Rahim Impian

Rahim Impian
Akhir Kisah?


__ADS_3

Dulu aku pernah percaya pada pelangi yang datang setelah hujan. Ada satu waktu di mana pelangi itu terlihat sangat indah. Pelangi dengan aneka macam warna yang membuat nyaman hati siapapun yang memandangnya. Pelangi yang tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba memanjakan mata semua yang melihatnya.


Waktu itu aku masih kecil, pernah pada musim hujan tiba, aku merengek meminta keluar rumah untuk melihat pelangi.


"Hujannya deras, Key. Kamu tidak akan menemukan pelangi di tengah hujan," tutur Ibu dengan suara lembutnya.


"Aku akan menunggu, Bu. Biasanya setelah hujan reda, ada pelangi yang berwarna-warni." Wajahku menengadah ke langit.


Hingga senja turun pelangi itu tidak datang. Aku masuk ke rumah dengan wajah muram.


"Tidak selalu pelangi datang setelah hujan, Keysha. Pelangi adalah pembiasan sinar matahari yang bertemu udara juga air hujan. Harus ada ketika unsur itu."


Meskipun aku merengek meminta pelangi, Ibu tetap tidak bisa memberikannya.


"Kamu harus bersabar, Sayang. Tidak semua hujan mendatangkan pelangi. Hentikan tangismu dan bersabarlah, lalu kamu akan melihat langit akan membawa keajaiban."


Setelahnya aku sadar ibu hanya ingin menghiburku.


Entah bulan apa aku lupa, tapi benar kata ibu, aku masih sedikit terisak ketika beliau menggandengku keluar rumah dan menunjukkan pelangi besar yang melengkung di langit. Aku berteriak kegirangan. "Wah, indah sekali, lihat itu, Bu. Keysha suka yang warnanya jingga!" Bibirku terangkat sempurna.


"Kakak udah siap?"


Sebuah suara diikuti usapan lembut di punggung dari Santi menyadarkan lamunan tentang pelangiku.


Hari ini pelangi itu benar-benar datang dalam hidupku. Setelah berbulan-bulan bergelut dengan perasaan tak menentu, akhirnya hari ini aku akan memeluk pelangi.


"MUA-nya sudah datang. Kakak harus mulai sekarang supaya saat penghulu datang semuanya sudah siap."

__ADS_1


Santi tersenyum sambil melihat bayanganku di depan cermin. Wajah di cermin itu terlihat pucat, tapi ada binar kebahagiaan jelas tergambar di sana.


Aku melihat dari jendela, tenda berwarna putih kombinasi biru tosca menghiasi halaman depan rumah. Dekorasi dengan warna-warna cantik, berpadu keindahan bunga-bunga segar, juga menambah meriahnya suasana.


Santi yang membantuku memilih semua ini. Kali ini aku percaya pilihan Santi memang terbaik, karena sejatinya aku sendiri tidak punya selera. Soal warna aku hanya suka putih. Aku hanya ingin semua acara prosesi hari ini berjalan lancar, bagiku sudah cukup.


Mataku memandang takjub pada tenda yg telah terpasang cantik di pelataran rumah melalui jendela kamar. Tidak pernah terbayangkan hari ini akan tiba. Ya, hari ini aku akan melepaskan status janda menjadi istri seseorang. Istri dari Haris Bintara. Wajahku langsung memanas membayangkannya.


Beberapa bulan setelah pertemuanku dengan Ibu, Haris langsung datang melamar, mendatangi kontrakanku bersama ibunya.


"Keysha, Ibu mau bicara sama kamu."


Haris membawa Ibu Yeti datang ke rumah kontrakan tanpa memberitahu lebih dulu. Tentu saja hal itu mengejutkanku.


"Ibu silakan duduk, tapi maaf tempatnya seadanya." Aku benar-benar bingung dan malu. Haris menarik dua buah kursi teras.


"Ibu nggak apa-apa ngomong aja sekarang." Haris mengelus punggung ibunya.


"Nak Keysha, kedatangan ibu ke sini untuk melamar kamu secara langsung. Hanya Kamu perempuan yang dicintai oleh Haris, dan sudah menjadi kewajiban ibu untuk melamar. Maukah kamu menjadi istri Haris? Menghabiskan sisa hidupmu bersamanya? Susah senang bersama-sama sampai maut memisahkan kalian?"


