Di sudut ruangan itu tuan"


Dengan segera Naf menghampiri kedua wanita tersebut.


"Bagaimana keadaan kalian? apa kalian menikmatinya?"


"Siapa kau? kenapa kau menyekap kami?"


"Kalian tidak perlu tau siapa aku!! , yang pasti aku adalah seorang pria yang sangat mencintai gadisku , siapa pun yang membuatnya terluka ataupun bersedih pasti mati di tanganku!!"ucap Naf dengan penuh penekanan.


"KAMI TIDAK PERNAH MELUKAI SIAPAPUN KAU SALAH ORANG!! LEPASKAN KAMI!!"Bentak salah satu dari mereka.


"SHUT UP!! TUTUP MULUT BUSUK KALIAN!! JANGAN PERNAH MENINGGIKAN SUARA KALIAN DI DEPAN KU!!"bentak Naf membuat kedua wanita itu ketakutan.


Dengan marah Naf mendekati kedua wanita itu dengan satu pisau lipat di tangannya.

__ADS_1


"Aku ingin membuat lukisan di wajah kalian berdua"ucap Naf sembari menggoreskan pisau tersebut. Perlahan-lahan Darah mengalir di kedua pipi wanita tersebut.


"Ss-akit , to-long hentikan!!"Ucap wanita itu terbata-bata.


Naf tidak mengindahkannya , setelah merasa puas dengan lukisan Naf berdiri lalu menyuruh anak buahnya untuk segera melenyapkan kedua wanita tersebut.


...******...


Farez dan Altez menuruni tangga bersamaan menuju ruang makan. Sedangkan di meja makan sudah ada para orang tua , dan juga El.


"Adik kalian mana?"tanya Ceysa pada Farez.


"Bentar lagi turun mi , tadi aku udah cek ke kamar masing-masing"jawab Farez.


"Kita tunggu mereka dulu ya"ucap Ceysa di balas anggukan oleh yang lainnya.


Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki seperti terburu-buru menuruni tangga.


"ABANG BALIKIN BUKU ADEKKKK"teriak Aurel sembari berlari mengejar Abas menuruni tangga.


"ABAS! AUREL! BERHENTI!!"bentak Brata dengan tatapan tajamnya.


Dengan seketika Abas berhenti di ujung tangga dan Aurel berada di tengah-tengah.


"Cepat turun!"ucap Brata kepada kedua anaknya.


Aurel turun dengan kepala di tundukkan, baru kali ini iya melihat papinya semarah ini. Sedangkan Abas berusaha melawan rasa takut yang menghampirinya.


"Kenapa lari-larian di tangga? kalau jatuh gimana?"tanya Brata sambil berusaha menahan amarahnya.


"Kenapa diam?"tanya Brata lagi.


"Maaf Pi , tadi Abas jailin Adek terus Adek ngejar Abas deh"ucap Abas takut-takut.


"Maafin Adek juga Pi , Habis bang tian ngambil buku Adek"ucap Aurel menimpali.


"Abas jangan gitu lagi , nanti kalau jatuh gimana? mami gak mau liat anak-anak mami terluka lagi"ucap Ceysa.


"Iya mi , Abas Janji gak akan ngilangin lagi"ucap Abas.


Sedangkan Rei yang baru saja datang menatap mereka semua dengan aneh , tiba-tiba ia merasakan hawa di ruang makan menjadi dingin.


"sudahlah , ayo kita semua makan Rei juga sudah datang"ucap Bram.


Brata menatap kearah Aurel yang masih menundukkan kepalanya. Seketika ia tersadar telah meninggikan suara didepan putrinya.


"Adek"panggil Brata.


Aurel mendongakkan kepalanya perlahan-lahan sembari melihat kearah Brata.


Ceysa yang tau bahwa putrinya Sedang ketakutan langsung membawa Aurel kedalam pelukannya.

__ADS_1


Semua yang di meja makan langsung menatap ke arah Brata dengan horor kecuali Abas si penyebab kemarahan Brata.


"Adek maaf , Papi gak sengaja sayang"ucap Brata sembari mengelus rambut Aurel.


Pecah sudah tangisan Aurel yang sedari tadi ia tahan.


"Hiks.. hikssss Papi nyeremin , Adek takut liat papi.. hikssss"ucap Aurel di sela-sela tangisnya.


Ceysa menatap marah suaminya , sedang kan Brata menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


"Jangan nangis ya , nanti mami kasih papi hukuman yang berat"ucap Ceysa sembari mendelikan matanya pada Brata.


Dengan tatapan kesal pada Brata Farez menghampiri Aurel lalu menggendong Aurel menuju kamarnya.


"Aku dan Aurel makan di kamar aja, Bi tolong Bawakan makanan kami berdua ke kamar ku"ucap Farez lalu berjalan menuju kamarnya.


Selepas Farez dan Abas pergi , Ceysa langsung mencubit keras lengan suaminya.


"Aduhhhhh"pekik Brata


"Itu hukuman buat kamu , enak aja kamu bentak-bentak anak aku!"ucap Ceysa.


"Maaf sayang , aku lupa"ucap Brata dengan wajah memelas.


"Nanti malam aku tidur sama Aurel"ucap Ceysa.


"Trus aku gimana?"tanya Brata


"Tidur diluar!"ucap Ceysa final.


Tak ingin kemerahan Ceysa semakin menjadi-jadi Brata memilih diam dan melanjutkan makannya dengan ogah-ogahan.


Sedangkan yang lain berusaha untum tidak mengeluarkan tawanya terkecuali Abas yang dari tadi memilih diam karena masalah ini di sebabkan oleh dirinya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Pada nungguin aku gak sih?:)

__ADS_1


lanjut malam ya (: , jangan lupa tinggalin jejak kalian:**


__ADS_2