Possesive Brothers

Possesive Brothers
__39__


__ADS_3

"Eungh"


Suara lenguhan seseorang membuat mereka memusatkan perhatian kearah dimana Aurel berada.


Secara perlahan Aurel membuka matanya yang terasa berat. Pertama kali yang ia lihat adalah sama-samar berwarna putih. Namun saat ingin memfokuskan pandangannya hanya pusing yang didapat oleh Aurel membuat dia meringis.


"Aws" "Sayang kenapa?" Tanya Ceysa yang mendenar ringisan sang anak. Yang lainnya pun ikut menghampiri


"Pusing Mi." Rengek Aurel yang sudah menangis.


"Panggil dokter cepat!" Titah Brata kepada siapapun yang ada diruangan itu. Abas yang mendengar itu pun langsung keluar memanggil dokter dan suster.


"Cepat dok cepat!" Teriak Abas diluar sana. Dokter dan suster yang mendengar teriakan anak pemilik rumah sakit ini pun segera berlari tidak mau kena amukan sang pemilik rumah sakit.


Dokter pun langsung memeriksa keadaan Aurel dengan hati-hati karena tidak mau terjadi kesalahan yang mengakibatkan dia kehilangan pekerjaan di rumah sakit ini.


"Saya sudah memberi obat pereda sakit di kepalanya. Menurut saya rasa pusing ini karena baru terbangun dari pingsannya dan juga akibat rasa perih yang ada pada pipinya. Jika nanti nona merasakan sakit lagi segera panggil saya." Jelas dokter itu.


"Tapi ini tidak fatal bukan dok?" Tanya Ratih.


"Syukurnya hal ini tidak sampai tahap yang fatal. Rasa sakit ini hanya efek samping saja. Nanti juga akan hilang." Jelas dokter itu lagi membuat semua menghela nafas lega.


"Baik dok terimakasih." Ucap Ceysa dengan nafas lega.


"Sama-sama. Kalau begitu kami pamit dulu tuan nyonya." Ucap dokter itu lalu keluar diikuti oleh para suster yang sedari tadi membantunya.

__ADS_1


"Mami." Lirih Aurel yang sekarang sudah bisa memfokuskan pandangannya.


"Iya sayang? Ada apa? Butuh apa?" Tanya Ceysa beruntun.


"Ha.us."


Ratih yang mendengar itupun segera memberikan gelas yang berisi air minum kepada Aurel.


"Makasih bunda." Ucap Aurel kepada Ratih.


"Gimana sayang masih sakit?" Tanya Brata dengan mengelus kepala Aurel lembut.


"Nggak papi. Adek udah gak apa-apa hanya masih lemas saja." Lirih Aurel.


Memang saat ini Aurel masih lemas mungkin efek obat tadi atau memang tenaga nya sudah terkuras banyak.


"Maaf hiks.. tadi Qila gak nungguin Aurel di toilet hiks.." Gumam Qila saat mereka sudah berpelukan.


"Qila gak salah. lagian akunya juga terlalu lama di dalam. tadi aku diare kayaknya" Canda Aurel membuat mereka semua terutama Qila terkekeh geli.


"Gimana gak diare makan mie trus makan bakso juga kan gak sehat makan begituan terus" Celetuk Rafa.


"Ish rafa mah , diem deh"ucap Aurel masam. Akhirnya suasana pun semakin mencair dengan Aurel yang sudah bisa diajak bercanda.


"Dedek gemes udah gak sakit lagi kan?"Tanya Rian sembari mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Ist kak Rian kalau sakit mata jangan lihat-lihat Aurel nanti sakitnya pindah"ucap Aurel


"Kakak gak sakit mata kok"elak Rian.


"Tadi kakak kedip-kedip pasti sakit mata kan?"tanya Aurel.


"Yaampun , bener-bener ya Adek Lo bas gak bisa dirayu dikit"ucap Rian.


"Lo pikir adek gua sama kayak cewek-cewek yang sering Lo godain Aurel itu beda Adek gua mah gak mempan sama rayuan busuk lu"ujar Abas.


"Yaaa nistain aja gua terus"ucap Rian dengan wajah masam.


"kasian"ucap Altez lalu mereka semua tertawa bersama.


.......


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


.......


hmm,, aku gak bisa ngelawak :( kalau gak lucu maklumi aja ya hihihihi , lanjut nanti apa besok?🤔


__ADS_2