Suara Ibu Yeti terbata-bata. Hatiku bisa menerima ketulusan di dalam getar suara itu. Tentu saja aku mau melakukannya. Aku mengganggu perlahan karena tak punya alasan untuk menolak lagi. Ini bukan hanya tentang cintaku dan Haris, tapi ketulusan di dalam suara tua ini seperti akan membawaku menuju cahaya yang aku inginkan.


"Iya Bu, jika Ibu sudah memberikan restu untuk Keysha untuk menjadi menantu, saya akan menerima Mas Haris sebagai suami. Tolong bimbing Keysha untuk menjadi istri yang baik. Kami akan sama-sama belajar dari kegagalan sebelumnya."


Aku berkata kepada ibu Yeti seperti sedang menasehati diri sendiri. Mencoba mencari kalimat yang tepat agar kegagalan tidak terulang lagi pada pernikahan kami ini.


"Kamu itu wanita yang luar biasa, nggak heran kalau Haris jatuh cinta. Sejak dulu Haris selalu memimpikan punya istri yang lemah, lembut, penyayang tidak banyak menuntut, dan pintar mengurus rumah tangga. Makanya saat ibu tahu wanita itu kamu Ibu, tidak heran, Keysha. Ibu hanya sedang berperang melawan ego ibu sendiri dan hari ini ibu datang untuk menunjukkan bahwa kalian layak dan berhak untuk hidup bahagia."

__ADS_1


Tangisku meledak di bawah kaki ibu. Aku bersujud memeluk kakinya. Air mata kami tumpah bersama-sama. Haris pun tak tinggal diam, dia mencoba menenangkanku dengan menepuk punggung yang berguncang-guncang akibat tangisan yang tak bisa aku tahan.


Aku terharu, ternyata ibu menerimaku. Aku kemudian memeluk wanita paruh baya itu dengan erat. Anugrah terindah semesta setelah berbagai prahara yang aku rasakan terasa begitu besar.


Hanya satu bulan waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan semua pernikahan dan Santi menjadi wedding organizer yang tidak dibayar dengan segala kerelaannya mengurusi pernikahan kami. Dia bilang bahagia melakukan itu untuk kakaknya.


"Santi nggak pernah lihat Kak Haris sebahagia ini Kak, tolong jaga semuanya, Kak Haris sangat mencintai Kak Keysha. Selama ini Kakak sudah banyak berkorban untuk kami, keluarganya. Sekarang waktunya Kak Haris bahagia sama Kak Keysha."


Suara Santi juga menjadi penguat tersendiri. Dia menjadi adik kecil yang menggenapi hidupku yang sebatang kara di dunia ini. Aku tidak pernah punya kesempatan menjadi kakak, tidak punya saudara sejak lahir. Menikah dengan Haris memberiku kehidupan yang benar-benar tidak pernah aku sangka sebelumnya.


Kini aku bersanding di pelaminan bersama Haris, ia tidak henti menautkan jemarinya pada jemariku, kadang meremasnya seperti gemas.


"Kamu hari ini cantik sekali, Sayang. Meskipun aku lebih suka kamu nggak pakai make-up, karena kecantikan alamimu sudah mengalihkan duniaku, tapi aku juga harus mengakui kehebatan MUA hari ini. Dia bisa mengubah wajahmu menjadi secantik bidadari," bisiknya di telingaku membuatku tersipu.


Haris memang sangat pandai melambungkan angan dengan kata-katanya yang meskipun terkesan lebay tapi selalu bisa membuat hatiku mekar merekah.


Aku hanya bisa memalingkan muka menahan gejolak aneh di perutku yang seperti menggelitik. Janji suci telah ia ikrarkan, mengikat hidupku untuk mengabdi padanya hingga akhir hayat. Dengan senang hati aku akan menepatinya. Hidup setia hingga maut memisahkan.


Hari ini aku percaya perkataan Ibu pasti ada pelangi setelah hujan jika kita bersabar menunggunya. Seringkali kita tidak bisa melihat pelangi itu karena terlalu sibuk dengan rasa dingin yang membuat tubuh menggigil.


Energi kita sudah terbuang untuk melawan dingin ketika hujan datang, padahal kalau kita mau bersabar sebentar, ternyata pelangi itu tidak pernah kemana-mana dia tetap ada di angkasa dan janji bersetia di sana.


TAMAT.


Ending di sini, tambah lagi gak?? Ada kabar neh, ternyata sakitku kmrn bawaan baby utun. Pas diperiksan udah 7 minggu, keysha yang mau hamil, malah aku yg jadi. 😂


Makasih reader untuk menemani dr awal sampai akhir. Dukungan kalian sangat berarti. love u all and Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2